Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Terapi Psikologis Khusus

Terapi Psikologis Khusus

Di dalam ruang klinik yang sunyi, Nina menjalani sesi terapi psikologis pribadi bersama Dokter Sam. Sang dokter menegaskan bahwa tubuh dan pikiran saling terikat demi melepas tekanan batin Nina. Namun, metode relaksasi tersebut berubah menjadi sentuhan fisik yang melintasi batas profesional. Meski akal sehatnya berontak hingga membuatnya menangis memohon agar terapi dihentikan, Nina didera konflik batin hebat saat tubuh dan jiwanya justru merasakan ketenangan yang asing sekaligus mengkhianati keinginannya sendiri.
Bab
Bagikan

Bab 2

Pakaian itu sangat tipis dengan bahan transparan. Apa yang bisa ditutupi?

"Dokter Sam, ini..."

Aku memegang selembar kain tipis itu, ujung jariku gemetar.

"Ada apa? Apa ada masalah?"

"Baju ini..."

Aku terbata-bata, sama sekali tidak sanggup melanjutkan.

"Pakaian terapi ini dibuat khusus, tujuannya agar proses terapi bisa dipantau dengan lebih baik."

Suara Sam terdengar tenang, seolah ini hal yang wajar.

"Kondisimu cukup khusus, jadi perlu pengamatan yang lebih detail."

Pengamatan? Pengamatan apa?

Aku menggigit bibir kuat-kuat, batinku berperang sengit.

"Nina, kalau kamu nggak mau bekerja sama, terapi ini nggak ada gunanya dilanjutkan. Ini cuma langkah yang diperlukan dalam terapi."

Langkah yang diperlukan…

Dia seorang dokter, aku pasien. Seharusnya aku percaya pada penilaiannya yang profesional.

Terbayangkan lagi betapa menyiksanya insomnia itu.

Aku memejamkan mata dan menguatkan hati, lalu melepas pakaianku dengan cepat dan mengenakan pakaian terapi itu.

Bagaimanapun juga, kakiku masih ada di tubuhku. Kalau ada yang tidak beres, aku bisa kabur!

Sentuhan dingin dari pakaian terapi itu membuat bulu kudukku berdiri.

Setelah berlama-lama menunda, akhirnya aku memberanikan diri membuka pintu ruang ganti.

"Bagus."

Sam sudah menungguku di pintu.

Aku menundukkan kepala, tidak berani menatap matanya. Tubuhku terasa sangat tidak nyaman.

"Berbaringlah di atas ranjang terapi."

Sam menunjuk sebuah ranjang di tengah ruangan. Di atasnya, terdapat beberapa alat yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Aku berjalan kaku menghampirinya, lalu berbaring.

"Ini semua adalah peralatan paling canggih di bidang terapi psikologis."

Sam mengambil sebuah alat logam dan mengayunkannya di depanku.

"Ini adalah alat stimulasi saraf frekuensi rendah. Alat ini dapat membantumu merilekskan otot dan meredakan kecemasan."

Aku mengangguk, telapak tanganku sudah basah oleh keringat karena tegang.

Sam menyalakan alat itu. Ujung logamnya yang dingin perlahan menyapu lenganku, naik ke bahu, lalu berhenti di dadaku.

"Uh..."

Aku terlonjak, tubuhku refleks menegang.

"Nina, rilekslah."

Sam menenangkanku dengan suara lembut.

"Ini reaksi yang wajar, nggak perlu tegang."

"Sebentar lagi kamu akan merasa nyaman dan rileks."

Reaksi wajar? Di kepalaku muncul tanda tanya besar. Namun, tubuhku benar-benar mulai rileks dengan sendirinya.

Ujung logam itu terus bergerak, mengikuti garis tulang selangkaku, turun perlahan melewati perut, hingga akhirnya berhenti di bagian yang paling pribadi.

"Ah!

Aku berseru kaget dan langsung duduk sambil merapatkan kedua kaki.

"Ada apa? Apa nggak nyaman?"

Sam menatapku dengan wajah polos.

"Ini... ini..."

Aku terbata-bata, tidak mampu merangkai kata.

"Ini untuk merangsang sarafmu, melepaskan tekanan dari lapisan terdalam."

"Percayalah padaku, ini semua bagian dari terapi, semuanya demi kebaikanmu."

Sam menjelaskan dengan sabar.

Ekspresinya tampak tulus dan serius, tidak seperti berpura-pura.

Namun, benarkah dia sedang mengobatiku? Atau…

"Nina, kamu bisa memilih untuk menghentikan terapi. Hanya saja, kalau sesi pertama nggak selesai, takutnya nggak akan ada efek apa-apa terhadap insomniamu."

Aku ragu sejenak, lalu perlahan kembali berbaring.

Kali ini, Sam mengganti alatnya. Sebuah alat yang bergetar.

"Ini adalah alat getaran frekuensi tinggi. Alat ini dapat merangsang sarafmu lebih dalam, sehingga kecemasanmu bisa dilepaskan."

Sambil menjelaskan, Sam menyalakan alat itu.

Dengungan halus bergema di ruangan.

Begitu alat itu menyentuhku, aku merasakan seperti ada aliran listrik yang menjalar ke seluruh tubuhku.

"Uh..."

Aku tidak kuasa menahan suara. Tubuhku mulai bergetar.

Rasanya sulit diungkapkan. Asing, tapi cukup familiar. Menakutkan, tetapi membuatku menginginkannya.

Aku memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan sensasi itu mengguncang tubuhku.

Entah sudah berapa lama berlalu, sensasi itu mendadak menghilang.

Aku membuka mata dengan bingung dan mendapati Sam sudah mematikan alat tersebut.

"Terapi hari ini cukup sampai di sini."

Sam berdiri dan mulai membereskan alat-alat.

"Sesi pertama selesai. Berdasarkan pengamatanku, hasilnya cukup baik. Pulanglah dan beristirahat yang cukup. Sampai bertemu lagi."

Dia terdiam sejenak, lalu menambahkan.

"Terapi harus dilakukan secara bertahap."

Aku terbaring kaku, pikiranku benar-benar kosong.

Secara bertahap, sebenarnya apa maksudnya?

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Amanda Rhea
9.1
Amanda Rhea terlempar kembali ke masa lalunya, di mana ia bertemu lagi dengan sosok pria bernama Hagana. Sebuah ikatan misterius menyatukan Amanda dengan putri Haga secara tidak terduga. Namun, ancaman besar mengintai saat iblis dari alam mimpi mulai menampakkan diri dan mencelakai orang-orang di sekitar Amanda. Di tengah teror yang kian nyata, mampukah benih cinta antara Amanda dan Hagana bersemi kembali seiring takdir yang terus mempertemukan mereka?
Sampul Novel Cermin
8.7
Pasca kecelakaan, Inestia Rossi mampu melihat hantu dan mencium aura kematian. Baginya, cermin adalah satu-satunya alat yang jujur mengungkap wujud asli mereka. Di tengah trauma cinta, ia bertemu Rangga, pria skeptis yang justru memberinya keberanian. Meski sering terancam kasus-kasus mengerikan di apartemennya, Ines terus berjuang. Konflik keluarga sempat memisahkan mereka, namun takdir membawa keduanya bertemu kembali untuk berjuang dalam status hubungan yang berbeda.
Sampul Novel Dersik: Begu Ganjang Telah Kembali
9.1
Dendam lama bangkit saat Dersik kembali ke Desa Mangpusu. Meski puluhan tahun berlalu, ia tetap awet muda dan mempesona, siap menuntut balas atas tragedi masa lalunya. Sunarni, sang mantan majikan, kini tunduk karena rasa bersalah saat keluarganya dihabisi satu per satu. Di tengah teror Begu Ganjang, Surya sang dukun sakti mencurigai Dersik sebagai mantan kekasihnya. Ironisnya, putra Sunarni justru jatuh cinta pada wanita misterius yang bertekad menghancurkan mereka.
Sampul Novel DON'T PLAY GAMES WITH ME. Part.2
8.2
Kehamilan pertama Adiba yang menginjak usia lima bulan justru dihantui teror mencekam di rumah baru mereka. Meski tetangga memperingatkan tentang kutukan kematian saat pembangunan kolam renang, Syden tetap mengabaikannya. Di tengah tekanan mistis yang makin gencar, mental Adiba kian terguncang oleh rumor perselingkuhan suaminya. Syden dikabarkan memiliki simpanan yang juga tengah mengandung lima bulan, memicu konflik batin hebat bagi sang istri sah.
Sampul Novel Korban Terakhir yang Digambar Ibu adalah Aku
8.9
Sebagai seniman forensik kepolisian yang andal, ibu Janice sangat membenci kejahatan. Namun, saat Janice menelepon dalam keadaan darurat, sang ibu mengira itu hanya trik kotor untuk merusak hari ulang tahun adiknya. Penolakan ibu untuk membantu membuat sketsa berujung pada kematian tragis Janice akibat siksaan penculik. Ketika hasil tes DNA keluar, sang ibu yang hancur mencoba menggambar wajah korban dari sisa tulang yang ditemukan. Berulang kali ia mencoba, hasil sketsanya selalu menunjukkan wajah Janice.
Sampul Novel Lawon Abang (Kafan Merah)
9.4
Mbah Karso menyaksikan cucunya, Mawar, tewas mengenaskan setelah difitnah dan dikejar warga Ledokombo hingga jatuh ke tebing. Dendam membara menyelimuti hatinya karena gadis bermata merah itu dibunuh secara keji. Demi membalas sakit hatinya, ia membangkitkan Nyai Larapati, sosok iblis kuno yang telah lama tertidur. Raga Mawar yang sudah mati dipaksa bangkit kembali untuk menuntaskan kesumat berdarah tanpa ampun terhadap para penduduk desa tersebut.