
Siapa yang Berani Merebut Hati Ratuku?
Bab 3
Astuti menatap Kumala dengan heran dan bertanya, "Bukankah Grup Wahyudi merupakan perusahaan suamimu? Apakah kamu tidak berniat membantunya? Kenapa mereka malah menghubungiku?"
Kumala mengatupkan bibir. Dia telah mengetahui berita mengenai krisis di Departemen Desain dan mencoba menawarkan bantuan, tetapi Nando malah memintanya agar tidak ikut campur, serta menyuruhnya pergi.
Dia tersenyum pahit, lalu menjawab dengan dingin, "Kak Astuti, kami sudah bercerai."
Pernikahan mereka hanya bertahan tiga tahun, tetapi Kumala telah mencintai Nando selama sepuluh tahun. Semua cinta dan dedikasinya telah terbuang sia-sia. Pada akhirnya, dia merasa pantas menerima hasil yang menyedihkan ini.
Mata Astuti melebar saat dia menatap Kumala dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dia mendecakkan lidahnya, lalu berkata, "Jadi, gadis yang selama ini dibutakan oleh cinta akhirnya terbangun. Aku sudah mengingatkan agar kamu tidak menikah dengan pria itu setelah mengetahui dia memiliki mantan pacar yang tidak bisa dilupakan. Aku berusaha keras untuk membuatmu berubah pikiran, tapi kamu sangat keras kepala. Sepertinya, kamu harus belajar dengan cara yang sulit."
Raut wajah Kumala tetap tenang, meski matanya yang dulu selalu bersinar cerah tampak sedih. Tiba-tiba, dia tertawa kecil dan berkata, "Perkataanmu tidak salah. Aku harus belajar dengan cara yang sulit. Kak Astuti, mulai sekarang aku akan fokus pada karierku."
"Bagus sekali! Aku percaya kamu pasti mampu melakukannya. Mari kita lupakan cinta! Karier lebih penting dari cinta," ucap Astuti dengan penuh semangat. Lalu, dia cepat-cepat menambahkan, "Apa rencanamu mengenai proyek kolaborasi ini? Kita dapat menolak tawaran dua ratus miliar ini dan memberi pelajaran berharga kepada mereka."
Kumala menatapnya dan bertanya, "Kamu masih memberikan respons yang samar seperti biasanya, bukan?"
Astuti mengangguk sebagai jawaban.
Studio mereka selalu beroperasi seperti itu. Pada awalnya, mereka akan menerima tawaran tersebut setelah memastikan beberapa hal, tetapi mereka memberikan tanggapan yang samar. Strategi ini memberi mereka waktu untuk melakukan penyelidikan terhadap klien. Jika menemukan informasi yang mencurigakan, mereka akan mengakhiri kemitraan secepatnya.
Kumala tersenyum saat memikirkannya. Dia telah meninjau berkas tersebut dan mengetahui bahwa Grup Wahyudi harus membayar kompensasi sebesar beberapa triliun jika mereka tidak berhasil memenuhi tenggat waktu yang telah disepakati.
Dia tertawa geli dan berkata, "Baiklah. Kita akan membiarkan mereka menunggu selama beberapa saat. Beri tahu mereka bahwa kita akan berada di Gedung Langit malam ini."
Gedung Langit merupakan tempat yang hanya bisa dihadiri oleh kalangan atas.
Para tamu yang hadir berasal dari keluarga kaya dan memiliki pengaruh yang besar.
Lisa duduk di sebuah ruangan pribadi sambil memegang lengan Nando. Dia tersenyum lembut, lalu berkata, "Nando, aku yakin kamu pasti berhasil mendapatkan kerja sama malam ini."
Nando tersenyum dan melingkarkan lengannya di pinggang Lisa. "Semua ini berkat kamu, Lisa. Aku sangat beruntung karena memilikimu."
Lisa tersipu malu dan dia sudah membayangkan masa depannya.
Jika berhasil mendapatkan kerja sama kali ini, Nando akan menyadari nilai yang dia miliki dan melihat bahwa hanya dia yang bisa membantunya.
Pertemuan mereka dijadwalkan pada pukul tujuh malam. Pintu ruang pribadi sengaja dibiarkan terbuka, sehingga mereka dapat mengamati koridor dengan jelas.
Pada saat yang bersamaan, mereka berdua melihat dua orang berjalan mendekat.
Senyum di wajah Lisa berubah menjadi kaku. Dia menatap salah satu sosok itu dengan wajah kaget.
Lisa bertanya-tanya dalam hati apakah dia sedang berhalusinasi, tetapi wanita yang dia lihat sangat mirip dengan Kumala.
Nando juga melihat Kumala dan wajahnya tampak terkejut.
Hari ini, Kumala tidak mengenakan baju santai dan celana longgar seperti biasanya. Kumala mengenakan gaun berwarna hitam ketat yang menonjolkan bentuk tubuhnya. Rambut panjang Kumala ditata menjadi ikal longgar yang menjuntai di bahunya. Wanita itu terlihat memikat, tetapi menjaga jarak.
Dia memiliki leher yang anggun dan pinggangnya tampak ramping. Nando merasa seperti sedang melihat sosok dari lukisan cat minyak klasik.
Dia mengatupkan bibir tipisnya, sementara matanya mengamati Kumala dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Mereka baru berpisah selama sehari, tetapi penampilan Kumala berubah secara drastis.
Kemarin, dia adalah istri yang membosankan dan biasa-biasa saja. Sekarang, Nando membayangkan perhatian yang akan didapatkan Kumala dari pria lain saat berada di tengah keramaian.
Sepertinya, Kumala tidak melihat mereka karena dia berjalan ke depan tanpa menoleh.
Kemudian, terjadi sesuatu yang tidak terduga!
Anda Mungkin Juga Suka





