
Sepuluh Tahun Menanti Keturunan
Bab 3
Sembilan tahun yang lalu ...
Suara mesin mobil terdengar jelas dari arah luar. Perhatian para penghuni meja makan pun beralih ketika mendengar suara itu. Papa Frans, Mama Wendi, dan Lisa menghentikan makan siangnya begitu saja.
"Itu kayak suara mobil Arka. Apa tadi Ujang keluar bawa mobil Arka, ya?" seru Mama Wendi.
"Iya, Ma. Tadi Ujang izin mau bawa mobil Arka. Ada yang mau di-service, katanya. Lagian ntar malam, kan, Arka balik dari Taipei," sambung Papa Frans.
"Akhirnya pulang juga, kangen udah dua bulan gak ketemu. Nanti sore aku mau jemput Arka ke bandara. Mama sama Papa ikut, gak?" seru Lisa.
"Kalau kamu mau jemput, ya pergi aja. Kamu istrinya, 'kan? Arka lebih senang kalau kamu yang jemput daripada papanya," ucap Papa Frans, cuek.
Suasana ruang makan mendadak dingin hingga suara ketukan sepatu pun terdengar jelas di telinga. Arka sedang berdiri di sana dengan tas koper hitam di sisinya. Mama Wendi, Papa Frans, dan Lisa bangkit bersamaan.
Mereka tak bisa langsung berlari untuk menyambut kedatangan putra mereka yang pergi dinas dua bulan ini. Mereka meninggalkan meja makan dan berdiri beberapa meter dari Arka yang datang tak seorang diri. Di sisinya ada seorang wanita yang menggendong bayi dan menjinjing tas berisi perlengkapan dan baju bayi.
"Arka?"
Mama Wendi yang lebih dulu mendekat. Dia memperhatikan bayi mungil berkulit kuning langsat itu. Entah dia harus bertanya sekarang, tetapi matanya tak lepas dari Papa Frans.
"Ini ... anak temenku. Dia mengalami kecelakaan dan meninggal. Jadi, kuputuskan untuk merawat anaknya," ungkap Arka.
Papa Frans belum bicara. Melangkah lebih dekat dan meninggalkan Lisa yang berdiri mematung.
"Bahkan sudah setahun dan kamu belum memberiku cucu. Kenapa kamu malah bawa bayi lain ke rumah ini?"
Lisa tak sanggup menahan tuding sinis Papa Frans. Arka pun berjalan mendekati dan menarik lengan sang istri. Dia kembali pada Papa Frans sambil menggenggam jemari Lisa, memaksa Lisa untuk menaikkan pandangannya untuk lebih berani.
"Aku sama Lisa lagi ikhtiar, Pa. Kita gak tau takdir, mungkin setahun atau dua tahun lagi, Tuhan yang mengatur semuanya, Pa. Dan juga, mitosnya, kalau kita ngerawat bayi lain, anggap aja sebagai pancingan. Kita bakalan merawat bayi ini sampai besar. Papa jangan putus asa, ya," pinta Arka.
"Tapi kalian janji bakalan kasih cucu ke papa, 'kan? Papa mau ada Arka kecil yang berlarian di rumah ini. Papa dan mama udah makin tua," ujar Papa Frans.
Senyum pria tua itu mulai terbit ketika mendengar suara tangisan bayi mungil yang berada di gendongan perawat. Arka tersenyum melihat papanya mulai luluh. Dia menatap Lisa dan memberi anggukan agar lebih tenang.
"Kita janji, Pa. Maaf kalau ngecewain Papa. Tapi aku dan Lisa pasti ngasih cucu buat Papa. Kita sehat-sehat aja, kok, tunggu jawaban Tuhan aja," seru Arka.
Matanya tak lepas dan binar kristal Lisa, mengatakan bahwa dia percaya takdir akan berbaik hati pada mereka.
Pria tua itu mendekat pada perawat, diiringi sang istri. Tangannya menyentuh pipi bayi mungil itu dan mengusapnya.
"Cup-cup, jangan nangis, Cantik," kata Papa Frans.
"Itu anak cowok, Pa," sela Arka sambil tersenyum.
Papa Frans keki. Dia meminta bayi itu dari tangan perawat untuk digendong sendiri. Mama Wendi pun merasa gemas dengan pipi chubby malaikat kecil itu.
"Ah, imutnya, kirain tadi cewek. Pas banget, deh, kamu bakalan opa rawat supaya jadi penjaga adek kamu nanti. Harus jadi kayak opa, ya!" kata Papa Frans.
"Jangan, Pa! Nanti dia galak kayak kamu, mama gak mau," imbuh Mama Wendi.
Tawa kecil mengiringi mereka. Ajaibnya, tangisan malaikat kecil itu justru berganti senyum kecil di bibirnya. Tawa tanpa suara yang membuat Papa Frans luluh.
"Kasih nama siapa, ya?" seru Mama Wendi.
"Namanya Farrel, Ma!" sahut Arka.
Arka mengajak Lisa untuk lebih dekat pada kedua orangtuanya. Dia ingin meyakinkan Lisa bahwa wanita akan menjadi ibu bagi si kecil Farrel.
"Nama yang bagus, 'kan?" seru Arka.
Setelah keluarga itu puas dengan candaan dan lampiasan rasa gemas mereka pada si kecil Farrel, Arka menggendong Farrel bersama Lisa di sisinya. Wanita itu masih mematung di pintu saat Arka membaringkan Farrel di kasur. Dia tersenyum sangat indah sambil mencubit pipi Farrel.
"Ini papa, Sayang. Itu mama kamu," ujar Arka sambil mengarahkan pandangan pada Lisa.
Ditatap seperti itu, Lisa mulai mendekat dan duduk di kasur. Tak bisa dia abaikan kebahagiaan suaminya. Betapa Arka sangat menyukai anak kecil, bahkan selalu menghabiskan waktu kosong di bangsal anak di rumah sakit. Ada bayi kecil yang hadir di rumah mereka sekarang. Lisa tak menolak, hanya merasa semakin sedih jika suatu saat hanya Farrel yang berada di antara mereka.
"Jaga Farrel dan besarkan dia seperti anak kita sendiri, Lis. Suatu saat kita juga punya anak. Mungkin Tuhan akan mengabulkan doa kita kalau kita merawat anak ini."
Lisa mengangguk tanpa bicara. Bayi mungil itu tidak cengeng saat Arka terus mengusap kepalanya. Dia mulai beradaptasi dengan tangan ayahnya.
"Matanya bulat banget, cantik. Dia ... mirip ibunya, mirip banget," kata Arka.
Lisa menatap Arka tanpa mengajukan pertanyaan apa pun. Dia hanya butuh penjelasan dan Arka bisa menjawab tanpa harus bertanya.
"Janji sama aku, jaga dan sayangi Farrel. Dia akan jadi malaikat di rumah ini sebelum datang malaikat kecil kita, ya!" pinta Lisa.
Tawa kecil Farrel mampu menerbitkan senyum di bibir Lisa. Arka meninggalkan Lisa berdua saja dengan Farrel. Tangan wanita itu mulai menyentuh lembut kulit halus sang bayi. Dia pun berbaring di sisi Farrel dengan jari telunjuknya yang ada di genggaman si kecil.
"Farrel anak mama, 'kan? Farrel di sini aja mulai sekarang," kata Lisa.
Air mata Lisa jatuh saat memejamkan mata. Mungkin bukan sekarang, Tuhan akan memberikannya bayi mungil yang lain dan itu akan terlahir dari rahimnya sendiri.
*
Lisa membuka mata saat sebuah kecupan membangunkan dirinya dari ingatan akan masa lalu sembilan tahun lalu. Arka sudah duduk di kasur, tepat di sampingnya.
"Aku minta maaf karena tadi ngomong kasar sama kamu. Kita harus tetap sama-sama. Jangan takut, aku gak akan ninggalin kamu," kata Arka.
Lisa segera memeluk pinggang Arka. Kepalanya tenggelam dalam bidang dada sang suami, menikmati irama detak jantung yang berdegup berirama. Sangat hangat.
"Aku akan berusaha, Ka. Tapi berjanjilah, kalau suatu saat kenyataan buruk itu memang terjadi, jangan lepaskan Farrel demi aku. Jaga Farrel dan tinggalin aku. Biarkan Farrel tetap di sini dan cari seseorang yang bisa wujudkan keinginan papamu."
Arka melepaskan pelukannya dan menatap mata sedih sang istri. Wanita itu menangis terisak, menyayat hati.
"Kalau memang itu terjadi, aku gak akan ninggalin kamu!" kata Arka sambil menghapus air mata Lisa.
Arka tersenyum. Raut tak peduli terbias dan bangkit dari duduknya. Dia meraih sebotol air dingin dari dalam kulkas dan menenggaknya.
Setelahnya, didekatinya meja berkas dan meraih beberapa lembaran penting di sana. Meneliti berkas itu dan masih serius bicara pada istrinya.
"Kamu harus semangat dan kita ke dokter besok. Aku mau ke sekolahan Farrel dulu."
Arka memperbaiki posisi dasinya agar terlihat lebih rapi. Lisa pun turun dari kasur dan membantu sang suami untuk bersiap.
"Farrel masih pulang dua jam lagi," ujar Lisa.
"Gak apa-apa. Aku mau main aja ke sekolahnya, lihat dia belajar."
Arka tak bicara lagi dan meninggalkan kamar. Masih ada dua jam lagi menunggu Farrel pulang dari aktifitas rutinnya di sekolah.
*
Sudah hampir jam dua belas ketika Arka menatap arlojinya. Dia duduk di kantin sekolah dan sudah menghabiskan segelas teh manis hangat. Betapa dia selalu tersenyum melihat anak-anak kecil yang berlarian saat jam istirahat tadi. Tak lama, ponsel-nya berdering karena ada panggilan dari rekannya.
"Ya, dr. Grace?" sahut Arka.
"Dok, kenapa belum juga periksa ke sini? Nyonya Lisa sudah pernah melakukan terapi, saya rasa kondisi rahimnya sudah lebih baik."
"Saya sudah bujuk dia. Besok kami akan ke sana."
"Saya tunggu!"
Arka meletakkan kembali ponsel-nya. Dia tenggelam dalam lamunan sebelum dikejutkan oleh tepukan seseorang yang menghantam kepalanya.
"Pak Dokter!" seru pria itu.
Arka berwajah kesal ketika menatap pria yang duduk di depannya. Senyum yang sangat manis dengan kumis tipisnya. Sebuah pluit tergantung di leher dan seragam training miliknya. Reza, sahabatnya. Pria itu mengusap kepala Arka.
"Jangan lakuin itu! Gak sopan! Kita udah tua," omel Arka.
Reza tertawa. Dia pun mencomot stick kentang Arka dari piringnya.
"Kita? Lo itu yang udah tua, udah jadi suami orang, udah bapak-bapak juga. Gue masih si single tampan dan berjaya di usia matang gue," angkuh Reza.
Arka tertawa kekeh. "Hm, iya-iya. Bilang aja 'lajang tua yang lapuk,' Za!"
"Lo ngapain di sini? Gak kerja?"
"Gue mau jemput Farrel."
Raut Reza berubah jadi serius saat menyadari kesedihan Arka. Temannya itu menatap ke arah kelas Farrel.
"Iya, seminggu ini gue juga liat Farrel gak semangat waktu jam gue ngajar olahraga. Ada masalah sama dia, Bro?"
Arka mengangguk. Satu helaan napas terhela beriring senyum miris.
"Bokap gue terus aja bilang ke Farrel kalau gue bukan ayahnya. Farrel pasti bingung."
"Suatu saat Farrel memang harus tau kalau dia bukan putera lo."
"Tapi, Za, gue gak mau kehilangan Farrel."
Bel usai pelajaran pun berdering keras. Jarak kelas dan kantin tak begitu jauh. Tawa ceria anak-anak polos itu mulai terdengar dan mereka berhamburan keluar. Arka melambaikan tangan pada Farrel yang celingak-celinguk menunggu jemputan.
"Papa!"
Wajahnya sangat bahagia saat papa tersayangnya itu menjemput.
Farrel berlari untuk bisa berhambur dalam pelukan Arka. Bidang bahu lebar papanya itu menenggelamkan rasa rindunya.
"Papa jemput aku? Gak kerja?" tanya Farrel.
"Hari ini pulang cepat. Kangen sama papa, gak?"
"Kangen!"
Setelahnya, Arka memanggil Farrel setelah tiba di samping mobilnya. Perjalanan menjadi lebih panjang ketika suara canda terdengar mengiringi.
*
Papa Frans dan Mama Wendi sudah menghadapi hidangan siang hari, tetapi Lisa gelisah menunggu Arka dan Farrel yang tak kunjung datang.
"Mereka masih lama pulangnya?" risau Papa Frans.
"Mungkin macet, Pa. Mama sama Papa makan duluan aja. Nanti Arka sama Farrel makan bareng aku."
Lisa beranjak dan duduk santai di beranda. Ponsel di saku menjadi alternatif saat ini. Ada pesan masuk dari Arka.
[Aku lagi bawa dia jalan-jalan makan ice cream. Jangan cemburu, ya! Makan duluan aja. Kalau aku pulang kamu belum makan, aku yang akan makan kamu!]
Lisa tersenyum membaca pesan suaminya itu.
Anda Mungkin Juga Suka





