Sampul Novel Silent (Love, loyalty and hurt)

Silent (Love, loyalty and hurt)

7.9 / 10.0
Dalam novel modern Silent (Love, loyalty and hurt), Nadin berjuang mempertahankan rumah tangga saat Nathan terjerat konflik seksualitas dan pengkhianatan. Kehadiran Devon menguji segalanya, namun keputusan tak terduga Nadin membawa karma nyata. Baca romance novel ini sekarang di webnovel.
Ringkasan Silent (Love, loyalty and hurt)
Nadin hancur saat mengetahui Nathan berselingkuh akibat penyimpangan seksual yang tak bisa ia salurkan padanya. Meski dikhianati, Nadin berupaya bertahan sebelum akhirnya bertemu Devon. Walau Devon tertarik, ia enggan merusak rumah tangga Nadin. Saat karma mulai menghantam Nathan, Nadin memilih bungkam. Namun, diamnya Nadin adalah awal dari keputusan besar yang mengejutkan semua orang. Meski sangat mencintai suaminya, Nadin memastikan tak ada manisnya pengkhianatan.
Baca Selengkapnya

Silent (Love, loyalty and hurt) Bab 1

"Bacok lagi, ayo ... pakai tenaga! Tenaganya keluarin!" teriak heboh seorang wanita yang gemas dengan putranya saat membelah buah kelapa kuning dengan gambar tokoh wayang.

"Lembek amat," celetuk Nathan. Kakak kandung pria yang masih memegang golok dengan hiasan bunga melati dironce panjang pada gagang.

"Keras, kali, Mas! Lo coba sini!" protes Naka yang tampak kesusahan dengan baju adat yang ia kenakan.

"Pake tenaga!" omel Nathan lagi. Ia mulai emosi, wanita di sebelahnya mengusap lengan Nathan. Pria itu menoleh, tersenyum lalu meraih jemari tangan Nadin, istrinya yang begitu cantik.

"Kuatan aku, kan, dari pada Naka?" bisik Nathan menggoda Nadin. Kedua mata Nadin membulat sempurna, ia menahan senyumnya sambil menatap Nathan. Pria itu mengecup jemari Nadin, membawa ke dadanya. Lalu kembali mengomentari adiknya yang berhasil membelah kelapa itu.

"Akhirnya," ucap para tamu undangan yang hadir di acara tujuh bulanan itu. Nadin beranjak, karena Ibu mertuanya memanggil.

"Iya, Bu." Dengan sopan Nadin menghampiri dan berdiri di samping wanita lima puluh tahun itu.

"Di sana ada keluarga lain, Ibu males jawab pertanyaan yang sama. Kamu aja, ya, Din, biar langsung dari sumbernya." Tatapan ibu mertuanya memohon, Nadin mengangguk. Ia lalu kembali duduk, dan memberi tahu Nathan.

"Gimana, nih, Mas? Pertanyaan masih sama." Nadin mengeratkan genggaman jemarinya ke Nathan.

"Jawab aja apa adanya, emang belum di kasih anak, mau apa lagi? Toh, kita bahagia, kan? Sirik amat jadi orang." Raut wajah Nathan sudah menunjukan ketidak sukaannya pada keluarga besar baik dari ayah atau pun ibunya. Karena pertanyaannya akan selalu sama,

Kapan Nadin hamil?

Kenapa nggak hamil-hamil?

Nathan nggak kuat kali, ya?

Nadin kurang makan makanan sehat, nih?

Ayo dong, program, bayi tabung, deh!

Hingga, banyak kejulid-tan lainnya. Hal itu juga yang membuat Nadin malas jika datang ke acara yang dibuat keluarga besar Nathan. Ia juga tak enak dengan ibu dan ayah mertuanya. Ditambah, hari itu, mereka tak mungkin jika absen dari acara tujuh bulanan istri adik iparnya, Margie.

Dua tahun delapan bulan pernikahan dengan Nathan, pria yang ia kenal tak sebentar, mereka dulu satu SMA. Nathan Kakak kelas Nadin yang saat itu kelas satu. Berawal dari teman, jadi lanjut ke tingkatan lain dalam hubungan mereka.

Pisah sejenak karena kuliah berbeda kampus, dipertemukan kembali saat sudah berkarir di bidang masing-masing. Nathan manajer Bank swasta, Nadin admin support perusahaan leasing besar.

Senior dan junior, ya, begitulah mereka. Pacaran mereka hanya satu  tahun sebelum memutuskan menikah.

"Mas, kalau mereka cecar jawaban lain gimana?" bisik Nadin mulai tak nyaman. Nathan mendengkus, ia akhirnya memberikan saran supaya Nadin menghindar saja. Tak perlu berada di sana untuk sekedar menyapa.

Tatapan Nadin sendu, karena tiba-tiba suasana menjadi ramai mana kala tiba dikegiatan berganti pakaian sebanyak tujuh kali. Tamu undangan heboh, bahkan tampak bahagia. Istri Naka itu juga tampak memancarkan aura cantik luar biasa, tersenyum dan mengucapkan terima kasih saat para tamu mengusap perut buncitnya.

Jemari Nadin reflek mengusap perutnya yang rata. Ia melirik ke Nathan yang justru melihat dingin ke arah kerumunan orang-orang itu. Naka dan istrinya berjalan berdampingan, menghampiri Nathan dan Nadin untuk meminta doa restu, supaya kehamilan dan proses melahirkan nanti lancar, Ibu dan bayinya selamat juga sehat.

Nathan berdiri, diikuti Nadin. Tangan Nathan terulur, karena Naka mencium punggung tangan sebagai tanda ia menghormati sang adik ke kakaknya. Lalu tangan Nathan beralih ke perut besar adik iparnya. Mengusap lalu tersenyum, "sehat ya sampai lahiran nanti, jadi anak yang selalu dibanggakan keluarga," ucapnya. Berganti ke Nadin, ia juga memeluk erat Naka, sambil mengucapkan selamat. Berganti ke istri Naka yang terharu dengan linangan air mata saat menatap Nadin.

"Kenapa nangis?" tanya Nadin di saat memeluk wanita itu.

"Semoga Mbak cepet hamil ya, aku mau lihat Mbak hamil anak Mas Nathan, biar ramai keluarga kita." Pelukan terlepas perlahan, Nadin mengangguk sambil tersenyum.

"Aamiin. Mudah-mudahan dilancarkan ya persalinan kamu dua bulan lagi, kabarin Mbak kalau kamu butuh sesuatu." Nadin mengusap perut istri Naka itu. Lalu berlanjut berkeliling lagi.

Nadin berusaha terus menunjukan senyum bahagianya, tapi Nathan tahu, jika istrinya merasakan hal yang lain.

***

Di rumah Nadin dan Nathan.

"Lagi ngapain, sih?" tanya Nathan menghampiri istrinya yang duduk menghadap laptop beralaskan bantal di pangkuannya.

"Ini, urusan kantor, ada data customer yang salah input temen, jadinya aku mau cek dari awal," jawab Nadin santai.

"Kamu masih lama periksa itu?" Nathan duduk di sebelah Nadin, merangkul bahu istrinya sembari diusap pelan.

"Kenapa emangnya, Mas?" lirik Nadin.

"Aku mau keluar sebentar, mau nitip nggak?"

"Mmm, kemana emangnya? Kamu nggak capek? Udah jam sembilan." Tunjuk Nadin dengan dagunya ke arah jam dinding.

"Sama Naka, dia mau beli martabak keju di dekat komplek kita, bininya masih ngidam aja. Heran aku!" ketus Nathan.

"Oh, yaudah sana, aku tunggu kamu sampai pulang," kepala Nadin mendongak karena Nathan sudah berdiri di samping ranjang.

Nathan membungkuk, "kalau kamu nggak ketiduran, biasanya tidur duluan, kan?" bisik Nathan sensual sambil mencium leher mulus istrinya. Nadin terkekeh, selain karena kata-kata suaminya, juga karena ciuman basah di ceruk lehernya itu.

"Masss... ih, udah sanaaa..." usir Nadin kemudian. Nathan tertawa, ia mengecup puncak kepala Nadin, menyambar ponsel dan dompet, lalu terdengar suaminya berbicara dengan asisten rumah tangganya di luar kamar.

Lahir dan besar dari keluarga pengusaha, selalu merasa dibantu juga, membuat Nathan tak ingin Nadin yang sudah lelah bekerja, masih sibuk mengurus urusan rumah. Nadin begitu dimanjakan, ia bahkan sempat berpikir untuk menolak, ia ingin merasakan mencuci baju, menyetrika, bahkan memasak. Tapi Nathan melarangnya, Nadin harus merasa jika menikah dengannya begitu bahagia, cukup lelahnya hanya di atas ranjang bersama suaminya yang begitu perkasa.

Selang satu jam, Nathan sudah mengirim banyak pesan singkat, isinya seperti saat mereka pacaran dulu, gombalan-gombalan receh yang jelas membuat Nadin tersenyum lalu tertawa. Ia terkejut, saat pintu kamarnya terbuka, tampak suaminya yang ternyata sudah pulang. Senyum Nathan mengembang, ia membawa kue dengan lilin angka 28.

"Selamat ulang tahun istri cantikku, wanita yang begitu mencintai Nathan dengan tulus. Calon Ibu anak-anakku." Nathan berjalan mendekat, kue ukuran 20x20 itu dihiasi gambar wajah dirinya yang tersenyum.

"Kamu bohongin aku?!" Nadin beranjak, berjalan mendekat. Senyum tampan Nathan begitu menggemaskan.

"Aku ambil kue ini, nggak ketemuan sama Naka juga, aku mau rayain ulang tahun kamu berdua aja, nggak mau di acara tadi walau bisa aja aku setting."

Nadin berdecih, ia lalu meniup lilin itu. Nathan mencium kening Nadin begitu lekat dan lama. Kemudian menempelkan kening keduanya begitu lekat.

"Happy birthday, love, aku sengaja cuekin kamu dari semalam, nggak bahas ulang tahun kamu. Karena aku punya kejutan sendiri. I love you," bisiknya di depan wajah cantik Nadin. Istrinya mengambil alih kue dari tangan suaminya, di letakkan di atas meja. Ia menghambur ke dalam pelukan Nathan. Keduanya begitu erat berpelukan, hingga Nadin mendengar debaran jantung Nathan berpacu cepat, bahkan napasnya terasa hangat di ceruk lehernya.

"Aku mau kadoku," ucap Nadin manja. Nathan meregangkan pelukanya.

"Mau apa? Bilang," jemari Nathan menyusuri surai istrinya, mengecup kening Nadin lagi dengan mata terpejam.

"Ini!" ujar Nadin. Nathan melotot karena terkejut, tangan Nadin berada di antara paha pria itu. Senyum penuh menggoda suaminya perlihatkan dengan jelas dan tegas. Nadin tertawa begitu puas, tapi tidak untuk Nathan, melainkan karena ia segera melakukan tugasnya, juga memberikan hadiah terbaik bagi istrinya. Surga dunia yang mampu membuat senyum Nadin merekah dengan kedua mata sayunya.

Bersambung,

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Silent (Love, loyalty and hurt)

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Minggu-minggu Sebelum Pernikahanku, Tunanganku Hanya Melupakanku
8.6
Tepat sebelum pernikahan, Bima Aditama berpura-pura amnesia akibat cedera demi mengejar Clara Vania. Pengkhianatan keji ini terungkap saat Kirana mendengar rencana licik Bima bersama teman-temannya. Meski hancur melihat Bima mengutamakan Clara bahkan saat kecelakaan terjadi, Kirana memilih diam dan menyusun rencana besar. Ia menolak menjadi korban pria yang tega memutus dukungannya. Dengan identitas baru sebagai Kirana Adelia, ia siap menghilang dan membuang cincinnya.
Sampul Novel Gadis Imigran
8.8
Iris Barcova terpaksa menjalani kehidupan kelam sebagai PSK demi membiayai ayah dan adiknya. Di tengah keputusasaan, seorang pria misterius keturunan mafia menawarkan pernikahan kontrak sebagai solusi medis bagi ayahnya. Meski ada dokter tulus yang mencintainya, Iris justru terjebak dalam dilema hati. Namun, kenyataan pahit mulai terungkap bahwa pria yang ia anggap penyelamat mungkin adalah dalang di balik segala tragedi dan kesialan yang menimpa hidupnya selama ini.
Sampul Novel Mantan Pacar
8.4
Clara mendatangi kebun anggur tunangannya demi memulai hidup mewah. Namun, calon suaminya lenyap misterius dua hari sebelum pernikahan. Di tengah pencarian, ia justru terikat dengan saudara laki-laki sang tunangan yang kaku namun memikat. Terjebak dalam pusaran rahasia gelap keluarga dan godaan terlarang, Clara menyadari bahwa pengungkapan kebenaran bisa menghancurkan hidupnya atau justru memberinya kekuasaan besar yang selama ini ia dambakan.
Sampul Novel MENGEJAR CINTA ANAK KYAI
9.8
Andre, putra konglomerat, nyaris mengakhiri hidup karena dipaksa menikahi wanita pilihan orang tuanya. Beruntung, Amira yang merupakan anak seorang kyai berhasil menyelamatkannya. Pertemuan itu mengubah Andre hingga ia tekun mendalami agama demi memenangkan hati Amira. Namun, harapan Andre hancur saat Amira justru bertunangan dengan Adam di depan matanya. Kini, ia harus memilih antara terus berjuang atau kembali terjatuh dalam keputusasaan yang gelap.
Sampul Novel Saksi Gairah, Bukti Pengkhianatan
9.1
Proses penyusunan surat cerai di hadapan pengacara justru memicu gairah yang lama padam. Di bawah meja, sentuhan jemari yang lembut membawa kehangatan bagai embun manis menyirami bunga layu. Secara mengejutkan, sensasi dingin kursi kerja berubah menjadi dekapan hangat dari tubuh pria yang kokoh. Sentuhan lembut pria itu mulai menjalar di atas kulitnya, menghidupkan kembali hasrat yang selama ini terkubur dalam kehampaan hubungan mereka.
Sampul Novel Wanita Pemilik Gairah Liar
8.3
Dendam masa lalu memicu gairah membara dalam diri seorang pria tampan untuk menghancurkan masa depan dua gadis muda. Mereka adalah putri dari sosok yang telah merenggut nyawa orang tuanya. Ia bertekad membalas rasa sakit hatinya dengan memastikan sang musuh menyaksikan penderitaan anak-anaknya sendiri yang kehilangan harapan. Melalui rencana keji ini, ia ingin sang pembunuh merasakan kepedihan mendalam. Akankah ambisi gelapnya untuk membalas dendam ini berhasil terlaksana?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan