
Sepuluh Tahun Menanti Keturunan
Bab 2
Siang harinya, Lisa membawa bekal ke rumah sakit untuk memastikan suaminya itu mengisi perut saat jam makan siang. Sejak tiba di ruang kerja sang suami, Lisa diminta menunggu.
Arka tak ingin konsentrasinya terganggu untuk menganalisis laporan medis seorang pasien.
"Jadi aku beneran disuruh nunggu aja, nih?" keluh Lisa.
"Bentar, ini juga udah kelar."
Setelah melepas kacamata, Arka bangkit dari duduknya dengan membawa beberapa berkas. Lisa kesal karena suaminya itu sungguh tak bisa lepas dari pekerjaan.
"Makan dulu! Aku gak mau kamu kerja terus!"
Arka tak ingin membantah, hanya mengangguk setuju agar Lisa mulai menyiapkan bekal yang harus disantap di siang hari ini.
"Kerjaanku banyak."
Tangannya malas sekali bekerja. Lisa harus memberikan makan suaminya itu langsung dari tangannya. Lisa pun tak merasa keberatan.
Sangat bahagia bisa melayani suami yang masih setia di sampingnya dengan segala kekurangan yang ada.
"Nanti lagi."
Hanya beberapa suapan saja yang diberikan.
Lisa menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Sepanjang itu, dia hanya melihat Arka kembali sibuk dengan berkas di tangannya.
Senyum nakal pun terbit di bibir Lisa. Jari-jarinya memberi cubitan kecil di leher Arka.
"Sayang!"
Arka menaikkan sedikit bahunya, isyarat geli. Tak bisa diganggu. Lisa ingin menarik perhatian Arka dengan mengambil berkas di tangan suaminya itu.
"Aku lebih penting daripada berkas itu?"
Arka memasang wajah serius. Dia sedikit membungkuk agar bisa menjangkau berkas yang berada di sofa samping Lisa.
"Tentu aja berkas itu lebih penting."
Lisa terkejut mendengar jawaban serius Arka. Suaminya itu kembali membuka berkas sambil melirik Lisa.
"Karena ini akan membantu kita untuk ngasih adek ke Farrel."
Lisa tak mengerti. Arka membuka berkas dan meletakkannya di atas meja. Tubuh mungil itu dia raih ke dalam pelukannya. Matanya berisyarat ke tiap laporan medis di hadapannya.
"Besok pagi habis bangun tidur, langsung test, ya! Atau mau tes sekarang aja ke Dr. Grace?" tanya Arka.
"Pasti bakalan negatif lagi. Sekalipun aku gak sakit, aku udah makin tua. Aku bahkan gak berharap bisa jadi ibu lagi, Ka."
Arka berusaha tersenyum meskipun hatinya sangat miris. Setelah menyapu pipi basah Lisa, bibirnya mengecup lembut dahi sempit itu. Dia ingin meyakinkan Lisa kalau semuanya akan baik-baik saja.
"Maaf karena aku gak bisa jadi suami yang baik. Papaku udah bikin kamu terbebani, ya?"
"Gak, papamu benar. Jangan salahkan dia. Dia cuma seorang ayah yang kesepian di usia tuanya. Dia pengen gendong cucu. Tapi aku ..."
"Kalau hasilnya negatif juga, kita harus beneran program bayi tabung lagi, atau mungkin surogasi," ujar Arka.
Arka mengambil berkas itu dan menunjukkan pada Lisa. Wanita itu membaca sekilas dan tak memahami sepenuhnya.
"Proses bayi tabung bisa dilakukan lagi. Tapi sekarang kendalanya di rahim kamu. Kalau nyatanya kamu bisa hamil nanti, kamu pasti bakalan direpotin untuk semua obat dan segala perawatan. Kamu bersedia?"
"Aku akan lakukan apa pun, Ka. Aku akan jaga baik-baik kehamilanku nanti. Lakukan secepatnya, Sayang."
"Ya udah, baca-baca dulu berkas ini. Aku mau ke toilet bentar."
Sementara Arka di toilet, Lisa masih mempelajari berkas dan tahapan proses bayi tabung itu. Dia bersyukur Arka masih sabar dan setia sampai detik ini.
Bruk! Lisa terkejut saat mendengar suara berisik dari toilet. Dia pun bergegas dan menggedor pintu.
"Sayang, kenapa?" cemas Lisa.
"Gak, kepeleset doang!!!"
Tak lama, Arka muncul sambil mengusap dahinya yang sedikit merah karena membentur sesuatu.
"Aih, makanya hati-hati. Matanya ke mana, sih, sampai bisa terpeleset gitu?" keluh Lisa.
"Udah jatuh pun masih juga diomelin. Jahat!"
Lisa tersenyum dan menarik lengan Arka agar bisa cepat mengobatinya. Arka duduk di sofa saat Lisa mengambil es untuk kompres.
"Makanya, hati-hati!"
"Cerewet, ih! Sakit, nih."
Lisa sedikit terkekeh. Dia mengobati memar di dahi Arka dengan penuh senyuman. Setelah selesai, dia pun keluar ruangan untuk pergi ke kantin.
*
"Jadi kapan, kamu akan memberikanku cucu kandung?"
Siang itu, keributan selalu terjadi saat Papa Frans bicara dengan Arka terkait tuntutan untuk memiliki anak.
"Pa, please."
"Sebelum aku mendapat kabar baik, jangan harap aku akan bersikap baik dan terima bocah yang nggak jelas itu!"
Arka pun mendekat dan memegang tangan papanya. Betapa dia menyayangi Papa Frans, tetapi tak bisa mengabaikan air mata Farrel yang jatuh karena ulah papanya.
"Pa, aku minta maaf. Aku cuma gak bisa ngeliat Papa ngelakuin itu ke Farrel. Dia puteraku, Pa. Aku yang besarin dia. Aku minta maaf kalau semua ini udah nyakitin Papa. Sekarang Papa maunya gimana? Tolong pahami juga posisiku, Pa. Aku ini seorang ayah," pinta Arka.
Papa Frans kembali duduk di sofa saat bisa mengendalikan kemarahan Arka. Putranya itu memohon penuh harap.
"Apa yang Papa inginkan?" tanya Arka.
"Ini tahun terakhir dari tempo yang pernah kuberikan, 'kan? Kali ini aku takkan berbaik hati lagi. Arka, kamu ini dokter. Tentu kamu bisa melakukan apa saja untuk istrimu. Dalam setahun ini, aku menerima kabar kehamilan dari Lisa. Kalau tidak, silakan angkat kaki dari rumah ini. Bahkan aku takkan menganggapmu sebagai anak lagi. Mengerti?"
Arka terkejut mendengar kecam papanya.
Membisu. Papa Frans pergi diikuti oleh Mama Wendi. Lisa pun bingung dihadapkan pada situasi ini. Mendapatkan keturunan, selain karena usaha, tetapi Tuhan-lah yang berkehendak. Bisa apa mereka?
"Sayang, ini gimana jadinya?" lirih Lisa.
Arka tak menyahut, berjalan gontaj meninggalkan Lisa untuk masuk ke kamarnya.
*
Arka sengaja pulang cepat untuk lebih menenangkan Lisa. Beberapa hari sejak ultimatum yang diberikan Papa Frans, istrinya itu terlihat murung. Arka bahkan belum berani menyinggung perihal program bayi tabung itu karena takut mengecewakan Lisa.
"Ehm!"
Suara Arka menyadarkan Lisa. Saat Arka berjalan masuk ke kamar, wanita itu pun bangkit sambil membawa timpukan lipatan yang akan dia masukkan ke lemari.
"Udah balik? Masih juga jam sebelas," kata Lisa tanpa berbalik.
"Gak ada tugas lagi. Rencananya mau makan siang sama kamu."
Arka duduk di kasur dan belum memaksa Lisa untuk duduk di sampingnya. Istrinya itu terlihat sibuk dengan tugasnya, lalu mengambil segelas air untuk dia berikan pada sang suami.
"Bisa bicara sebentar?" tanya Arka.
Lisa mengangguk dan duduk di samping Arka.
"Kamu masih belum mau periksa ke dokter, pakai test pack juga gak mau," kata Arka.
Lisa menunduk. Tangannya mengerat dan menggesekkan dua ujung kukunya untuk membunuh rasa gugup.
"Kita harus lakukan sesuatu. Semua ini demi Farrel juga. Kalau kita berhasil, pasti papa akan bisa terima Farrel seutuhnya," tegur Arka, serius.
Lisa mendekat dan bersandar di lengan hangat suaminya itu. Ketakutan terbesar Lisa saat ini adalah ketika orang-orang yang di sampingnya mungkin akan lelah suatu hari nanti.
"Aku belum siap. Maaf, aku takut dengan semua itu."
"Takut apanya? Proses bayi tabung masih bisa, 'kan? Tingkat keberhasilannya juga tinggi dan ini bukan hal yang diragukan lagi. Kita akan coba sekali lagi."
"Gimana kalau rahimku belum kuat untuk mengandung setelah waktu itu, Ka?"
Lisa melepaskan pelukannya dan menatap Arka. Wajah suaminya itu begitu tegas.
"Terlalu banyak yang kamu takutkan. Bahkan dicoba aja belum, udah mikir ini-itu. Ini bukan yang pertama kalinya kamu ngomong gitu ke aku. Aku juga capek, Lis, kayak berjuang sendirian doang. Kenapa pesimis gitu?"
Lisa tertegun mendengar ketegasan Arka. Suaminya itu meninggalkan kamar dan masuk ke toilet. Yang dikatakan Arka memang benar. Sudah sepuluh tahun terlewati dan Lisa mulai takut kehilangan segalanya sementara dia tak bisa memberi apa pun. Dia meraih figura kecil di atas nakas dan memandang foto keluarga kecilnya. Senyuman Farrel begitu manis. Air matanya jatuh menatap kebahagiaan yang tersemat di sana.
"Papa yang bawa kamu ke sini, dan mama yang merawat kamu sejak bayi, Farrel. Tapi ternyata, kehadiran kamu juga gak cukup untuk papa dan kakekmu. Mereka ingin darah Wijaya yang sebenarnya, dan mama gak bisa mewujudkan itu. Maaf kalau kamu jadi susah juga, Farrel."
Lisa berbaring di kasur dan memejamkan matanya. Rasa sakit itu membawa kenangan masa lalu saat Farrel pertama kali hadir di antara mereka.
Anda Mungkin Juga Suka





