
SUAMIKU BULE BRONDONG
Bab 2
Dia terus meyakinkanku untuk meraih tangannya dan membatalkan niatku untuk bunuh diri. Saat aku mulai lengah, buru ia menarik tubuhku hingga aku terjatuh. Kondisiku lebih aman karena aku tersungkur di tepi jembatan tak lagi naik di besi pinggir jembatan. Tangisku pecah. Laki-laki itu membisu tanpa memindahkan pandangan dari ku.
Sesaat kemudian sebuah jaket melingkar di tubuhku. Ia berusaha menutup dadaku yang terbuka karena kancing yang lepas, serta baju di lenganku yang sobek. Sepertinya ia paham peristiwa apa yang menimpaku.
"Dimana rumahmu? Aku akan mengantarmu pulang ?" Aku menggeleng dengan cepat tanpa berani bersitatap dengannya. Keheningan tercipta beberapa saat lamanya.
"Ikutlah dengan ku. Kau aman bersamaku." Aku beranikan diri untuk menatapnya. Baju koko yang melekat padanya membuatku percaya jika dia laki-laki yang baik.
Dengan motor matic, dia membawaku pergi. Aku pasrah karena pikiran kalut tengah menguasaiku.
Kami berhenti di sebuah rumah berlantai dua yang tidak terlalu besar. Rumput hijau nampak menutupi halaman rumah. Beberapa bunga bougenvil berwarna merah muda dan putih serta bunga mawar meramaikan halaman rumah yang tidak terlalu luas itu. Aku masih bergeming di tempatku saat laki laki itu mengajakku masuk ke dalam rumah.
Dia meninggalkanku di luar. Beberapa saat kemudian seorang wanita paruh baya datang menghampiriku.
"Ayo masuklah Nak ! Jangan takut." Wanita dihadapanku mengulum senyum tulus padaku.
Ia memegang lenganku dan membimbingku masuk ke dalam rumah. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling hingga tanpa sadar mataku berhenti pada sesosok laki-laki yang berdiri di dekat jendela. Dia menatapku dengan pandangan tak terbaca. Berlalu pergi dan menghilang dibalik pintu kamar mandi. Ujung bajunya meneteskan sisa-sisa air hujan hingga membasahi lantai tempatnya berdiri. Hal yang sama terjadi padaku.
"Minumlah Nak. Teh hangat ini akan mengurangi dingin di tubuhmu." Wanita yang meminjamiku baju tengah duduk di tepi tempat tidur dengan menyodorkan secangkir teh yang masih mengepulkan asapnya. Aku tetap abai, tak menyentuh piring yang berisi nasi dan lauk, ataupun teh yang disajikan untukku. Aku terus duduk meringkuk di atas kasur dengan airmata yang masih setia menetes.
"Setidaknya hubungilah keluargamu agar tak khawatir. Besok, Putraku akan mengantarmu pulang. Istirahatlah!"
Wanita itu hendak melangkah keluar kamar namun kutahan dengan sebuah pertanyaan.
"Bu, bolehkah aku meminjam hp?" Aku memberanikan diri bicara.
Benar, aku harus mengabari ibuku. Beliau pasti mengkhawatirkanku yang belum pulang hingga malam. Sedangkan Hpku mati, mungkin karena batrerainya habis atau karena kehujanan. Aku tak tahu pasti.
Wanita itu mengulurkan Hp padaku dengan tersenyum. Buru ku tulis nomer Hp ibuku yang sudah ku hafal diluar kepala. Aku berpikir sejenak, akan lebih baik jika aku mengirimkan pesan saja. Jika aku telepon yang ada adalah tangisku yang tak terbendung akan didengar ibu. Wanita yang melahirkan ku itu akan khawatir dan sedih, lalu kesehatannya akan memburuk.
Bu, malam ini aku tidak bisa pulang karena menginap di rumah Sisil. Ada tugas kantor yang harus aku selesaikan bersamanya.
Ibu jangan khawatir, besok aku pulang.
Aku mengembalikan Hp itu kepada pemiliknya.
"Istirahatlah Nak, jangan lupa makan ya!"
Wanita itu mengusap lembut pungguku dengan tersenyum. Senyum yang menghadirkan perasaan hangat seperti senyum ibuku. Aku kembali tertunduk dengan tangis yang masih meleleh. Aku mengangkat wajah untuk menatap kembali wanita baik itu, namun aku juga menemukan laki-laki yang tadi menolongku tengah berdiri di balik pintu menatapku. Ia telah berganti pakaian dengan kaos putih dan sarung. Sesaat kemudian pintu kamar tertutup sempurna, aku kembali sendirian di sebuah kamar yang asing. Membaringkan tubuh diatas kasur, menikmati tangis yang tak mau berhenti.
Suara adzan subuh membangunkanku. Mataku terasa tak nyaman saat ku buka. Mungkin bengkak karena terlalu lama menangis. Saat kesadaranku pulih, aku ingat dimana aku sekarang.
Piring beserta isinya masih utuh, hanya teh di gelas yang kini tinggal setengahnya. Mataku kembali basah mengingat peristiwa yang menimpaku kemarin. Setelah ini, aku harus bagaimana? Masa depanku hancur. Ibuku, bagaimana aku harus bercerita padanya? Beliau menaruh harapan besar padaku, tapi kini, tak ada yang tersisa. Tak akan ada laki-laki yang mau menikahiku, dan___ jika aku sampai hamil maka aku akan mempermalukan ibuku. Kami akan dihina kembali. Sebelumnya kami jadi olonakan orang karena kelakuan ayah. Aku akan memiliki anak di luar nikah, lalu bagaimana aku harus merawatnya?
Kepalaku kembali berdenyut dan berat. Dada yang sesak belum berkurang sejak kemarin. Mataku tetap basah, meski aku lelah menangis. Aku memeluk lutut dan menenggelamkan wajahku disana. Bayangan masa depan begitu menakutkan bagiku. Aku ingin menyalahkan Tuhan yang telah menghadirkanku ke dunia ini. Untuk apa manusia dilahirkan dan di biarkan hidup jika hanya untuk menderita?
Terdengar decitan pintu, dan wanita baik itu duduk di sampingku. Aku masih enggan untuk merubah posisiku.
"Apa yang terjadi padamu Nak? Kau bisa bercerita padaku." Wanita baik itu mencoba mengajakku bicara.
Aku masih tetap abai. Keheningan tercipta diantara kami. Setelah cukup lama aku hanya membisu, dia melangkah pergi. Ketika tubuhnya hendak meninggalkan pintu aku memanggilnya.
"Aku ingin pulang ! " Ujarku lirih .
"Baiklah, tapi kau harus sarapan dulu! Setelahnya putraku akan mengantarmu."
Beberapa saat kemudian wanita baik itu masuk dengan membawa sepiring nasi dan lauknya serta segelas air putih.
"Makanlah dulu Nak! " Wanita itu duduk di tepi tempat tidur.
"Dulu, ada perempuan yang bernasib sama denganmu. Dia, kehilangan makhkotanya karena seseorang merenggut paksa." Kudengar suaranya berat .
"Dia putus asa dan takut memikirkan segala hal. Butuh waktu yang tak sebentar untuk sembuh dari luka batin trauma itu. Namun, perempuan itu mencoba menghadapi luka yang menderanya tak menghindarinya. Hingga pada waktunya luka itu sembuh dengan sendirinya." Dia bercerita dengan mata berembun.
"Coba memberi waktu bagi diri sendiri untuk menerima dan sembuh. "
Aku terpaku pada sorot mata wanita dihadapanku. Begitu teduh, hingga tanpa sadar aku terisak dalam pelukannya. Air mataku membasahi jilbabnya. Tanpa diperintah mulutku berkisah akan kejadian menyakitkan kemarin. Berkali-kali wanita itu mengusap punggung tanganku. Dia menatapku iba dibalik senyum yang ia berikan padaku.
Dengan sebuah taksi aku kembali ke rumah. Laki-laki yang menolongku ikut mengantar. Dia duduk di sebelah sopir dan aku di belakang. Sepanjang perjalanan kami hanya saling diam. Taksi berhenti di depan gang kecil sesuai alamat yang kuberikan, aku menapakkan kaki keluar dari taksi.
Kakiku terasa berat untuk mengayun. Memikirkan apa yang harus kujawab jika ibu bertanya tentang diriku. Tapi ibu adalah tempat pulang bagiku. Aku harus kuat dan menyimpannya seorang diri sampai waktu yang tepat untuk bercerita. Atau bila mugkin aku akan memendamnya seorang diri selamanya.
Aku menatap laki-laki yang mengantarku, tengah berdiri disamping taksi. Ingin mengucapkan terima kasih padanya. Namun kata-kata itu berhenti di tenggorokan saja. Ku ayunkan langkah meski kakiku terasa dibebani batu besar di sana.
Aku masih mengingat kata-kata wanita baik itu, wanita yang kuketahui bernama Diana setelah dia menyebutkannnya. Dialah perempuan yang diceritakannya padaku. Perempuan yang senasib denganku. Kehilangan makhkotanya oleh laki-laki biadap.
Anda Mungkin Juga Suka





