Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Suamiku Memilih Maduku

Suamiku Memilih Maduku

Demi menarik kembali perhatian Radwan, Arlisa nekat meminta sang suami berpoligami. Ia berharap kehadiran orang ketiga memicu rasa cemburu dan kerinduan Radwan padanya. Namun, rencana itu menjadi bumerang saat Radwan justru jatuh cinta pada istri barunya. Arlisa kini terjebak menyaksikan kemesraan yang dulu miliknya kini berpindah tangan. Di tengah rasa sesak dan pengkhianatan, akankah Arlisa tetap bertahan atau mencari kehangatan di pelukan pria lain?
Bab
Bagikan

Bab 3

Malam itu rumah terasa hening. Raline sudah tertidur di kamarnya bersama Radwan. Sementara Arlisa duduk di ruang tamu, hanya ditemani lampu redup dan suara detik jam dinding yang terdengar begitu jelas.

Ponselnya ada di genggaman, layar menyala menampilkan pesan baru dari Rafa.

"Lis, aku tahu ini mungkin salah waktu. Tapi aku benar-benar ingin ada di samping kamu. Aku nggak tahan lihat kamu harus menanggung semua ini sendirian."

Arlisa menatap pesan itu lama, napasnya tersengal. Hatinya berperang hebat. Di satu sisi, ia tahu dirinya masih istri sah Radwan. Tapi di sisi lain, ia haus akan perhatian. Rafa hadir dengan semua yang ia rindukan: mendengar, memahami, dan memberi ruang untuk merasa berharga lagi.

Tangannya gemetar ketika membalas: "Fa, jangan terlalu dekat. Aku takut. Aku masih punya suami."

Balasan datang begitu cepat, seakan Rafa menunggu dengan cemas.

"Aku tahu. Dan aku nggak akan memaksa. Tapi Lis, kamu juga harus jujur sama diri sendiri. Kamu bahagia sekarang? Apa Radwan masih bisa bikin kamu tersenyum kayak dulu?"

Pertanyaan itu menghujam tepat di jantungnya. Air mata Arlisa kembali jatuh, membasahi layar ponselnya. Ia ingin menjawab "tidak", tapi bibirnya hanya mampu mengetik singkat: "Aku bingung, Fa."

Keesokan harinya, Arlisa bangun lebih awal. Ia menyiapkan sarapan, meski sudah tahu hasilnya: Radwan lebih sering memilih masakan Raline. Tapi entah kenapa, ia masih saja melakukan itu, seolah berharap ada secuil perhatian yang kembali jatuh padanya.

Ketika Radwan turun ke ruang makan, Raline sudah duduk cantik dengan roti panggang dan salad di depannya. Radwan tersenyum lebar melihatnya. "Wah, Lin, sarapannya sehat banget. Kamu tahu aja aku lagi pengin makanan ringan."

Raline tersipu, sementara Arlisa hanya berdiri di sudut dapur, menatap pemandangan itu dengan hati yang nyeri. Di meja, nasi goreng buatannya masih mengepul, belum tersentuh.

"Bang, kalau mau... nasi goreng juga ada," ucap Arlisa pelan.

Radwan menoleh sekilas, lalu tersenyum kaku. "Oh, iya. Makasih, Lis." Tapi tangannya tetap meraih garpu untuk menyantap salad buatan Raline.

Arlisa menunduk. Tangannya meremas kain celemek yang ia kenakan, berusaha keras menahan diri agar tidak menangis di depan mereka.

Siang itu, Arlisa pergi ke pasar. Ia sengaja memperlambat langkahnya, menikmati udara panas yang menampar wajah. Di tengah keramaian pasar, ia merasa lebih bebas, tak perlu menjadi bayangan di rumahnya sendiri.

Saat ia sedang menawar sayuran, ponselnya bergetar. Rafa menghubungi lewat telepon.

"Lis, kamu lagi di mana?" suara Rafa terdengar hangat.

"Di pasar," jawab Arlisa singkat, sambil memastikan orang di sekitarnya tak memperhatikan.

"Kamu sendirian?"

"Iya."

"Kalau gitu, boleh aku jemput? Kita bisa makan siang bareng. Aku kangen ngobrol sama kamu."

Arlisa terdiam, hatinya berdegup kencang. Ia menoleh ke kanan-kiri, seolah takut Radwan tiba-tiba muncul di tengah pasar. "Aku... aku nggak bisa, Fa. Itu berbahaya."

"Tolonglah, Lis. Cuma makan siang. Aku janji nggak akan macam-macam."

Arlisa menutup mata sejenak. Dalam hati, ia tahu seharusnya menolak. Tapi rasa sepi yang sudah terlalu lama ia pendam membuat kata-kata lain meluncur dari bibirnya. "Baiklah. Kita ketemu di kafe biasa."

Di kafe itu, Rafa sudah menunggu dengan senyum yang tulus. Arlisa datang dengan hati berdebar, merasa seperti seorang remaja yang baru saja akan bertemu kekasih diam-diam.

"Lis," sapa Rafa sambil menarik kursi untuknya. "Aku senang banget kamu mau datang."

Arlisa duduk dengan gugup. "Fa, kita nggak boleh sering-sering ketemu. Kalau Radwan tahu..."

Rafa menatapnya dalam-dalam. "Aku nggak peduli kalau Radwan tahu. Aku cuma peduli sama kamu. Aku lihat kamu menderita, Lis. Dan aku nggak sanggup diam aja."

Kata-kata itu membuat dada Arlisa sesak. Ada kehangatan di sana, kehangatan yang sudah lama ia rindukan. Mereka berbincang lama, tertawa kecil, dan untuk sesaat, Arlisa merasa seperti kembali hidup.

Ketika mereka berpisah, Rafa sempat meraih tangannya sebentar. Sentuhan singkat itu membuat tubuh Arlisa merinding, bukan karena takut, tapi karena ia merasa diingatkan bahwa dirinya masih perempuan yang pantas dicintai.

Malamnya, Radwan pulang lebih cepat dari biasanya. Arlisa terkejut ketika suaminya masuk ke ruang tamu, duduk di sofa, dan memandangnya lama.

"Lis," ucap Radwan tiba-tiba. "Kamu akhir-akhir ini kelihatan beda. Kamu sering keluar, sering keluyuran sendirian. Ada apa sebenarnya?"

Arlisa tercekat. Jantungnya berdetak kencang, seolah Radwan sudah tahu rahasianya.

"A-aku cuma... bosan di rumah terus. Jadi sesekali jalan-jalan ke pasar atau kafe. Itu saja," jawabnya terbata.

Radwan mengernyit, lalu menghela napas panjang. "Lis, kamu boleh jujur sama aku. Kalau ada yang mengganggu pikiranmu, katakan. Jangan dipendam."

Arlisa menatap suaminya lama. Ia ingin sekali berkata, "Aku rindu kamu. Aku butuh kamu. Aku ingin kamu kembali seperti dulu." Tapi lidahnya kelu. Ia takut suaranya justru pecah oleh tangis.

Akhirnya, ia hanya menggeleng. "Nggak ada, Bang. Aku baik-baik saja."

Radwan memandangnya lekat, seolah mencoba membaca isi hatinya. Tapi kemudian ia berdiri, menepuk bahunya pelan, lalu berjalan pergi menuju kamar Raline.

Dan sekali lagi, Arlisa hanya bisa menatap punggungnya yang menjauh.

Hari-hari berikutnya menjadi semakin rumit. Arlisa dan Rafa makin dekat, meski hanya lewat pesan dan pertemuan singkat. Rafa mulai berani mengungkapkan perasaannya dengan lebih jelas.

"Lis, aku jatuh cinta lagi sama kamu."

Kalimat itu membuat Arlisa terdiam lama. Ia tahu perasaan Rafa tulus. Ia bisa merasakannya dari cara Rafa memperhatikan, dari kata-kata yang selalu ia pilih dengan hati-hati.

Tapi setiap kali ia hampir menyerah pada godaan itu, bayangan Radwan selalu muncul. Meski kini terasa jauh, Radwan masih suaminya. Dan di lubuk hati terdalam, Arlisa masih mencintai pria itu.

Suatu malam, Arlisa duduk di balkon kamarnya. Angin malam berhembus lembut, membawa aroma tanah basah setelah hujan sore. Ponselnya kembali bergetar.

"Lis, aku nggak bisa tidur. Aku kepikiran kamu terus." pesan dari Rafa.

Arlisa menggigit bibirnya. Ia balas: "Fa, jangan terus-terusan begini. Aku takut kita kelewatan batas."

Balasan datang cepat: "Kalau cinta itu salah, aku rela salah. Asal sama kamu."

Arlisa menutup wajahnya dengan kedua tangan. Air matanya mengalir lagi. Ia tersesat dalam labirin yang ia ciptakan sendiri.

Di dalam rumah, Radwan mungkin sedang memeluk Raline dengan penuh cinta. Sementara ia, istri pertama, hanya bisa mencari serpihan kasih di luar.

Hari itu, saat matahari mulai terbenam, Arlisa berdiri di depan cermin. Ia menatap bayangannya sendiri, lalu berkata lirih, "Aku nggak bisa terus begini. Aku harus memilih. Tapi siapa yang harus kupilih?"

Pertanyaan itu menggema di hatinya, tanpa jawaban yang pasti.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Arlisa benar-benar merasa bahwa batas kesetiaan mulai kabur di hadapannya.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95NHK" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95NHK
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bu Claire
9.2
Claire merasa jenuh dengan kehidupan pernikahannya bersama Budi yang terasa hambar di sebuah desa kecil. Kehadiran Ridho yang menggoda memicu perselingkuhan rumit yang penuh gairah sekaligus rasa bersalah. Saat kecurigaan Budi memuncak, rahasia besar ini akhirnya terbongkar dan mengancam keutuhan rumah tangga mereka. Namun, keduanya memilih untuk berjuang memperbaiki kepercayaan melalui kejujuran. Sebuah kisah mendalam tentang komitmen, rekonsiliasi, dan arti cinta sejati.
Sampul Novel Cahaya Bulan yang Merindukan Masa Indah
9.3
Pernikahan tujuh tahun Riana Handoko dan Bimo Ganendra yang tampak sempurna mendadak hancur saat Riana akhirnya hamil. Di rumah sakit, ia terkejut mendapati kolom ayah di berkasnya kosong, padahal Bimo dikenal sangat mencintainya hingga rela melakukan vasektomi. Kenyataan mengerikan terungkap ketika nama suaminya justru terdaftar sebagai ayah dari anak yang dikandung oleh Silvia Handoko. Silvia adalah putri kandung dari keluarga angkat Riana yang dahulu mengusirnya demi mengembalikan posisi putri asli mereka.
Sampul Novel CANDU CINTA CEO AROGAN
9.7
Erlan Levin adalah CEO sukses di Jakarta yang terus menghindar dari desakan menikah keluarganya. Namun, hidupnya berubah total saat ia tertangkap basah berada di satu kamar dengan gadis asing. Terjepit situasi memalukan ini, ia terpaksa menikahi wanita yang sangat disukai keluarganya itu. Kini, sang istri harus berjuang memenangkan hati Erlan yang dingin. Akankah cinta tumbuh di antara mereka, atau ia hanya akan menjadi sosok yang terabaikan?
Sampul Novel Edoraded Distance
9.0
Kevin dan Sekar terikat dalam pernikahan formal yang terasa hampa tanpa keintiman nyata. Meski hubungan mereka sebatas status di atas kertas, Kevin yang telah lama mencintai Sekar tak menyerah. Di tengah kehadiran keluarga Son dan Atmaja, Kevin berjuang keras meruntuhkan tembok pemisah di antara mereka. Ia bertekad meyakinkan Sekar bahwa ikatan ini adalah gerbang menuju kebahagiaan sejati, bukan sekadar kontrak belaka yang dingin tanpa perasaan.
Sampul Novel Istri Kakakku Selalu Menangis
8.2
Kejanggalan menyelimuti pernikahan Kak Heru dan Mbak Rena, memicu kecurigaan mendalam dalam benakku. Mengapa Mbak Rena terus-menerus meneteskan air mata? Berbagai petunjuk aneh mulai bermunculan, mulai dari insiden kecelakaan misterius di depan toko beras hingga penemuan kantong plastik berisi tumpukan test pack. Aku bertekad menelusuri setiap kepingan rahasia ini demi mengungkap kebenaran kelam yang sebenarnya terjadi di balik pintu rumah mereka.
Sampul Novel Istri Pengganti, Cinta Suami Untuk Lain
7.9
Selama lima tahun, pernikahan saya dengan Yoga terasa hampa meski saya sangat mencintainya. Luka itu kian dalam saat saya tahu Yoga menjalin kasih rahasia dengan adik angkatnya, Meiliana. Kecewa, saya menjebak Yoga menandatangani surat cerai dalam kedok dokumen asuransi. Setahun berlalu, saya bangkit dan bertunangan dengan Luki. Namun, Yoga mendadak kembali memohon maaf dan Meiliana mengakui perasaan Yoga. Kini saya harus memilih antara masa lalu atau kebahagiaan sendiri.