Sampul Novel Cahaya Bulan yang Merindukan Masa Indah

Cahaya Bulan yang Merindukan Masa Indah

9.3 / 10.0
Dalam novel romantis misteri Cahaya Bulan yang Merindukan Masa Indah, Riana Handoko menghadapi kenyataan pahit saat hamil setelah tujuh tahun menikah. Nama suaminya, Bimo Ganendra, justru tercantum sebagai ayah dari anak Silvia—putri kandung keluarga yang pernah membuang Riana. Baca novel online ini untuk mengungkap konspirasi rumah tangga mereka.
Ringkasan Cahaya Bulan yang Merindukan Masa Indah
Pernikahan tujuh tahun Riana Handoko dan Bimo Ganendra yang tampak sempurna mendadak hancur saat Riana akhirnya hamil. Di rumah sakit, ia terkejut mendapati kolom ayah di berkasnya kosong, padahal Bimo dikenal sangat mencintainya hingga rela melakukan vasektomi. Kenyataan mengerikan terungkap ketika nama suaminya justru terdaftar sebagai ayah dari anak yang dikandung oleh Silvia Handoko. Silvia adalah putri kandung dari keluarga angkat Riana yang dahulu mengusirnya demi mengembalikan posisi putri asli mereka.
Baca Selengkapnya

Cahaya Bulan yang Merindukan Masa Indah Bab 1

Menikah selama tujuh tahun, Riana Handoko akhirnya berhasil mengandung. Namun, saat pemeriksaan kehamilan, dia mendapati kolom ayah pada formulir kosong.

Dia pun tidak dapat menahan diri untuk menegur, "Kolom ayah anak ini seharusnya tertulis Bimo Ganendra. Apa kalian lupa mengisinya?"

Hampir seluruh kalangan di Obria tahu bahwa Kepala Keluarga Ganendra sangat mencintai istrinya, bahkan bersedia menjalani vasektomi demi Riana.

Petugas malah berkata dengan pasti, "Kolom ayah anak ini memang sudah kosong sejak awal pembuatan berkas."

"Sebaliknya, nama Bimo Ganendra yang Anda sebut justru tercantum di kolom ayah dari anak wanita lain. Namanya Silvia Handoko. Apa Anda mengenalnya?"

Kepala Riana seketika terasa meledak, tubuhnya seperti jatuh ke dalam jurang es.

Semua orang di lingkaran sosial tahu bahwa Riana pernah diadopsi oleh Keluarga Handoko.

Namun, pada hari ketika Keluarga Handoko menemukan putri kandung mereka yang sebenarnya, mereka mengusir Riana dengan alasan bahwa dia telah merebut kehidupan putri asli mereka selama bertahun-tahun.

Putri kandung itu tidak lain adalah Silvia.

Menikah selama tujuh tahun, Riana Handoko akhirnya berhasil mengandung. Namun, saat pemeriksaan kehamilan, dia mendapati kolom ayah pada formulir kosong.

Dia tidak dapat menahan diri untuk menegur, "Kolom ayah anak ini seharusnya tertulis Bimo Ganendra. Apa kalian lupa mengisinya?"

Hampir seluruh kalangan di Obria tahu bahwa Kepala Keluarga Ganendra sangat mencintai istrinya, bahkan bersedia menjalani vasektomi demi Riana.

"Riana, melihatmu berkali-kali minum obat dan disuntik, hatiku serasa hancur. Kamu adalah hidupku. Kalau untuk memiliki anak, kita harus membuatmu menderita seperti ini, lebih baik aku menjalani vasektomi permanen!"

Untungnya Tuhan yang tersentuh oleh cinta mereka, akhirnya memberi keajaiban.

Hari ketika hasil tes menunjukkan bahwa Riana hamil, Bimo yang selama ini berkepribadian dingin dan tegas berlutut memeluk Riana sambil menangis sampai suaranya serak. Bahkan pendaftaran kehamilan pun dia urus sendiri.

Melihat betapa perhatiannya Bimo padanya, seharusnya tidak mungkin ada kesalahan.

Petugas yang melayaninya tampak masih baru. Dia menatap layar komputer cukup lama sebelum akhirnya memastikan.

"Kolom ayah anak ini memang sudah kosong sejak awal pembuatan berkas."

Sambil berkata seperti itu, ekspresinya berubah aneh, seolah menemukan sesuatu.

"Sebaliknya, nama Bimo Ganendra yang Anda sebut justru tercantum di kolom ayah dari anak wanita lain. Namanya Silvia Handoko. Apa Anda mengenalnya?"

Kepala Riana seketika terasa meledak, tubuhnya seperti jatuh ke dalam jurang es.

Semua orang di lingkaran sosial tahu bahwa Riana pernah diadopsi oleh Keluarga Handoko. Namun, pada hari ketika Keluarga Handoko menemukan putri kandung mereka yang sebenarnya, mereka mengusir Riana dengan alasan bahwa dia telah merebut kehidupan putri asli mereka selama bertahun-tahun.

Putri kandung itu tidak lain adalah Silvia.

Yang tidak pernah Riana bayangkan adalah ketika dirinya keluar dari ruang pemeriksaan dalam keadaan linglung sambil menggenggam hasil pemeriksaan kehamilan, dia justru melihat Bimo dan Silvia di koridor.

"Kak Bimo, bukannya hari ini juga hari pemeriksaan kehamilan Kak Riana? Alih-alih menemaninya, kamu malah menemaniku. Bukankah itu agak nggak pantas?"

Bimo memperhatikan tali sepatu Silvia yang terlepas, lalu berlutut untuk mengikatkannya dengan bentuk pita yang indah, gerakannya terampil, seolah sudah sering melakukannya.

"Lihat dirimu ini, kamu bahkan nggak sadar tali sepatumu lepas. Bagaimana aku bisa tenang? Soal Riana, aku sudah memintanya menunggu di rumah sebentar. Setelah menemanimu, aku akan menemaninya untuk pemeriksaan."

Sinar matahari menembus kaca jendela dan jatuh di perut Silvia yang sedikit membuncit, membuatnya tampak lembut dan anggun, dengan sorot wajah yang memancarkan sedikit kegembiraan.

"Kak Bimo memilih menemaniku dulu. Bolehkah aku menganggap bahwa Kak Bimo sebenarnya lebih memedulikanku? Ah! Sepertinya bayi kita sedang menendang. Kak Bimo, kamu merasakannya nggak?"

Wajah Bimo seketika menunjukkan kekhawatiran. Tanpa ragu, dia menggendong Silvia di depan umum. Namun, ketika berbalik, pandangannya bertemu dengan sosok Riana yang berdiri di sudut koridor.

Ekspresi Bimo seketika panik. Beberapa kali dia membuka mulut, tetapi tidak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.

Riana perlahan melangkah mendekatinya, lalu mengangkat tangan dan menamparnya!

Tamparan itu dia berikan dengan segenap tenaga. Separuh wajah Bimo langsung membengkak.

"Bimo, beri aku penjelasan."

Sebelum Bimo sempat bicara, Silvia sudah lebih dulu merentangkan kedua tangannya, berdiri di depan pria itu seperti induk yang melindungi anaknya, wajahnya dipenuhi kemarahan.

"Aku sedang mengandung anak Kak Bimo. Dia hanya menemaniku untuk pemeriksaan kehamilan, atas hak apa kamu menamparnya?"

Pada saat itu juga, air mata Riana tidak bisa lagi dibendung. Rasa sakit di dadanya begitu dalam hingga membuatnya nyaris tidak mampu berdiri tegak.

Melihat reaksi Riana, Bimo tanpa berpikir panjang mendorong Silvia ke samping dan memeluk istrinya erat-erat dengan penuh rasa sayang.

"Bukan begitu Riana, jangan nangis. Anak dalam kandungan Silvia bukan anakku. Aku hanya nggak tega melihatnya dicemooh karena hamil di luar nikah. Ayah dari anak itu sudah pergi dan karena kondisi tubuh Silvia yang lemah, dia nggak bisa menggugurkannya. Aku hanya ingin membantunya."

"Bagaimanapun juga, dia adikmu, 'kan?"

Tubuh Riana langsung menegang.

Riana masih ingat dengan jelas hari pertama Silvia kembali ke Keluarga Handoko.

Hari itu, Silvia terjatuh dari tangga, dia menangis sambil berkata kepada kedua orang tua mereka, "Aku nggak menyalahkan Kak Riana. Kakak pasti nggak sengaja, dia hanya takut kalian akan lebih menyayangiku."

Nyonya Handoko menampar Riana dengan keras. Dia memaki Riana dengan kata-kata kejam, lalu menanggalkan seluruh pakaiannya dan mengusirnya keluar dari Kediaman Keluarga Handoko.

"Kamu sudah merebut kehidupan Silvia, bahkan pakaian di tubuhmu pun miliknya. Kamu nggak pantas tinggal di sini. Pergi!"

Seandainya saat itu Bimo tidak kebetulan lewat dan menghentikan mobilnya, mungkin Riana sudah mati kedinginan malam itu.

"Dia bukan adikku!"

Riana berteriak histeris. Bimo segera memeluknya lebih erat, berusaha menenangkannya dengan suara rendah.

"Iya, iya, jangan sedih lagi, ya? Hatiku hancur melihatmu seperti ini."

Silvia sepertinya menyadari kertas hasil pemeriksaan di tangan Riana, lalu ikut menjelaskan dengan suara yang terdengar agak sombong.

"Benar, Kak. Kak Bimo memang hanya takut aku jadi bahan gosip. Aku nggak sekuat Kakak, aku benar-benar nggak sanggup menanggung semuanya. Karena itu, Kak Bimo bersedia jadi ayah dari anakku. Kamu tahu, Keluarga Ganendra hanya bisa memiliki satu cucu laki-laki. Karena itu, anakmu hanya bisa dianggap sebagai anak tanpa ayah dulu. Tapi nanti aku pasti akan bujuk Kak Bimo untuk mengangkatnya. Aku janji, meski anakmu hanya anak angkat, aku nggak akan menelanjanginya dan mengusirnya dari rumah. Kakak, tenang saja."

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Cahaya Bulan yang Merindukan Masa Indah

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel CINTA TERLARANG DI BALIK LAYAR
8.0
Seorang bintang film papan atas terjerat asmara tersembunyi dengan sutradara muda jenius yang telah berkeluarga. Di tengah gemerlapnya industri hiburan, hubungan rahasia mereka dibayangi ketegangan dan intrik berbahaya. Meski berusaha keras melindungi reputasi serta karier profesional masing-masing, godaan gairah yang membara membuat mereka sulit berpaling. Inilah kisah perjuangan cinta yang penuh risiko di balik kemegahan layar lebar.
Sampul Novel I Stuck On You
7.9
Pasca patah hati, penulis amatir Nadya Ivanka terpikat oleh Ethan Sullivan, pria tampan asal Australia. Nadya tak menyangka bahwa Ethan adalah bos media besar dan pemilik resor mewah. Meski trauma masa lalu menghantuinya, pesona Ethan di Bali mulai meruntuhkan pertahanan Nadya. Sementara itu, Ethan yang biasanya dingin karena luka lama justru terobsesi pada kesederhanaan Nadya. Akankah keduanya mampu melupakan pedihnya masa lalu demi memulai lembaran cinta yang baru?
Sampul Novel Istri Balas Dendam
8.7
Eleanor tewas dalam kecelakaan tragis tepat sebelum hari pernikahannya. Sang kekasih, miliarder Kieran Lancaster, diselimuti dendam terhadap putri sopir truk penyebab tragedi itu, Vivianne. Di bawah ancaman hukum bagi ayahnya, Vivianne terpaksa menikahi Kieran sebagai pengganti Eleanor. Hidupnya berubah menjadi neraka karena kebencian dan perlakuan dingin suaminya. Namun, seiring waktu, Kieran mulai goyah saat menyadari bahwa Vivianne hanyalah korban yang tidak bersalah.
Sampul Novel Love with my penyiarku
8.7
Muhammad Ghifarial Siregar, seorang pria flamboyan yang sangat populer, menambatkan hatinya pada sosok Ariana Martha. Meski perjalanannya dipenuhi luka mendalam dan jiwa yang rapuh, ia tetap teguh meyakini kehadiran cinta sejati. Baginya, perasaan tulus adalah takdir Tuhan yang harus diikhlaskan layaknya suara merdu di angkasa. Ia bertekad menjaga rasa yang tumbuh di relung hati agar terus mekar selamanya, hingga maut datang memisahkan mereka berdua.
Sampul Novel Potret Sederhana
8.6
Agni terpuruk dalam kegelapan akibat kehancuran rumah tangga orang tuanya yang mematikan segala harapan. Di tengah keputusasaan, kehadiran saudara kembar Bayu dan Banyu menjadi titik balik yang memberinya kekuatan untuk bangkit. Saat Agni mulai meraih kembali impian masa depannya, ia justru dihadapkan pada dilema besar di persimpangan jalan. Kini ia harus memilih antara cahaya yang menuntun langkahnya atau sayap yang memungkinkannya terbang bebas menggapai angan.
Sampul Novel Setelah Talak Tiga
8.1
Dalam hukum pernikahan, seorang suami yang telah menjatuhkan talak tiga kepada istrinya tidak memiliki jalan untuk kembali membina rumah tangga secara langsung. Ikatan pernikahan mereka telah terputus sepenuhnya secara hukum dan agama. Satu-satunya cara agar pasangan tersebut dapat rujuk dan menikah lagi adalah jika sang mantan istri terlebih dahulu menikah dengan pria lain, yang dikenal sebagai muhallil, sebelum akhirnya bercerai kembali.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan