Sampul Novel Dari Pengkhianatan Tebing ke Cinta yang Tak Terpatahkan

Dari Pengkhianatan Tebing ke Cinta yang Tak Terpatahkan

8.1 / 10.0
Marco menjanjikan piknik romantis di tebing, namun ia justru mendorong Clara ke jurang demi selingkuhannya, Chika. Meski tubuhnya hancur, Clara bertahan hidup dan mendengar rencana keji Marco untuk memalsukan kematiannya sebagai kecelakaan. Di tengah keputusasaan, api balas dendam mulai membara. Harapan muncul saat Julian Suryo, miliarder sekaligus musuh bebuyutan suaminya, datang menyelamatkannya. Kini, Clara siap menghancurkan pria yang telah mengkhianatinya.

Dari Pengkhianatan Tebing ke Cinta yang Tak Terpatahkan Bab 1

Suamiku selama lima tahun, Marco, bilang dia akan membawaku piknik romantis di puncak tebing. Dia menuangkan segelas sampanye untukku, senyumnya sehangat mentari. Katanya, ini untuk merayakan hidup kami bersama.

Tapi saat aku sedang mengagumi pemandangan, tangannya menghantam punggungku. Dunia buyar, hanya ada langit dan bebatuan saat aku terhempas ke jurang di bawah.

Aku terbangun dengan tubuh remuk dan berdarah, tepat pada waktunya untuk mendengar suaranya dari atas. Dia tidak sendirian. Ada Chika, selingkuhannya.

"Apa dia... sudah mati?" tanya Chika.

"Jatuhnya sangat dalam," suara Marco terdengar datar, tanpa emosi. "Tidak ada yang bisa selamat dari situ. Saat mayatnya ditemukan, semua akan terlihat seperti kecelakaan tragis. Clara yang malang, jiwanya tidak stabil, berjalan terlalu dekat ke tepi tebing."

Kata-katanya yang diucapkan dengan santai terasa lebih kejam dari benturan apa pun. Dia sudah menulis obituariku, merangkai narasi kematianku sambil membiarkanku mati di tengah badai.

Gelombang keputusasaan menyapuku, tapi kemudian sesuatu yang lain menyala: amarah yang membara dan dahsyat.

Tepat saat pandanganku mulai memudar, sorot lampu mobil menembus hujan. Seorang pria keluar dari sebuah mobil mewah. Itu bukan Marco. Itu Julian Suryo, saingan paling dibenci suamiku, dan satu-satunya pria yang mungkin sama inginnya menghancurkan Marco seperti diriku.

Bab 1

Hal pertama yang kusadari adalah rasa sakit, penderitaan yang menyilaukan dan tajam menusuk kakiku hingga meledak di belakang mataku. Hal kedua adalah bau tanah basah dan daun pinus yang hancur, aroma yang begitu pekat hingga terasa seperti aku menghirup lumpur. Pipiku menempel pada sesuatu yang dingin dan licin karena hujan.

Aku mengerjap, mencoba membersihkan kabut dari pandanganku. Hujan membuat rambutku lengket di wajah, setiap tetesnya terasa seperti sengatan es kecil di kulitku. Di atasku, melalui jalinan dahan-dahan gelap, langit berwarna ungu lebam, bergolak dengan awan badai. Dunia adalah simfoni penderitaan: genderang hujan yang tanpa henti, gemuruh guntur di kejauhan, dan suara napasku sendiri yang tersengal-sengal putus asa.

Lalu, aku mendengar suara. Suaranya.

"Apa dia... sudah mati?" Suara yang lain adalah suara perempuan, dengan nada manis yang memuakkan hingga membuat perutku mual. Chika.

"Jatuhnya sangat dalam. Tidak ada yang bisa selamat dari situ." Suara Marco datar, tanpa kehangatan yang telah ia palsukan selama lima tahun. Itu adalah suara seorang pria yang sedang membahas transaksi bisnis, bukan istri yang baru saja coba ia bunuh.

Pikiranku berputar, berjuang untuk menghubungkan titik-titik. Piknik di puncak tebing. Termos berisi teh "spesial" yang membuat kepalaku pusing. Dorongan tiba-tiba dan brutal dari belakang. Sensasi jatuh yang memuakkan, dunia berputar menjauh dariku saat bebatuan melesat menyambutku. Ini bukan kecelakaan.

*Dia melakukan ini. Dia mendorongku.*

Aku mencoba berteriak, memanggil, tapi hanya desahan tertahan yang keluar dari bibirku. Tenggorokanku terasa perih, dan rasa seperti logam memenuhi mulutku. Darah.

"Kita harus pergi," rengek Chika. "Nanti ada yang lihat mobil kita."

"Tidak ada yang datang ke sini saat cuaca seperti ini," kata Marco, nadanya meremehkan. "Dia sudah pasti mati. Saat mayatnya ditemukan, semua akan terlihat seperti kecelakaan tragis. Kasihan, si Clara yang jiwanya nggak stabil itu, berjalan terlalu dekat ke tepi tebing."

Kekejaman dalam kata-katanya yang santai adalah pukulan fisik, lebih buruk dari benturan dengan tanah. Dia sudah menulis obituariku, merangkai narasi kematianku. Suami yang penuh kasih, berduka atas istrinya yang bermasalah. Rasa mual naik ke tenggorokanku.

Langkah kaki mereka berderak di atas kerikil, lalu memudar. Suara mesin mobil menyala, dan kemudian derak ban yang menjauh, ditelan oleh badai. Mereka pergi. Mereka telah meninggalkanku untuk mati.

Gelombang keputusasaan yang dingin dan hitam menyapuku, begitu dalam hingga hampir menyelesaikan apa yang telah dimulai oleh jatuhnya aku. Aku terbaring di sana, membiarkan hujan membasahiku, sebuah boneka rusak yang dibuang di hutan. Tapi kemudian, percikan sesuatu yang lain menyala di kegelapan dingin jiwaku. Amarah. Amarah yang membara dan dahsyat yang membakar habis keputusasaan. Dia tidak akan menang. Aku tidak akan membiarkannya menghapusku.

Dengan menggunakan sikuku, aku mulai menyeret diriku ke depan, menjauh dari dasar tebing. Setiap gerakan mengirimkan gelombang penderitaan baru ke seluruh tubuhku, tetapi amarah adalah bahan bakar yang lebih kuat. Aku merangkak melalui semak belukar yang lebat, ranting-ranting tajam dan bebatuan merobek gaunku yang sudah hancur. Kainnya, sutra lembut yang ia belikan untuk ulang tahun pernikahan kami, kini hanyalah kain compang-camping yang basah kuyup oleh lumpur.

Tanganku menggenggam sesuatu yang kecil dan keras di tanah. Aku menariknya, jari-jariku mati rasa karena kedinginan. Itu adalah seekor burung kayu kecil, diukir dengan rumit, permukaannya halus dan anehnya masih bersih meskipun berlumpur. Benda itu terasa padat dan nyata di telapak tanganku, sebuah misteri kecil yang nyata di tengah mimpi buruk ini. Tanpa pikir panjang, aku memasukkannya ke dalam saku mantel tipisku.

Badai pecah dengan sungguh-sungguh. Langit terbuka, dan hujan turun dalam curahan yang membutakan. Suhu turun, dan getaran hebat mengguncang tubuhku. Hipotermia mulai menyerang. Aku kalah dalam pertempuran ini. Pandanganku mulai menyempit, tepiannya berubah menjadi abu-abu. Tepat saat aku akan menyerah pada kegelapan yang mendekat, sepasang lampu depan menembus pepohonan yang basah oleh hujan.

Cahayanya menyilaukan, tanpa ampun. Sebuah sedan mewah hitam yang ramping melambat hingga berhenti di jalan berkelok-kelok tepat di luar batas pepohonan. Jantungku berdebar kencang di dada. *Apa mereka kembali? Apa Marco kembali untuk memastikan aku mati?*

Pintu sisi pengemudi terbuka, dan sesosok tubuh tinggi muncul, siluetnya menantang sorot lampu yang kuat. Dia bergerak dengan keanggunan yang meresahkan, seekor predator puncak yang terganggu oleh rintangan di jalannya. Dia bukan Marco. Pria ini lebih tinggi, lebih tegap, kehadirannya memancarkan otoritas yang dingin dan berbahaya.

Saat dia melangkah lebih dekat, lampu depan menerangi wajahnya. Fitur wajah yang tajam dan aristokrat, rambut gelap yang licin karena hujan, dan mata berwarna awan badai. Aku kenal wajah itu. Aku pernah melihatnya di majalah, di saluran berita keuangan, dalam tatapan marah yang Marco arahkan ke televisi. Julian Suryo. CEO kejam dari Suryo Corporation, saingan terbesar dan paling dibenci suamiku.

Dia menatapku, ekspresinya topeng dingin yang merendahkan. Tidak ada belas kasihan di matanya, hanya kejengkelan.

Bibirnya melengkung membentuk seringai pengakuan. "Wah, wah. Clara Adijaya. Sepertinya permainan suamimu akhirnya menimpamu juga."

Dia melihat keadaanku yang hancur, darah, lumpur, ketakutan di mataku, dan ekspresinya tidak melunak. Dia tampak seolah-olah menikmati pemandangan itu. Dia berbalik, tangannya meraih pintu mobilnya, siap meninggalkanku pada takdirku.

Panik, mentah dan primal, melonjak dalam diriku. Dengan sisa kekuatan terakhir yang kumiliki, aku menerjang, jari-jariku mencengkeram kulit halus sepatunya yang mahal, meraih pergelangan kakinya. Sentuhanku adalah noda lumpur yang putus asa pada kesempurnaannya.

Dia membeku, menatap tanganku seolah-olah itu adalah ular.

"Tolong," desahku, kata itu keluar dari tenggorokanku. Mataku, yang melebar karena teror, terkunci pada matanya. "Dia mencoba membunuhku."

Ketakutan yang mentah dan tak terbantahkan dalam suaraku sepertinya menembus ketenangannya yang sedingin es. Tangannya membeku di pintu mobil. Dia berdiri di sana, terperangkap antara kebenciannya yang mendalam terhadap suamiku dan bukti kejahatan yang mengerikan dan berdarah tepat di kakinya. Badai mengamuk di sekitar kami, latar belakang yang pas untuk saat hidupku diletakkan di tangan musuhku.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Dari Pengkhianatan Tebing ke Cinta yang Tak Terpatahkan

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel DOSEN ITU SUAMIKU
9.5
Kehidupan Bunga berubah drastis saat ia mengetahui fakta mengejutkan di kampusnya. Ezza, pria yang dijodohkan orang tuanya dan kini telah resmi menjadi suaminya, tiba-tiba muncul sebagai dosen baru di sana. Kehadiran Ezza yang tak terduga di lingkungan akademisnya memicu tanda tanya besar bagi Bunga. Ia pun mulai meragukan alasan di balik keputusan suaminya tersebut. Apakah Ezza memiliki motif tersembunyi atau ini hanyalah sebuah kebetulan belaka?
Sampul Novel En-PD153
8.9
Mantan kekasihku yang kukira telah tiada tiba-tiba muncul membawa wanita hamil yang disebut penyelamatnya. Dia secara tak masuk akal memintaku tinggal bersama mereka dan menawarkan upacara pernikahan sebagai kompensasi sementara ia menikahi wanita itu. Sebagai putri bangsawan dan menantu keluarga konglomerat, aku tak sudi dijadikan selingkuhan. Jika dia menolak hidup mewah, aku akan memastikan dia kehilangan segalanya hingga menjadi pengemis.
Sampul Novel Kelahiranku, Kematian Ibuku, Dan Kebencian Ayahku
9.7
Disiksa kejam oleh penculik demi melindungi sang ayah, seorang gadis meregang nyawa dalam kesendirian. Di momen terakhirnya, panggilan teleponnya justru ditolak dengan penuh kebencian oleh ayahnya yang sedang merayakan ulang tahun putri adopsinya. Sang ayah mengutuk kelahirannya yang merenggut nyawa ibunya. Jasadnya kemudian ditemukan tragis di depan kantor polisi. Ironisnya, sang ayah yang bekerja sebagai ahli otopsi memimpin penyelidikan tanpa menyadari bahwa korban mutilasi keji tersebut adalah putri kandung yang sangat ia benci.
Sampul Novel Penantian Yang Tak Kunjung Kembali
9.2
Enam tahun menikah rahasia dengan seorang direktur, sang istri harus menerima kenyataan pahit saat suaminya melarang putra mereka memanggilnya ayah. Ketika sang suami kembali mengabaikan ulang tahun anak mereka demi sekretarisnya, keputusan bulat pun diambil. Surat cerai dilayangkan, dan dia pergi membawa putranya selamanya. Kepergian tiba-tiba ini meruntuhkan ketenangan sang miliarder yang seketika kehilangan kendali mencari istrinya. Namun, kali ini penantiannya akan sia-sia.
Sampul Novel Penyesalan CEO Cantikku yang Dingin
7.9
Clayden Ardhanesa, yang dahulu dikenal sebagai Bradford, pernah menguasai dunia sebelum melepaskan kejayaannya demi cinta. Dia memilih hidup sederhana demi melindungi sang istri secara rahasia. Sialnya, setelah sukses, wanita itu justru menganggap Clayden tidak berguna lalu menceraikannya. Namun, roda nasib berputar saat reputasi Clayden kembali mengguncang dunia, menyisakan penyesalan mendalam bagi mantan istrinya yang kini hanya bisa bersimpuh dan menangis tanpa henti.
Sampul Novel Perceraian Aku dan Kakak Kembarku
9.0
Menikah dengan saudara kembar terpandang, Leo sang hakim dan Sam sang dokter bedah, tidak membawa kebahagiaan bagi sepasang kakak beradik kembar ini. Saat diculik perampok hingga kehilangan bayinya, sang istri diabaikan oleh Sam yang sibuk menemani wanita lain bernama Annie. Ketika sang kakak datang menyelamatkannya dari maut, suaminya, Leo, juga menolak membantu dengan alasan serupa. Setelah bertahan hidup dari badai salju yang ekstrem, kedua saudara ini sepakat untuk menggugat cerai suami mereka.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan