Sampul Novel She's Mine

She's Mine

9.3 / 10.0
Salju berjuang keras membesarkan She's Mine agar mampu bersaing di industri fesyen. Namun, saat kariernya memuncak, ia justru dihadapkan pada dilema rumit antara dua pria masa lalu. Ada Justin, sang mantan kekasih yang gigih mengejarnya kembali, serta Mars, sosok setia yang selalu membantu bisnisnya. Demi menyelamatkan reputasi perusahaan dari isu miring, Salju harus segera menentukan pilihan hati demi masa depan karier dan kehidupan pribadinya.

She's Mine Bab 1

"Yaelah bang! Tolong banget ini mah. Gue cuma ke luar negeri dua minggu buat kerjaan, masa nggak dibolehin sih?!"

Perempuan dengan surai panjang dan legam itu berbicara dengan suara tinggi kepada seorang laki-laki yang lebih tua lima tahun darinya.

"Dua Minggu itu bukan waktu yang cepet, Salju! Itu lama banget!" Kakak dari perempuan bernama Salju itu tidak kalah protes kepada adiknya yang sangat keras kepala.

Nyatanya, mereka berdua sama-sama keras kepala dan tidak akan mudah untuk saling mengalah.

"Duh, bang! Ini kan urusan kerjaan! Gue mulai ini bisnis dari nol! Kalau meeting ini batal, gue bisa rugi jutaan dollar! Tolonglah, bang. Pikirin karyawan-karyawan gue mau digaji apaan? Masih banyak di antara mereka yang anak-anaknya masih kecil, masih banyak tanggungan, lagi nabung buat modal nikah, lo kaga kasian sama mereka?" Salju menunjukkan proposal yang ada di atas meja sambil terus bersuara lantang sekaligus serak, ia sudah berdebat dengan kakaknya selama kurang lebih dua jam.

"Iya, oke. Gue tau, Salju. Gue ngerti kok, mulai dari lo rintis bisnis ini gue bangga banget. Lo juga bilang soal karyawan dan dengan segala permasalahannya. Iya, gue ngerti." Michelle Sean. Sosok berkulit cerah itu mengangguk takzim mendengar pernyataan Salju yang sudah sangat memohon izinnya. Dalam hati, ia merasa kasihan kepada adik bungsu yang menjadi satu-satunya kerabat yang ia miliki.

Mendengar pernyataan sang kakak, Salju merasa sedikit tenang. Namun, ia belum bisa bernapas lega sebelum paspor miliknya benar-benar sudah ia genggam sendiri. Selama ini, hampir semua identitas milik perempuan itu dikendalikan oleh Sean. Kecuali kartu identitas pribadi dan surat izin mengemudi.

"Tapi, lo tetap nggak diizinin."

Ucapan singkat itu membuat Salju menjatuhkan diri ke atas sofa secara kasar. Ia benar-benar membuang tenaga berdebat dengan kakak sulung yang tidak akan pernah mengalah dalam perdebatan.

Tapi, bukan Salju namanya jika tidak pandai bernegosiasi. Kakaknya akan terus bersih kukuh dalam pendiriannya, namun Salju akan membuat negosiasi yang mungkin sedikit berisiko untuk dirinya sendiri.

"Oke. Fine!" Perempuan bersurai panjang itu kembali duduk dengan tegap, ia menghadap ke arah sang kakak yang sudah siap dengan sesi negosiasi di antara mereka. "Gue akan melakukan apapun yang lo mau, asalkan gue bisa pergi ke luar negeri untuk pertemuan bisnis ini. Please! Cuma ini kesempatan gue biar bisa balik modal, abang sayang!" Salju memelas, ia bersimpuh di depan kakaknya sambil menempelkan kedua telapak tangannya di depan dada.

"Oke. Mungkin ada satu cara yang bisa bikin gue percaya lo aman di luar negeri." Sean berdiri dari sofa dan membelakangi adiknya yang masih berlutut di atas karpet beludru merah. Secercah harapan dimiliki oleh Salju, ia berharap hal itu tidak terlalu merugikannya.

"Sebelumnya, gue..."

"Please, bang! Gue bener-bener yakin, apapun deh! Apapun yang lo mau bakal gue turutin, lo mau minta apapun gue kasih! Lo mau gue bikinin lapangan basket depan rumah atau ngasih wardobe gratis buat talent, artist, dancer apapun, bakal gue turutin bang! Serius!"

Mendengar keseriusan dari adiknya, membuat Sean menampilkan senyuman puas. Ia pun mengangguk sendiri dan pergi meninggalkan Salju di ruang tengah, tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Setelah Sean benar-benar pergi, perempuan yang sedang bersimpuh itu pun langsung mengangkat tubuhnya dan membaringkannya lagi ke atas sofa. Dalam hati, ia mengutuk kakaknya yang keras kepala dan sedikit posesif itu. Walaupun Salju sangat menyayangi kakaknya, ia tetap membenci moment saat harus berdebat seperti ini.

Sejak orang tua Sean dan Salju berpisah, mereka masih berusia dua belas dan tujuh tahun. Hak asuh diberikan kepada sang ayah. Namun, satu tahun kemudian ayahnya meninggal. Sean saat itu harus bekerja dan putus sekolah demi menghidupi adiknya sendiri. Ia tidak berniat untuk menemui sang ibu karena tahu ibunya terlibat perselingkuhan, yang membuat Sean membenci sosok ibunya seumur hidup.

Saat Salju duduk di bangku SMA, Sean memutuskan untuk pindah ke luar kota dan mencoba untuk mengikuti audisi. Sedangkan, sang adik berusaha untuk membantu kebutuhan finansial mereka dengan bekerja paruh waktu. Awalnya, Sean melarang hal tersebut karena khawatir pendidikan Salju akan terganggu. Perempuan itu pun memberikan pembuktian dengan menunjukkan nilainya yang selalu bagus.

Hingga Sean berhasil memasuki dunia industri musik dan Salju merintis usahanya sendiri di bidang fashion. Keduanya saling membantu dan memulihkan finansial, mereka juga semakin sibuk dalam urusan masing-masing. Sean sadar bahwa ia adalah sosok yang berperan penting dalam kehidupan Salju. Di sela kesibukan, ia berusaha meluangkan waktu untuk sekadar menanyakan aktivitas atau adik kesayangannya itu.

"Gue harap, abang gue nggak minta macem-macem. Gila aja kemaren gue diminta beliin makanan katering banyak banget, cuma buat gebetannya yang mau dateng ke rumah. Huh! Padahal itu kan sahabat gue sendiri!" Salju memijat pelan pelipisnya yang mulai pusing, mengingat banyak sekali kejadian tidak masuk akal yang diminta oleh kakaknya dalam negosiasi ini.

Belum selesai dengan isi kepalanya, Salju diganggu dengan dering ponsel di atas meja. Dengan segenap usaha, ia bangkit dan menggapai ponselnya. Kemudian, melihat nama yang tertera di layar ponsel.

Namun, bukan berita baik bagi Salju saat melihat nama Park Mars tertera di sana. Ia langsung menetralkan suaranya dengan berdeham sendiri, kemudian menggeser ikon hijau pada layar.

"Halo?"

"Salju?"

"I-iya, Mars? Kenapa?" Suara perempuan itu tiba-tiba memelan saat melihat Sean keluar dari ruangan.

"Aku dan pemimpin perusahaan lain sepakat untuk buat pertemuan di Jepang. Tapi... "

"Tapi, kenapa?" Salju tidak sabar mendengar suara Mars yang menggantung di seberang sana. Seketika suasana hati perempuan itu menjadi tidak menentu. Ia sangat tidak siap kalau harus menerima kabar buruknya.

"Ah, ya. Aku nggak tau apa alasan yang pasti. Tapi, mereka sepakat untuk pertemuan di hari Kamis ini."

"What?!" Perempuan yang awalnya memelankan suaranya itu langsung berseru, membuat Mars maupun Sean yang sedang mengambil soda di kulkas terkejut.

"I-iyaa... Kalau begitu, aku telepon kamu nanti ya. Sampai jumpa." Mars menutup sambungan telepon secara sepihak. Tidak memberikan kesempatan untuk Salju mencerna apa yang baru saja didengarnya.

Hari Kamis, berarti dalam waktu dua hari pertemuan akan berlangsung. Dan perempuan bersurai panjang itu belum mempersiapkan apapun untuk kepergiannya selama dua minggu di Negeri Sakura itu.

"Abang! Abang!!" Salju langsung melompat dari sofa dan menghampiri kakaknya yang masih terpaku di depan kulkas sambil memperhatikan adiknya yang sudah memohon di hadapannya.

"Abang, please kasih gue izin buat pergi, Hari Kamis nanti gue udah harus di sana buat pertemuan bisnis, please bang, gue butuh banget izin lo sekarang, Please! Kasih tau gue sekarang, apapun yang lo mau, asalkan kasih gue izin pergi ke luar negeri, bang! Please!"

Salju terus memohon sambil menyatukan tangannya di depan dada, bahkan sesekali mengguncang tubuh kakaknya yang belum mengeluarkan sepatah kata pun. Hingga suara bel rumah menghentikan permohonan brutal dari Salju dan mengalihkan perhatiannya.

"Nah, itu permintaan gue. Sekarang, lo buka pintunya, nanti gue kasih tau syaratnya." Sean menuangkan soda ke dalam gelas dengan santai, sedangkan bel masih terus berbunyi sebelum ada yang membukanya.

Salju yang merasa terdesak, mau tidak mau membukakan pintu dan ia ingin segera tahu apa yang diinginkan oleh kakaknya itu.

"Iya, seben... tar." Salju membeku saat melihat sosok yang berdiri tegap di hadapannya. Laki-laki itu tersenyum bangga ke arah Salju yang mematung, tidak percaya.

"Jay Justin?"

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi She's Mine

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Jangan bermain-main dengan saya
8.9
Kisah mafia dan romansa ini berawal saat seorang ayah tega menjual putri kandungnya sendiri. Seiring berjalannya waktu, gadis itu tumbuh dewasa hanya untuk menghadapi kenyataan pahit tentang garis hidupnya. Dia tidak memiliki pilihan selain menerima takdir kelam yang telah ditetapkan, yakni menjadi istri dari seorang pengedar narkoba yang berbahaya. Perjalanan hidupnya kini terjebak dalam dunia kriminalitas yang penuh dengan intrik dan bahaya besar.
Sampul Novel Kekasihku Meninggalkanku di Hari Pernikahan
9.6
Hari pernikahan Cherish hancur seketika saat Diego pergi begitu saja setelah menerima sebuah telepon. Kepergian mendadak itu membuat nenek Cherish syok hingga muntah darah dan akhirnya meninggal dunia di rumah sakit tanpa ada yang membantu. Di tengah kedukaan di kamar mayat, Diego justru menghubungi Cherish untuk meminta donor darah bagi Zoey yang terluka. Kecewa mendalam, Cherish langsung mengakhiri hubungan mereka. Kini, Diego bersujud di bawah guyuran hujan, memohon dimaafkan dan berjanji menyerahkan segalanya demi mendapatkan kembali hati Cherish.
Sampul Novel Menyusui Bayi Mafia
9.7
El Zibrano Elemanus memberikan tawaran gila kepada Lea untuk menyusui putranya dengan imbalan kekayaan yang tak terbatas. Lea yang masih berstatus pelajar menolak keras karena merasa permintaan itu tidak masuk akal bagi gadis seusianya. Namun, El tidak menerima penolakan dan bersikeras bahwa ia bisa mewujudkannya melalui caranya sendiri. Di bawah tekanan sang bos mafia, Lea terjebak dalam situasi intim yang mengancam masa depan dan harga dirinya.
Sampul Novel Misteri Ular Xaver
8.1
Sepulang berwisata dari Kota Xaver, ibu membawa patung dewa ular misterius yang diyakini bisa memberikan kemudaan abadi. Syaratnya mengerikan: patung itu harus diberi sesembahan darah menstruasi gadis perawan. Ibu memaksaku memberikan darah serta memotong rambutku untuk dililitkan pada kepala ular tersebut. Namun, dia tidak tahu bahwa aku sudah tidak perawan sejak kuliah. Dua bulan berlalu, petaka pun tiba saat kulit ibu mulai ditumbuhi sisik biru dan dia mulai berganti kulit layaknya ular.
Sampul Novel Penantian Yang Tak Kunjung Kembali
9.2
Enam tahun menikah rahasia dengan seorang direktur, sang istri harus menerima kenyataan pahit saat suaminya melarang putra mereka memanggilnya ayah. Ketika sang suami kembali mengabaikan ulang tahun anak mereka demi sekretarisnya, keputusan bulat pun diambil. Surat cerai dilayangkan, dan dia pergi membawa putranya selamanya. Kepergian tiba-tiba ini meruntuhkan ketenangan sang miliarder yang seketika kehilangan kendali mencari istrinya. Namun, kali ini penantiannya akan sia-sia.
Sampul Novel SCANDAL WITH PRIVATE DOCTOR
8.3
Eliza terjebak dalam pernikahan toksik dengan Karan, pria yang hanya memanfaatkannya demi pemuasan nafsu. Malam pertama yang seharusnya indah berubah menjadi trauma mendalam hingga mengganggu kesehatan mentalnya. Keadaan kian memburuk saat Karan berselingkuh dengan banyak wanita lain. Di tengah penderitaan itu, Eliza bertemu Sean, dokter tampan sekaligus teman baiknya. Kehadiran Sean tidak hanya memulihkan luka batinnya, tapi juga menjadi sosok sandaran hati yang baru.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan