Sampul Novel Cinta Sang Pewaris

Cinta Sang Pewaris

9.4 / 10.0
Nathaniel Albar, pewaris bisnis dingin yang terobsesi pada nama baik, bertemu Alya Nabila, gadis sederhana yang gigih. Awalnya, Nathan terus menguji dan mencoba menjatuhkan Alya setelah insiden wawancara kerja yang fatal. Namun, di balik sikap kerasnya, Nathan memiliki rencana terselubung saat merekrutnya. Ketika masa lalu kelam Nathan terkuak, Alya harus memilih antara cinta atau keselamatan diri. Mampukah ketulusan Alya mencairkan ambisi beku sang pewaris?

Cinta Sang Pewaris Bab 1

Alya Nabila berdiri di depan gedung pencakar langit yang menjulang tinggi, menatap papan nama yang terpampang dengan huruf-huruf emas yang berkilauan: Albar Group.

Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri sebelum memasuki gedung megah tersebut. Ini adalah hari yang penting baginya, ya, hari di mana dia harus membuktikan dirinya dalam wawancara kerja di salah satu perusahaan paling bergengsi di Jakarta.

"Tenang kan dirimu Al! Berikan yang terbaik!"

Dengan jantung yang berdegup kencang, Alya memasuki lobby gedung yang luas dan modern. Lantainya terbuat dari marmer mengilap, sementara dinding-dindingnya dihiasi karya seni mahal. Para pegawai yang berjalan berlalu-lalang tampak berpenampilan rapi dengan setelan jas mahal.

Alya jujur sangat minder dengan hal itu, iya menatap dirinya dari atas hingga bawah, blus putih sederhana dan rok hitam yang ia kenakan terkesan sangat biasa saja, tapi dia segera menepis perasaan itu. Ini adalah kesempatan terakhirnya untuk mendapatkan pekerjaan setelah berbulan-bulan berjuang melamar di berbagai tempat.

"Huft!"

Melelahkan jika hanya membayangkan nya saja bukan?

Setelah iya memberitahukan keperluannya pada resepsionis, Alya diarahkan ke lantai atas untuk bertemu dengan kepala HRD. Namun, saat ia melangkah keluar dari lift, sesuatu yang tak terduga terjadi. Tepat ketika pintu lift terbuka, seorang pria berjas hitam muncul dari arah berlawanan dengan langkah terburu-buru.

Brak!

Tubuh Alya terhuyung ke belakang, dan tanpa sengaja berkas lamaran yang dia bawa terjatuh berhamburan ke lantai. "Maafkan saya!" dia sedikit panik sambil buru-buru memunguti kertas-kertasnya. Namun, pria itu tidak merespons, hanya menatapnya dengan tatapan tajam yang membuat darah Alya membeku seketika.

"Lihat jalanmu," kata pria itu dengan nada dingin.

Alya menegakkan tubuhnya, berusaha menahan rasa malu dan panik yang bercampur aduk. Pria itu terlihat sangat berwibawa, dengan setelan jas yang rapi dan wajah yang tampak sempurna, meski sorot matanya begitu menusuk.

"Saya minta maaf, saya benar-benar tidak sengaja," Alya mencoba menjelaskan dengan nada gemetar.

Akan tetapi, pria itu tidak peduli. "Orang ceroboh tidak punya tempat di sini," katanya angkuh sambil melangkah pergi begitu saja, meninggalkan Alya yang masih berdiam diri seperti patung.

Alya merasa wajahnya memanas, di hari pertama iya begitu sial, tapi dia tak punya waktu untuk meratapi kejadian itu. Dengan cepat, dia memunguti sisa berkas yang berserakan di lantai, mencoba merapikannya kembali. Hatinya berharap insiden tadi tidak akan mempengaruhi peluangnya dalam wawancara.

Setelah menyusun kembali berkasnya, Alya bergegas melangkah ke ruang wawancara yang sudah ditentukan. Ruangan itu tampak mewah dan formal, dengan dinding kaca yang memberikan pemandangan kota Jakarta dari ketinggian. Di meja depan, seorang wanita paruh baya dengan tatapan tegas menunggunya.

"Kamu Alya Nabila?" tanya wanita itu dengan nada datar.

"Ya, Bu. Saya Alya," jawabnya sambil tersenyum tulus, berusaha menyembunyikan kegugupannya.

Wawancara akhirnya dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan standar, Alya berhasil menjawab nya dengan tepat. Akan tetapi, tak lama kemudian pintu ruangan itu terbuka dengan keras. Alya menoleh dan matanya membulat ketika melihat siapa yang masuk. Pria yang tadi menabraknya di lorong, pria yang memandangnya dengan penuh keangkuhan, kini berdiri di ambang pintu dan menatap ke arahnya.

"Pak Nathan, saya tidak tahu jika Anda akan bergabung dalam wawancara ini," kata wanita HRD itu dengan suara yang lebih lembut dari sebelumnya.

Nathan Albar, CEO muda dan pewaris Albar Group, matanya tak lepas dari Alya dengan pandangan yang tak bersahabat. "Saya ingin melihat langsung kandidat yang katanya 'berpotensi' ini," katanya sambil duduk di kursi berhadapan dengan Alya.

Alya merasa tenggorokannya mengering. Ini buruk. Sangat buruk. Dia tidak pernah menyangka pria yang tadi ia tabrak adalah Nathan Albar, orang yang paling berpengaruh di perusahaan ini. Dia mengerutuki dirinya, sangat bodoh sekali.

"Jadi, Nona Alya," Nathan mulai berbicara sambil menyilangkan tangan di depan dada, "apa yang membuatmu berpikir bahwa kamu cocok bekerja di perusahaan kami, setelah menunjukkan betapa cerobohnya kamu beberapa menit yang lalu?"

Deg!

Alya terdiam, mencoba merangkai kata-kata yang tepat. Tapi tekanan dari tatapan tajam Nathan membuat pikirannya kacau.

"Saya... saya punya pengalaman di bidang administrasi, dan saya yakin bisa memberikan kontribusi yang baik untuk perusahaan ini," jawabnya dengan suara yang agak gemetar. Namun tetap percaya diri.

Nathan tersenyum sinis. "Pengalaman administrasi, ya? Tapi kamu bahkan tidak bisa menjaga dokumenmu tetap rapi. Bagaimana aku bisa mempercayaimu untuk menangani urusan perusahaan?"

Alya merasa malu dan marah sekaligus. Namun, dia mencoba menahan emosinya agar tidak kelepasan. "Itu adalah kesalahan yang tidak sengaja, dan saya berjanji hal seperti itu tidak akan terulang lagi."

"Janji?" Nathan mendengus, lalu beralih pada wanita HRD. "Bu Maya, apa benar kandidat ini yang memiliki skor tertinggi dalam tes tertulis?"

"Iya, Pak Nathan. Alya memiliki skor yang sangat baik di semua kategori tes," jawab Bu Maya dengan ragu.

Nathan memutar matanya, jelas tidak terkesan. "Baiklah, Nona Alya. Aku akan memberimu satu kesempatan untuk membuktikan bahwa kau bukan sekadar angka di atas kertas." Ia berdiri, lalu melemparkan sebuah amplop cokelat tebal ke atas meja.

"Di sini ada beberapa berkas penting yang harus diantarkan ke kantor cabang kami di Serpong. Jika kamu bisa menyelesaikan tugas ini dalam waktu dua jam, kamu bisa lanjut ke tahap berikutnya. Gagal, dan kau tak perlu kembali." katanya dengan senyum misterius.

Alya menatap amplop itu dengan bingung. "Tapi... sekarang sudah jam lima sore, dan jalanan pasti macet..."

"Itu bukan masalahku," potong Nathan dingin. "Kamu mau pekerjaan ini atau tidak?"

Alya menggigit bibirnya. Tawaran ini terdengar seperti misi mustahil, tapi dia tidak punya pilihan lain. "Baik, saya akan melakukannya," jawabnya tegas.

"Bagus," Nathan tersenyum sinis. "Kita lihat apakah kamu bisa memenuhi ekspektasi."

Tanpa membuang waktu, Alya mengambil amplop tersebut dan berlari keluar gedung. Dia tahu lalu lintas Jakarta di jam-jam sibuk adalah mimpi buruk, tapi dia tidak akan membiarkan kesombongan Nathan menghancurkan harapannya. Dengan napas terengah, dia memanggil taksi pertama yang lewat dan memberitahu tujuannya ke pengemudi.

Namun, seperti yang sudah ia duga, perjalanan itu menjadi penuh rintangan. Jalanan macet parah, dan detik-detik berlalu dengan cepat sementara jarak tempuh seakan tak berkurang. Alya menggigit kuku, mencoba mencari cara lain. Saat itulah dia melihat seorang pengendara ojek online sedang menepi di tepi jalan.

"Pak, saya harus sampai ke Serpong secepatnya! Tolong bantu saya!" Alya memohon dengan panik pada pengemudi ojek tersebut.

Setelah beberapa detik ragu, pengendara itu mengangguk. "Ayo, Nona, naik! Tenang saja, kita akan mengambil jalan tikus!"

Alya segera turun dari taksi dan berlari menuju motor ojek tersebut. Dengan kecepatan tinggi, mereka menerobos jalanan sempit dan gang-gang kecil, mencoba menghindari kemacetan. Jantung Alya berdetak kencang, bukan hanya karena adrenalin tetapi juga karena beban tugas yang diembannya.

Tepat ketika dia berpikir sudah hampir sampai, motor itu berhenti mendadak karena ada razia lalu lintas. Alya merasakan napasnya terhenti, dan dengan panik, dia melihat waktu di ponselnya. Hanya tersisa 15 menit.

"Pak, kita harus jalan!" desaknya.

"Maaf, Nona. Kalau saya lanjut, SIM saya bisa ditahan," jawab pengendara ojek itu sambil menggeleng.

Alya merasa putus asa. Namun, dia tidak bisa menyerah sekarang. Dengan cepat, dia turun dari motor dan mulai berlari, menembus keramaian jalanan dengan amplop cokelat yang masih tergenggam erat di tangannya.

Dengan napas tersengal dan keringat bercucuran, Alya akhirnya tiba di kantor cabang Albar Group di Serpong. Dia melihat jam dinding-waktunya tinggal 2 menit sebelum batas akhir yang ditentukan Nathan. Dengan sisa tenaganya, dia berlari masuk ke dalam gedung dan menyerahkan amplop itu ke resepsionis.

"Ini untuk Pak Nathan... saya diberi waktu dua jam..." ujarnya terengah-engah.

Resepsionis itu memeriksa amplop tersebut lalu tersenyum tipis. "Anda berhasil, Nona. Saya akan melaporkan bahwa Anda menyelesaikannya tepat waktu."

Alya hampir tak percaya. Dengan rasa lega yang membanjiri dirinya, dia menyadari bahwa dia baru saja memenangkan pertarungan pertamanya melawan Nathan Albar.

"Pekerjaan ini sangat membuat ku tak bisa bernafas!" Batin nya mencoba agar tetap berpikiran untuk tidak resign.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Cinta Sang Pewaris

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Aku Tak Punya Siapapun Lagi
8.3
Menghadapi sisa hidup tiga hari akibat gagal hati akut, seorang istri harus menelan pil pahit saat suaminya, David, memberikan kuota pengobatan terakhir kepada adik angkatnya, Emma. Dianggap lebih pantas hidup, ia pun dipaksa mengalah. Demi menutupi ajal yang mendekat, ia menandatangani surat cerai, menyerahkan perusahaan perhiasan, bahkan membiarkan putrinya memanggil Emma sebagai ibu. Di balik pujian keluarga yang menganggapnya kakak yang baik, sebuah misteri kematian yang tragis siap mengejutkan mereka semua.
Sampul Novel Desain Cinta Kedua
9.4
Tiga tahun Jessica mengabdi sebagai istri, namun pengorbanannya dibalas luka mendalam. Setelah resmi menceraikan Aaron, ia bangkit secara mandiri menjadi desainer ternama dan pengusaha sukses tanpa bantuan harta keluarga. Saat Jessica menikmati puncak karier dan kebebasannya, Aaron justru datang kembali dengan penyesalan besar. Sang mantan suami memohon kesempatan kedua untuk memperbaiki segalanya. Akankah Jessica luluh atau tetap teguh pada pilihannya?
Sampul Novel Diagnosis Kanker di Hari Ulang Tahun Pernikahan
9.5
Delapan tahun membina rumah tangga, Jessica selalu percaya pada alasan pekerjaan suaminya, Rio Aditya, setiap hari ulang tahun pernikahan mereka. Namun, sebuah rahasia kelam terungkap saat Jessica mendengar pengakuan Rio yang berselingkuh dengan Nadia dan berniat menceraikannya karena kehilangan rasa cinta pasca-keguguran. Di hari yang sama, Jessica justru divonis mengidap kanker ovarium stadium akhir. Tanpa dendam, ia pun memutuskan untuk pergi selamanya demi kedamaiannya sendiri.
Sampul Novel En-PD154
9.0
Setelah memenangkan sepuluh laga beruntun di arena, aku justru dikhianati Roderick. Tunanganku itu malah bermesraan dengan cinta pertamanya dan membiarkan wanita itu menghinaku sebagai sosok kasar yang tak berkelas. Kelembutannya kemarin sirna, berganti pengakuan cinta untuk wanita lain di hadapanku. Dengan hati yang mendingin, aku menghubungi ayahku sang bos mafia. Aku meminta pernikahan dibatalkan karena aku ingin mencari pria lain yang jauh lebih layak.
Sampul Novel Jadi Wanita
9.1
Sota adalah pemuda dua puluh tahun yang sangat malas dan pengangguran. Meski cerdas dalam kelicikan, ia hanya menghabiskan waktu dengan gawainya. Hal ini memicu kekhawatiran mendalam bagi ibunya, Artisa. Sebagai wanita pekerja keras yang juga memiliki sisi licik, Artisa bertekad mengubah tabiat buruk putranya secara total. Ia menempuh metode ekstrem dengan mentransformasi fisik Sota. Berhasilkah rencana Artisa mengubah jati diri Sota melalui perubahan tubuh tersebut?
Sampul Novel Kelahiranku, Kematian Ibuku, Dan Kebencian Ayahku
9.7
Disiksa kejam oleh penculik demi melindungi sang ayah, seorang gadis meregang nyawa dalam kesendirian. Di momen terakhirnya, panggilan teleponnya justru ditolak dengan penuh kebencian oleh ayahnya yang sedang merayakan ulang tahun putri adopsinya. Sang ayah mengutuk kelahirannya yang merenggut nyawa ibunya. Jasadnya kemudian ditemukan tragis di depan kantor polisi. Ironisnya, sang ayah yang bekerja sebagai ahli otopsi memimpin penyelidikan tanpa menyadari bahwa korban mutilasi keji tersebut adalah putri kandung yang sangat ia benci.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan