Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Siapa Yang Menghamili Istriku?

Siapa Yang Menghamili Istriku?

Sebuah narasi mendalam yang penuh dengan misteri dan gejolak emosi dalam kehidupan pernikahan. Cerita khusus dewasa ini akan membawa pembaca menelusuri pengkhianatan dan rahasia kelam yang menghancurkan kepercayaan. Siapkan diri Anda untuk sebuah perjalanan yang menguras air mata saat setiap kepingan teka-teki mulai terungkap, memaksa karakter utamanya menghadapi kenyataan pahit yang tak terduga di tengah konflik romansa modern yang sangat pelik.
Bab
Bagikan

Bab 1

"Kalian masih belum dapat kabar baik, ya? Padahal sudah lima tahun, lho."

Suara Bu Elsa terdengar ringan-nyaris seperti basa-basi, tapi ucapannya menancap tepat di dada Zahra.

Zahra menelan ludah, mencoba mempertahankan senyumnya.

"Iya, Ma. Kami masih berusaha..." jawabnya pelan.

Belum sempat suasana reda, Ferlin, adik ipar Zahra, menyambar, nada geli terdengar jelas.

"Di keluarga kita sih nggak ada yang susah punya anak. Aku aja, begitu nikah langsung hamil. Mungkin Ferdi juga, kalau nggak dicegah, istrinya udah hamil juga tuh."

Zahra meremas jemarinya di pangkuan. Napasnya mulai terasa berat, tapi ia tetap berusaha tenang. Ruang tamu yang harusnya terasa hangat, kini berubah menjadi medan tekanan. Sunyi tapi menyesakkan.

"Iya, mungkin kamu perlu diperiksa lebih lanjut, Ra," Bu Elsa menambahkan, sambil tertawa kecil. Tatapannya tajam tapi terselubung manis. "Siapa tahu ada yang perlu diperbaiki."

Zahra melirik ke arah Fadlan. Harapannya sederhana: suaminya membela. Tapi Fadlan sibuk mengobrol dengan Pak Arya, pura-pura tidak mendengar. Seolah dirinya tak sedang duduk di tengah serangan pasif-agresif.

Dengan napas tertahan, Zahra tetap tersenyum. Tapi kali ini, senyumnya getir.

"Kami sudah periksa, Ma. Dan hasilnya... yang perlu lebih berusaha sebenarnya Mas Fadlan."

Ruangan langsung senyap beberapa detik. Bu Elsa terkekeh, tapi wajahnya tampak terganggu.

"Ah, masa? Dokter bisa salah, lho. Fadlan itu sehat dari kecil. Nggak pernah sakit parah."

"Iya, Ma, tapi yang diperiksa bukan soal itu," jawab Zahra tenang namun tegas. "Dokter bilang, kualitas benih juga pengaruh besar pada peluang kehamilan."

Ferlin menyela dengan tawa kering, mencoba mencairkan suasana.

"Mungkin Mas Fadlan cuma kurang makan yang sehat dan bergizi aja, kali..."

Dan lalu hening. Hening yang berat dan tajam.

Bu Elsa dan Ferlin saling melirik. Fadlan, yang tadi masih santai menyeruput teh, tiba-tiba terbatuk kecil.

Tatapannya mengarah ke Zahra-tatapan peringatan. Tapi Zahra sudah muak. Sudah terlalu lama ia menanggung semua komentar dan tekanan sendiri.

Zahra tak bergeming. Kali ini, biarlah suaminya ikut merasa sedikit saja apa yang ia rasakan.

Pak Arya akhirnya ikut bicara, suaranya tenang tapi tegas.

"Ma, jodoh, pati, dan anak itu rezeki dari Allah. Kita nggak bisa terlalu jauh ikut campur. Yang penting usaha dan tawakal."

"Iya, Yah. Tapi Mama kan cuma nyaranin Zahra untuk usaha lebih keras lagi," Bu Elsa bersikeras, nada suaranya mulai naik sedikit.

Pak Arya tetap kalem.

"Ayah percaya Zahra dan Fadlan sudah berusaha keras. Kalau Allah belum izinkan, ya kita tinggal bersabar, Ma."

Tiba-tiba, pintu depan terbuka. Bude Anin, kakak Pak Arya, masuk begitu saja.

"Lho, kok tegang gini? Lagi ngomongin apa?" tanyanya sambil duduk santai di samping Bu Elsa, adik iparnya.

"Ini lho, ngomongin Zahra dan Fadlan yang belum juga dikasih momongan," sahut Bu Elsa, dengan tawa yang dipaksakan.

Bude Anin tertawa lebar.

"Kenapa nggak bilang dari awal? Di kampung sebelah ada Gus Bokis. Banyak yang berhasil. Ada yang divonis mandul aja bisa langsung hamil, lho."

Zahra menoleh ke Fadlan, berharap kali ini ia akan menolak dengan tegas. Tapi seperti biasa, Fadlan diam. Pandangannya kosong, seolah semua ini bukan urusannya.

Akhirnya, Zahra bicara. Suaranya tenang tapi tajam.

"Maaf, Bude. Saya dan Mas Fadlan lebih memilih pengobatan medis. Kami sudah tahu apa yang perlu dilakukan."

Bude Anin mencibir pelan.

"Jangan sombong, Neng. Usaha itu bisa lewat mana aja. Rezeki itu perlu dikejar, gak bisa nunggu datang sambil duduk termangu. Kalau diam aja itu sama aja dengan menolak rizki. Nanti kalau udah lewat baru nyesel."

"Iya, kenapa nggak dicoba dulu, Ra? Jangan terlalu kaku," sambung Bu Elsa.

Zahra menggigit bibir, jari-jarinya mencengkeram rok. Tapi sebelum ia sempat bicara lagi, Fadlan akhirnya angkat suara.

"Kami akan tetap jalani pengobatan sesuai rekomendasi dokter, Bude. Terima kasih atas sarannya."

Zahra menoleh cepat, agak terkejut. Tapi ada sedikit kelegaan-meski hanya sebentar.

Namun Bude Anin belum selesai.

"Ya udah. Kalau nggak mau dikasih tahu sama orang tua. Anak-anak sekarang memang susah nurut. Semoga aja kalian nggak sampai nyesel nantinya."

Suasana menjadi benar-benar canggung. Tak ada yang bicara. Bahkan Pak Arya hanya menunduk, entah malas terlibat atau terlalu letih dengan drama rumah tangga anaknya.

Tak lama, Fadlan berdiri dan berkata pelan, "Ayo, Ra. Kita pulang."

Zahra mengangguk, tak bicara. Ia berdiri, mengangkat tas kecilnya, lalu berjalan bersama suaminya meninggalkan ruang tamu yang mendadak terasa seperti ruang interogasi.

Dalam perjalanan pulang dengan motor, Zahra duduk diam. Tangannya tak melingkar di pinggang suaminya seperti biasa. Angin malam menerpa wajahnya, tapi tak cukup dingin untuk meredakan panas di dalam dadanya. Ia menatap lurus ke samping, seolah mencoba menahan lautan emosi yang siap meledak. Fadlan bisa merasakan perubahan sikap istrinya. Tapi seperti biasa, ia memilih diam.

Sesampainya di rumah, Zahra langsung turun tanpa sepatah kata pun. Langkahnya cepat masuk ke dalam rumah, membiarkan pintu terbuka begitu saja. Fadlan menghela napas berat, lalu memarkir motor dengan perasaan tak menentu.

Di ruang tengah, Zahra berdiri dengan tangan gemetar, melepaskan kerudungnya dengan kasar. Wajah dan matanya memerah, bukan karena ingin menangis, tapi karena marah yang sudah mencapai puncaknya.

"Kenapa tadi kamu diam aja, Mas?" protes Zahra. Suaranya pelan, tapi tajam seperti pisau yang menyayat.

Fadlan menutup pintu perlahan dan menguncinya. "Aku nggak mau ribut sama Mama, Ra."

Zahra tertawa pendek, getir. "Oh, jadi biar kamu tetap kelihatan anak baik. Dan aku yang harus terus-terusan dijadikan sasaran? Kamu denger sendiri kan tadi mereka bilang apa? Seolah-olah aku ini... mandul, kan?"

Fadlan mengusap wajah. "Aku cuma nggak pengin ada keributan di rumah orang tua sendiri, Ra."

Zahra mendekat, matanya menyala. "Tapi kamu tega membiarkan aku dilecehkan begitu, Mas? Lima tahun. Lima tahun aku disindir, dibanding-bandingkan. Dan kamu selalu... DIAM!" Zahra tak kuasa lagi menahan gejolak dalam dadanya,

"Aku capek, RA," jawab Fadlan, nada suaranya mulai meninggi. "Kamu pikir aku nggak ngerasa bersalah? Aku juga malu, Zahra!"

"Kalau kamu malu, kenapa kamu membiarkan aku terus yang dihina dan salahkan, Fadaln?" Suara Zahra mulai bergetar karena kemarahan yang tak lagi bisa ditahan. "Aku ini istri kamu, Fadlan. Tapi aku merasa seperti orang asing di keluargamu sendiri!"

Fadlan menunduk. "Aku nggak tahu harus gimana..."

"Kamu tinggal ngomong! Satu kalimat, 'Tolong jangan salahin Zahra, ini bukan salah dia.' Sesederhana itu, Fadlan! Tapi kamu nggak pernah punya nyali!" Suara Zahra makin meninggi, dadanya naik-turun.

Fadlan terpaku. Suara Zahra menggema di antara dinding rumah yang dingin.

"Setiap pulang dari rumah orang tuamu, aku selalu merasa kecil dan terhina. Tapi kamu... kamu selalu bilang 'biarin aja,' 'nggak usah dipikirin'. Apa kamu pikir aku ini batu? Aku ini manusia yang punya perasaan? Coba kalau kamu dihina dan direndahkan oleh keluargaku, terus aku diam saja, kamu mau gimana, Fadlan?" Zahra benar-benar lepas kontrol.

Fadlan menggigit bibirnya. "Aku cuma... bingung harus gimana menghadapi mereka."

"Kamu itu keluarga mereka, masa malah bingung?" Zahra makin kesal. Lalu menatap suaminya lekat-lekat. "Kamu itu laki-laki, Mas. Kamu cuma takut jadi anak durhaka. Tapi kamu nggak pernah takut kehilangan aku, istrimu."

Fadlan menegang. Tidak ada bantahan.

Zahra menarik napas panjang, suaranya melemah, tapi lebih dalam. "Aku butuh suami yang berdiri di sampingku, bukan di belakang ibunya. Bagaimana kalu hinaan itu datang dari orang lain, apakah kamu juga akan membiarkannya?"

Zahra berbalik, melangkah ke kamar, meninggalkan Fadlan yang berdiri membeku, diliputi rasa bersalah dan kekosongan yang menggigit.

Ketika Fadlan mengetuk pintu kamar, Zahra justru memberikan ultimatum,

"Kalau kamu belum siap jadi suami, sebaiknya kita tidak perlu tidur bareng, Mas!"

"Zahra...."

"Aku ingin sendirian dulu, Mas!" potong Zahra tegas.

Fadlan hanya bisa pasrah.

Fadlan terlentang di sofa ruang tamu. Lampu sudah dimatikan, tapi pikirannya tetap menyala, penuh sesal dan kekosongan. Di balik pintu kamar yang tertutup, Zahra duduk memeluk lutut di sudut ranjang, matanya kosong menatap gelap. Bukan karena dia ingin menyerah, tapi karena sudah kehabisan tenaga untuk terus berjuang sendirian.

^*^

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Belenggu Cinta Tuan Muda
9.5
Nara, putri pembantu yang polos, terjerat skandal kelam dengan Axel, sang tuan muda. Axel melecehkan Nara demi membalas dendam karena ibu Nara menjadi simpanan ayahnya. Namun, niat mempermainkan itu berubah menjadi rasa cinta yang obsesif. Axel tumbuh menjadi pria posesif yang membelenggu Nara tanpa ampun. Meski Nara berusaha melarikan diri dari jeratan itu, ia selalu tertangkap kembali. Akankah hubungan penuh luka ini berakhir bahagia atau justru tragis?
Sampul Novel Bujang Kaya Jadi Budak Cinta
9.4
Erhan adalah bujangan kaya yang ramah namun ceroboh dalam urusan asmara. Ia sering memicu konflik keluarga karena terang-terangan menggoda kekasih para sepupunya agar berpaling padanya. Namun, tantangan sesungguhnya muncul saat ia jatuh hati pada seorang wanita dingin yang sinis terhadap pernikahan dan cinta. Kini, Erhan harus berjuang keras membuktikan ketulusannya. Mampukah sang miliarder meyakinkan wanita itu bahwa ia telah menjadi budak cinta sejatinya?
Sampul Novel Derita Suami Mandul
8.2
Pernikahan Jaka dan Fatimah terancam hancur karena tak kunjung memiliki keturunan. Tekanan besar dari keluarga Fatimah mengungkap kenyataan pahit bahwa Jaka mandul. Meski sempat bertahan, Fatimah akhirnya goyah dan berselingkuh dengan mantan kekasihnya hingga hamil. Kecewa dengan pengkhianatan tersebut, Jaka memutuskan untuk menceraikan istrinya. Kini, keduanya harus menghadapi babak baru kehidupan yang penuh luka dan penyesalan setelah resmi berpisah.
Sampul Novel Dunia Rinduku Adalah Dirimu
8.5
Dalam suasana mencekam, Ammad tiba-tiba memeluk tubuhku dari belakang dan membungkam mulutku dengan telapak tangannya. Aroma cendana yang khas dari bajunya tercium sangat kuat saat dia melarangku bersuara. Meski aku berusaha memanggilnya, Ammad justru semakin merapatkan dekapannya hingga tubuh kami bersentuhan tanpa jarak. Aku pun bertanya-tanya dalam hati, apakah tindakan mendadak ini dilakukan dengan sengaja atau murni karena situasi yang panik.
Sampul Novel Gairah Liar Atasanku
9.1
Renata terpaksa menyerahkan kehormatannya kepada Dion, sang atasan, demi membiayai pengobatan suaminya. Meski awalnya hanya untuk satu malam, Dion menuntut lebih karena nilai uang satu miliar yang besar. Intensitas pertemuan mereka justru menumbuhkan benih cinta terlarang di antara keduanya. Di sisi lain, Vera dan Andika harus menghadapi kenyataan pahit saat mengetahui pasangan masing-masing telah mengkhianati komitmen pernikahan mereka demi gairah ini.
Sampul Novel Istri Untuk Tuan Alex
7.9
Gadis terpaksa menjadi pengantin pengganti demi menjaga martabat ibu angkatnya. Namun, kesalahpahaman besar membuat Alex membencinya hingga bersikap kasar. Gadis tidak tinggal diam menghadapi perlakuan tersebut, sambil tetap menyembunyikan rahasia besar mengenai jati diri aslinya. Akankah Alex berhasil mengungkap misteri yang tersimpan rapat itu? Ikuti kelanjutan kisah penuh ketegangan dan emosi mereka yang kini tersedia secara lengkap di Bakisah.