Sampul Novel I'm Not a Gangster

I'm Not a Gangster

9.8 / 10.0
Dalam I'm Not a Gangster, seorang pemuda desa mengejar ambisi menjadi bodyguard di kota. Namun, ia justru terjebak dalam mafia novel yang penuh intrik dunia bawah tanah. Simak aksi serunya di webnovel modern ini untuk melihat bagaimana ia bertahan di tengah kerasnya konflik mafia.
Ringkasan I'm Not a Gangster
Seorang pemuda desa terpaksa merantau ke kota besar demi menyambung hidup. Dengan tekad sederhana, ia bercita-cita menjadi seorang pengawal profesional. Namun, takdir justru menyeretnya ke dalam gelapnya dunia kriminal yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Tanpa disadari, ucapan masa lalunya menjadi kenyataan pahit yang menuntunnya menjadi sosok gangster. Kini ia terjebak dalam pusaran konflik bawah tanah yang menguji prinsip serta keberaniannya.
Baca Selengkapnya

I'm Not a Gangster Bab 1

"Ma, kita tidak lebaran?" tanya Kamal.

Lebaran Idul Fitri tinggal dua hari lagi, tetapi Bu Senia belum mempersiapkan apa-apa.

Senia, wanita paruh baya, wanita yang dipanggil Mama oleh Kamal, tampak menyunggingkan senyumnya yang telaga. Akan tetapi, pada saat yang bersamaan, ada awan kelabu yang bergelantungan di wajah letihnya.

"Maafkan, Mama, Nak," ucap Bu Senia. "Kita mungkin terlambat lebaran. Mudah-mudahan Tuhan kasi kemudahan supaya kita bisa lebaran di hari lebaran Ketupat."

Terjawab sudah kenapa tidak ada kegiatan sama sekali di rumah ini. Sadar akan hal itu, Kamal merogoh sejumlah uang dari sakunya. Sebelum menyerahkannya, Kamal lebih dulu mencium hasil jerih payah yang sejatinya ia kumpulkan untuk biaya sekolah.

"Mudah-mudahan ini cukup," ucap Kamal sambil menyodorkan uang tersebut.

"Ya, Allah, Nak, ini dapat dari mana? Ini bukan dapat dari mencuri, 'kan?" Bu Senia kurang yakin.

"Ya, Allah, Ma ... !" Kamal mendesis sedih. "Itu saya punya hasil jualan daun pisang beberapa hari ini, kasian."

Bu Senia menatap Kamal, mencari kebenaran di sana. Sesaat setelah itu, barulah Bu Senia memeluk Kamal.

"Maafkan, Mama, Nak!" sesal Bu Senia.

"Iya, tidak apa-apa, Ma," balas Kamal dengan nada yang nyaris tidak terdengar bahkan oleh telinganya sendiri.

Setelah itu, selain tangan yang bergetar-getar, mata berkaca-kaca, Bu Senia tak lagi berucap. Begitupula dengan Kamal.

***

Di suatu awal malam, beberapa hari sebelum hari penerimaan siswa baru SMP.

Usai mengusap wajah, mengembang kempiskan dada, dengan jantung berdebar-debar, perlahan Kamal melangkah, menghampiri lapak seorang penjual sepatu. 

Di sini, sekira dua puluhan menit menunggu, barulah Kamal mendapatkan kesempatan. Kamal memulainya dengan memepet, berlindung di belakang pengunjung lainnya. Begitu melihat adanya peluang, sigap Kamal menyambar sepasang sepatu, lalu menyembunyikannya dalam baju di bagian perut, kemudian beredar dengan tergesa-gesa.

"Maling ... ! Anak itu maling!"

"Mana malingnya, mana?"

"Itu, itu ...."

Suara gaduh antara penjual sepatu dan beberapa orang pengunjung, riuh rendah meneriaki Kamal. Akan tetapi, Kamal sudah terlanjur menjauh, dan menyelinap di antara para pengunjung lainnya. Kamal tak tersentuh. 

Ketika suara itu tak lagi terdengar dan yakin tak ada yang membuntuti, Kamal melambankan langkah, dan terus berlaku baik-baik saja. Kemudian, diam-diam ia menjauhi keramaian, dan langsung menuju pulang.

***

Hari pertama masuk sekolah.

Pagi-pagi sekali Kamal sudah bersiap-siap untuk memulai hari pertamanya di SMP Negeri terdekat dari rumahnya.

Kecuali sepasang sepatu yang ia curi di pasar malam berapa malam lalu, semua yang melekat di badannya adalah barang bekas. 

Selain barang bekas, kecuali baju putih yang di atas sakunya ia ganti dengan OSIS SMP, semuanya Kamal dapatkan dari pemberian seorang teman.

Dari celana, topi, dasi, atribut, hingga lokasi sekolah, semuanya Kamal dapatkan dari seseorang yang baru saja lulus SMP. 

Celananya sedikit kedodoran, tapi tidak masalah bagi Kamal. Ia bisa melipat ujungnya hingga sejajar dengan mata kaki. 

Satu yang belum ia punyai, yakni tas sekolah. Kamal tidak mengkhiraukan itu, sebab pagi ini Kamal merasa sangat beruntung, bisa melanjutkan sekolah meskipun dengan segala keterbatasan.

"Mal? Mau ke mana, Nak?" Bu Senia sambil menatap Kamal dari ujung kaki sampai ujung rambut. Raut heran terpampang jelas di wajah Bu Senia.

"Sekolah, Ma!" jawab Kamal dengan tenang. "Saya diterima di SMP X," tambahnya sambil meraih, lalu mengecup punggung tangan Bu Senia. Bu Senia diam saja.

Setelah itu, Kamal beredar mencari Pak Rajimin. Kamal mendapati Pak Rajimin tengah duduk di pintu belakang, membuang tatapan ke luar rumah.

Pagi-pagi Bapak sudah melamun? Ragu, tetapi pada akhirnya Kamal memberanikan diri menghampiri Pak Rajimin.

Pada Pak Rajimin, Kamal melakukan hal yang sama sebagaimana yang ia lakukan pada Bu Senia. Sayangnya, Pak Rajimin tidak menggubris salaman Kamal.

Setelah itu, barulah Kamal beredar menuju pohon pisang yang berada di samping rumah, mengambil sepatu yang ia sembunyikan di situ. Demi keamanan, Kamal tidak langsung memakainya, tetapi hanya menentengnya. Beberapa puluh meter sebelum gerbang sekolah, barulah Kamal mengenakan sepatu tersebut.

Saat sepatunya sudah ia kenakan, Kamal merasa ada yang janggal dengan sepatu ini. Salah satu dari sepatu ini terasa sempit, sangat sempit. 

"Astaga!" desis Kamal. Lalu, diam-diam Kamal melirik ke sekeliling. 

Beruntung hari masih sangat pagi. Belum ada seorang siswa pun yang berada di sekitar sini kecuali Kamal sendiri, sehingga tidak ada yang tahu kecuali Kamal sendiri bahwa sepatu yang ia kenakan ini size-nya selisih dua angka. Yang sebelah kiri size 35, sedangkan yang kanan size 37. 

Pun, selagi tak ada siapa-siapa yang melihat, segera saja ia pakai semula, lalu berjalan pelan-pelan menuju gerbang sekolah. 

Sekian puluh langkah melangkah, kaki Kamal mulai terasa perih. Akan tetapi, demi tekadnya agar tetap bersekolah, ia tahan-tahan. Kamal bisa sejauh ini, itu semua berkat tekadnya yang baja.

Karena ketidakadaan biaya, Pak Rajimin yang hanya seorang lelaki pincang tanpa pekerjaan yang jelas, sudah sejak lama mewanti-wanti agar Kamal tidak bermimpi yang aneh-aneh.

Menurut Pak Rajimin, keinginan Kamal untuk tetap bersekolah adalah keinginan yang tidak sesuai dengan kondisi perekonomian keluarga.

Sedangkan Bu Senia yang hanya seorang ibu rumah tangga, yang terkadang jadi kuli rumput di ladang orang, sebenarnya meminta Kamal untuk istirahat satu tahun. Setelah itu, barulah Kamal kembali melanjutkan sekolah.

Semuanya sudah berlangsung, Kamal tidak ingin lagi menoleh ke belakang.

****

Penyambutan siswa baru.

Bersama ratusan siswa baru lainnya, Kamal berhimpun di aula sekolah.

Adalah Pak Hanafi, Kepala Sekolah di SMP ini. Usai membuka pidato penyambutan, beliau memberi motivasi kepada siswa baru, juga menjabarkan visi misi sekolah.

Di akhir sambutannya, beliau memberi kesempatan kepada siswa-siswi untuk menyampaikan apa cita-cita mereka.

Kamal yang duduk paling depan tidak menyia-siakan kesempatan, gegas menegakkan telunjuk.

"Siapa namanya, Nak?" tanya Pak Hanafi, pria yang usianya sudah lebih dari setengah abad.

"Kamal Hayat, Pak!" jawab Kamal.

"Baik!" sambut Pak Hanafi. "Kamal Hayat, apa cita-cita kamu?"

"Saya bercita-cita menjadi seorang Bodyguard, Pak!" jawab Kamal dengan begitu percaya diri.

Sontak seisi ruangan pada hening. Namun, itu tidak berlangsung lama. Sesaat setelahnya, riuh, dan tidak sedikit yang mengejek Kamal.

"Hu ... cita-cita apaan itu? Jadi maling saja, biar sesuai."

Kamal melirik si pembicara. O, sial! Dia Hartati Loa, anak seorang Juragan. Wajar jika dia mengejek Kamal. Buru-buru Kamal menarik pandang.

Bersamaan dengan itu, teman-teman Kamal masih riuh rendah, tetapi Pak Hanafi sigap menenangkan. 

"Tenang, tenang!" seru Pak Hanafi. "Tidak penting apa cita-cita kalian, asalkan kalian sanggup melakukannya dengan profesional. Jadi, jika kalian bercita-cita untuk menjadi seorang penjahat, jadilah seorang penjahat yang profesional."

"Siap, Pak!" sahut Kamal.

"Hu ... !" Kembali mereka menghura Kamal.

****

Belum genap dua minggu bersekolah, apa yang dilakukan oleh Kamal di pasar malam tempo hari, mulai tersebar luas. Namun, karena tidak ada saksi mata, mula-mula Kamal mengacuhkan berita tersebut.

Hinggalah di suatu siang sepulang sekolah, terlihat Pak Rajimin menunggui Kamal di halaman rumah.

Di sini, di siang bolong ini, Pak Rajimin sambil memegang daun kelapa kering. Saat Kamal tinggal beberapa langkah dari hadapan Pak Rajimin, Pak Rajimin mulai menyulut daun kelapanya.

"Mana sepatumu, Kamal?" sambut Pak Rajimin dengan nada tinggi.

Dibentak, Kamal tergugu.

"Mana!" ulang Pak Rajimin masih dengan nada yang sama.

Pada akhirnya, perlahan Kamal mengeluarkan sepatu yang senantiasa ia sembunyikan dalam bajunya tersebut. 

"Sini!" Pak Rajimin merebut sepatu Kamal dan langsung membakarnya.

"Pak! Itu?"

"Diam!" 

Pada saat yang bersamaan, sepatu itu sudah menyala.

"Ini kamu dapat di mana?" 

"Saya beli, Pak! Ya, Allah, Pak, kenapa dibakar?"

Plak! 

Pak Rajimin menampar Kamal dengan menggunakan sepatu yang mulai menyala tersebut.

"Ini kamu beli atau kamu curi?"

"Mati saya, Bapak sudah tahu," batin Kamal.

"Jawab, Kamal!"

"Iya, saya curi, Pak, tapi saya sudah izin sama Tuhan."

"Kamal ... ! Bapak sudah bilang! Kamu jangan aneh-aneh!" Pak Rajimin sambil menempelkan sepatu menyala itu ke perut Kamal.

Seketika itu juga lelehan karet panas melengket di baju Kamal. Perut Kamal mulai kepanasan.

"Ulang kali dibilangin ... !"

"Ampun, Pak ... !"

Kamal menjerit, Pak Rajimin tidak peduli, Pak Rajimin terus saja menghantamkan sepatu terbakar itu ke tubuh Kamal.

Plak plak plak!

Terakhir, Pak Rajimin menekan leher di bawah telinga Kamal dengan menggunakan sepatu terbakar tersebut.

Setelah bagian perut, kini leher Kamal juga yang sudah melepuh. Kamal sudah tidak tahan lagi. Sambil mencopot baju seragam sekolah yang ia kenakan, sesegera itu juga aku berlari menjauh.

"Tolong ... ! Ampun ... !"

"Jangan pernah lagi pulang ke rumah ini!"

Pak Rajimin terus saja mengumpat, sedangkan Kamal terus saja juga berlari menjauh.

"Awas kalau sampai kamu kembali ke rumah ini lagi!" ancam Pak Rajimin.

Sayup-sayup Kamal masih mendengar itu m Akan tetapi, jika tak kembali, Kamal hendak ke mana?

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi I'm Not a Gangster

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Kisahku Berakhir Di Pusara
8.2
Dua insan yang terikat kekeluargaan ini mulanya saling menyayangi hingga sebuah perjodohan direncanakan. Namun, salah satunya memilih ingkar demi mengejar cinta lain, memicu keretakan hubungan mereka. Di tengah ujian berat, pencarian kebahagiaan sejati tetap berlanjut. Saat perasaan akhirnya bertaut kembali, musibah besar justru datang melanda. Diangkat dari kisah nyata yang penuh duka, akankah takdir menyatukan mereka atau justru berakhir di pusara?
Sampul Novel Living with Mr. Arrogant
9.2
Zinnia Shafira tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah drastis setelah insiden tabrakan di tangga. Secara misterius, jiwanya tertukar dengan Reyner Eka Sukmajaya, bosnya yang sangat angkuh dan dingin. Meski sempat kembali normal, fenomena aneh ini terus berulang hingga mengganggu aktivitas mereka. Demi menjaga reputasi, Reyner memaksa Zinnia tinggal bersama dan terlibat dalam pernikahan kontrak. Di tengah konflik, benih cinta mulai muncul, namun luka pun menyertai perjalanan mereka.
Sampul Novel My Dearest One
8.9
Danessa terbangun di tempat asing dalam kondisi hilang ingatan. Setiap kali ia mencoba menggali masa lalunya, rasa sakit hebat menyerang kepalanya. Namun, saat kepingan memori mulai kembali, ia terkejut menyadari bahwa dirinya yang dulu bukanlah sosok baik yang pantas dicintai. Kini Nessa terjebak dalam dilema identitas. Akankah ia kembali menjadi wanita penuh cela di masa lalu, atau mempertahankan kepribadian barunya yang lembut dan dicintai semua orang?
Sampul Novel Obat Omega Tak Dikehendaki Sang Alpha
9.7
Tiga tahun menjadi penyembuh kutukan Alpha Kaelan berakhir tragis. Meski menjanjikan komitmen, Kaelan justru memilih Lila dan mencampakkan aku tepat di hari ulang tahunku. Di bawah pengaruh licik Lila, Kaelan berubah menjadi penyiksa kejam yang tega menyakiti keluargaku demi fitnah. Saat ia mencoba memaksaku kembali, aku memilih memutus ikatan. Kini, aku berpaling ke kawanan lawan demi pasangan takdir sejatiku yang baru saja bangkit dari koma panjang.
Sampul Novel Pak Jihan Jangan Galau Lagi, Nona Wina Sudah Menikah
7.8
Lima tahun lamanya Wina Septa bertahan sebagai kekasih rahasia Jihan Lionel, berharap kelembutan sikapnya mampu meluluhkan hati pria miliarder tersebut. Namun, harapan itu pupus saat Jihan memutuskan untuk meninggalkannya. Tanpa keributan atau tuntutan materi, Wina memilih pergi secara baik-baik demi memulai lembaran baru. Kehidupan mereka yang tenang mendadak guncang saat Wina memutuskan untuk menikah dengan pria lain. Jihan yang didera cemburu tiba-tiba kembali hadir, menahan Wina secara agresif dan menciumnya dengan penuh keputusasaan, meninggalkan Wina dalam kebingungan mendalam atas perasaan mantan kekasihnya itu.
Sampul Novel Unexpected Romance
9.5
Emilio Jingga Wesley dikenal sulit berkomitmen karena pengabdiannya pada satu wanita saja. Di sisi lain, Floransia Calla menyembunyikan trauma masa lalunya di balik keceriaan, hanya mengandalkan Gaga sebagai sandarannya. Sementara itu, Nathaniel Parker yang angkuh dan gemar berganti pasangan sebenarnya menyimpan perasaan mendalam untuk satu orang. Ada pula Xeraina Agatha, wanita yang skeptis terhadap cinta dan pernikahan akibat luka lama yang menghantuinya.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan