Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Terbelenggu Obsesi Sang CEO

Terbelenggu Obsesi Sang CEO

Lima tahun berlalu, namun Xavier masih menyimpan dendam mendalam terhadap Clara yang dulu menghancurkan hatinya. Takdir berkata lain saat krisis keluarga memaksa Xavier menjadi pelindung bagi wanita tersebut. Terjebak dalam situasi penuh ancaman, kebencian Xavier perlahan berubah menjadi obsesi yang tak terkendali. Di balik bahaya yang mengintai, mereka berdua justru semakin terjerat dalam hubungan yang rumit, di mana batas antara rasa benci dan cinta kian menipis.
Bab
Bagikan

Bab 3

Suara denting sendok yang beradu dengan cangkir porselen menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar di dalam pantry mewah itu. Valerie berdiri dengan tangan yang sedikit gemetar, menatap kepulan uap dari kopi hitam yang baru saja ia seduh. Ini sudah gelas ketiga. Dua gelas sebelumnya berakhir di tempat cuci piring karena Xavier bilang aromanya terlalu hambar dan suhunya tidak tepat. Valerie tahu itu hanya akal-akalan Xavier, tapi ia tidak punya kekuatan untuk mendebat.

Ia membawa nampan itu kembali ke ruang kerja Xavier dengan langkah hati-hati. Saat pintu terbuka, ia melihat Xavier sedang berdiri di depan jendela besar, menatap hiruk-pikuk kota dari lantai lima puluh. Bahunya yang lebar terlihat sangat tegang di balik kemeja hitam yang pas di badannya.

"Kopimu," ucap Valerie lirih sambil meletakkan cangkir itu di atas meja.

Xavier tidak menoleh. Ia membiarkan keheningan menggantung selama beberapa saat sebelum akhirnya berbalik. Ia berjalan mendekat, menyesap kopi itu sedikit, lalu meletakkannya kembali dengan kasar.

"Masih terlalu manis," cetusnya.

Valerie mengernyit. "Aku sama sekali tidak pakai gula, Xavier."

"Mungkin ingatanmu yang terlalu manis tentang masa lalu yang membuat rasanya jadi begini di lidahku. Buang dan buat lagi nanti. Sekarang, ada tugas yang lebih penting," Xavier duduk di kursinya, menyilangkan kaki dengan angkuh. Ia melemparkan sebuah tumpukan map tebal yang permukaannya sudah berdebu ke depan Valerie.

"Ini apa?" tanya Valerie sambil menyentuh map yang terasa dingin itu.

"Arsip fisik dari gudang bawah tanah. Ada kebocoran data lima tahun lalu, tepat saat kamu pergi. Aku mau kamu mencocokkan setiap laporan keuangan manual ini dengan data digital di sistem. Semuanya. Sendirian. Tanpa bantuan staf IT atau siapa pun."

Valerie membuka salah satu map. Isinya ribuan baris angka kecil-kecil yang ditulis tangan dan hasil print lama yang sudah buram. "Xavier, ini ribuan halaman. Kalau pakai sistem digital bisa selesai dalam sejam, kenapa aku harus manual?"

Xavier menyandarkan kepalanya, menatap Valerie dengan tatapan meremehkan. "Karena aku membayarmu untuk bekerja, bukan untuk memberi saran. Aku mau laporan ini selesai sebelum jam delapan malam. Kalau satu angka saja meleset, bunga utang ayahmu akan aku naikkan dua kali lipat untuk bulan depan."

Napas Valerie tercekat. "Itu tidak adil! Kamu sengaja memberiku tugas yang mustahil."

"Dunia memang tidak adil, Valerie. Kamu seharusnya sudah belajar itu saat kamu meninggalkan aku dulu," sahut Xavier dengan nada dingin yang menusuk tulang. "Sekarang, ambil meja kecil di pojok sana. Mulai bekerja. Aku tidak mau mendengar suara keluhan lagi."

Valerie menarik napas panjang, berusaha menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Ia membawa tumpukan map itu ke sebuah meja kecil di sudut ruangan yang jauh dari pendingin ruangan. Ia mulai membuka halaman pertama. Angka-angka itu seolah menari di depan matanya, mengejek posisinya yang sekarang tidak lebih dari seorang pesuruh.

Jam demi jam berlalu. Xavier tetap sibuk dengan telepon bisnis dan rapat-rapat singkat di mejanya, sama sekali tidak mempedulikan keberadaan Valerie kecuali untuk menyuruhnya mengambilkan berkas atau sekadar mencaci pekerjaannya yang dianggap lambat. Punggung Valerie mulai terasa kaku, dan matanya perih karena terus-menerus menatap kertas-kertas buram di bawah lampu yang remang.

Sekitar jam empat sore, perut Valerie mulai berbunyi nyaring. Ia baru ingat kalau ia belum makan apa pun sejak pagi. Ia melirik Xavier yang baru saja menyelesaikan makan siang mewahnya yang dipesan dari restoran bintang lima. Sisa makanan di piring Xavier masih terlihat banyak, tapi pria itu dengan sengaja menyuruh pelayan kantor untuk membuangnya tepat di depan mata Valerie.

"Kenapa berhenti? Sudah selesai?" tanya Xavier tanpa menatapnya.

"Aku cuma butuh istirahat lima menit," jawab Valerie lemas.

"Lima menitmu adalah uang bagiku. Lanjutkan," perintah Xavier mutlak.

Valerie kembali menunduk. Ia merasa kepalanya mulai berdenyut. Namun, di tengah rasa sakit itu, amarah mulai muncul. Ia teringat Xavier yang dulu-pria yang akan panik jika Valerie melewatkan jam makannya meski hanya setengah jam. Pria yang akan menyisir rambutnya dengan lembut sambil membisikkan kata-kata cinta. Sekarang, pria yang sama adalah orang yang secara sadar ingin melihatnya tumbang.

Saat hari mulai gelap, kantor mulai sepi. Karyawan lain sudah pulang, menyisakan mereka berdua di ruangan luas itu. Suasana menjadi semakin mencekam. Xavier bangkit dari kursinya, merapikan jasnya, dan berjalan menghampiri meja Valerie.

"Mana laporannya?"

Valerie menyerahkan tumpukan kertas yang sudah ia kerjakan. Tangannya gemetar karena kelelahan. Xavier memeriksanya dengan cepat, lalu dengan gerakan tiba-tiba, ia merobek halaman teratas dan menjatuhkannya ke lantai.

"Salah. Di baris ke-400, ada selisih satu sen. Ulangi semuanya dari awal," ucapnya enteng.

Valerie berdiri dengan sentakan, kursi yang ia duduki terlempar ke belakang. "Satu sen? Kamu menyuruhku mengulang ribuan halaman karena satu sen? Kamu gila, Xavier!"

Xavier maju, mencengkeram kedua lengan Valerie dan mendorongnya hingga punggung wanita itu membentur dinding. Ia mengunci tubuh Valerie dengan kedua tangannya, wajahnya hanya berjarak beberapa senti.

"Aku memang gila, Val. Dan kamu yang membuatku begini," desis Xavier. Napasnya yang hangat terasa di kulit wajah Valerie, menciptakan sensasi yang mengerikan sekaligus membingungkan. "Kamu pikir kamu bisa masuk kembali ke hidupku dan mengharapkan perlakuan manis? Aku ingin kamu merasakan betapa menyebalkannya harus berjuang demi sesuatu yang tidak mungkin kamu dapatkan. Sama seperti aku yang dulu berjuang mempertahankan hubungan kita saat kamu sibuk merencanakan pengkhianatanmu."

"Aku tidak pernah mengkhianatimu!" teriak Valerie tepat di depan wajah Xavier. Air matanya pecah. "Kamu tidak tahu apa-apa! Kamu hanya melihat apa yang ingin kamu lihat!"

Xavier tertawa sinis, tapi matanya menunjukkan luka yang sangat dalam. "Aku melihatmu pergi dengan pria itu. Aku melihatmu menerima uang itu. Apa lagi yang harus aku tahu?"

Cengkeraman Xavier di lengan Valerie mengeras, membuat Valerie meringis kesakitan. Tapi tiba-tiba, tatapan Xavier turun ke bibir Valerie yang bergetar. Selama beberapa detik, kemarahan di matanya berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap dan lebih intens. Ketegangan di antara mereka berubah menjadi sesuatu yang menyesakkan.

Xavier perlahan mendekatkan wajahnya, seolah hendak mencium Valerie dengan penuh kebencian, namun di detik terakhir ia memalingkan wajah dan melepaskan Valerie dengan kasar hingga wanita itu hampir terjatuh.

"Beritahu supir di bawah untuk menjemputmu. Kamu tidak pulang ke rumah ayahmu malam ini. Kamu ikut ke apartemenku," kata Xavier sambil berjalan menuju pintu tanpa menoleh lagi. "Dan bawa semua kertas itu. Kamu akan menyelesaikannya di sana sambil menjagaku tidur."

Valerie merosot ke lantai setelah pintu tertutup. Ia terisak dalam diam di tengah ruangan yang sunyi. Ia tahu, malam ini akan menjadi malam yang jauh lebih panjang dan lebih menyakitkan dari apa pun yang pernah ia bayangkan. Harga dirinya sudah habis, tenaganya terkuras, tapi ia tahu ia harus berdiri lagi. Karena di tangan pria kejam itu, hidup ayahnya bergantung.

Dengan tangan gemetar, ia memunguti sobekan kertas di lantai. Ia harus kuat. Meski ia harus menjadi pelampiasan kebencian Xavier, ia akan bertahan, setidaknya sampai ia menemukan cara untuk membuat pria itu mengerti bahwa luka mereka sebenarnya berasal dari lubang yang sama.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Accidentally Fall For You
9.6
Arsenio Orlando Lazcano adalah CEO Lazcano's Corps yang kaya dan penuh kharisma. Di balik pesonanya, ia menyembunyikan sisi gelap sebagai pria yang tak segan membunuh. Namun, dunianya yang kelam berubah total setelah sebuah insiden mempertemukannya dengan seorang gadis lugu yang sangat baik hati. Perbedaan kepribadian yang kontras justru memicu rasa penasaran Arsen. Ketertarikan mendalam pun muncul saat ia mulai terobsesi pada gadis yang sangat polos tersebut.
Sampul Novel Istri Sah Hanya Dianggap Pembantu
9.2
Aluna Maheswari menderita akibat sikap dingin Renandio serta pengkhianatan keluarga besarnya. Usai menggugat cerai, ia bertemu Dion Ardianata, duda kaya yang membesarkan putranya, Elvano, sendirian. Hubungan mereka bermula saat Aluna menyelamatkan Elvano dari kecelakaan. Bocah yang merindukan kasih sayang ibu itu pun mulai melekat padanya. Meski benih cinta tumbuh, masa lalu yang kelam dan orang-orang yang iri menjadi penghalang besar bagi kebahagiaan baru mereka.
Sampul Novel Kembalinya Marsha yang Tercinta
9.5
Diusir dan dihina setelah terungkap bukan anak kandung, Marsha dituduh hanya putri petani biasa oleh putri asli yang licik. Namun, kenyataan mengejutkan muncul saat ayah kandungnya ternyata miliarder terkaya, didukung saudara-saudara hebat yang memujanya. Di balik itu, Marsha sendiri adalah pengusaha sukses yang mandiri. Saat mantan kekasihnya yang sombong mencoba menjauh, seorang pria misterius berkuasa muncul untuk melindunginya dan membungkam semua penghina.
Sampul Novel Menikah Dengan CEO Posesif
8.9
Sheila harus menelan kepahitan saat pernikahan impiannya dengan Bryan hancur seketika. Ia terpaksa menjadi istri Bara Alexander Rodriguez, pria berkuasa yang menjadikannya jaminan atas utang Bryan. Kini, Sheila terjebak dalam obsesi Bara yang posesif dan mengklaimnya sebagai milik pribadi. Di tengah rasa benci dan kecewa, mampukah Sheila bertahan menghadapi lika-liku rumah tangga yang rumit? Ataukah ada kebahagiaan yang tersisa dalam ikatan paksa ini?
Sampul Novel Menikahi Ayah Sahabatku
9.0
Almira Devara terpaksa akan dinikahkan ayahnya dengan juragan desa demi melunasi hutang. Selina, sahabatnya yang kaya, merasa iba dan meminta ayahnya sendiri, Diran Mahendra, untuk menikahi Almira. Meski awalnya enggan, duda sukses itu setuju demi menolong Almira. Kini, Almira harus menjalani rumah tangga dengan pria yang jauh lebih tua. Di sisi lain, Diran masih menutup hati akibat trauma masa lalu. Bisakah cinta tumbuh di antara mereka?
Sampul Novel Pelabuhan Akhir Sang Pewaris
7.8
Sean Axel William merupakan pewaris tunggal Grup William yang disegani karena ketegasannya di dunia bisnis. Meski dikelilingi banyak wanita dari kalangan selebriti yang haus akan kekayaannya, Sean merasa jenuh dengan segala kepalsuan tersebut. Namun, segalanya berubah saat ia bertemu sosok perempuan unik yang memikat hatinya. Kini sang miliarder justru berbalik mengejar cintanya demi menjadikan wanita itu sebagai pelabuhan terakhir dalam hidupnya.