Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Tak Apa Jadi Istri Kedua, yang Penting Soleha

Tak Apa Jadi Istri Kedua, yang Penting Soleha

Fika menjalani kehidupannya sebagai istri kedua dengan penuh keyakinan diri. Meski berada di posisi tersebut, ia merasa jauh lebih unggul dibandingkan dengan istri pertama suaminya. Dalam batinnya, Fika merasa bangga karena menganggap dirinya memiliki paras yang jauh lebih menawan. Tak hanya soal fisik, ia pun merasa tingkat ketaatan dan pemahaman agamanya jauh lebih baik, menjadikannya sosok yang lebih saleha dalam mengarungi biduk rumah tangga tersebut.
Bab
Bagikan

Bab 3

Aku liat Mas Ahmad mulai melirik ke arah Mbak Rina dengan tatapan tak suka. Mungkin saja Mas Ahmad ingin memberitahu Mbak Rina jika apa yang telah dilakukan perempuan itu tak benar.

Mbak Rina memang tak pernah bisa bikin kedamaian. Tindakannya selalu saja memicu suasana keruh dan kacau. Kalau dipikir-pikir aku lebih suka jika dia enyah saja dari rumah ini. Tapi entahlah, karena tak tahu malu Mbak Rina masih saja kekeuh untuk tetap tinggal di rumah ini.

Aku menghela nafas.

"Mas, nggak usah marahin Mbak Rina, ya. Walau gimanapun aku udah maafin dia," aku tersenyum menatap Mas Ahmad.

Mas Ahmad menghembus nafas kasar.

"Beruntung kamu punya adik madu seperti Fika! Kalau nggak, aku nggak tahu apa yang akan terjadi!" suara Mas Ahmad terdengar agak kesal.

Mas Ahmad memang selalu lengket padaku. Terhitung sudah 3 bulan kami menikah, selama itu pula tak pernah dia bisa memarahiku. Dia bilang aku istri pilihan terbaik yang pernah ia miliki. Bangga memang bisa menjadi kebanggaan seorang suami.

Mbak Rina menghabiskan makanan yang ada di piringnya. Ia benar-benar mengabaikan Mas Ahmad yang sedang kesal padanya. Bahkan ia malah nambah nasi dan lauk ke piringnya tanpa rasa malu. Luar biasa memang wanita ini. Bahkan mungkin tidak terbersit di hatinya untuk meminta maaf pada Mas Ahmad atau padaku.

"Rin, tuh nanti piringmu cuciin dulu! Jangan mau makan aja bisanya! Jangan cuma suruh Fika terus!" tegur Mas Ahmad.

Aku tersenyum dalam hati, kena tegur lagi dia. Ha ha... Ingin rasanya aku tergelak. Tapi tidak, itu bukan sikap yang baik untuk di tunjukkan di depan Mas Ahmad. Aku memutuskan untuk diam dan pura-pura tidak ambil pusing.

"Entar dulu ya, Mas! Aku belum selesai makan. Masakan Fika emang luar biasa." Imbuh Mbak Rina.

"Apa yang kamu bilang emang bener. Tapi bukan itu yang sedang aku omongin. Aku bilang ntar piringmu cuci sendiri!"

"Biar ntar Fika aja yang cuciin piringnya, Mas. Nggak apa-apa," ucapku kemudian.

"Oke, terimakasih ya, Fik!" balas Mbak Rina.

Sial*n, andai saja tak ada Mas Ahmad di sini, tak mungkin aku rela untuk berkata seperti itu. Tapi tidak mengapa, anggap saja ini salah satu pengorbananku untuk Mas Ahmad.

"Ya Tuhaan! Sekali lagi kau harusnya bersyukur, Rina!" Mas Ahmad berkata kesal sambil meninggalkan ruangan dapur.

"Mbak, harusnya Mbak minta maaf sama mas Ahmad!" sergahku.

"Minta maaf? Memangnya salah apa yang udah perbuat sama dia?"

Oh ya ampuun, apa yang dia pikirkan? Sepertinya wanita ini tidak sadar akan kesalahannya. Oke baiklah, akan kukasih tahu dia.

"Mbak tanya salah apa? Mbak nggak nyadar apa kalo udah bikin Mas Ahmad kesal dan marah?Kenapa tadi gak iyain aja ketika dia suruh cuciin piring itu? "

Bukannya sadar, eh dia malah tetap tersenyum ringan ketika mendengar apa yang aku katakan barusan.

"Kesal dan marahnya dia itu adalah karena egonya sendiri. Lagi pula, kamu sendiri yang langsung menjawab kalo kamu aja yang ingin cuciin piringnya. Terus salah aku apa?"

Ya Rabbi.

"Pantesan Mas Ahmad terus marah sama kamu, Mbak! Kamu emang selalu ngeselin! Mbak liat aku nggak? Pernah nggak Mas Ahmad semarah itu sama aku? Nggak pernah, Mbak? Itu karena aku bisa bikin dia nyaman! Harusnya Mbak bisa berpikir kayak aku. Biar nggak di selingkuhin sama suami!"

Rasanya aku mulai geram. Ini kesempatan aku bisa ngomong langsung sama dia, selagi Mas Ahmad tidak mendengar apa yang aku katakan.

"Iya, Fik. Aku juga salut amat sama kamu. Kamu bisa banget bikin Mas Ahmad nyaman. Servis kamu emang bagus. Aku pantas acungin jempol buat kamu. Tapi aku, aku kayaknya nggak perlu munafik agar bisa menjadi selingkuhan suami orang." Dia tertawa tipis.

Astaga! Apa dia menyinggungku?

"Mbak, aku ini bukan selingkuhan! Camkan itu! Aku ini adalah istri sah. Jadi Mbak jangan macam-macam!"

"Iya, sekarang kamu emang istri sah kok. Aku nggak sedang bicarain kamu. Kenapa kamu cepat banget tersinggung?"

"Udah, udah deh, Mbak. Lebih baik sekarang kamu urusin tuh lemak membuntal di perutmu itu! Biar Mas Ahmad nggak terlalu jijik nyentuhnya. Kan kasihan kamu kalo tiap malam Mas Ahmad cuma mau tidur sama aku doang. Kasihan tuh tubuhmu yang kayak ikan buntal itu di anggurin mulu!" Aku terkekeh. Kali ini biarkan saja dia tersinggung habis-habisan. Salah sendiri kenapa mau memulai. Dia pikir cuma dia yang bisa sindir menyindir? Nih aku langsung bilang blak-blakan, nggak pake sindiran.

"Kamu bener banget, Fik. Nih aku juga lagi urusin lemak-lemak di tubuh aku. Lagi pula, aku tertolong banget sama adanya kamu yang bantu-bantu di rumah ini. Jadi aku bisa lebih meluangkan waktu untuk mengurus dan merawat diri sendiri. Btw thank you, ya, Fik!" Perempuan itu berkata sambil meninggalkan aku begitu saja.

Ooh, mungkin sekarang dia mau coba-coba perawatan diri? Ha ha... Ingin tertawa aku mendengarnya. Fia pikir mudah untuk mendapatkan tubuh ideal seperti punyaku ini? Oh itu tidak mudah, Ferguso! Kalo bawaan lahir udah jelek, ya mau di bawa kemanapun juga tetap jelek. Mimpi aja dia mau punya tubuh bagus. Andai saja dia punya tubuh yang emang dari sononya cantik, nggak mungkin Mas Ahmad kepincut sama aku. Atau minimal kalo dia pandai mengambil hati suami, mungkin saja Mas Ahmad masih berpikir dua kali untuk memiliki istri lain.

Tapi yang melekat pada diri Mbak Rina jauh dari kata-itu. Dia mah udah jel*k, plus nggak pandai menarik hati suami pula. Paket komplit emang.

Dulu ketika aku dan Mas Ahmad masih status pacaran, Mas Ahmad selalu mengeluh padaku soal istrinya itu. Mas Ahmad memang benar-benar muak sama Mbak Rina. Hanya saja Mbak Rina nggak sadar dan lagi-lagi dengan bod*hny masih mau bertahan.

Tersadar dari berbagai pikiran tentang perempuan itu, aku bergegas membereskan segala sesuatunya. Termasuk piring Mbak Rina tadi. Uh, sial*an.

Aku bisa merasa sedikit lega ketika semua terlihat kinclong. Untung tadi anak-anak sudah aku mandikan. Sebenarnya ini sangat melelahkan, tapi tak apa, aku bisa tunjukan pada Mas Ahmad jika Fika bisa mengurus rumah dengan baik meski harus nyambi mengurus dua anak pula.

Sekarang sudah waktunya aku membersihkan diri dan menata diri sebaik mungkin. Aku harus selalu terlihat bersih dan wangi, agar Mas Ahmad selalu betah.

Seusai mandi aku menuju lemari kosmetikku, mengambil pouch moisturizer kebanggaanku yang seharga jutaan ini.

Aku menarik nafas, skin care ini sudah hampir habis. Aku harus minta kepada Mas Ahmad untuk segera membeli yang baru. Lihat, ini telapak tanganku juga mulai terasa agak kasar, jadi aku akan mencarikan rekomendasi produk yang sedikit lebih bagus lagi.

Aku menghampiri Mas Ahmad. Eh, di depan kamar aku kembali berpapasan dengan wanita buntalan lemak ini. Wangi semerbak menembus hidung. Apa dia sudah mengenal parfum? Wiih, ada kemajuan apa ini? Apa dia mau mencoba menjadi sepertiku?

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Gairah Suamiku (Jangan Salahkan Aku Selingkuh)
8.4
Ayana tidak habis pikir mengapa Dindar, suaminya, kerap bersikap kasar dan ringan tangan hanya karena masalah sepele. Setiap kali Ayana tidak sengaja mendesah saat mereka berhubungan intim, Dindar akan langsung naik pitam dan menyakitinya secara fisik. Ayana merasa perlakuan tersebut sangat tidak wajar bagi pasangan suami istri. Namun, di balik keanehan gairah dan sikap temperamental suaminya itu, ternyata Dindar menyimpan sebuah rahasia besar yang tersembunyi.
Sampul Novel I'm Not a Gangster
9.8
Seorang pemuda desa terpaksa merantau ke kota besar demi menyambung hidup. Dengan tekad sederhana, ia bercita-cita menjadi seorang pengawal profesional. Namun, takdir justru menyeretnya ke dalam gelapnya dunia kriminal yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Tanpa disadari, ucapan masa lalunya menjadi kenyataan pahit yang menuntunnya menjadi sosok gangster. Kini ia terjebak dalam pusaran konflik bawah tanah yang menguji prinsip serta keberaniannya.
Sampul Novel Jangan Mencintaiku, Paman!
9.7
Demi menghindari mertua yang kejam, Ayu mencari perlindungan di rumah pamannya, Hideki. Namun, sebuah insiden fatal di bawah selimut yang sama menghancurkan segalanya. Kini pernikahan mereka hancur, dan Ayu diusir tanpa sempat menemui suaminya. Meski merasa hina, Ayu terpaksa tinggal bersama Hideki yang kini bersikap dingin, tak lagi lembut seperti saat merawatnya sejak kecil. Rahasia apa yang Hideki sembunyikan? Akankah Ayu memilih kembali atau terjebak cinta terlarang?
Sampul Novel Luka Cinta Dari Suami Obsesif
8.6
Demi nyawa kakek, aku terpaksa menikahi Simon Adijaya yang telah mengurungku selama sedekade. Namun, aku justru disiksa oleh Virginia hingga wajahku hancur. Bukannya menolong, Simon malah menyebutku sampah dan membuangku ke sungai es. Di ambang maut, aku tahu kakek telah tiada. Simon merampas segalanya dariku: orang tua, kebebasan, dan harapan. Kini, dendam membara dalam sukmaku. Aku bersumpah akan menghancurkan hidupnya hingga dia memohon kematian yang takkan pernah kuberikan.
Sampul Novel Makin Tua Makin Binal
8.8
Kisah romansa modern ini secara khusus dihadirkan bagi pembaca yang sudah menginjak usia matang dan dewasa. Alur ceritanya mengeksplorasi sisi kehidupan yang lebih berani dan mendalam, sesuai dengan pengalaman hidup mereka yang telah lama melewati masa muda. Dengan narasi yang jujur dan blak-blakan, buku ini menyuguhkan dinamika hubungan yang penuh gairah serta intensitas emosional yang hanya bisa dipahami sepenuhnya oleh audiens yang telah dewasa.
Sampul Novel Mama Polos Dan Bayi Jenius
9.2
Insiden salah kamar enam tahun silam mengubah hidup seorang wanita selamanya. Tanpa mengingat wajah pria di malam itu, ia terpaksa melarikan diri untuk membesarkan buah hatinya sendirian. Takdir kembali mempertemukan mereka saat ia bekerja sebagai sekretaris di kantor pria tersebut. Meski sang bos tampak tidak mengenalnya, ada ketertarikan yang tak tertahankan di antara mereka. Rahasia masa lalu kini mengancam ketenangan hidup yang ia bangun.