
SUAMIKU BULE BRONDONG
Bab 3
Setelahnya aku lebih sering mengurung diri di dalam kamar serta sedikit bicara. Menghabiskan waktu dengan melamun dan tiba-tiba menangis.
"Kita periksa ke dokter Hania jika memang belum sehat." Aku hanya bergeming. Rasanya aku ingin bercerita kepada ibu tentang petaka yang menimpaku serta tak lagi bekerja di perusahaan asuransi itu. Aku tak sudi kembali kesana.
"Hania." Ibu kembali memanggilku.
"Aku akan mencari pekerjaan lain Bu." Jawabku dengan hati-hati. Aku beranikan diri menatap ibu untuk melihat reaksinya. Ibu membalas tatapanku dalam diam. Seolah menungguku bercerita lebih banyak lagi.
"Aku tak nyaman bekerja di sana? " Dari tatapan ibu, tersirat rasa yang tak puas akan jawabanku. Aku menunduk dan membisu.
"Baiklah jika begitu. Hania, kau bisa bercerita apapun pada ibu." Aku mengerjapkan mata berulang untuk menahan tangis yang sudah terkumpul di sudut mata. Menghambur pada pelukan ibu. Punggungku diusap lembut. Tempat ternyaman bagiku adalah pelukan ibu, aroma tubuhnya yang terekam diotakku layaknya stimulus bagiku untuk segera menumpahkan segala rasa di sana. Pada akhirnya tangisku pecah. Ibu membiarkanku menangis dalam peluknya.
Aku memeriksa Hp yang beberapa hari ini ku abaikan. Puluhan pesan dan panggilan masuk coba ku baca. Dadaku kembali nyeri, tangis tak bisa lagi dibendung. Aku seolah gelap mata, menganggap semua orang di perusahaan asuransi itu jahat. Aku berpikir bahwa ada konspirasi dibalik musibah yang ku alami.
Jika aku melapor bahwa aku mengalami pelecehan seksual, siapa yang akan percaya? Uang memang lebih berkuasa dari keadilan. Selain nama baikku tercemar, aku bisa saja dituntut balik atas pencemaran nama baik. Tapi bagaimana jika hal ini terulang pada perempuan lain? Sedang laki-laki biadap itu bebas berkeliaran dan mencari mangsa baru. Pikiranku gundah.
***
Aku mulai berburu pekerjaan, beberapa perusahaan besar ku datangi . Bertanya pada resepsionis, adakah lowongan kerja. Namun saat matahari tinggi dan udara panas berhembus, usahaku masih saja nihil. Sejak pagi hingga sekarang sudah empat perusahaan yang ku datangi. Perutku terasa perih, sarapanku tadi sudah ku pakai untuk berjalan kaki.
Saat aku berteduh di bawah pohon ketapang yang berada di area parkir perusahaan yang ku sambangi, aku melihat laki-laki yang melecehkanku tengah berjalan dengan melingkarkan tangannya pada pinggang seorang wanita. Bahkan, di tempat seterbuka ini mereka saling menautkan bibir. Aku begitu jijik melihatnya.
Siapa wanita asing berambut pirang itu? Jika dia istrinya, apakah dia tahu kelakuan suaminya di belakang? Atau dia korban berikutnya? Yang akan di hisap madunya dan dicampakkan setelahnya.
Darahku mendidih, seluruh amarahku terkumpul dalam kepalan jari-jari tanganku. Aku ingin mengambil batu yang berada di sebelahku dan memukulkan ke kepalanya. Balasan yang tak seimbang dengan kebiadapannya. Saat batu di lantai itu telah berpindah ke tanganku, laki-laki itu telah memasukkan tubuhnya ke dalam mobil Alphard putih yang dulu mengantarnya menemuiku di hotel. Mobil itu melaju meninggalkan parkiran.
Lututku lemas, aku duduk tak berdaya di bawah pohon ketapang yang sama. Menyesali kebodohanku di hari naas itu. Andai aku lebih waspada dan tak begitu saja mengikuti ajakannya, tentu petaka itu tak perlu terjadi. Begitu lugunya aku tak menaruh curiga saat dia memintaku mengikutinya dan berakhir di sebuah kamar hotel.
Aku linglung. Semangatku menenguap, keroncong perut kuabaikan begitu saja. Sebuah botol air mineral terjulur padaku. Aku mendongak pada sesosok yang kini berdiri dihadapanku. Buru mengeringkan lelehan tangis di pipiku. Dia duduk di sebelahku dengan berjarak. Mengulang tawaran air mineral itu padaku. Pada akhirnya aku mengambilnya. Meneguk hingga setengah, perasaanku lebih ringan setelahnya.
" Mau temani aku makan?" Ajaknya tanpa basa-basi. Kami bersilang pandang. Kemudian ia membuang muka lebih dulu. Aku masih kerasan menatapnya.
" Jangan lama-lama lihatnya, nanti suka." Aku salah tingkah setelahnya. Aku sendiri tak paham, mengapa perasaan sedih yang tadi mencengkram erat seakan tiba-tiba terlepaskan. Dua lesung pipi itu membuatku terpesona sejak pertemuan pertama saat dia menolongku, menggagalkan rencana bunuh diriku.
Dia beranjak dari duduknya, menghampiri pedagang gado-gado di seberang jalan. Tanpa di komando, aku justru begitu patuh mengikutinya. Tetiba perutku keroncongan. Laki-laki yang duduk dihadapanku menatap dengan kening berkerut. Aku kembali malu dihadapannya. Yang bisa kulakukan hanyalah membuang muka sambil menggosok hidung yang tak gatal. Saat aku melirik padanya, ia tengah melengkungkan senyum tipis. Lesung pipi itu kembali tercetak.
***
Aku masih setia untuk mencari pekerjaan. Saat ini aku berada di sebuah cafe. Aku memasukinya karena aku istirahat sebentar dengan menikmati secangkir capucino late kesukaanku, memilih meja yang berada di tepi agar aku bisa menikmati pemandangan luar cafe di balik kaca. Memperhatikan orang hilir mudik yang melintas di trotoar. Sejak dulu aku lebih suka menyendiri di cafe sambil memikirkan banyak hal. Seperti saat ini, aku akan merancang beberapa rencana untuk beberapa waktu ke depan. Salah satunya adalah scroll di medsos untuk mencari lowongan pekerjaan yang bisa ku masuki.
Sebuah lonceng yang tergantung pada pintu cafe berdering saat seseorang memasuki cafe. Aku tersenyum, melihat seorang wanita seumuran dengan ku yang baru saja masuk. Aku nyaris berdiri dan ingin melambaikan tangan padanya agar bergabung denganku .Namun niatku urung karena dia menerima telepon sebelum sempat melihatku. Aku duduk kembali dan meperhatikannya. Dia telah mendudukkan dirinya, memilih tempat yang berjarak satu meja dari tempatku duduk. Suaranya saat menerima telepon terdengar jelas. Aku terus memperhatikannya, namun dia tak menyadari keberadaanku karena temanku itu duduk membelakangiku.
Lonceng di depan pintu kembali berbunyi saat seorang pengunjung datang. Matataku terbelalak. Kembali batinku bergejolak. Dadaku sesak, seperti ada bongkahan batu besar yang menindihnya, melihatnya berhenti di depan gadis yang tadi ingin ku sapa. Buru aku meraih berkas surat lamaranku untuk menyembunyikan wajah.
" Kau membuang waktuku saja. Cepat katakan, apa maumu?" Suara bariton itu terdengar jelas di telingaku.
"Aku ingin menagih janji Tuan. "
" Sudah kukatakan padamu, kau hanya butuh menunggu. Aku sedang mengaturnya. Setelah ini kau akan naik jabatan menjadi asisten Manager."
" Jangan mempermainkanku Tuan. Jika Anda ingkar aku tak segan untuk membongkar segalanya."
" Kau mengancamku? Beraninya kau."
"Aku memiliki cukup bukti atas kejahatanmu Tuan"
"Kau lupa ? Kau juga terlibat." Aku semakin menajamkan pendengaranku.
" Huh!" Temanku itu meghembuskan nafasnya kasar.
"Setelah ini, siapa lagi yang ingin kau mangsa Tuan? Aku bahkan tega mengorbankan temanku sendiri. Hania."
Dadaku kian sesak, wajahku memucat seakan tak dialiri darah mendengar namaku disebut oleh dua iblis itu. Mataku kembali hujan setelah beberapa hari ini mulai berkurang rintiknya. Sakit yang kurasakan saat ini melebihi hari naas itu. Aku gelap mata, meraih pisau cake yang tergelatak diatas meja di depanku, berlari pada laki-laki bejat itu.
"Aaa ...."
Jeritan pengunjung memenuhi cafe. Pisau itu tepat tertancap di dada Dany sang manusia iblis. Bau anyir darah yang mengenai tanganku menguak di penciuman.
Anda Mungkin Juga Suka





