
Sepupu Dan Suami: Cinta atau Dosa?
Bab 2
"Eh iya...," jawabnya gugup, ia terlihat canggung ketika kepergok sedang memperhatikan Bastian. "Aku keluar dulu."
"Kamu disini aja, jaga Nindy . Saya mau mandi dulu!" Cegah Bastian ketika Dini baru akan melangkah keluar.
"Aku, boleh nyiapin baju ganti kamu, Mas?" kata Dini tiba- tiba.
Sebastian menoleh dan mengangguk, tanpa meminta izin kepada Nindy.
"Mas, kenapa gak ambil sendiri aja," protes Nindy karena dia tidak rela, Dini mengambil pakaian suaminya apalagi disana ada barang pribadi yang tidak seharusnya wanita lain tau.
"Seharusnya kamu yang menyiapkan, tapi karena kamu lagi sakit jadi gak apa-apa, kalau Dini bantu pekerjaan kamu, kan!" bantah Bastian sambil masuk ke dalam kamar mandi.
Merasa mendapat persetujuan dari Bastian, kemudian Dini mengambil pakaian Bastian dari dalam lemari. dan menyiapkan semua pakaian termasuk barang pribadi Bastian tanpa canggung. Semua pakaiannya ia letakkan di atas kasur, seolah - olah ia adalah istrinya Bastian.
Tanpa Nindy sadari, kedatangan Dini tidak hanya membawa harapan untuk kesembuhannya, tetapi juga awal dari ujian yang lebih berat dalam hidupnya.
***
Sejak kejadian Nindy jatuh, sakitnya Nindy semakin parah, ia jadi semakin susah untuk berjalan.
Sehingga Dini mulai membantu Nindy untuk mandi dan menyiapkan keperluan Nindy.
Ia juga berusaha memberikan obat tepat waktu, menyiapkan makan dan segala kebutuhan Nindy. Dini juga memberikan jus atau susu, serta buah-buahan segar yang harus dikonsumsi Nindy.
Sudah hampir dua pekan Dini merawat Nindy, tetapi akhir-akhir ini terasa ada yang berbeda. Dini selalu menyuruh Nindy untuk tetap berada di kamarnya dengan alasan kesehatannya, ia tidak boleh terlalu lama berada di ruangan lain. Bila Nindy ingin sesuatu, Dini yang mengambilkannya, sepertinya Dini tidak membiarkan Nindy beranjak dari kamarnya. Dan ini tidak disadari Nindy sejak awal, ia hanya menurut apa yang dikatakan Dini, karena Nindy ingin segera pulih dari sakitnya.
Setiap Bastian pulang bekerja, Dini dengan sigap selalu menyediakan keperluan Bastian dari mulai menyiapkan makannya, membuat teh atau kopi dan tak jarang Dini selalu menemani Bastian makan . Sehingga interaksi keduanya hampir intens, Bastian mulai sering berbincang dengan Dini. Obrolan mereka awalnya seputar kesehatan Nindy, tetapi lama-kelamaan berkembang menjadi hal-hal lain, tentang pekerjaan, hobi, bahkan kenangan masa kecil.
Dini selalu berhasil membuat Bastian tertawa, sesuatu yang jarang terjadi belakangan ini sejak kondisi Nindy memburuk.
Suatu sore, saat Nindy tertidur di kamar, Bastian dan Dini duduk di ruang tamu. Dini meletakkan secangkir teh di atas meja dan tersenyum.
"Kamu kelihatan capek, Mas. Aku ngerti banget gimana beratnya ngurusin orang sakit," kata Dini, suaranya ia buat lembut.
Bastian mengusap wajahnya, menghela napas. "Iya, Din. Aku cuma... kadang merasa nggak berdaya. Aku pengen Nindy sembuh, sehat seperti dulu. Tapi sudah sejauh ini, rasanya aku nggak bisa ngelakuin apa-apa."
Dini menatapnya dengan penuh pengertian. "Mas Bastian udah lakuin yang terbaik kok, berusaha mengobatinya, Nindy itu beruntung banget punya suami kayak Mas Bastian."
Ada jeda sejenak sebelum Bastian menjawab. "Makasih, Din. Aku cuma... nggak tahu gimana kalau suatu hari dia nggak ada."
Dini mengulurkan tangannya, menyentuh bahu Bastian dengan lembut. "Jangan ngomong gitu, Mas. Aku yakin Nindy bakal sembuh. Dan, Mas Bastian nggak sendirian. Aku di sini buat bantu. Mas, mau aku pijat pundaknya? Sepertinya akhir-akhir ini Mas Bastian terlihat lelah."
"Emangnya kamu bisa memijat, Din?" tanya Bastian ragu.
"Kita lihat seberapa enak pijatanku, Mas," ucap nya menggoda.
Bastian tersenyum tipis, meski dalam hatinya mulai tumbuh perasaan yang membingungkan. Ia tahu seharusnya tidak ada apa-apa antara dirinya dan Dini, tetapi kehadiran Dini yang penuh perhatian dan keceriaan mulai mengisi ruang kosong dalam hatinya.
"Ya sudah, aku mau dipijat sama kamu. Kita lihat seberapa enak pijatanmu."
Tanpa menunggu lama, akhirnya Dini mulai memijat pundak dan leher Bastian, bagian kepalanya pun tak luput dari pijatannya, dengan sengaja tangan Dini mengusap lembut punggung Bastian. Kemudian tangannya mulai nakal ia pun mengusap dan merogoh dada bidang Bastian dari arah belakang, yang membuat Bastian menjadi meremang karena sentuhan lembut dari Dini.
**
Keesokan harinya seperti biasa, Nindy sedang duduk di atas kasurnya, Dini masuk kedalam kamar, ia ingin membantu Nindy untuk mandi.
"Mandi sekarang, ya, Nind?" Tanyanya sambil meletakkan sarapan pagi untuk Nindy.
"Mulai sekarang, aku mau makan di meja makan aja, Din. Bosan lama - lama dikamar terus, bisa tambah stres nanti," ucap Nindy agak kesal karena Dini masuk kedalam kamarnya selalu tanpa mengetuk pintu.
"Ya udah, tapi mandi dulu ya!"
"Aku mau sarapan aja dulu, mandinya setelah sarapan aja, toh sebelum sholat subuh tadi aku udah sikat gigi dan bersih-bersih."
"Oh, dibantu Mas Bastian?" Tanya Dini penuh selidik.
"Iya," jawab Nindy singkat.
Tak lama, Bastian keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk saja, Dini menatap Bastian dan tersenyum ke arahnya.
Bastian pun membalas senyuman Dini.
"Sebentar Mas, aku ambilkan kemeja kerjanya dulu," ucap Dini sambil berjalan menuju lemari pakaian.
"Iya, tolong ambilkan kemeja warna navy, ya, Din."
"Iya Mas, sama celananya warna hitam aja ya, Mas?"
"Iya, boleh."
Setelah mengambil baju dan celananya, Dini langsung menyerahkan kemeja itu kepada Bastian. Bastian mengambil kemeja dari tangan Dini, yang tentu saja tangan mereka saling bersentuhan. Dini tersenyum, sambil memperhatikan perut Bastian yang seperti roti sobek itu terekspos sangat jelas, karena Bastian hanya menggunakan handuk.
Tetapi Bastian terlihat tidak merasa risih diperhatikan seperti itu oleh Dini, Bastian malah dengan santai menuju kamar mandi untuk mengganti pakaian nya.
"Din, bawa lagi sarapannya, aku mau sarapan di meja makan aja, aku juga harus banyak gerak, kan? Biar kakiku cepat pulih.
"Oh ya sudah, aku bawa lagi sarapannya ke meja makan," ucap Dini sambil mengambil nampan berisi sarapan dan minum Nindy.
Tak lama Bastian pun keluar dari kamar mandi, sudah lengkap dengan pakaian kerjanya.
"Kalau ada wanita lain di kamar itu jangan pake handuk gitu mas, itu kan aurat," tegur Nindy, memberitahu kalau tadi yang dilakukan suaminya tidak pantas.
"Iya, aku juga gak tau kalau tadi ada Dini disini," sanggah Bastian tak ingin disalahkan.
"Iya, lain kali jangan begitu. Aku rasa Dini itu tertarik sama kamu, Mas."
"Udah, jangan pikiran macem-macem. Aku mau sarapan dulu, kamu masih mau disini atau bareng ikut makan?"
"Aku mau makan di meja makan aja, Mas."
"Ya udah aku bantu jalan yah?" ucap Bastian sambil memegang tangan Nindy.
Karena Nindy berjalan sangat pelan maka Bastian berinisiatif untuk menggendong Nindy.
"Eh, Mas kok di gendong, sih," protes Nindy.
"Soalnya kamu lama. Nunggu kamu jalan pelan gini, Mas, bisa telat berangkat kerja."
Nindy melingkarkan tangannya ke leher Bastian, agar tidak jatuh. Wangi sabun di badan Bastian masih tercium di indra penciuman Nindy, Nindy menyandarkan kepalanya di dada bidang Bastian dan terus menghirup aroma wangi dari tubuh suaminya. Bastian membiarkan Nindy bermanja-manja dengan nya.
Nindy melihat Dini sedang duduk di meja makan, matanya menatap tajam ke arah Nindy dan Bastian dengan mimik yang sulit diartikan.
Bastian mendudukkan Nindy di kursi makan.
"Ini, Mas, sudah aku siapkan sarapan dan tehnya buat Mas Bastian, ucap Dini lembut sambil menyerahkan sarapan itu di hadapan Bastian.
"Iya, terimakasih ya, Din," balas Bastian sambil tersenyum.
"Iya, Mas. Sama-sama."
Dini duduk di samping Nindy, tepat di depan Bastian, sesekali matanya nampak mencuri pandang ke arah Bastian.
Sementara itu, Nadia mulai merasakan sesuatu yang berbeda. Ia mungkin sakit dan lemah, tetapi nalurinya sebagai istri tetap tajam. Setiap kali Bastian dan Nindy berbicara, ada nada dalam suara mereka yang membuat hatinya tak nyaman. Namun, ia menepis perasaan itu, berusaha percaya bahwa suaminya masih setia dan sepupunya tidak mungkin mengkhianatinya.
Bersambung..
Anda Mungkin Juga Suka





