Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Takdir Memaksa Mereka Bersatu

Takdir Memaksa Mereka Bersatu

Raiden Valen terpaksa menikahi Elara Maylen demi melindungi kehormatan keluarga dan rumah sakit setelah sebuah kesalahpahaman. Raiden yang dingin dan tegas sebelumnya hanya mengenal cinta saat remaja, namun dikhianati sahabatnya sendiri. Kehadiran Elara yang liar dan tak terkendali seketika mengacaukan hidup Raiden yang teratur. Kini, ia terjebak dalam dinamika berbahaya yang menguji perasaan serta logika di tengah ketegangan pernikahan yang tak terduga ini.
Bab
Bagikan

Bab 2

Raiden terbangun keesokan paginya dengan kepala yang terasa berat, seakan dunia di sekelilingnya berputar lebih lambat dari biasanya. Pikirannya masih terhuyung-huyung dari pernikahan yang baru saja terjadi semalam-pernikahan yang seharusnya tak pernah ia pilih, namun dipaksakan oleh kewajiban dan tekanan yang tak bisa ia hindari.

Di sampingnya, Elara Maylen terbaring dengan napas yang terdengar pelan, tubuhnya masih terbungkus selimut tipis. Pemandangan itu membuat Raiden sedikit terkejut, meskipun ia berusaha menutupi perasaan itu dengan dinginnya. Di dalam hati, ia merasa terjebak, terperangkap dalam sebuah kehidupan yang bukan miliknya.

Suasana kamar itu terasa asing. Tidak ada kata-kata atau salam di antara mereka. Tidak ada perasaan hangat atau kenyamanan yang bisa diharapkan dari sebuah pernikahan. Raiden mengalihkan pandangannya ke jendela kamar yang masih tertutup tirai, melihat hujan gerimis di luar. Dunia tampaknya melambat, seperti mencerminkan hatinya yang mulai gelisah.

Beberapa menit berlalu, dan Elara akhirnya membuka matanya. Tanpa berkata apa-apa, ia berbalik, menghadap ke arah Raiden. Wajahnya tampak sedikit terkejut melihat Raiden sudah duduk di tepi tempat tidur, namun ada juga secercah kegembiraan yang tersembunyi di matanya. Mungkin, Elara Maylen bukanlah sosok yang mudah dipahami, tetapi ada sesuatu yang mendalam dalam dirinya yang tidak bisa Raiden mengerti.

"Jadi, ini hidup kita sekarang?" Elara bertanya dengan nada santai, meskipun matanya memancarkan ketegangan yang dalam.

Raiden tidak langsung menjawab. Ia memutar cincin di jarinya, cincin yang kini menjadi simbol dari sebuah kesepakatan yang lebih besar daripada perasaan pribadi mereka. "Sepertinya begitu." Jawabnya datar, tanpa emosi.

Elara mengangkat alisnya, menatap Raiden dengan pandangan yang tajam. "Kau tidak terlihat senang."

Raiden menghela napas, berdiri dan berjalan ke arah jendela. Pandangannya jauh di luar sana, terfokus pada hujan yang turun perlahan. "Aku tidak pernah memilih ini, Elara. Dan kau tahu itu."

Elara menarik selimut ke tubuhnya, duduk di ranjang dan menatap pria yang baru saja menjadi suaminya-tanpa cinta, tanpa perasaan, hanya kewajiban. "Tapi kita terjebak, kan? Aku juga tidak memilih ini. Aku terjebak di sini karena keluargaku." Ia merendahkan suaranya sedikit, mencoba untuk menyamakan kedudukan. "Dan menurutku, kita berdua punya pilihan yang sama-menjalani ini sebaik mungkin, atau membuat hidup kita lebih sengsara."

Raiden menoleh, matanya bertemu dengan mata Elara yang penuh ketegasan. Meski gadis ini tampak sembrono dan tidak terduga, ada keteguhan dalam dirinya yang tidak bisa disangkal. Sesuatu yang lebih kuat daripada sekadar permainan kekuasaan atau reputasi. Raiden merasakan sesuatu yang tak bisa ia jelaskan, meskipun ia berusaha untuk tetap terkendali.

"Kita akan menjalani ini dengan cara kita sendiri, Raiden," ujar Elara, kali ini lebih serius. "Aku tidak akan bermain sesuai aturan yang sudah ditetapkan oleh keluarga kita. Aku bukan boneka yang hanya ada untuk menjaga nama baik."

Raiden menatapnya, menilai setiap kata yang diucapkan Elara. Sifatnya yang tak kenal kompromi itu membuatnya sedikit terkejut, tapi juga sedikit tertarik. "Aku tidak pernah menganggapmu sebagai boneka," jawabnya dengan tegas. "Tapi kita harus menjaga kesopanan ini. Setidaknya di depan orang lain."

Elara tersenyum sinis. "Tentu, karena itu yang kita semua butuhkan-kesopanan." Ia mengejek sedikit, namun tetap ada sedikit ketegangan dalam suaranya.

Raiden memutar bola matanya, merasa sedikit frustrasi. Ia tahu betul bahwa pernikahan ini bukan hanya tentang mereka berdua, tetapi tentang permainan yang jauh lebih besar. Di balik semua ini ada tujuan yang lebih gelap, dan meskipun ia tidak ingin terjebak dalam permainan itu, ia tahu bahwa ia harus melanjutkannya, setidaknya untuk keluarga Valen.

Sementara itu, Elara memutuskan untuk berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. "Aku akan mandi. Jangan khawatir, Raiden, aku tahu apa yang harus dilakukan." Kata-katanya begitu sederhana, namun dalam nada itu, ada pesan yang dalam. Elara bukanlah wanita yang bisa diprediksi, dan Raiden tahu itu.

Setelah beberapa saat, Elara keluar dari kamar mandi, mengenakan gaun tidur yang sederhana, namun cukup menarik untuk menarik perhatian siapa pun. Raiden hanya diam, memandangi Elara tanpa banyak berkata-kata. Ia tahu betul bahwa hidup mereka ke depan tidak akan mudah, tetapi ia juga tahu bahwa ia tidak bisa berlarian dari kenyataan ini.

Ketegangan di antara mereka terasa jelas, seperti ada tembok yang terbentuk antara mereka berdua. Tidak ada kehangatan, tidak ada rasa saling menghormati yang alami. Hanya ada kewajiban dan rasa terpaksa yang menyelimuti setiap langkah mereka.

Elara akhirnya membuka mulut, mencoba mengubah suasana yang canggung itu. "Apa yang akan kita lakukan hari ini?" tanyanya dengan santai, seperti tidak ada yang penting. Namun, di dalam hatinya, ada kebingungannya sendiri-tentang hidup yang baru ini, dan bagaimana ia harus menavigasi setiap gerakan untuk tetap hidup, meski dalam pernikahan yang terpaksa.

Raiden menatapnya dengan serius. "Kita akan mengikuti rencana yang telah disusun oleh keluarga. Ada beberapa pertemuan dan acara yang harus kita hadiri." Ia berbicara tanpa rasa emosi, seperti seorang yang sudah terbiasa dengan rutinitas yang keras.

"Acara-acara itu tidak menarik, Raiden," Elara mengeluh, terdengar seperti anak kecil yang tidak ingin mengikuti aturan yang sudah ditentukan.

Raiden hanya tersenyum sinis, meskipun senyuman itu tidak sampai menyentuh matanya. "Aku tahu. Tapi ini adalah bagian dari permainan yang lebih besar."

Pagi itu, mereka berdua pergi bersama menuju acara keluarga yang sudah direncanakan. Raiden, dengan keheningan dan ketegasan yang biasa, dan Elara, dengan senyum tajam dan sikap tak terduga, menjadi pusat perhatian di setiap tempat mereka pergi. Mereka berdua seperti dua dunia yang bertabrakan-Raiden dengan dunia bisnis dan kekuasaan, sementara Elara dengan dunia yang lebih kacau, lebih liar dan penuh ketidakpastian.

Setiap langkah mereka seolah terikat oleh satu tujuan yang lebih besar-untuk menjaga keluarga dan rumah sakit mereka tetap terhormat. Namun, di balik pernikahan yang tampaknya hanya berdasarkan kewajiban itu, ada perasaan yang tidak bisa disangkal. Ketegangan yang tidak bisa diselesaikan. Permainan yang tidak bisa mereka hindari, meskipun mereka berdua tidak menginginkannya.

Di tengah semua itu, satu hal menjadi semakin jelas: hubungan ini, meskipun dipenuhi dengan ketegangan, kebingungan, dan kebohongan, akan mengubah hidup mereka lebih dari yang mereka kira.

Namun, satu pertanyaan tetap menggelayuti benak mereka: Bisakah mereka bertahan hidup bersama dalam pernikahan yang dibangun atas dasar kewajiban ini?

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Penyesalan Dan Pembebasan
8.5
Sepuluh tahun pernikahan dengan Irfan hanya menyisakan kebencian mendalam akibat kematian sahabat masa kecilnya. Setelah Irfan gugur dalam misi penyelamatan bersenjata demi dirinya, sang istri justru disalahkan oleh semua orang atas tragedi tersebut. Dipenuhi rasa bersalah, ia memilih mengakhiri hidupnya dengan racun. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua saat ia terbangun di malam sebelum pernikahan mereka. Kali ini, ia bertekad untuk merelakan hubungan mereka sepenuhnya.
Sampul Novel DI ATAS RANJANG MAFIA
9.7
Michele Lazzaro Riciteli adalah pemimpin mafia Roma yang kejam dan memiliki kondisi medis langka. Dirinya kebal terhadap rasa sakit fisik, namun ia juga tidak mampu merasakan kepuasan seksual. Hidupnya berubah drastis setelah terlibat cinta satu malam dengan Meghan Crafson, wanita yang secara ajaib bisa menyembuhkan disfungsinya. Demi mempertahankan sensasi yang selama ini hilang, Michele nekat memerintahkan penculikan Meghan. Apa rahasia di balik identitas Meghan sebenarnya?
Sampul Novel Harga Diri Seorang Wanita
8.1
Jenna Ren berdiri di tepi atap rumah sakit dengan lengan berdarah dan hati hancur. Saat nyaris melompat, ia melihat suaminya datang bersama wanita lain. Jenna sadar bahwa kematiannya hanya akan memberi mereka kebahagiaan. Setelah menderita hingga keguguran, ia bangkit untuk membalas dendam. Jenna membatalkan niat bunuh diri dan mendatangi Tuan Besar Kim. Sambil berlutut, ia memohon kekuasaan demi menghancurkan orang-orang yang telah mengkhianatinya.
Sampul Novel Jatuh Cinta Pada Luka
7.9
Damian Verano, bos mafia tangguh, nyaris tewas setelah dikhianati dalam perebutan wilayah. Terhanyut di sungai selama tiga hari, ia ditemukan oleh Alira, gadis desa berusia delapan belas tahun yang sangat sederhana. Meski Damian masih terbayang sosok Sierra, pesona polos Alira justru memicu getaran cinta yang tak terduga di hatinya. Akankah sang penguasa dunia bawah tanah yang kejam mampu bersatu dengan gadis dusun yang buta akan masa lalunya yang kelam?
Sampul Novel King Of King
8.2
Di Negeri Awan, Elisabet yang merupakan selir keempat Kaisar Oro melahirkan putra bernama Starling di bawah naungan bintang raksasa. Namun, hasutan dukun keji membuat Kaisar percaya bahwa bayi itu hasil perselingkuhan Elisabet dengan Jenderal Robert. Demi keselamatan abadi istana, sang Kaisar dituntut untuk menjadikan darah dagingnya sendiri sebagai tumbal persembahan. Akankah ambisi kekuasaan mengalahkan naluri ayah saat nyawa Starling terancam di tangan Oro?
Sampul Novel Menceraikan Suamiku yang Kejam
8.4
Tragedi tabrak maut yang menewaskan orang tua Yulia berujung petaka mengerikan. Alih-alih mendapatkan keadilan, Yulia justru disekap oleh suaminya sendiri di ruang bawah tanah yang gelap gulita demi melindungi sang pelaku yang merupakan teman masa kecil suaminya. Selama tiga tahun penuh siksaan fisik dan mental, dia terus dipaksa untuk memaafkan pelaku. Setelah akhirnya menyerah dan berpura-pura tidak lagi menaruh dendam, Yulia dibebaskan. Namun, saat dia menolak pelukan dan menuntut perceraian, suaminya justru kehilangan kendali.