Sampul Novel Menikahlah Denganku, Pak!

Menikahlah Denganku, Pak!

9.4 / 10.0
Hanifa, putri dari keluarga kaya, telah gagal lolos ujian masuk universitas selama dua tahun beruntun. Di tengah keputusasaan itu, ia nekat melamar tutor pribadinya sendiri. Meskipun tawarannya terdengar konyol dan ditolak mentah-mentah, Hanifa tidak menyerah begitu saja meski sang tutor menganggapnya hanya bercanda. Akankah permintaan nikah dengan alasan yang tidak masuk akal ini membuahkan hasil, atau justru menjadi kegagalan baru dalam hidupnya?

Menikahlah Denganku, Pak! Bab 1

Mata bulat itu menatap lekat-lekat kertas putih berisi kumpulan soal latihan ujian masuk perguruan tinggi dengan dahi mengkerut. Pupil matanya bergerak lambat mengiringi gumaman otaknya saat membaca tiap kata dan angka-angka yang sudah familiar namun tak kunjung juga ia pahami. Seakan gerakan matanya tidak cukup untuk membuatnya fokus, kini telunjuk kanannya ikut bergerak menuntun fokus matanya agar mencerna baik-baik kalimat yang tertulis di sana. 

“Apa masih belum menemukan titik permasalahannya?” , tanya pria di sebelahnya yang sejak tadi menatap gemas ingin mendaratkan sebuah jitakan kecil di atas dahi gadis di hadapannya. 

Ia memangku dagu dengan tangan kirinya, mulai bosan menunggu sampai gadis ini menyelesaikan satu soal yang baru saja ia jelaskan untuk kedua kalinya lima menit yang lalu. Ini adalah pertama kalinya ia menghadapi murid yang langsung melupakan hal yang baru saja diajarkan, padahal sebelumnya mengaku sudah mengerti dan bisa mengerjakannya sendiri. 

“Kau boleh bertanya.” , katanya lagi sebab tak kunjung mendapatkan balasan dari pertanyaan sebelumnya, sementara waktu mengajarnya hanya tersisa 15 menit lagi. 

Gadis itu mengangkat kepalanya dengan ragu memberanikan untuk menatap pria di hadapannya yang sudah terlihat geram menunggu, “Aku hanya akan menanyakan tentang variabel x kuadrat ini. Sungguh! Aku bukannya lupa bagaimana cara menyederhanakannya.. Hanya saja..” 

“Hmm?” 

Gadis itu mengulum bibirnya dan menatap pria di hadapan nya selama beberapa detik. Ia menurunkan bahunya dan menggeser selembar kertas itu mendekat ke hadapan pria yang merupakan tutor bimbingan belajarnya. 

“Ini. Tadi sebelumnya bapak bilang jika ada variabel yang sama maka harus disederhanakan dengan sistem eliminasi. Lalu x kuadrat dengan x itu variabel yang sama atau berbeda? Itu saja.” 

Pria dengan kacamata persegi yang menutupi mata coklatnya itu sama sekali tidak menatap kertas soal yang disodorkan. Ia hanya memperhatikan garis wajah gadis di hadapannya dengan tatapan datar, berusaha menutupi keinginannya untuk membuka kepala isi kepala gadis itu dengan otak monyet peliharaan milik pamannya. Rasanya monyet yang biasa dipanggil Otan itu lebih pintar dibandingkan manusia di depannya ini. 

“Menurutmu?” 

“… sama?” , kata gadis itu ragu. 

Tanpa diduga, pria itu mengangkat tangan kanannya yang masih memegang pensil dan mengetukkan pensil tersebut pada dahi gadis itu pelan, “Itu kau sudah tahu. Apa kau tahu apa masalah yang ada pada dirimu? Kau ragu. Kau selalu meragukan dirimu, Hanifa.” 

“Tidak selalu,” , elak gadis yang biasa dipanggil Hanifa itu, “Aku hanya begitu dalam matematika saja.” , katanya sambil menarik kembali kertas soalnya dan mulai mengerjakannya. 

“Cih.” 

Suasana pun kembali tenang. Hanya terdengar suara halus dari pendingin ruangan yang ada di dalam kamar mewah itu. Meskipun barang-barang yang ada di sana bukan berlapis emas ataupun permata, dari bentuk dan warnanya saja sudah bisa terlihat bahwa itu semua bukan barang murahan dan mudah didapatkan. Namun interior kamar maupun rumah ini tidak menarik perhatian pria dengan kemeja abu-abu bergaris tipis lengan pendek itu, seakan-akan ia sudah terbiasa dengan semua hal ini. 

Pria itu menarik kepalanya dan melirik jam tua yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktunya sudah hampir habis tetapi Hanifa masih juga belum kunjung selesai mengerjakan sepuluh soal dengan jenis soal yang sama. Hal itu membuatnya merebahkan punggung lelahnya di kursi kayu seraya menghela nafas berat. 

“Kau sudah selesai?” 

“Sebentar! Hanya tersisa 1 soal lagi!” , tukas Hanifa tidak mengalihkan pandangannya dan juga gerak tangannya yang berusaha menulis secepat yang ia bisa. 

“Nah, sudah!” , katanya bersemangat dan langsung meletakan kertas di tangannya tepat ke hadapan tutornya yang dingin itu. 

Seringai senyum penuh kemenangan terlukis jelas di wajah Hanifa, “Ingat, kau sudah berjanji akan membelikanku boba jika kali ini jawabanku benar semua.” 

“Tsk, kau ini orang kaya, nona, tetapi masih mau memeras orang kecil sepertiku.” , balas sang tutor menggelengkan kepalanya. 

“Kau juga orang kaya, pak.” , kata Hanifa ganti ia yang memangku dagunya. 

“Apa maksudmu?” 

Hanifa menunujukkan sedikit senyumnya,“Terlihat jelas dari jam tangan yang bapak pakai. Itu jam limited edition buatan Belgia, kan? Ayahku juga punya 1 yang seperti itu.” 

Ujung bibir pria itu tertarik sedikit membentuk sebuah senyum kecil di wajahnya, “Oh begitu.” 

Pria di hadapannya, Saka, adalah tutor bimbingan belajar Hanifa sejak 6 bulan silam, tepatnya setelah seminggu Hanifa ikut tinggal bersama dengan ibunya. Tidak seperti penampilannya yang sederhana dan terlihat kikuk, tutornya itu adalah seorang dosen di salah satu universitas ternama yang tidak pernah diberitahukan olehnya meskipun sudah ratusan kali bertanya.

Terlambat untuk Hanifa bertanya pada ibunya, sebab di awal sebelum keduanya berjabat tangan tanda Saka sepakat untuk menjadi tutor Hanifa, Saka mengajukan persyaratan untuk tidak memberitahukan di universitas mana ia mengajar dan ibu Hanifa sepakat dengan syarat yang sama sekali tidak sulit itu.

Hanifa adalah remaja dewasa yang sudah 2 kali gagal dalam ujian seleksi masuk perguruan tinggi. Meskipun ia tidak memiliki gen jenius dari keluarganya, tetapi yang dilakukan Hanifa adalah prestasi terburuk yang pernah tercatat dalam sejarah keluarga besarnya. Hal itu pun tak ayal menjadi buah bicara juga candaan saudara-saudaranya yang lain tiap kali ada pertemuan keluarga.

Beruntungnya Hanifa adalah anak yang keras kepala dan sulit untuk mendengarkan perkataan orang lain, sehingga semua cemoohan itu hanya masuk melalui telinga kanannya dan kembali keluar dari telinga kanannya, tidak keluar dari telinga kirinya yang berarti semua perkataan buruk itu sama sekali tidak singgah ataupun melintasi pikirannya.

Sifat keras kepalanya itu ia dapatkan dari ibunya yang merupakan wanita independen. Terbukti, di umurnya yang sudah menginjak kepala empat ini ibunya masih aktif mengurus perusahaan kosmetiknya tanpa bantuan suami karena sudah bercerai sejak Hanifa masih duduk di sekolah menengah pertama tahun akhir. Dari perceraian itu ayahnya mendapatkan hak asuh Hanifa sampai akhirnya 6 bulan yang lalu sang ibu mengambil alih kembali haknya dalam hal mengasuh Hanifa.

Tetapi ibunya mengambil Hanifa bukannya tanpa alasan, ia ingin Hanifa melanjutkan estafet nya dalam memimpin dan mengurus perusahaan miliknya. Itu sebabnya ia bersikukuh ingin Hanifa masuk jurusan akuntansi sebelum benar-benar berkecimpung dalam dunia bisnis yang sesungguhnya. Namun, visi dan realita yang terjadi sedikit bertentangan. Hal itulah yang membuatnya menyewa salah satu tutor termahal yang ada di kota untuk membimbing Hanifa dan menuntut untuk berhasil lolos ujian masuk tahun besok.

Di bulan-bulan awal fokus Hanifa tepat berada di jalur seperti yang ibunya inginkan, tetapi sejak tiga bulan ini perhatian Hanifa sudah terbagi. Performanya sedikit menurun meskipun pada akhirnya Hanifa tetap bisa menyelesaikan semua soal-soal latihan yang diberikan oleh Saka. Sama seperti yang terjadi hari ini. Materi tentang aljabar yang sudah pernah dipelajari dua bulan sebelumnya, masih belum berada di luar kepalanya.

“Kau tahu kita pernah membahas tentang ini dua bulan yang lalu, kan? Tetapi sepertinya kau sudah hampir lupa semuanya, hm?” , komentar Saka mengalihkan perhatiannya dari kertas setelah menorehkan nilai A dan juga tanda tangan serta tanggal hari ini, menatap Hanifa yang masih memangku dagu tepat di hadapannya.

“Sepertinya begitu.” , balas Hanifa tidak berniat untuk mengelak.

“Ada apa? Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu akhir-akhir ini?” , tanya Saka menyatukan kedua tangannya membentuk segitiga di depan mulutnya.

Hanifa merubah posisinya mengikuti Saka, “Apa bapak mau membantu menyingkirkan beban pikiranku jika aku memberitahumu?”

“Tergantung. Jika aku bisa, maka aku akan membantumu.”

Hanifa diam sejenak, “Sebenarnya hanya bapak saja yang bisa membantuku.” , katanya setelah berdebat singkat dengan diri yang lain dalam pikirannya.

Tentu saja pernyataan itu membuat Saka bingung dan satu alisnya terangkat naik,“Bagaimana bisa begitu? Apa aku yang menjadi beban pikiranmu?”

Hanifa tersenyum geli melihat respon tutornya yang benar-benar kaku dan terlihat membosankan baginya itu, “Tidak. Tetapi benar hanya bapak yang bisa membantuku.”

Mendengar kesungguhan murid yang paling menguji kesabarannya itu, Saka memutuskan untuk tinggal beberapa menit lagi untuk mendengarkan meskipun waktu mengajarnya telah usai.

Saka menarik punggungnya menjadi bersandar pada punggung kursi yang ia duduki, “Baiklah, katakan padaku.”

Seakan-akan terhipnotis dengan gerakan Saka, Hanifa pun mengubah posisinya dengan menurunkan kedua tangannya, “Menikahlah denganku, Pak!”

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Menikahlah Denganku, Pak!

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Dari Saingan Menjadi Ipar
9.8
Josie Watson kembali menuntut cerai untuk ke-99 kalinya. Namun, Laurence Andrews justru mengusirnya dari mobil demi mengangkat telepon mantan kekasihnya, Rosalie Harris. Laurence terus merendahkan Josie dan yakin istrinya takkan sanggup pergi. Dia tidak menyadari bahwa pengabaian berulang ini telah mencapai batasnya. Di balik layar, saudara laki-laki Rosalie diam-diam terus mendesak Josie untuk segera berpisah dan meninggalkan negara ini selamanya.
Sampul Novel IPARKU, CANDU SUAMIKU
9.8
Dua tahun menikah, Nadia Antika bertahan menghadapi hinaan ibu mertuanya karena cinta tulus Askara Brahma. Namun, kebahagiaan itu sirna saat suaminya berubah menjadi tertutup dan dingin. Nadia mulai mencium rahasia besar yang disembunyikan sang suami di balik perubahan sikapnya. Mampukah ia mengungkap kebenaran yang menyakitkan? Bagaimana reaksi Nadia saat mengetahui Askara ternyata menjalin hubungan terlarang dengan adik iparnya sendiri di rumah mereka?
Sampul Novel Kurang dari tiga
9.2
Hubungan asmara Raka kini berada di ambang kehancuran akibat kehadiran Nadia. Sebagai kekasih, Raka merasa diabaikan karena Cherry selalu memprioritaskan sahabatnya yang berkacamata tebal itu. Amarahnya meledak saat ia menyadari posisinya hanya menjadi yang kedua bagi Cherry. Namun, kecemburuan buta ini justru membawa Raka menuju sebuah titik balik yang tak terduga dalam hidupnya. Akankah perasaan mereka bertahan saat prioritas Cherry terbagi?
Sampul Novel LEMBAYUNG CINTA
9.2
Rangga terjebak dalam obsesi mendalam terhadap Davina. Pria itu rela melakukan segala cara demi mencuri perhatian sang wanita impian. Setiap tindakan yang Rangga ambil dirancang khusus untuk memikat hati Davina agar mau membalas perasaannya. Di tengah ambisi tersebut, ia terus berjuang memancing simpati Davina demi mendapatkan cinta yang ia dambakan. Inilah kisah perjuangan seorang pria yang tak kenal lelah mengejar wanita pilihannya dalam balutan romansa modern.
Sampul Novel Satu Malam Bersama Calon Besan
8.5
Pasca lama menjanda, Mira melakukan kekeliruan fatal akibat pengaruh alkohol saat merayakan ulang tahun. Ia menghabiskan malam yang penuh gairah dengan Rendi, lalu pergi begitu saja tanpa melihat wajah pria tersebut. Mira berupaya melupakan momen intim itu, namun segalanya berubah saat ia bertemu calon besannya. Ternyata, ayah dari calon menantunya adalah Rendi. Kini mereka terjebak antara menghapus memori tersebut atau justru lanjut berselingkuh di belakang anak mereka.
Sampul Novel Secret Wife
9.1
Satu dekade membina rumah tangga, Bram dan Sinta belum juga dikaruniai keturunan. Tanpa pemeriksaan medis, Bram dan ibunya terus menghakimi Sinta sebagai pihak yang mandul. Akibat desakan sang ibu yang ingin segera menimang cucu, Bram akhirnya memutuskan untuk berpoligami secara diam-diam. Namun, sebuah rahasia besar tersimpan rapat: bagaimana jika sebenarnya Bram lah yang tidak bisa memiliki anak? Akankah Sinta tetap diam saat pengkhianatan ini terungkap?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan