
SUAMIKU SEORANG PENDUSTA.
Bab 3
Namun, tiba- tiba Bu Darma berheti bicara. Ia tampak ragu, lama ia menjawab. Namun aku mendesak terus, agar Bu Darma menceritakannya.
Bu Darma bercerita menurut pengakuan Neni sendiri sebelum suaminya yang dahulu meninggal mempunyai hutang pada Tuan Smith.
Aku kaget saat Bu Darma menyebut nama Tuan Smith. Dengan cepat aku memotong ucapan Bu Darma.
"Tuan Smith?" tanyaku agak bingung. "Siapa Tuan Smith?"
Bu Darma memandangku tajam. Dan ia langsung menjelaskan kalau Tuan Smith suami Neni. Ia seorang pengusaha muda yang kaya raya. Duda tanpa anak, ia menginginkan anak dari Neni. Dari Tuan Smith lah hutang suami Neni terlunasi.
Aku lebih kaget saat Bu Darma bicara soal hutang.
"Hutang ...?!" aku terperanjat kaget. Apalagi Bu Darma menyebut nama Smith.
Nama Smith itu nama Papaku yang sudah meninggal. Nama panjangnya Hans Smith. Berkebangsaan Swiss. Mamaku bernama Citra Lestari orang Jogjakarta. Orang kebanyakan memanggil Mamaku dengan sebutan Bu Citra.
Mamaku pengusaha batik yang sukses. Dan Papaku pengusaha properti serta mempunyai pabrik tekstil yang terkenal di negeri ini dengan berbagai cabang di luar negri.
Semenjak Papaku meninggal, aku anak satu-satunya yang harus menggantikan mengelola usaha Papaku. Untuk usaha Mamaku tetap dikelola Mamaku sendiri.
Aku yang merasa sendirian begitu kalang kabut mengelolanya. Mas Bramasta sebagai tangan kanan papaku waktu itu berusaha membantuku dengan mendorong agar usaha Papaku jangan sampai gulung tikar sebab ditinggal Papaku.
Dengan seringnya kami bertemu, aku jatuh cinta sama Mas Bram, begitu juga Mas Bram.
Akhirnya aku menikah dengan Mas Bram yang mana sebenarnya Mama tak begitu merestui.
Lama- lama Mama menyerah dengan tekatku, serta merestui pernikahanku hingga dikaruniai anak laki-laki satu yaitu Jenar Putra Bramasta.
"Lho, apa keluarga Jeng Kinan waktu pernikahan Jeng Neni tidak datang. Pernikahannya baru dua hari ini lho Jeng!"
Aku menjawab dengan menggelengkan kepala.
"Sudah lama adik saya ada masalah sama keluarga Bu," aku membela diri dengan kebohongan.
Dalam hatiku sangat yakin laki-laki yang bernama Smith itu Mas Bram, ia menyamar memakai nama Papaku.
Ia menikahi Neni sebab hutang.
Dan yang lebih membuat hatiku hancur berkeping-keping. Mas Bram mengaku kalau dirinya Duda tanpa anak pada warga perumahan ini.
Aku berdiri dan mohon pamit dengan mengucap banyak terima kasih dengan informasinya. Dan aku meminta Bu Darma kalau ada informasi tentang Neni aku menyuruh agar Bu Darma berkenan memberitau aku.
Aku menyodorkan nomor ponselku. Bu Darma mengangguk pelan. Dengan mencatat nomor ponselku.
Aku keluar dari rumah Bu Darma menuju mobilku. Pikiranku semakin tak karu-karuan. Sejuta pertanyaan terus bergelayut dalam otakku.
"Jadi suami Neni sebelum meninggal punya hutang Mas Bram? Kenapa Mas Bram tidak memberi tahu aku?"
Aku tak bisa berpikir lagi. Kupacu mobilku menuju rumah Mamaku untuk berbagi kesedihan.
Rasanya aku ingin menangis meminta maaf pada Mamaku ternyata benar apa yang dikatakan Mama pilihanku salah.
Kebetulan Mamaku masih berada di Jakarta. Belum berangkat ke Jogjakarta untuk mengontrol perusahaannya.
Namun apa yang terjadi dengan Mamaku. Mamaku malah menyalahkan aku.
"Kamu nggak usah menyalahkan suamimu, Kinan? Bram sudah menjadi pilihan terbaik kamu. Salahkan dirimu sendiri, sebab kamu sudah terlalu percaya sama Bram dibanding Mama."
Sungguh aku kecewa dengan perkataan Mamaku. Memang aku merasa bersalah. Tapi tak seharusnya Mamaku berkata seperti itu.
"Ma, tolong beri aku solusi. bagaimana jalan keluarnya." Pintaku memohon dengan duduk seperti pesakitan di depan hakim sesekali kutatap wajah Mamaku.
"Kamu seharusnya tak memanjakan suamimu? Kenapa semua aset kau limpahkan pada suamimu? Bukankah kamu mempunyai Jenar?"
Degg ... Jantungku seolah berhenti berdetak. "Siapa yang melimpahkan pada Mas Bram? Aku tak sebodoh itu Ma?"
Tampak Mamaku memandangku tajam.
"Bram yang bilang. Malah dia bawa pengacara ke rumah Mama."
Aku tersentak. "Mama percaya dengan semua itu?"
Mamaku tampak diam. Ia terus menatapku tanpa berkata sepatah kata. Hingga aku mengulangi perkataanku untuk yang ke dua kalinya.
Mamaku menggelengkan kepalanya.
"Aku tak memberi izin tanda tangan itu. Sebab semua aset itu namaku juga tercantum, Kinan."
Aku merasa lega. Aku mendekati wanita yang tiga puluh empat tahun melahirkan aku. Aku memeluk pipi keriputnya yang sudah termakan usia. Aku cium berkali-kali dengan mengucap terima kasih.
Dan ia berpesan agar aku hati-hati terhadap Mas Bram. Sepertinya Mama menaruh curiga dengan Mas Bram tentang aset perusahaanku. Ia juga terus menanyakan tentang kepemilikan perusahaanku apakah sudah di atas namakan Mas Bram.
Aku menggelengkan kepala.
"Baru mengelolanya Ma, tapi untuk kepemilikan belum aku atas namakan Mas Bram."
Sepertinya Mama merasa lega mendengar ucapanku.
"Syukurlah," suara mama lirih.
Aku berdiri meraih tas kecilku yang tergeletak di meja depanku.
"Aku pulang dulu Ma, Jenar pasti mencariku, hampir sehari aku belum menemui Jenar."
Mama mengangguk, mengantarku sampai di depan pintu rumah.
"Kapan-kapan bawa Jenar ke sini. Aku kangen ingin mengajaknya jalan- jalan."
Kembali aku mengangguk dan melambaikan tangan ke arah Mamaku.
***
Sampai di rumah sudah jam empat sore. Berati hampir satu hari aku disibukkan dengan urusan suamiku.
Aku melangkah ke kamar Jenar. Baru saja aku membuka pintu kamar, aku kaget melihat Jenar tidur dengan kening di kompres oleh Bibi Nur.
"Jenar ...!" panggilku dengan panik.
Aku melangkah menghampiri Jenar yang berbaring lemah dengan memanggil namaku.
"Mama ...!"
Aku tempelkan tanganku ke kening Jenar. Aku merasakan panas pada suhu tubuh Jenar.
"Tubuh Tuan kecil panas Nyonya, tadi sudah saya cek suhunya tiga puluh delapan derajat."
Aku segera menoleh ke arah Nur yang masih berdiri dengan menunduk.
"Kenapa kamu tak menghubungi aku Bik?" Nadaku kesal.
"Maaf Nyonya, sudah berkali-kali saya menghubungi Nyonya tapi tak ada jawaban dari Nyonya."
Aku tersentak, dan baru ingat kalau ponselku baterainya habis lupa untuk mengisi. Padahal sejak pulang dari arisan aku berniat untuk mengisi batrai, tapi aku tak ingat. Pikiranku sudah disibukkan dengan Mas Bram.
"Kamu sudah menghubungi Tuan Bram?"
"Sudah Nyonya, tapi juga tak diangkat, Tuan kecil juga sudah saya kasih obat turun panas,"
Aku segera membuka tasku dan mengambil ponselku dengan mengulurkan ponsel ke arah Bibi Nur agar mengisi baterai nya.
"Apa yang kamu rasakan, Sayang?" ucapku mengelus kepala Jenar.
Jenar hanya diam dengan mengerjap- ngerjapkan matanya.
Aku semakin panik, segera menyuruh bibi Nur menyuruh Arman sopirku untuk siap-siap mengantarku ke rumah sakit. Aku takut terjadi apa-apa dengan Jenar.
Sengaja aku tak menghubungi dokter pribadiku terlebih dahulu.
Sesampai di rumah sakit segera aku hubungi Mas Bram.
"Mas ...! Jenar sakit. Sekarang berada di rumah sakit." ucapku dalam ponsel singkat. Setelah dokter menyatakan Jenar harus rawat inap.
"Oh ya, aku akan secepatnya pulang, Tapi ...!"
Aku langsung menutup pembicaraan Mas Bram dalam ponsel. Hingga Mas Bram berkali-kali menghubungiku lagi. Namun aku enggan mengangkatnya.
Rasa sakit masih terasakan jika mengingat kata-kata Bu Darma. Dan apalagi bayangan demi bayangan terlintas di pelupuk mataku bagaimana Mas Bram bersenang-senang bergumul di atas ranjang dengan Neni.
"Mama menangis?" tanya Jenar yang tiba-tiba mengagetkan aku. "Aku nggak apa-apa Mama, besok Jenar pasti sudah sembuh." suara parau anakku yang berusia sepuluh tahun.
Aku mencoba tersenyum. Dengan mengusap air mataku yang terlanjur menetes di pipiku.
"Ya Sayang, kamu harus cepat sembuh," lirih ku dengan menelan salivaku sendiri.
"Papa kemana, Ma?"
"Ohh, Papa ada urusan perusahaan ke Singapura, Sayang. Tunggu besok pasti datang," ucapku menghibur Jenar.
Tiba-tiba pintu terbuka dan seorang perawat berdiri di belakangku.
"Nyonya, ada panggilan dari dokter Frans."
Aku mengangguk.
"Sebentar Sayang, Jenar sama Bibi Nur dulu ya?"
Aku berdiri mencium kedua pipi Jenar. Dan mengikuti langkah suster keluar kamar inap Jenar untuk menemui dokter Frans.
Dokter Frans dokter pribadi keluargaku yang sudah bertahun tahun merupakan kepercayaan Papa dan mamaku.
"Kenapa Nyonya tidak menghubungi saya sebelumnya kalau putra Nyonya sakit?"
"Maaf Dok, mungkin saya panik."
Dokter Frans mengangguk dengan menatapku tak seperti biasanya. Seperti ada sesuatu yang berat untuk disampaikan.
Tubuhku lemas, seperti seorang tahanan berhadapan dengan hakim yang akan menjatuhkan hukuman berat untukku.
"Sakit apa yang diderita anak saya, Dokter?" Saya bertanya dengan penuh rasa ingin tahu.
Dokter Frans menarik napas panjang. Dia mengambil sebuah kertas dan menyodorkannya ke arahku.
Dengan hati berdebar-debar saya mengambil kertas itu dan membacanya.
Darahku tersirap, tubuhku gemetar saat membaca tulisan yang tertera dalam kertas itu.
Bersambung.
Anda Mungkin Juga Suka





