Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Suamiku Memilih Maduku

Suamiku Memilih Maduku

Demi menarik kembali perhatian Radwan, Arlisa nekat meminta sang suami berpoligami. Ia berharap kehadiran orang ketiga memicu rasa cemburu dan kerinduan Radwan padanya. Namun, rencana itu menjadi bumerang saat Radwan justru jatuh cinta pada istri barunya. Arlisa kini terjebak menyaksikan kemesraan yang dulu miliknya kini berpindah tangan. Di tengah rasa sesak dan pengkhianatan, akankah Arlisa tetap bertahan atau mencari kehangatan di pelukan pria lain?
Bab
Bagikan

Bab 2

Hujan baru saja reda. Sisa-sisa gerimis masih menetes dari genteng ketika Arlisa membereskan meja makan. Malam itu Radwan pulang larut bersama Raline. Mereka tampak bahagia, membawa tas belanjaan dan tawa yang masih tersisa di bibir.

Arlisa hanya diam. Ia mencoba menahan perasaan yang bergolak, tapi matanya tak bisa berbohong. Ada luka yang berdenyut tiap kali ia melihat Radwan menatap Raline dengan cara yang dulu pernah ia rasakan sendiri.

Setelah semua membereskan diri, Radwan masuk ke kamar Raline. Arlisa berdiri di koridor, menatap pintu itu yang tertutup rapat. Tangannya sempat terulur, ingin mengetuk, ingin sekadar mengingatkan bahwa dirinya ada. Tapi langkahnya terhenti. Apa yang bisa ia lakukan?

Ia akhirnya kembali ke kamarnya, menutup pintu dengan pelan, lalu duduk di kursi dekat meja rias. Cermin di hadapannya memantulkan wajah yang lelah. Wajah seorang istri yang tersisih.

"Arlisa, kamu kuat, kan?" gumamnya pada diri sendiri. "Kamu yang memilih jalan ini. Jangan menangis lagi."

Namun, air mata justru jatuh juga.

Keesokan paginya, suasana rumah terasa asing. Raline sibuk di dapur, memasak sesuatu dengan ceria. Radwan menemaninya, sesekali membantu memotong sayuran atau sekadar bercanda.

Arlisa berdiri di ambang pintu dapur. Ia memperhatikan pemandangan itu tanpa suara. Ada rasa getir di dadanya, namun ia memilih berbalik, pergi ke taman belakang.

Di sana, ia duduk di kursi rotan, mencoba menghirup udara segar. Tapi bayangan tawa di dapur tetap membayangi pikirannya. Ia meraih ponsel, membuka kontak, lalu berhenti di satu nama: Rafa.

Rafa adalah teman lama, seorang rekan kuliah yang dulu sempat dekat dengannya. Setelah menikah, mereka jarang berhubungan. Tapi beberapa bulan terakhir, Rafa kembali menyapa lewat pesan singkat. Obrolan mereka sederhana: kabar, pekerjaan, atau sekadar menanyakan kesehatan.

Arlisa sempat ragu. Tapi hatinya sedang rapuh, dan jari-jarinya akhirnya mengetik.

"Pagi, Fa. Apa kabar?"

Tak lama, balasan datang.

"Pagi, Lis. Aku baik. Kamu gimana? Udah lama kita nggak ketemu, ya."

Senyum kecil muncul di bibir Arlisa. Senyum yang berbeda dengan senyum dipaksakan di depan Radwan. Senyum itu muncul karena ada seseorang yang bertanya tulus tentang dirinya.

Hari-hari berikutnya, pesan dengan Rafa semakin sering. Awalnya hanya sekali dua kali, lalu jadi rutinitas. Rafa sering menanyakan hal-hal kecil yang terasa hangat di hati Arlisa.

"Udah makan, Lis?"

"Kamu kelihatan capek, jangan lupa istirahat."

"Kalau butuh teman cerita, aku ada."

Hal-hal sederhana itu justru membuat Arlisa merasa diperhatikan. Perasaan yang sudah lama tidak ia dapatkan dari Radwan.

Namun, setiap kali tersenyum membaca pesan Rafa, ada rasa bersalah yang menusuk. Ia tahu, apa yang ia lakukan berbahaya. Ia masih istri Radwan, meski hatinya kini terluka.

Suatu sore, Rafa mengajaknya bertemu.

"Lis, aku ada urusan kerja di dekat rumahmu. Kalau kamu sempat, kita bisa ngopi sebentar?"

Arlisa menatap pesan itu lama. Jantungnya berdebar, seolah ia sedang melakukan sesuatu yang terlarang. Ia menimbang, menolak atau menerima.

Akhirnya ia mengetik pelan: "Baik. Kita ketemu di kafe dekat taman kota."

Hari itu, ia mengenakan dress sederhana berwarna biru muda. Tidak berlebihan, tapi cukup membuatnya terlihat segar. Saat melihat dirinya di cermin, Arlisa sempat tertegun. Sudah lama ia tidak merias diri, sejak Radwan tak lagi peduli.

Di kafe, Rafa sudah menunggu. Senyumnya hangat, tatapannya penuh perhatian. "Lis, kamu masih sama seperti dulu. Cantik," ucapnya pelan.

Arlisa tertawa gugup. "Jangan bercanda, Fa. Aku sudah tua."

"Tua apanya? Kamu tetap seperti dulu. Malah lebih dewasa. Ada pesona yang berbeda," jawab Rafa dengan tatapan serius.

Hati Arlisa bergetar. Ia tahu ia harus menahan diri, tapi kata-kata itu menembus pertahanan yang sudah lama rapuh.

Mereka mengobrol lama, tentang masa kuliah, tentang pekerjaan Rafa, bahkan tentang kehidupan Arlisa yang ia ceritakan setengah hati. Rafa tidak bertanya terlalu jauh, hanya mendengarkan dengan penuh perhatian.

Dan saat mereka berpisah, Rafa sempat menatapnya dalam-dalam. "Kalau kamu butuh bahu untuk bersandar, aku ada, Lis. Jangan lupa itu."

Malamnya, Arlisa gelisah di ranjang. Ponselnya bergetar. Pesan dari Rafa masuk.

"Aku senang bisa ketemu kamu lagi hari ini."

Arlisa menggigit bibirnya. Ia ingin membalas, tapi tangannya bergetar. Akhirnya ia mengetik singkat: "Aku juga, Fa."

Saat itu, pintu kamar diketuk. Radwan muncul, wajahnya lelah. "Lis, kamu masih bangun?"

Arlisa terkejut. Sudah lama Radwan tidak masuk ke kamarnya malam-malam. "Iya, Bang. Ada apa?"

Radwan masuk, duduk di tepi ranjang. "Aku cuma... pengin ngobrol sebentar. Kamu baik-baik aja, kan?"

Arlisa menatapnya dengan campuran harapan dan ragu. Untuk sesaat, ia ingin memeluk Radwan, ingin menumpahkan semua luka. Tapi hatinya juga ingat pada Rafa, pada perhatian yang ia dapat dari luar rumah.

"Baik," jawab Arlisa singkat, menahan gelombang perasaan.

Radwan mengangguk, lalu beranjak pergi.

Dan Arlisa, sekali lagi, hanya bisa menatap punggungnya yang menjauh.

Beberapa hari kemudian, hubungan Arlisa dengan Rafa semakin intens. Mereka saling berkirim pesan hingga larut malam. Arlisa merasa hidup kembali, seakan ada seseorang yang benar-benar melihatnya, bukan sekadar bayangan di rumah sendiri.

Namun, rasa bersalah tetap ada. Kadang ia memandangi Radwan yang sibuk dengan Raline, lalu hatinya berbisik getir: "Kenapa aku mencari di luar, kalau seharusnya aku punya suami sendiri?"

Tapi kenyataan berbicara lain. Radwan terlalu jauh. Raline terlalu dekat. Dan dirinya? Terjepit di tengah.

Suatu malam, Rafa kembali menghubungi.

"Lis, aku nggak bisa bohong. Aku kangen kamu."

Jantung Arlisa berdegup kencang. Kata-kata itu membuatnya hampir menjatuhkan ponsel. Ia menutup mata, menahan napas, lalu mengetik balasan pelan.

"Fa, jangan bikin aku bingung."

Tapi Rafa menjawab cepat.

"Aku serius. Aku nggak mau lihat kamu terluka. Kamu pantas bahagia."

Air mata Arlisa jatuh. Ia menatap layar lama, lalu memeluk ponsel itu seolah bisa menggantikan pelukan yang ia rindukan.

Hari-hari selanjutnya terasa semakin sulit. Arlisa tahu ia sedang berada di tepi jurang. Satu langkah lagi, ia bisa jatuh.

Di rumah, Radwan semakin mesra dengan Raline. Di luar, Rafa semakin mendekat.

Dan di tengah semua itu, hati Arlisa menjerit. Ia mencintai Radwan, tapi ia juga mulai menemukan kembali dirinya lewat perhatian Rafa.

"Ya Allah... apa aku salah?" bisiknya suatu malam, ketika hujan kembali turun. "Aku hanya ingin dicintai..."

Arlisa sadar, badai yang ia ciptakan sendiri kini semakin besar. Pertanyaannya hanya satu: mampukah ia bertahan, ataukah ia akan benar-benar mencari kehangatan lain, meski itu berarti mengkhianati dirinya sendiri?

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bu Claire
9.2
Claire merasa jenuh dengan kehidupan pernikahannya bersama Budi yang terasa hambar di sebuah desa kecil. Kehadiran Ridho yang menggoda memicu perselingkuhan rumit yang penuh gairah sekaligus rasa bersalah. Saat kecurigaan Budi memuncak, rahasia besar ini akhirnya terbongkar dan mengancam keutuhan rumah tangga mereka. Namun, keduanya memilih untuk berjuang memperbaiki kepercayaan melalui kejujuran. Sebuah kisah mendalam tentang komitmen, rekonsiliasi, dan arti cinta sejati.
Sampul Novel Cahaya Bulan yang Merindukan Masa Indah
9.3
Pernikahan tujuh tahun Riana Handoko dan Bimo Ganendra yang tampak sempurna mendadak hancur saat Riana akhirnya hamil. Di rumah sakit, ia terkejut mendapati kolom ayah di berkasnya kosong, padahal Bimo dikenal sangat mencintainya hingga rela melakukan vasektomi. Kenyataan mengerikan terungkap ketika nama suaminya justru terdaftar sebagai ayah dari anak yang dikandung oleh Silvia Handoko. Silvia adalah putri kandung dari keluarga angkat Riana yang dahulu mengusirnya demi mengembalikan posisi putri asli mereka.
Sampul Novel CANDU CINTA CEO AROGAN
9.7
Erlan Levin adalah CEO sukses di Jakarta yang terus menghindar dari desakan menikah keluarganya. Namun, hidupnya berubah total saat ia tertangkap basah berada di satu kamar dengan gadis asing. Terjepit situasi memalukan ini, ia terpaksa menikahi wanita yang sangat disukai keluarganya itu. Kini, sang istri harus berjuang memenangkan hati Erlan yang dingin. Akankah cinta tumbuh di antara mereka, atau ia hanya akan menjadi sosok yang terabaikan?
Sampul Novel Edoraded Distance
9.0
Kevin dan Sekar terikat dalam pernikahan formal yang terasa hampa tanpa keintiman nyata. Meski hubungan mereka sebatas status di atas kertas, Kevin yang telah lama mencintai Sekar tak menyerah. Di tengah kehadiran keluarga Son dan Atmaja, Kevin berjuang keras meruntuhkan tembok pemisah di antara mereka. Ia bertekad meyakinkan Sekar bahwa ikatan ini adalah gerbang menuju kebahagiaan sejati, bukan sekadar kontrak belaka yang dingin tanpa perasaan.
Sampul Novel Istri Kakakku Selalu Menangis
8.2
Kejanggalan menyelimuti pernikahan Kak Heru dan Mbak Rena, memicu kecurigaan mendalam dalam benakku. Mengapa Mbak Rena terus-menerus meneteskan air mata? Berbagai petunjuk aneh mulai bermunculan, mulai dari insiden kecelakaan misterius di depan toko beras hingga penemuan kantong plastik berisi tumpukan test pack. Aku bertekad menelusuri setiap kepingan rahasia ini demi mengungkap kebenaran kelam yang sebenarnya terjadi di balik pintu rumah mereka.
Sampul Novel Istri Pengganti, Cinta Suami Untuk Lain
7.9
Selama lima tahun, pernikahan saya dengan Yoga terasa hampa meski saya sangat mencintainya. Luka itu kian dalam saat saya tahu Yoga menjalin kasih rahasia dengan adik angkatnya, Meiliana. Kecewa, saya menjebak Yoga menandatangani surat cerai dalam kedok dokumen asuransi. Setahun berlalu, saya bangkit dan bertunangan dengan Luki. Namun, Yoga mendadak kembali memohon maaf dan Meiliana mengakui perasaan Yoga. Kini saya harus memilih antara masa lalu atau kebahagiaan sendiri.