Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel She's Mine

She's Mine

Salju berjuang keras membesarkan She's Mine agar mampu bersaing di industri fesyen. Namun, saat kariernya memuncak, ia justru dihadapkan pada dilema rumit antara dua pria masa lalu. Ada Justin, sang mantan kekasih yang gigih mengejarnya kembali, serta Mars, sosok setia yang selalu membantu bisnisnya. Demi menyelamatkan reputasi perusahaan dari isu miring, Salju harus segera menentukan pilihan hati demi masa depan karier dan kehidupan pribadinya.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Cantik banget." Salju yang baru saja membuka pintu kamar dikejutkan dengan suara kakaknya yang tiba-tiba muncul dari koridor. "Mau ke mana?" tanya Sean sambil menunggu jawaban dari perempuan yang mengenakan jeans panjang dan cardigan putih itu.

"Gue mau belanja. Besok gue harus berangkat ke Jepang. Gue pergi dulu."

"Eh, tunggu sebentar!" Sean menahan langkah Salju yang baru saja ingin menuruni tangga, dengan perasaan kesal perempuan itu membalikkan tubuhnya.

"Perginya bareng Justin aja."

Lagi. Nama itu terus diucapkan oleh kakak sulung Salju berulang kali sampai terasa pekak telinganya.

"Abangku Sean, gue cuma mau pergi ke luar, ke supermarket, belanja dikit doang! Nggak perlu bawa-bawa nama... "

"Kalau ga mau, gausah pergi."

"Abang!" Salju kesal, wajahnya memerah menahan emosi. Kali ini ia benar-benar tidak bisa mengendalikan amarahnya.

Memorinya akan masa lalu membuatnya tersinggung. Hubungannya dengan Justin memang tidak berakhir dengan baik. Walaupun ia hanya mendengar rumor, Salju benar-benar tidak bisa menerima laki-laki berumur dua puluh enam tahun itu kembali ke kehidupannya.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Salju nekat pergi seorang diri. Ia tidak peduli dengan kakaknya yang terus berteriak memanggil namanya. Langkahnya tegas sebelum menghilang di balik pintu.

Deru mobil yang dikendarai Salju membuat Sean sedikit khawatir. Ia memutuskan untuk mengejar adiknya yang keras kepala. Kali ini laki-laki itu tidak punya alasan untuk bisa mencegah adiknya pergi. Lagipula ia sudah punya surat izin mengemudi dan umurnya sudah cukup untuk mengendarai mobil sendirian. Namun, kali ini keadaannya berbeda. Waktu menunjukkan pukul sebelas malam, Sean sangat khawatir jika ada sesuatu yang buruk menimpa adiknya.

"Ah! Ini anak nyusahin gue aja. Lagi pengen males-malesan malah dibikin repot! Lagian belanja besok apa susahnya sih?!" Sean meracau sendiri. Ia menyambar kunci mobil dari atas meja kamarnya dan mengunci pintu rumah. Ia langsung menyusul Salju yang pasti sudah lebih dulu menghilang keluar jalan raya.

Dengan kecepatan tinggi, Sean menyusul adiknya. Ia menemukan mobil berwarna hitam berukuran besar itu di jalan raya yang lengang. Kemudian, menambah kecepatannya. Beberapa belokan membuat laki-laki bersurai kecoklatan itu kesulitan untuk menyusul dan nyaris kehilangan jejak. Sampai pada lampu merah di perempatan, laju mobil Sean harus berhenti karena ada polisi yang memantau walaupun jalanan raya tidak terlalu ramai.

"Argh! Kena juga gue!" Sean memukul stir mobil. Kemudian meraih ponsel yang ada di kursi penumpang di sebelahnya. Ia mencari nama seseorang di daftar kontak. Kemudian, menghubunginya. "Halo, Justin."

"Ya, bang?"

"Lo lagi di mana?"

"Di RM Mart, nih bang. Kenapa?"

"Pas banget! Tadi Salju kabur dari rumah."

"Hah? Kabur?! Kok bisa?!" Justin yang mendengar pernyataan dari Sean itu pun sangat terkejut sekaligus cemas.

"Iya, tadi dia ngotot mau pergi belanja. Tapi nggak gue izinin. Sekarang gue susul tapi dia nggak bisa gue kejar gara-gara lampu merah. Gue minta tolong deh, Salju pasti belanja ke RM Mart, pantau dia tapi jangan sampe ketauan. Dia lagi kacau banget kayaknya. Nanti gue nyusul."

"Oke, bang. Gue baru selesai belanja juga nih." Justin yang berada di parkiran langsung melihat sebuah mobil hitam berukuran besar melesat di depannya. Ia sangat yakin itu adalah mobil yang dikendarai oleh mantan kekasihnya.

"Nanti gue kabarin lagi bang, kayaknya dia udah sampe." Justin langsung memutus sambungan dan memasukkan barang belanjaannya ke dalam bagasi mobil. Setelah itu, ia berjalan pelan menuju mobil yang telah diparkirkan oleh Salju.

Tampak seorang perempuan dengan tubuh tinggi semampai keluar dari mobil, tanpa ragu Justin memastikan kalau itu adalah adik bungsu Sean. Raut wajahnya sangat kesal, bahkan dari kejauhan tampak sekali kulitnya yang putih bersih itu memerah karena emosi. Saat Salju memasuki supermarket, Justin langsung menyusulnya dengan perlahan, berharap keberadaannya tidak diketahui sampai Sean tiba.

Perempuan dengan rambut panjang dan legam itu langsung menarik troli dengan kasar dan mendorongnya dengan penuh emosi. Laki-laki dengan bucket hat hitam itu memperhatikan dari jauh. Agak khawatir karena pujaan hatinya terlalu emosional.

Justin memperhatikan dari jauh. Ia berpura-pura membeli beberapa keperluan, padahal ia sudah membelinya. Tangan perempuan dengan cardigan putih itu sangat cepat mengambil barang yang dibutuhkan. Dalam sekejap berpindah dari rak satu ke rak yang lainnya. Memasukkan barang nyaris acak, membuat laki-laki yang memantaunya dari kejauhan itu terheran.

"Dia belanja apa asal comot sih?" tanya Justin dalam hati.

Setelah troli belanjaan milik Salju penuh, ia langsung membawa barang belanjaannya ke kasir untuk dibayar. Masih memantau Salju, Justin memperhatikan apa saja yang dibeli oleh adik Sean itu.

"Totalnya 740 ribu, nona." Seorang kasir laki-laki menyebutkan total belanjaan milik Salju.

Lima kantong plastik sudah mengisi troli, dan perempuan cantik itu membayarnya dengan uang tunai. Usai pembayaran, Salju keluar dari supermarket sambil mendorong trolinya. Justin yang tidak memiliki waktu untuk membayar belanjaan di kasir, menaruh keranjangnya asal di salah satu rak. Kemudian, menyusul Salju keluar dari supermarket.

Baru tiga langkah keluar dari supermarket, langkah perempuan itu berhenti, membuat Justin mematung seketika. Tiba-tiba Shinju menoleh ke belakang dan reflek, Justin menyembunyikan wajahnya dengan berbalik badan juga.

Suara langkah Salju mendekat ke arah supermarket membuat Justin panik. Khawatir ketahuan. Ternyata, perempuan yang sedang diikutinya itu masuk ke dalam supermarket dan meninggalkan troli belanjaannya di tengah parkiran.

"Huft, hampir aja." Justin menghela napas lega. Namun, saat ia membalikkan tubuh, sorot mata tajam Salju sudah mengintimidasinya. Membuat jantung laki-laki bertopi bucket warna hitam itu terkejut.

Dengan langkah perlahan, Salju mendekat. Misi Justin untuk memantau adik Sean itu sudah diketahui. Bersamaan dengan jarak yang semakin dekat, jantung laki-laki itu semakin berdetak cepat.

"Bang Sean nyuruh lo buat ngikutin gue 'kan?" Justin berani jamin, dinginnya malam tidak akan mengalahkan suara Salju. Tubuh kekarnya merinding seketika, setelah sekian perempuan itu tidak pernah bicara padanya lagi.

"Ng-nggak."

"Jangan bohong!" tekan Salju. Perempuan itu menatap tajam laki-laki yang sedikit lebih tinggi darinya. Tanpa kedipan sedikitpun, memaksa Justin untuk tenggelam ke dalamnya.

"Lo pikir gue nggak tau, daritadi lo ngikutin gue?" Salju melipat tangan di depan dada. "Gue bukan anak kecil yang perlu diperhatiin tiap kali keluar malam. Lagipula Bang Sean... "

"Salju!" Suara Sean terdengar menggema di parkiran, membuat Justin dan Salju menoleh bersamaan. Sosok laki-laki berkulit cerah itu berdiri di depan troli Salju sambil mengatur napasnya yang tersengal.

"Heh! Lo udah gila ya? Ini barang belanjaan kenapa ditinggalin di tengah jalan begini? Kalian juga ngapain di sana? Buruan pulang! Gue masih banyak kerjaan di rumah!" Sean berteriak kesal.

"Abang?" Salju langsung menyusul kakaknya yang masih mengatur napas. Ia tidak menyangka Sean akan menyusulnya hingga ke supermarket. "Abang kenapa nyusul ke supermarket sih?" Pertanyaan itu sontak membuat Sean mengerutkan dahi.

"Loh! Kok lo malah nanya gue? Harusnya lo yang nanya diri lo sendiri. Siapa yang ngizinin lo keluar malem-malem begini?"

"Yaelah, bang! Gue juga udah iasa keluar malem-malem ke supermarket jam segini, biasanya juga lo biasa aja, kenapa jadi emosional gini deh?" Salju tidak mau kalah. Namun, Sean hanya bisa menggigit bibir bawahnya menahan rasa kesal.

"Sekarang lo pulang deh. Daripada bikin gue tambah emosi. Sana!" Sean mengibaskan tangannya, mengisyaratkan adiknya itu untuk segera pulang. Dengan napas yang memburu, Salju mendorong troli ke arah mobilnya dan memasukkan barang ke dalam bagasi.

Sedangkan Justin yang masih berdiri, menyaksikan kedua saudara itu berdebat, mendapatkan isyarat dari Sean untuk menyusul ke rumah. Laki-laki dengan topi buket itu mengangguk dan berjalan ke arah mobilnya.

Beberapa saat kemudian, mobil milik Salju melaju ke jalan raya, disusul sedan putih milik Sean dan mobil lambo berwarna merah milik Justin di posisi paling belakang.

Beberapa menit kemudian, mereka sampai di rumah. Salju membawa kantong belanjaannya dibantu Sean, kemudian mempersilakan Justin untuk masuk ke dalam rumah.

Sebenarnya, Justin merasa tidak nyaman berada di tengah atmosfer kedua saudara kandung yang jarang akur ini. Namun, permintaan Sean seolah mengikat untuk tidak menolak apapun yang dikatakannya.

Usai menaruh belanjaan di meja dapur, Salju melangkah pergi tanpa sepatah kata dari mulutnya. Ia menaiki tangga dan menghilang dibalik pintu kamar.

Justin dan Sean duduk di sofa. Namun, belum sempat membuka suara, mereka mendapatkan notifikasi di waktu yang bersamaan. Beberapa detik mereka saling menatap, seolah berbicara dengan telepati. Hingga mereka mulai fokus pada ponsel masing-masing dan sangat terkejut dengan apa yang mereka lihat.

"Hah?! Gila aja, belum ada satu jam!"

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95MSM" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95MSM
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara dua Cinta
8.3
Ikatan persahabatan yang semula sangat kokoh kini berada di ambang kehancuran sejak kehadiran seorang wanita misterius. Saat mereka berjuang mewujudkan mimpi besar bersama, konflik perasaan mulai merenggangkan hubungan hingga mereka memilih jalan hidup masing-masing. Ambisi dan cinta menjadi ujian berat yang mengancam segalanya. Akankah mereka berhasil memperbaiki keretakan tersebut dan mengembalikan keutuhan persahabatan yang pernah menjadi kekuatan utama mereka?
Sampul Novel Gairah Suamiku (Jangan Salahkan Aku Selingkuh)
8.4
Ayana tidak habis pikir mengapa Dindar, suaminya, kerap bersikap kasar dan ringan tangan hanya karena masalah sepele. Setiap kali Ayana tidak sengaja mendesah saat mereka berhubungan intim, Dindar akan langsung naik pitam dan menyakitinya secara fisik. Ayana merasa perlakuan tersebut sangat tidak wajar bagi pasangan suami istri. Namun, di balik keanehan gairah dan sikap temperamental suaminya itu, ternyata Dindar menyimpan sebuah rahasia besar yang tersembunyi.
Sampul Novel Istri Mudaku Meresahkan!
8.6
Demi menyelamatkan bisnis keluarga dari kebangkrutan, Yasmin yang baru berusia 20 tahun terjebak dalam pernikahan kontrak dengan duda kaya bernama Galih. Namun, konflik memuncak saat Galih memberikan pilihan sulit antara Vira, anak sambungnya, atau Anggara. Meski Yasmin sangat mencintai Vira, keraguan hatinya memicu amarah Galih. Pria itu akhirnya menjatuhkan talak dan melarang Yasmin menemui Vira selamanya, menghancurkan sisa harapan dalam rumah tangga mereka.
Sampul Novel Menikahi Gadis Polos
9.5
Tepat semalam sebelum hari pernikahan, Jovan harus menelan kenyataan pahit saat memergoki tunangannya berselingkuh dengan pria lain. Dilanda rasa sakit hati yang mendalam, ia segera membatalkan rencana pernikahan tersebut. Namun, takdir membawanya bertemu seorang gadis asing yang tengah memohon pertolongan. Gadis itu bersedia melakukan apa pun sebagai imbalan. Tanpa ragu, Jovan memintanya menjadi pengantin pengganti untuk membalas pengkhianatan mantan kekasihnya.
Sampul Novel Pria yang Meninggalkan Cintanya
9.3
Sepuluh tahun mengabdi pada Baskara Aditama, hidupku hancur saat tanganku rusak di salon mantan kekasihnya, Karinina. Bukannya membela, Bas justru membuangku di hutan terpencil dalam kondisi hamil tanpa sinyal ponsel. Saat berhasil kembali, aku mendapati dia menghinaku sebagai pengganti sementara di depan teman-temannya. Tanpa dukungan keluarga dan karier yang sirna, aku bertekad memutus semua ikatan dengannya demi merebut kembali hidupku.
Sampul Novel Rahasia di Dalam Toilet
8.1
Sebuah tragedi berdarah terjadi pada malam tahun 2008 ketika aku nekat menghabisi nyawa kekasih dari sahabatku sendiri. Peristiwa mengerikan ini menjadi pengalaman pertamaku dalam melakukan pembunuhan. Selama tiga hari penuh yang menegangkan, aku berjuang keras melenyapkan jasad korban dengan cara membuangnya ke dalam saluran pembuangan air. Namun, kepanikan luar biasa melanda pada hari keempat saat aku mendapati tiga mobil polisi telah terparkir di luar gedung pengajaran.