Sampul Novel Setelah Malam Pertama

Setelah Malam Pertama

8.4 / 10.0
Dalam novel Setelah Malam Pertama, Maya menghadapi kehancuran rumah tangga dan pengkhianatan orang terdekatnya. Ia harus berjuang menata hidup kembali di tengah konflik modern novel ini. Baca kisah selengkapnya dalam romance novel yang penuh emosi dan pilihan sulit ini secara online.
Ringkasan Setelah Malam Pertama
Kehidupan Maya seketika berubah menjadi mimpi buruk setelah insiden fatal di malam pertamanya menghancurkan biduk rumah tangga yang ia bina. Tak hanya kehilangan pernikahan, dunianya pun kian runtuh saat pengkhianatan muncul dari orang-orang terdekat yang seharusnya menjadi pelindung. Kini, Maya harus menghadapi kenyataan pahit di mana kepercayaan telah sirna dan setiap aspek hidupnya porak-poranda akibat satu malam yang merubah segalanya.
Baca Selengkapnya

Setelah Malam Pertama Bab 1

Di dalam rumah yang sama, dengan kamar berbeda. Walaupun mentari masih enggan untuk menampakkan dirinya. Namun, apapun yang ada di ruangan itu sudah dapat dilihat dengan sangat jelas. Suara gemericik air hujan masih terdengar sangat deras, udara dingin masih menyelimuti seluruh kota di pagi ini. Sehingga, hal ini membuat sebagian umat manusia masih enggan untuk keluar dari selimutnya.

Sepasang anak manusia yang ada di dalam salah satu kamar di dalam rumah besar itu, tampak tertidur pulas dengan wajah lelah masing-masing di antara mereka. Menghabiskan waktu semalaman untuk bertempur mengakibatkan tenaga mereka sangat terkuras. Lelah? ya ... itu lah yang dirasakan oleh mereka saat ini.

"Hoam," Maya menguap, dan menggeliatkan tubuhnya.

Intimnya terasa sangat perih saat dia menggeliat tadi, tulang di sekujur tubuhnya terasa remuk.

"Aah ... sakit sekali." Maya sedikit meraba bagian luar guanya yang terasa perih.

"Suamiku benar-benar perkasa," ucap Maya kagum, dengan mata berbinar-binar. "Sampai intim ku terasa robek akibat ulahnya semalam." Maya mengelus rambut pria yang tertidur tengkurap di sampingnya.

Maya menoleh ke arah jendela yang masih tertutup oleh gorden. "Hujan, pantesan sangat dingin." Maya menarik selimutnya hingga leher, tidak lupa juga untuk menyelimuti lelaki perkasa di sampingnya.

Maya merangkul tubuh kekar itu dalam dekapannya. Tubuh mereka yang sama-sama polos berada di dalam satu selimut yang sama. Hawa di dalam selimut menjadi hangat mengalahkan udara dingin di pagi ini.  Apalagi, Maya yang mendekat ke posisi Daffin tidur, tidak memberikan jarak sedikitpun. Hal itu membuat kulit mereka saling menempel. Maya menggoda lelaki yang dianggap sebagai suaminya itu dengan berbagai cara, tapi yang digoda tidak bangun dari tidurnya. Dia tetap setia berada di posisi awal tanpa bergeming sedikitpun.

Maya menjilati daun telinga orang yang dianggap sebagai suaminya, dan menggigit kecil daun telinga pria yang tidur telungkup itu, hingga beralih posisi ke atas punggung lelaki yang masih setia di dalam alam mimpi tersebut. Maya menggesek-gesekkan inti tubuhnya di atas bokong pria yang masih tertidur telungkup di bawahnya. Tidak sampai di situ. Maya juga menempelkan gundukan daging kenyalnya ke punggung pria di bawahnya. Namun, anehnya sang pria tidak memberi reaksi apapun, dia masih tetap setia dengan posisinya.

Maya sudah mulai gerah dengan step by step yang dia praktekan untuk membangunkan lelaki kekar yang tidur satu ranjang dengannya. Rasa bosan, dan putus asa menghampiri hatinya. Maya turun dari posisinya, dan mendudukkan bokongnya di atas kasur dekat pria itu tertidur. "Yang. Bangun donk." Maya menggoyang-goyangkan tubuh pria di hadapannya.

"Sayang …." Maya memeluk tubuh pria itu, dan berbisik di telinganya. "Kamu gak mau mengulangi olah raga kita semalam?" pancing Maya.

"Sayaaang! Ayolah, kenapa kamu tidurnya seperti orang mati?" rengek Maya di dekat telinganya. Namun, lelaki itu tetap setia telungkup dengan wajah di atas bantal.

"Awas, ya! Nanti giliran kamu yang minta jatah, aku juga gak bakal mau," rajuk Maya memonyongkan bibirnya.

Sebenarnya lelaki itu sudah bangun dari tadi, semenjak Maya menaiki tubuhnya. Akan tetapi, dia tidak tahu harus berbuat apa untuk Maya. Dia juga mulai dilanda kebingungan untuk menjelaskan kejadian semalam kepada Maya. Dari tadi, dia memikirkan kata-kata, dan bagaimana cara mengatakan hal yang sesungguhnya telah terjadi kepada Maya. Dia senang telah mendapatkan Maya. Apalagi telah berhasil mendapatkan mahkota Maya, tapi disisi lain, dia juga tidak tega menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi kepada Maya.

Daffin dilema, rasa cintanya kepada Maya membuat dia buta. Dia menghalalkan segala cara untuk mendapatkan hal yang diinginkan. Posisinya saat ini sangat sulit untuk dimengerti. Dia bukanlah pria yang menikahi Maya. Melainkan dia hanya pria yang tiba-tiba mengawini Maya begitu saja. Saat ini, Daffin tidak ubahnya dari seorang bajingan yang sangat tidak punya harga diri.

"Maafkan aku, May" batinnya lirih. rasa sesal mulai berdatangan menghampirinya.

"Aku tahu, setelah ini kamu akan sangat membenciku." Air matanya menetes membasahi bantal di bawah wajahnya.

"Aku melakukan ini karena aku sangat mencintaimu, May! Aku tidak rela jika orang lain menidurimu untuk yang pertama kalinya." batinnya lagi.

"Semoga setelah ini, kamu mau menerimaku di kehidupanmu kedepannya," harap Daffin yang masih setia dengan posisinya.

"Biarkan Arthur bersama Sella, dan aku berjanji akan menjadi pasangan yang terbaik untukmu. Aku akan membahagiakan kamu, dan memuaskanmu!" ucapnya dalam hati. Sedangkan Maya terus menggodanya di atas sana membuat libidonya naik kembali.

Maya menciumi leher belakang Daffin, menghisapnya penuh semangat, hingga meninggalkan bekas kemerahan di kulit kuning langsat itu. Maya terbakar gairah oleh ulahnya sendiri. Tadinya dia hanya ingin menggoda lelaki yang dianggap sebagai suaminya itu. Akan tetapi, nyatanya kini dialah yang termakan oleh godaannya sendiri. Maya gerah dengan sikap lelaki yang di bawah tubuhnya, yang dia rasa sedang mempermainkannya. Dengan birahi yang menggelora, bercampur kesal yang menggebu-gebu, Maya turun dari punggung Daffin, dan menarik tubuh itu dengan kasar, sehingga tubuh orang yang ada di depannya terbalik menghadap Maya.

Seketika Maya terlonjak kaget. Matanya membulat sempurna, seakan mau copot dari pelupuknya. Maya memundurkan dirinya beberapa jengkal ke belakang menjauhi lelaki yang berada di hadapannya sekarang. Dengan gerakan cepat, Maya menarik selimut untuk menutupi dirinya yang polos, tidak terbalut oleh satu helai benang pun dinkulitnya.

Setelah mengumpulkan semua kesadarannya. Maya mengucek matanya, memastikan kalau dia telah salah lihat. Dia berharap, itu hanya mimpi. Ternyata harapan Maya hanya sebatas harapan. Orang yang ada di hadapannya, memang betul bukan suaminya, tetapi itu adalah orang lain yang sudah dia anggap sebagai seorang kakak selama ini. Maya pun berteriak histeris setelah menyadari kalau dia telah berada di satu kasur yang sama dengan orang lain dalam keadaan telanjang bulat. Maya terus berteriak histeris dengan mengeluarkan semua level suaranya, hal itu membuat Daffin kelimpungan.

"May, tenang! tenang dulu!" Daffin yang sudah kepalang basah, dia bangun dan duduk dengan keadaan masih polos tanpa ada yang menutupi tubuhnya, tidak terkecuali bagian kemaluannya juga tidak ada yang menutupi.

"Ku mohon, May! diamlah! jangan sampai orang-orang pada kesini," mohon Daffin yang mulai merasa terancam.

Daffin mendekati Maya untuk mencoba menenangkan wanita pujaan hati, supaya Maya tidak lagi berteriak memancing orang lain untuk datang ke dalam kamar tempat mereka memadu kasih tadi malam. Namun, yang didekati dengan niat ingin menenangkannya malah semakin berteriak histeris lebih keras lagi.

"Keluaaar! keluaaar ...!" usir Maya dengan menunjuk pintu kamar. Maya berteriak sangat keras hingga kuping Daffin terasa mau pecah.

Maya syok, dan tidak menyangka. Jika, lelaki yang dia goda dari tadi bukanlah suaminya. Melainkan, tetangga yang sudah dia anggap sebagai saudara sendiri.

"Apakah yang bersamaku tadi malam adalah kamu juga?" selidik Maya,  berharap apa yang dia sangkakannya tidaklah benar, dan dia juga ingin Daffin menjawab tidak, untuk pertanyaannya kali ini.

Harapan Maya tidak sesuai dengan kenyataan yang ada, Daffin menganggukkan kepalanya menandakan itu sebuah jawaban atas pertanyaan dari Maya. Daffin menunduk, dia tak berani melihat ke arah Maya yang menangis sejadi-jadinya, dan mengeluarkan sumpah serapah untuk Daffin.

Maya melemparkan apapun yang ada di dekatnya ke arah Daffin dengan suara tangis yang semakin menggelegar. Maya hilang kendali, selimut yang tadi dia buat menutupi tubuhnya sudah jatuh ke lantai.

Maya melangkah penuh emosi ke arah Daffin. "Kamu telah menghancurkan harga diriku, Kamu jahat." Maya memukuli Daffin, tifak memperdulikan lagi tubuhnya masih tertutup oleh selimut, atau tidak.

"Kamu, jahaat! kamu harus menebus ini semua!" Maya memukuli Daffin sekuat tenaga yang dia punya, dia melampiaskan amarah yang begitu besar dalam dirinya.

"Dasar bajingan …." Maya menjambak rambut Daffin. Sehingga yang di jambak meringis kesakitan

"Hina aku sepuas kamu. Aku akui, ini semua salahku." Daffin berusaha melepaskan rambutnya dari cengkraman Maya. "Aku melakukan ini a-," ucapan Daffin terputus karena Maya semakin menarik rambutnya.

"Lepaskan aku dulu, May. Aku akan menjelaskan semuanya!" pinta Daffin memegang bagian kepalanya yang sakit,  terasa rambutnya akan copot di tarik oleh Maya.

"Kita bicara baik-baik dulu, May. Apakah kamu tidak mau mendengar penjelasanku?" Daffin terus berusaha melepaskan diri dari Maya.

Maya mendorong kasar kepala Daffin. "Aku tidak butuh penjelasanmu. Kamu bajingan, kamu binatang yang telah menghancurkan hidupku." Maya kembali mengambil sesuatu yang ada di dekatnya, dia melemparkan benda-benda tersebut ke arah Daffin.

"Dimana Arthur? kamu sekap dimana dia?" tuduh Maya.

"Aku tidak menyekapnya." jawab Arthur di sela emosi Maya.

"Kalau kamu tidak menyekapnya. Lalu kamu apakan dia, sehingga kamu bisa melakukan hal bejat seperti ini kepadaku?" Mendapat pertanyaan seperti itu, Daffin tidak tahu mau menjawab apa. Dia tidak tahu alasan untuk berbohong. Tapi, dia juga tidak mungkin jujur kepada Maya dengan hal sabotase yang dia lakukan di malam pengantin Maya, bersama Arthur.

"Kemana Arthur?" lirih Maya dengan tangis yang tidak mau usai.

"Aku tidak tahu dia kemana, May," jawab Daffin berbohong.

"Bohong. Kamu pasti sudah menjebaknya," tebak Maya.

"Deg!" Jantung Daffin berdegub mendengar tebakan Maya. Apa yang di tuduhkan Maya saat ini adalah benar adanya. Akan tetapi, Daffin selalu mengelak dengan mengatakan dia tidak tahu dimna Arthur berada.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Setelah Malam Pertama

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Aktor Idola Dan Author Barbar
8.4
Erick Adrian merupakan aktor ternama yang memiliki karier cemerlang dan kekasih seorang model cantik. Meski bergelimang harta, ia merasa resah dengan citranya sebagai bintang film dewasa. Hidupnya berubah saat ia terlibat konflik dengan penulis novel bernama Kaemila. Sebuah kecelakaan tragis yang menyebabkan Kaemila lumpuh dan hilang ingatan memaksa Erick untuk bertanggung jawab melalui pernikahan. Akankah Kaemila pulih dan sanggup menerima Erick sebagai suaminya?
Sampul Novel Cinderella Pulang Pagi
8.0
Elaina hancur saat tunangannya berpaling ke wanita lain menjelang hari pernikahan mereka. Meski gagal mengacaukan pesta sang mantan, ia justru bertemu Alister, pria karismatik yang merupakan orang terdekat mantan kekasihnya. Alister hadir membawa warna baru dan siap membantu Elaina membalaskan rasa sakit hatinya. Takdir membawa Elaina ke babak baru yang tak terduga, di mana ia diperlakukan bak putri oleh pria berbahaya tersebut demi sebuah pembalasan.
Sampul Novel Luka Kakiku, Tawa Mereka
8.8
Demi menyelamatkan Yudha, suamiku yang politisi, aku kehilangan kaki dan karier balet. Namun, pengorbanannya sia-sia saat aku memergoki Yudha berselingkuh dengan terapisku, Selvia. Mereka tega menertawakan kecacatanku, sementara ibu mertuaku terus mencaci sebagai beban keluarga. Meski Yudha memujiku di depan publik untuk citra politiknya, kenyataan pahit ini memicu dendam. Tanpa air mata lagi, aku bertekad menghancurkan mereka yang telah mengkhianatiku.
Sampul Novel Omega yang Ditolak: Kesempatan Kedua Bersama Sang Raja
9.2
Tujuh tahun lamanya aku bertahan sebagai pasangan yang ditolak Alpha Kaelan Adhitama demi cintanya pada Livia. Saat aku difitnah mencuri, Kaelan justru menghinaku dan menjebloskanku ke sel perak tanpa ragu. Pengkhianatan itu memutus ikatan kami dan mematikan harapanku. Kini, setelah bebas, seorang Alpha rival menawariku posisi strategis untuk membalas dendam. Aku pun bersiap menghancurkan kerajaan Kaelan demi menebus luka masa laluku.
Sampul Novel Pelabuhan Terakhir
9.5
Caca, yatim piatu yang terasing di rumah pamannya, harus menelan pil pahit saat lamaran Awan ditolak oleh calon ibu mertua karena status sosialnya. Kepergian sang nenek membawanya pada wasiat lama ibunya untuk belajar di pesantren Purwokerto. Di sana, Caca yang ceria dan tomboy menemukan kebebasan menjadi diri sendiri. Namun, pertemuannya dengan seorang rival justru menyeretnya ke dalam konflik perasaan yang tak terduga dan penuh lika-liku emosi.
Sampul Novel Tangisan Terakhir Seorang Istri
8.8
Marcell Wijaya, detektif ternama, tega mengusir istrinya yang hamil di jalan gelap karena menolak mendonorkan ginjal untuk cinta pertamanya, Emilia. Penolakan itu berujung penculikan oleh musuh Marcell yang dendam. Di bawah siksaan kejam hingga lidahnya dipotong, sang istri tak berdaya ketika Marcell mengabaikan telepon penculik demi menemani Emilia di rumah sakit. Saat Marcell akhirnya menyelidiki TKP penemuan jasad wanita hamil yang dimutilasi, ia tidak sadar bahwa korban itu adalah istrinya sendiri.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan