Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel SEXY KILLER MACHINE

SEXY KILLER MACHINE

Karlen Maria Gerarda adalah perpaduan kecantikan dan maut. Sebagai putri mantan anggota KGB, ia dihantui memori pembantaian keluarganya yang menyisakan dirinya hanya karena warna matanya yang unik. Kini, Maria menyusup ke dunia hiburan kelas atas demi membalas dendam pada Sang Jenderal. Dengan identitas rahasia, ia memperluas pengaruh dan mencari sekutu. Siapa pun yang berani menyentuhnya harus membayar dengan nyawa dalam misi pembalasan berdarah ini.
Bab
Bagikan

Bab 2

Byuurrr!!

Guyuran air dingin tepat mengenai wajah Maria yang tertelungkup pingsan sejak tadi. Terkejut dan napas terengah dia rasakan mana kala seseorag baru saja membangunkannya dengan cara yang tak biasa.

"Bangun!" suara bariton pria dengan tegas berdiri di hadapan Maria, membuang ember hingga terdengar sangat nyaring.

Perlahan, mata Maria terbuka dan melihat samar pria di hadapannya. "Kau, s--siapa kau?" tanyanya dengan bibir bergetar.

"Bangun, bocah tengik!" perintahnya.

"Hahaha, bagaimana aku bisa bangun sementara aku kedinginan dan kelaparan."

"Dasar bocah tengik! Kenapa dia tak menghabisimu juga seperti anggota keluargamu yang lain!? Menyusahkan!" keluh pria itu membalikkan badannya.

"Kau! Kau telah membunuh keluargaku! Kau telah menghancurkan semua yang kumiliki ...," Maria berdiri merambah ke tubuh lelaki tegap itu. "Apa-apaan ini!" lelaki itu melepaskan tangan Maria yang basah dari seragam hijaunya.

"Kembalikan! Kembalikan keluargaku! KEMBALIKAN MEREKA SEMUA!!" teriak Maria histeris.

"LEPASKAN! Dasar bocah tengik! Mana Ivan?! Panggil dia ke sini!" perintah pria tegap itu pada salah satu anak buahnya.

"Baik, Tuan."

"Siapa kalian sebenarnya? Kenapa kalian tega menghabisi keluargaku? Apa salah keluargaku? APA!?" tanya Maria berdiri dengan gemetar di hadapan pria bertubuh tegap itu.

"Karena ayahmu tak mau bekerja sama dengan kami! Itulah alasan kenapa keluarga kalian dihabisi!" jawab pria itu sambil menyeringai.

"KAU! KAU!!"

"Sersan, Anda mencariku?" seorang pria berbadan tegap lainnya datang ke tempat Maria ditahan.

Netra Maria langsung terbelalak dan menghampiri pria berambut pirang tegak  yang menghabisi nyawa seluruh keluarganya.

"KAU! KAU YANG TELAH MENGHABISI KELUARGAKU! KAU ...,"

Bruk!!

Tubuh Maria langsung terjatuh menghempas tanah dengan keras. Tubuhnya yang lemah dan beberapa luka lebam yang diterimanya ketika penyerangan itu terjadi tampak jelas terlihat di tubuh mungilnya. Kedua pria berbadan tegap itu lantas membawa tubuh Maria ke sebuah ruang dan menyuruh seseorang mengobatinya.

"Kau! Buat dia siuman sesegera mungkin! Jangan sampai Tuan menunggu karena hal sepele ini!" perintah salah satu dari kedua pria tadi pada dokter yang ada di ruang itu.

"Baik, Tuan. saya mengerti."

****

"Menurutmu apa yang harus kita lakukan pada gadis itu? Apa kau yakin dia akan berguna bagi kita?" tanya pria di samping pria pirang dengan rambut tegak berjalan beriringan.

"Apa kau tak lihat ada sesuatu yang istimewa pada diri gadis itu?"

"Maksudmu?"

"Mata gadis itu!" senyum pria pirang itu lebar.

"Mata?"

"Gadis itu memiliki warna mata yang tak biasa. Kedua mata yang beda warna, indah ... sungguh indah. Sayang jika kita hanya menyimpannya untuk diri sendiri." Jelasnya senyumnya mengembang.

"Maksudmu ...,"

"Kau tahu benar apa maksudku, Gordan. Kita bisa dapatkan banyak uang jika kita menjualnya di tempat 'biasa'." Kekeh pria berambut pirang itu.

"Hmmm, harus kuakui, otakmu sangat cepat bila menyangkut soal uang, Ivan. Lalu, bagaimana dengan chip itu? Apa kau berhasil mendapatkannya?"

"Tidak! Aku belum mendapatkannya! Tapi pasti akan aku dapatkan!"

Sementara itu, di ruang terpisah, Maria yang telah siuman membuka kelopak matanya secara perlahan sambil memandangi sekitar tempatnya sekarang berada.

"Ini di mana?" tanyanya pelan sambil memegangi kepalanya.

"Sudah sadar?"

Seorang dokter menghampiri Maria dan memeriksanya kembali.

"A--Anda--Anda siapa? Jangan--jangan sakiti saya! Jangan!" teriak histeris Maria.

"Jangan takut, saya tak akan melukaimu. Saya hanya ingin memeriksa keadaanmu." Dokter itu kemudian dengan lembut memeriksa Maria dengan teliti mulai dari atas hingga ke bawah, "Ini ... luka apa ini?" Dokter itu menunjuk pada satu luka lebam besar di sekitar pinggul Maria.

"Bu--bukan apa-apa!" Sahutnya langsung menutup pakaiannya dan mengalihkan pandangannya.

Dokter itu tampak terkejut ketika melihat mata Maria yang berbeda warna dan segera berkata, "Apa di keluargamu ada yang memiliki kelainan pigmen mata?"

"M--maksud Dokter?" tanya Maria takut dan gugup.

"Heterochromia! Matamu memiliki dua warna yang berbeda dan itu hanya satu diantara sekian milyar orang yang kemungkinan memiliki kelainan yang sama. Apa itu dari keluargamu?" tanya Dokter itu lagi mendekatkan wajahnya ke Maria.

"A--aku-- ...aku," jari-jemari Maria bergetar dan tubuhnya juga seperti orang yang kedinginan. Sang dokter yang melihat sikap Maria pun segera menghentikan pertanyaannya, "Istirahatlah, apa kau sudah makan?" tanyanya lagi.

Maria menggelengkan kepalanya.

"Akan kuambilkan makanan untukmu, gadis manis. Sebentar ya." Dokter itu pun keluar dari ruangannya dan mencarikan makanan untuknya.

"Dokter Herbert!" panggil suara lantang laki-laki dari belakang.

"Sersan Gordan," sapanya kembali.

"Anda mau ke mana, Dokter? Bagaimana dengan pasien yang baru saja kuberikan pada Anda?"

"Dia sudah sadar?"

"Benarkah? Baiklah kalau begitu!" Gordan melangkah menjauhi sang dokter dan terlihat ingin membuka pintu ruangan di mana Maria berada.

"Sersan!" panggil dokter itu sedikit lantang.

"Ada apa?"

"Maaf, tapi kurasa pasien baru saja sadar dan dia terlihat ketakutan. Boleh saya tahu apa yang terjadi?" tanya Dokter itu bak polisi.

"Dokter Yvent, tugasmu adalah menuruti ucapan kami! Dan jangan sesekali keluar dari batasmu! Apa Anda paham!?" tegas Gordan mendekatkan wajahnya ke Yvent.

"Saya paham, tapi ruang ini adalah tempat otoritas saya! Jadi, siapa pun yang ada di dalam sana, mau penjahat atau bukan tetap harus dilindungi dan diselamatkan, tak peduli apa yang terjadi, Sersan Gordan." Balas Yvent dengan ekspresi tegas dan serius.

Gordan terdiam. Netra birunya menatap tajam sang dokter. "Anda mulai banyak tingkah rupanya! Apa Anda lupa untuk apa Anda di sini, hah!?"

"Saya tak lupa, Sersan Gordan. Tapi profesi saya telah menyumpah siapapun itu, apa pun jabatan atau posisi mereka, selama mereka membutuhkan pertolongan kami, maka kami harus memenuhi sumpah jabatan dan kode etik yang kami junjung tinggi." Jelas Yvent meraih gagang pintu dan masuk ke dalam.

"Hmmm, rupanya Anda belum tahu sedang berurusan dengan siapa, Doktet Yvent."

****

Sementara itu di dalam, tampak Yvent tengah mengobati Maria yang terbaring di kasur dan mata yang selalu menatap ke langit-langit.

"Nah, aku sudah mengobati lukamu. Dalam beberapa hari kau akan sembuh."  Ucap Yvent  mengusap wajah Maria lembut.

Maria tampak selalu berusaha menghindarkan wajahnya dari tangan Yvent dan melihatnya penuh ketakutan. Yvent yang merasa iba akan keadaan Maria mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada gadis muda itu.

"Maria, apa kau baik-baik saja? Apa yang terjadi padamu?"  tanya Yvent pelan.

"Anda--Anda siapa sebenarnya? Kenapa menolongku?" tanya Maria ragu

"Namaku Yvent, aku seorang dokter. Kau ...," Yvent tak melanjutkan ucapannya.

"Aku lapar, Dok."

"Oh, iya, maaf aku belum sempat membawakanmu makanan tadi. Sebentar ya, kuambilkan."

Yvent beranjak dari hadapan Maria dan membuka pintu ruangannya, ternyata Gordan masih menunggu di luar ruangannya.

"Anda ... masih di sini, Sersan?" tanya Yvent sedikit terkejut.

"Minggir, aku harus bertemu dengan anak itu!" Gordan mendorong dengan kencang tubuh Yvent hingga terjatuh.

"Tidak! Tunggu sampai dia pulih benar, baru Anda bisa menemuinya!" tegas Yvent menaham kaki Gordan erat.

"KAU!!"

"ADA APA INI?"

Suara derap sepatu nyaring dan intonasi suara menekan terdengar jelas oleh mereka berdua. Seorang pria dewasa dan anak laki-laki serta beberapa orang prajurit yang berpakaian serba hitam dan merah layaknya ninja tampak berdiri di belakang mereka.

"Jenderal Goyev, Anda di sini?"  Gordan langsung memberi hormat pada laki-laki bertubuh tinggi besar, berseragam hijau army dengan banyak lencana dan pangkat yang tersemat di kedua pundak lelaki bernama Goyev Kischinko itu.

"Ada apa ini? Kenapa kalian ribut-ribut, hah? Dan kau, Dokter, apa yang sedang Anda lakukan di bawah sana?" tanyanya melirik tajam ke arah keduanya.

"Jenderal Goyev ...," Gordan langsung mendekati atasannya dan berbisik padanya.

"Apa? Putri Joseph Stalin Gerarda ada di dalam?" tanya Sang Jenderal.

Gordan mengangguk. Segera, tanpa membuang waktu sang jenderal dan anak remaja laki-laki yang bersamanya masuk ke dalam ruangan dan menemui Maria. Yvent yang berusaha menjegal mereka akhirnya pasrah dan mengikuti mereka di belakang.

"BANGUN!" tegas suara Gordan sambil menendang kaki kasur Maria tidur.

Perlahan, mata Maria terbuka dan melihat beberapa pria berbadan tegap telah berdiri di hadapannya

"S--siapa kalian? Mau apa kalian? Jangan sakiti aku ... aku mohon ...," Maria menunjukkan ketakutannya.

"Jen--,"

Tiba-tiba tangan Gordan menghalangi Yvent yang hendak melindungi Maria. "Ingat apa kata-kataku barusan!"

Terdiam dan kembali melangkah mundur, Yvent menundukkan wajahnya, mengepalkan tangannya seakan orang yang dipenuhi amarah.

"Kau putri Joseph Stalin Gerarda?" tanya Sang Jenderal dengan baritonnya yang dalam.

"Si--siapa kau? Apa maumu?" Maria memasang wajah penuh kebencian.

"Namaku Goyev Kischinko, ini adalah wakilku, Sersan Gordan, dan pria yang telah mengobatimu bernama Dokter Yvent. Siapa namamu?"

Maria terdiam. "Hey,  bocah tengik! JAWAB!" sentak Gordan.

"Sersan, cukup! Bukan begitu cara memperlakukan anak gadis yang beranjak dewasa!" tegas Goyev melirik tajam.

"Maaf, Jenderal."

Beberapa saat Goyev memperhatikan Maria, senyum seringainya mulai terulas di wajahnya. "Istirahatlah, Maria. Pasti kau masih terkejut dengan apa yang terjadi pada ... keluargamu."

Sontak, Maria langsung menoleh ke arah Goyev dan langsung mendudukkan tegak badannya sembari menari-narik seragam Goyev dengan kencang. "Kembalikan keluargaku! Kembalikan mereka! Kembalikan! Kalian para penjahat tengik!"

"KAU!" kembali Gordan hampir menampar wajah Maria.

"Sersan Gordan! Ini wilayahku! Siapa pun yang akan bertindak menyakiti pasienku, akan berurusan denganku!" tegas Yvent lantang.

Goyev, Gordan, dan anak laki-laki yang bersama mereka langsung melihat ke arah Yvent. Goyev kemudian merangkul Yvent dan mengajaknya keluar sementara Gordan dan anak laki-laki yang ikut bersamanya berada di dalam.

"Dokter Yvent, kenapa Ana begitu emosional? Anda bahkan tak mengenal anak itu. Mengapa Anda bersimpati padanya?"

"Dia pasienku, dan saya telah mengatakan pada Sersan Gordan siapa pun itu, jahat atau baik, jika ia masuk ke ruanganku maka ia pasien saya. Dan tugas saya membantu mereka."

Goyev tersenyum, "Jika begitu, bisakah saya minta tolong pada Anda, Dokter?"

"Pertolongan apa yang Anda harapakan, Jenderal?"

"Kelihatannya anak yang bernama Maria ini begitu menderita, bagaimana jika kita buat dia lupa akan kesedihannya dan sedikit 'bermain' dengan dunia barunya?"

"Maksud Anda?" tanya Yvent penasaran.

"Kau tahu apa yang biasa kau lakukan." Goyev memberikan sebuah botol kecil berisi cairan berwarna putih, "ini ...,"

Goyev mengangguk sambil menyeringai lebar. "Lakukan tugasmu!"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel DENDAM dan JERAT PESONA GADIS yang KUCULIK
9.7
Demi membalas kepedihan atas kematian sang ibu, Anggara nekat menculik Almaira. Ia bertekad menyiksa ayah gadis itu dengan cara memisahkan mereka selamanya. Namun, kedekatan yang terjalin justru menumbuhkan perasaan tak terduga di hati Anggara. Kini ia terjebak dalam dilema antara kebencian masa lalu dan cinta yang mulai bersemi. Mampukah kasih sayang menghapus dendam membara, sementara Almaira sendiri sangat membenci sosok yang telah menyekapnya?
Sampul Novel Immortal Soul
9.1
Dalam dunia ini, kemampuan kultivasi hanyalah milik mereka yang terlahir dengan ikatan spiritual yang kuat. Sebaliknya, setiap individu dengan akar kefanaan telah ditakdirkan untuk menjalani hidup biasa tanpa kekuatan. Mo Wuji mendapati dirinya terjebak dalam kasta terendah tersebut karena hanya memiliki akar makhluk fana. Namun, apakah takdir benar-benar sudah mutlak baginya? Ikuti perjuangan Mo Wuji dalam menantang batas demi melampaui garis kemiskinan bakatnya.
Sampul Novel Kembalinya Sang Penguasa
9.0
Ledakan rumah yang menewaskan sepasang suami istri memicu kepanikan besar di kalangan polisi dan tentara. Hilangnya putri mereka menandai kembalinya sosok legendaris, Red Everlasting Dragon. Sang penguasa yang ditakuti dunia ini turun gunung demi membalas dendam atas kematian orang tuanya dan penculikan adiknya. Tanpa ampun, ia bersumpah akan menghancurkan siapa pun pelakunya. Amarah sang naga kini membara, siap mengguncang tatanan dunia dari timur hingga ke barat.
Sampul Novel LOVE FROM LA
9.7
Berawal dari interaksi di media sosial, Kim dan Diki membangun hubungan yang tak terduga. Kim adalah sersan satu tentara Amerika keturunan Indonesia-Cina yang hidup mandiri sejak kehilangan orang tuanya di usia delapan tahun. Meski terpisah jarak dan bahasa, kenyamanan membuat Diki nekat menyatakan perasaan. Tak disangka, Kim menerimanya. Akankah cinta lintas negara yang lahir di dunia maya ini mampu bertahan dan berlanjut menjadi pertemuan nyata di masa depan?
Sampul Novel Nona Hujan, Cobalah Diriku!
8.4
Akibat dosa masa lalu, Kerajaan Meng didera kekeringan hebat selama puluhan tahun. Di tengah penderitaan rakyat, Putra Mahkota Li Yun Zhu mencari cara menyelamatkan negerinya. Harapan muncul pada sosok Su Yu Er dari Suku Chang'o yang konon mampu mendatangkan hujan. Namun, Yun Zhu terjebak dilema besar. Ia harus memohon bantuan kepada keturunan bangsa yang pernah dibantai keluarganya sendiri. Akankah dendam lama menghalangi keselamatan seluruh kerajaan?
Sampul Novel Reinkarnasi Pembunuh Bayaran: Dendam dari Tubuh Kedua
8.4
Liu Yifen adalah pembunuh bayaran yang tewas saat bertugas, namun dewi misterius memberinya kesempatan hidup kembali. Dalam misi barunya, ia bereinkarnasi ke tubuh pilihan pertama. Sialnya, maut kembali menjemput sebelum tugasnya usai. Ia ambruk bersimbah darah di tanah basah sementara musuhnya tersenyum puas melihat nyawanya hilang. Apakah perjalanan Liu Yifen benar-benar berakhir di sana, ataukah takdir masih menyimpan reinkarnasi lain baginya?