
Dersik: Begu Ganjang Telah Kembali
Dersik: Begu Ganjang Telah Kembali Bab 1
Ada sebuah jalan masuk ke sebuah desa. Kanan dan kiri jalan itu, di tanam sebuah beton yang lebarnya sekitar 40cm dan tingginya 150cm. Setengah dari benda itu, dicat putih dan bawahnya hitam.
Itu adalah penanda batas desa satu dengan desa lainnya. Memasuki jalan yang ditandai dua beton itu, akan ada sebuah desa yang warganya sedang geger. Karena, salah satu orang terpandang di desa itu baru saja ditemukan meninggal di depan pintu rumahnya sendiri.
"Pak Bambang meninggal! Pak Bambang meninggal!" teriak seseorang yang membawa berita sambil memukul sebuah kentongan.
Saat itu, di sana belum ada mushala. Untuk kebutuhan ibadah, ada sebuah tempat khusus, seperti bangunan rumah biasa tetapi dalamnya sangat lapang. Sehingga orang-orang yang akan sembahyang berjamaah sebagai muslim, mereka melakukannya di sana.
Sedangkan bila akan menyampaikan sebuah informasi mereka harus memukul kentongan. Untuk membuat warga berkumpul.
"Pak Bambang meninggal!" seru orang itu sekali lagi.
"Hah?! Kapan?" tanya seorang pria, yang baru saja keluar dari rumahnya dan berjalan menghampiri kerumunan yang belum terlalu padat.
"Tadi pagi! Istrinya berteriak histeris di depan rumah, saat aku dan beberapa orang keluar memeriksa. Pak Bambang sudah terbujur kaku dengan leher biru, mata melotot dan lidahnya menjulur!"
Mereka yang ada di sana tercengang mendengar berita tersebut, menggeleng, dan merasa ikut ngeri.
Tak lama, rumah Pak Bambang didatangi banyak pelayat.
Istri Pak Bambang yang bernama Sunarni terlihat sangat tabah, jika orang yang membawa berita mengatakan kalau sebelumnya Sunarni menangis histeris. Melihat suaminya meninggal dengan cara mengenaskan, sekarang justru dia tampak begitu tegar dan sudah ikhlas.
Ketika orang-orang akan memandikan jasad Pak Bambang. Begitu dua pelepah daun pisang yang menutupi bagian atas tubuh Pak Bambang dibuka. Mereka yang akan memandikan, sempat terpaku beberapa saat. terkejut bukan main, ketika melihat keadaan tubuh sang jenazah.
Tidak hanya pada bagian leher yang biru. Ternyata tubuh bagian atas Pak Bambang, tepatnya di bagian dada, perut dan punggung ada lingkaran luka memar cukup besar, bewarna hitam legam bercampur biru dan merah di sisi-sisinya.
Sunarni pun tercengang, melihat keadaan tubuh suaminya. Matanya berkaca-kaca, sambil menutup mulut.
Semua orang saling lirik tapi, untuk menghargai dan menjaga perasaan Sunarni dan semua keluarga Pak Bambang. Mereka cukup diam saja dan melakukan tugas mereka sampai selesai.
Bagaimanapun, keadaan tubuh alm. Pak Bambang saat itu sangat membuat warga heran dan bertanya-tanya. Kenapa bisa sampai seperti itu? Siapa yang membun-uh Pak Bambang, dan apa alasannya? Semua hanya menerka dan menjadi buah bibir di mana saja.
Hanya butuh waktu 1 hari saja, berita itu sudah sampai ke tetangga desa yang berjarak sekitar 200 meter dari beton pembatas desa mereka.
Sebab menyebarkan berita hanyalah permainan kata-kata. Jelas jauh lebih mudah, dari apapun kegiatan dan usaha di dunia ini. Ketika hal itu terjadi, pertemuan yang mulanya biasa saja akan mengubah atmosfer itu menjadi obrolan panjang yang jauh lebih mengasikan.
Beberapa hari kemudian, setelah 5 hari meninggalnya Pak Bambang. Di sore harinya, suara kentongan berbunyi begitu riuh. Seolah sang pembawa berita, tak sabar ingin menyampaikan apa yang ia ketahui.
"Indri, putri Pak Bambang meninggal!" seru orang itu.
"Indri? Putri Pak Bambang yang sudah hampir 1 bulan sakit itu?" tanya seorang ibu-ibu.
"Iya!"
Daftar Isi Dersik: Begu Ganjang Telah Kembali
Novel Rilisan Terbaru

















