Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Siapa Yang Menghamili Istriku?

Siapa Yang Menghamili Istriku?

Sebuah narasi mendalam yang penuh dengan misteri dan gejolak emosi dalam kehidupan pernikahan. Cerita khusus dewasa ini akan membawa pembaca menelusuri pengkhianatan dan rahasia kelam yang menghancurkan kepercayaan. Siapkan diri Anda untuk sebuah perjalanan yang menguras air mata saat setiap kepingan teka-teki mulai terungkap, memaksa karakter utamanya menghadapi kenyataan pahit yang tak terduga di tengah konflik romansa modern yang sangat pelik.
Bab
Bagikan

Bab 2

Keesokan harinya, Zahra bangun lebih awal. Ia menyiapkan sarapan seperti biasa, tapi tanpa percakapan. Hanya suara sendok bertemu piring, suara air mengalir, dan denting waktu yang terasa semakin menyiksa.

Fadlan duduk di meja makan, mencoba membuka percakapan, "Aku tadi malam mikir, Ra..."

Zahra tak menoleh. "Kamu mikir buat siapa? Buat aku, buat kita atau buat dirimu sendiri?"

Fadlan terdiam. Kata-katanya tercekat. Ia tahu, Zahra sedang tak butuh klarifikasi, yang ia butuhkan adalah keberpihakan. Tapi keberpihakan itu selalu Fadlan beri terlalu lambat.

"Ra, aku janji... mulai sekarang aku bakal belajar buat belain kamu. Aku sadar aku salah," ucap Fadlan lirih.

Zahra membalikkan badan, matanya menatap tajam, tapi kali ini bukan marah. Lebih seperti... kecewa yang membatu.

"Kamu tahu apa yang paling nyakitin, Mas?" tanya Zahra.

Fadlan terdiam.

"Bukan cuma saat mereka menyalahkan aku. Tapi saat kamu nggak pernah anggap itu masalah. Aku sampai lupa rasanya punya suami. Padahal dulu aku nikah karena aku pikir bakal punya partner hidup, bukan seseorang yang diam waktu aku dihajar. Israel aja punya banyak negara sekutu dan dibelain, masa aku gak ada yang bela?"

Fadlan ingin berdiri, ingin memeluk istrinya, tapi langkahnya terasa berat. Ada jarak tak kasat mata di antara mereka, dan ia sadar, itu bukan jarak fisik. Itu luka. Dan luka itu, sudah berdarah terlalu lama.

Pagi itu langit tampak sendu, seolah ikut menampung sisa-sisa luka semalam. Fadlan dan Zahra berangkat kerja bersama seperti biasa, tapi tak ada yang terasa seperti biasa. Zahra duduk di jok belakang motor suaminya, namun tak ada pelukan hangat di pinggang seperti biasanya. Hanya diam. Jarak yang terasa lebih lebar dari sekadar jok motor.

Angin pagi menerpa wajah mereka, membawa dingin yang tak mampu meredakan hangatnya emosi yang masih tersisa. Fadlan mencoba beberapa kali membuka percakapan, tapi kata-kata itu berhenti di tenggorokan. Ia tahu, Zahra belum siap.

Motor melaju pelan memasuki kawasan perkantoran. Sesampainya di depan gedung PT. Mastex, tempat Zahra bekerja, perempuan itu segera bersiap turun. Ia tak berkata apa-apa, hanya menoleh sebentar dan mengulurkan tangan.

Fadlan menyambutnya. Lalu, Zahra mencium punggung tangan suaminya dengan gerakan ringan tapi penuh makna. Bukan isyarat keikhlasan, lebih seperti sisa-sisa sopan santun yang masih ia jaga, meski hatinya belum sepenuhnya kembali cerah.

Fadlan memandang punggung Zahra yang menjauh, menapaki pelataran kantor dengan langkah tegap namun dingin. Tak menoleh lagi. Ia hanya menghela napas panjang sebelum kembali menyalakan motor, melanjutkan perjalanannya ke kantornya dengan hati yang lebih berat dari helm di kepalanya.

Fadlan melaju pelan, membiarkan motornya menembus jalanan pagi yang mulai padat. Tapi pikirannya tidak berada di jalan. Bayangan Zahra yang menjauh tanpa menoleh terus menghantui. Punggung yang dulu terasa hangat itu kini seperti tembok, dingin dan tak bisa disentuh.

"Kenapa aku terus gagal jadi suami yang bisa diandalkan?" pikirnya sambil menggenggam erat stang motor. Jalanan yang bising dan semrawut tak mampu mengalihkan pikirannya. Semuanya terasa buram.

Sesampainya di kantor, Fadlan parkir seperti biasa, tapi langkahnya terasa berat. Hatinya seperti tertinggal di pelataran kantor Zahra, masih berharap bisa membalikkan waktu semalam. Tapi ia tahu, luka yang sudah terlalu lama dibiarkan bisa jadi lebih dalam dari yang tampak.

Saat ia duduk di meja kerjanya, tatapan kosongnya langsung disambar suara tegas dari atasannya, Pak Hendro.

"Fadlan, ke ruangan saya sekarang!"

Fadlan tersentak. Ia bergegas masuk, mencoba terlihat tenang meski pikirannya belum sepenuhnya terkumpul.

Begitu pintu tertutup, Pak Hendro langsung menggebrak meja. "Kamu tahu nggak, laporan tender yang kamu kirim kemarin itu salah besar? Harga penawaran kita lebih tinggi dari kompetitor karena data cost-nya nggak kamu revisi!"

Fadlan membeku. Otaknya mencari jawaban, tapi semuanya kabur. "Ma, maaf, Pak. Saya... saya kira data terakhir yang saya kirim sudah direvisi."

"Kalau divalidasi dulu, hal kayak begini nggak bakal kejadian! Kamu tahu berapa miliar yang bisa hilang karena kesalahanmu?"

Fadlan menunduk, keringat dingin mulai merembes. Kepalanya berdenyut, bukan hanya karena teguran itu, tapi karena semua ini adalah buntut dari hari-harinya yang porak poranda. Hatinya tidak tenang, dan sekarang pekerjaannya pun mulai ikut kacau.

"Saya kasih waktu sampai siang ini untuk revisi dan kirim ulang ke klien. Kalau nggak beres, saya laporkan ke manajemen," ucap Pak Hendro dingin.

Fadlan mengangguk pelan, lalu keluar dengan langkah gontai. Ia kembali duduk di meja, menatap layar komputer yang penuh angka dan grafik, tapi matanya tetap kosong.

Ia merasa seperti pria yang sedang kehilangan pijakan. Gagal sebagai suami. Gagal sebagai karyawan. Dan sekarang, ia mulai takut... kalau semuanya akan runtuh bersamaan.

'Apakah ini karma dari istriku? Bukan. Ini karena aku kurang fokus' pikirnya.

Fadlan duduk terpaku di depan layar komputer, jari-jarinya hanya menyentuh keyboard tanpa menekan. Matanya menerawang, menatap sel-sel Excel yang tak lagi bermakna. Dada sesak. Kepala penuh. Ia bahkan tak sadar saat seseorang menarik kursi di sebelahnya.

"Bro, lu kenapa sih? Kayak abis disiram air got," suara itu datang dari Reza, teman kerjanya yang terkenal paling santai tapi cukup peka kalau suasana berubah.

Fadlan menghela napas, malas menjawab.

Reza mencondongkan badan, mencoba mengintip layar Fadlan. "Ini ya yang bikin Pak Hendro ngeluarin jurus jurit malamnya tadi pagi? Santai, bro. Yang penting lu perbaiki, udah gitu tinggal ngeles dikit. Bilang aja server ngelag, hahaha."

Fadlan menoleh pelan, tersenyum tipis tapi hambar. "Nggak cuma soal kerjaan, Za."

"Oh... jadi soal rumah tangga juga?" Reza langsung mengangkat alis, menyipitkan mata. "Wah, kombinasi komplit. Pekerjaan kacau, hati berantakan. Gawat ini. Harus di-reset pake kopi dan curhat."

Fadlan tertawa kecil, tapi tak bertahan lama. "Zahra marah besar semalam. Gue... nggak bisa bela dia di depan nyokap gue. Lagi-lagi."

Reza mengangguk perlahan, mencoba memahami. "Lu cinta sama Zahra, kan?"

"Banget."

"Nah, kalau masih cinta, ya harusnya lu berani pasang badan. Orang tua emang kadang susah diatur, tapi istri lu itu satu-satunya orang yang bakalan nemenin lu sampai akhir... kalau lu gagal, bisa-bisa dia ninggalin lu."

Fadlan diam. Kata-kata itu menohok. Reza memang kadang suka becanda kelewat batas, tapi kali ini, nadanya tulus.

"Gue bukan sok bijak, Bro. Tapi gue tahu satu hal. Lu harus berhenti jadi penengah yang diam. Kadang, demi kebaikan semua orang, kita harus bicara juga. Tidak terkecuali itu keluarga kita sendiri."

Fadlan mengangguk pelan. Untuk pertama kalinya sejak pagi itu, hatinya terasa sedikit lebih ringan. Masih gelap, tapi tak sekelam tadi.

"Ayo ngopi dulu," ajak Reza sambil berdiri. "Sambil lu pikirin gimana caranya minta maaf sama istti lu."

Fadlan berdiri perlahan. Mungkin kopi tak bisa menyelesaikan semuanya. Tapi setidaknya, itu bisa jadi awal yang baik untuk membereskan segalanya.

Sementara itu di tempat alin.

Ruang pantry kantor siang itu tak terlalu ramai. Hanya ada suara dentingan sendok dan garpu yang beradu pelan, diselingi suara kipas angin langit-langit yang berputar malas. Zahra duduk di ujung meja, membuka kotak makannya perlahan. Nasi dan lauk kesukaannya ada di dalamnya, tapi entah mengapa tak satupun menggugah selera.

Siska datang dengan senyum khasnya, membawa kotak makan dan sebotol air mineral. "Kosong?" tanyanya sambil duduk di seberang Zahra.

Zahra mengangkat bahu. "Lagi nggak pengen makan."

Siska mengernyit, meletakkan kotaknya. "Tumben. Kamu biasanya yang paling lahap di jam makan siang."

Zahra hanya tersenyum sekilas, datar.

Siska memandangnya sejenak sebelum mulai membuka kotaknya sendiri. Ia menyuapkan sesendok nasi, lalu meletakkan sendoknya, menatap serius sahabatnya.

"Ra, kamu kenapa sih? Dari pagi wajah kamu suram banget. Nggak biasanya kayak gini."

Zahra menghela napas panjang, memandang ke luar jendela kecil di sudut ruangan. Matahari cerah, tapi hatinya justru sebaliknya. "Berantem lagi sama Mas Fadlan."

Siska tak menjawab, hanya mengangguk pelan. Sudah beberapa kali Zahra mengeluhkan hal serupa, tapi kali ini nada suaranya berbeda, ada kelelahan yang lebih dalam.

Zahra melanjutkan, suaranya pelan dan berat. "Kemarin malam... kita ke rumah mertuaku. Dan seperti biasa, mulai lagi sindiran soal belum punya anak. Soal aku yang katanya terlalu sibuk kerja, terlalu cuek sama rumah. Kamu tahu, Sis, rasanya kayak ditelanjangi pelan-pelan di depan umum."

Siska menatap Zahra, empatinya terasa hangat. "Fadlan... bilang apa?"

Zahra tertawa kecil, getir. "Nggak bilang apa-apa. Dia duduk di sebelahku, denger semuanya. Tapi nggak sekalipun buka suara. Seolah-olah... aku pantas disalahin."

Siska mendesah. Ia tahu persis bagaimana perasaan itu. Saat berharap pasangan berdiri melindungi, tapi justru membiarkan terbakar sendirian.

"Aku bukan ngelarang dia ngebentak ibunya, Sis," lanjut Zahra pelan, "tapi setidaknya, kasih tanda kalau aku nggak sendirian. Kalau dia suamiku, bukan cuma anak dari ibunya."

Siska menggenggam tangan Zahra di atas meja. Hangat dan lembut. "Kamu udah ngomong sama dia?"

"Kamu udah tahu. Aku udah bosen, Sis. Tapi dia cuma jawab 'aku capek,' 'Gak mau ribut sama Mama,' Seolah-olah capek dia lebih penting dari rasaku yang disudutkan keluarganya."

Siska terdiam sejenak, lalu berkata lirih, "Aku ngerti, Ra. Kadang laki-laki itu lupa, kita juga punya batas. Kita bukan cuma istri yang kuat, tapi manusia yang juga punya rasa."

Zahra mengangguk pelan, matanya mulai berkaca-kaca. Tapi ia cepat-cepat mengedip, menahan air yang nyaris tumpah.

"Kamu nggak sendiri, Ra. Kalau kamu butuh tempat buat tenang sebentar, rumahku selalu terbuka. Malam ini pun bisa kalau kamu mau nginep, kebetulan suamiku lagi dinas luar."

Zahra tersenyum, untuk pertama kalinya hari itu. "Makasih, Sis. Tapi nanti sore aku mau konsul lagi ke dokter, bareng suamiku."

"Oke, hati-hati ya, Ra. Pokoknya kamu butuh aku, telpon aja."

Di luar, matahari tetap bersinar cerah. Tapi di dalam ruang kecil itu, dua perempuan duduk saling memahami, saling menguatkan-dengan luka masing-masing yang mereka rawat dalam diam.

^*^

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Belenggu Cinta Tuan Muda
9.5
Nara, putri pembantu yang polos, terjerat skandal kelam dengan Axel, sang tuan muda. Axel melecehkan Nara demi membalas dendam karena ibu Nara menjadi simpanan ayahnya. Namun, niat mempermainkan itu berubah menjadi rasa cinta yang obsesif. Axel tumbuh menjadi pria posesif yang membelenggu Nara tanpa ampun. Meski Nara berusaha melarikan diri dari jeratan itu, ia selalu tertangkap kembali. Akankah hubungan penuh luka ini berakhir bahagia atau justru tragis?
Sampul Novel Bujang Kaya Jadi Budak Cinta
9.4
Erhan adalah bujangan kaya yang ramah namun ceroboh dalam urusan asmara. Ia sering memicu konflik keluarga karena terang-terangan menggoda kekasih para sepupunya agar berpaling padanya. Namun, tantangan sesungguhnya muncul saat ia jatuh hati pada seorang wanita dingin yang sinis terhadap pernikahan dan cinta. Kini, Erhan harus berjuang keras membuktikan ketulusannya. Mampukah sang miliarder meyakinkan wanita itu bahwa ia telah menjadi budak cinta sejatinya?
Sampul Novel Derita Suami Mandul
8.2
Pernikahan Jaka dan Fatimah terancam hancur karena tak kunjung memiliki keturunan. Tekanan besar dari keluarga Fatimah mengungkap kenyataan pahit bahwa Jaka mandul. Meski sempat bertahan, Fatimah akhirnya goyah dan berselingkuh dengan mantan kekasihnya hingga hamil. Kecewa dengan pengkhianatan tersebut, Jaka memutuskan untuk menceraikan istrinya. Kini, keduanya harus menghadapi babak baru kehidupan yang penuh luka dan penyesalan setelah resmi berpisah.
Sampul Novel Dunia Rinduku Adalah Dirimu
8.5
Dalam suasana mencekam, Ammad tiba-tiba memeluk tubuhku dari belakang dan membungkam mulutku dengan telapak tangannya. Aroma cendana yang khas dari bajunya tercium sangat kuat saat dia melarangku bersuara. Meski aku berusaha memanggilnya, Ammad justru semakin merapatkan dekapannya hingga tubuh kami bersentuhan tanpa jarak. Aku pun bertanya-tanya dalam hati, apakah tindakan mendadak ini dilakukan dengan sengaja atau murni karena situasi yang panik.
Sampul Novel Gairah Liar Atasanku
9.1
Renata terpaksa menyerahkan kehormatannya kepada Dion, sang atasan, demi membiayai pengobatan suaminya. Meski awalnya hanya untuk satu malam, Dion menuntut lebih karena nilai uang satu miliar yang besar. Intensitas pertemuan mereka justru menumbuhkan benih cinta terlarang di antara keduanya. Di sisi lain, Vera dan Andika harus menghadapi kenyataan pahit saat mengetahui pasangan masing-masing telah mengkhianati komitmen pernikahan mereka demi gairah ini.
Sampul Novel Istri Untuk Tuan Alex
7.9
Gadis terpaksa menjadi pengantin pengganti demi menjaga martabat ibu angkatnya. Namun, kesalahpahaman besar membuat Alex membencinya hingga bersikap kasar. Gadis tidak tinggal diam menghadapi perlakuan tersebut, sambil tetap menyembunyikan rahasia besar mengenai jati diri aslinya. Akankah Alex berhasil mengungkap misteri yang tersimpan rapat itu? Ikuti kelanjutan kisah penuh ketegangan dan emosi mereka yang kini tersedia secara lengkap di Bakisah.