
SELAKSA KISAH ANAK MANUSIA
Bab 3
Parmin menengok ke arah jam dinding. Pukul sembilan lebih tiga puluh lima menit dan tamu pertama Parmin sudah datang. Pasangan suami istri yang membawa dua anak kecil. Mereka berempat terlihat sangat berbahagia."Sehat, Pak?" tanya Arif, anak kedua Parmin. Dia menyalami dan mencium tangan Parmin. Istri Arif yang bernama Nungki dan dua anak Arif juga melakukan hal yang sama. Mereka mencium tangan Parmin dengan takzim."Alhamdulillah, sehat, Rif. Kamu dan keluarga juga sehat, kan?" tanya Parmin. Arif mengangguk dan segera duduk di kursi yang ditunjuk oleh Parmin."Ada acara apa, Pak? Kok bapak minta semua berkumpul di sini?" tanya Arif. Parmin tersenyum."Ada syukuran. Nanti akan bapak beritahu kalau semua sudah datang," jawab Parmin. Arif mengangguk takzim."Pesan makanan dulu, ya? Nanti pesan lagi tidak masalah," kata Parmin dan melambai kepada pelayan. Arif membeliak tak percaya. Dia memandang ke arah bapaknya dengan heran dan bingung. Arif merasa bapaknya tidak seperti biasanya. Hari ini bapaknya sangat nganeh-nganehi.****Menjelang pukul sepuluh, tamu-tamu Parmin berdatangan. Tamu kedua Parmin adalah anak pertama Parmin. Sulastri dan tiga orang anaknya yang sudah remaja."Mas Irawan sedang di luar kota, Pak," kata Sulastri setelah mencium tangan Parmin, "Insya Allah akhir pekan ini kami mau ke rumah bapak," lanjut Sulastri, kemudian dia tersenyum lebar.Parmin juga tersenyum. Dia paham maksud Sulastri. Sebenarnya Sulastri sudah lama menanyakan hal 'itu', Parmin masih ingat, tetapi dia mendiamkan saja. Parmin menunggu Sulastri dulu yang menanyakan hal itu padanya.Parmin melihat Sulastri yang semringah bersalaman dengan keluarga Arif. Mereka saling tertukar kabar. Parmin tersenyum samar. Ah, semua hanya sandiwara saja.****Tamu ketiga Parmin membuat Parmin bergidik. Seorang wanita setengah baya yang cantik jelita. Wanita itu berkebaya dan sanggul besar. Marini.Mantan istri Parmin. Masih seperti dulu. Marini selalu cantik tak terperi. Kecantikan yang klasik dan tak tertandingi oleh siapapun. Parmin hanya terdiam ketika Arif dan Sulastri menyambut ibu mereka. Ah, siapa yang bisa menafikan cinta anak kepada ibu dan cinta ibu kepada anaknya. Parmin tersenyum. Untuk hal ini Parmin tidak bisa ikut campur, jadi dia membiarkan reuni ibu dan anak itu selesai, hingga Marini mendekatinya sendiri.Marini tersenyum di depan Parmin. Warna bibirnya merah manyala, agak kurang sesuai dengan kulit wajahnya yang sudah dihiasi banyak guratan pengalaman hidup. "Kamu masih mau bertemu denganku?" tanya Marini dengan nada setengah mengejek. Parmin tertawa hambar. Dia menggeleng."Kurasa kita harus bertemu. Mungkin untuk yang terakhir kalinya," jawab Parmin. Marini tertawa dan mengangkat bahunya."Suka-suka kamu lah," kata Marini pendek dan duduk di samping Sulastri. Tak lama mereka berdua --Sulastri dan Marini-- terlibat pembicaraan yang hangat.Parmin tersenyum. Dia tidak terlalu memedulikan Marini lagi. Dia dulu pernah tergila-gila dengan Marini. Sekarang tidak lagi. Sekarang Parmin harus menjaga dirinya sendiri dari jerat kepalsuan Marini.****Pukul sepuluh lebih lima menit.Tamu-tamu terakhir Parmin berdatangan. Anak ketiga dan keempat Parmin. Anita dan Hilman. Anita baru saja menikah, dia datang dengan suaminya, seorang pria tampan yang masih nampak malu-malu. Hilman baru lulus kuliah dan baru saja mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan besar di ibu kota.Hilman sangat suka bertemu dengan ibunya. Marini nampak berkaca-kaca melihat anak bungsunya yang sudah bertumbuh menjadi pria dewasa. Dan seperti dugaan Parmin, Marini menanyakan hal yang tak terduga."Kowe wis nduwe pacar urung, Man? (Kamu sudah punya pacat belum, Man?)" tanya Marini dengan wajah semringah. Dia memeluk lengan Hilman dengan sukacita. Hilman tertawa."Ah, ibuk masih seperti itu, lo. Hilman mau kerja dulu, mau nabung dulu, baru pacaran," jawab Hilman dengan tersipu malu. Parmin tidak mengindahkan lagi percakapan Marini dan Hilman. Parmin melihat ke arah jam dinding lagi. Dia tersenyum.Pukul sepuluh lebih lima belas.Waktu yang tepat. Dia berdiri, mengagetkan semua orang yang duduk di meja besar melingkar di depannya. Anak-anak, menantu, cucu dan mantan istri Parmin melihat ke arah Parmin.Parmin tertawa kecil."Bapak mau ke kamar kecil dulu, ya? Setelah ini bapak beritahu kenapa kita berkumpul di sini," kata Parmin.Terdengar dengungan mengiyakan perkataan Parmin tadi. Parmin tersenyum dan segera meninggalkan keluarganya. Dia tahu semua mata memandang ke arahnya dengan penuh kebingungan.****Parmin tidak menuju kamar kecil. Dia berjalan menuju ke tempat parkir kendaraan dan segera memasuki mobilnya yang ada di bagian paling jauh dari tempat parkir itu.Parmin mengeluarkan HPnya dan mengaktifkan aplikasi perekam yang ada di HPnya, yang disambungkan dengan sebuah perekam kecil yang ditinggalkan di bawah meja tempat keluarganya berkumpul tadi."Bapak mau menikah lagi?" Suara Sulastri, disambut dengan tawa anak-anak Parmin yang lain."Mana ada wanita yang mau dengan lelaki miskin seperti bapak. Bapak masih seperti dulu, kan? Masih membosankan." Suara Hilman yang sekali lagi disambut dengan tawa saudara-saudaranya yang lain."Eh, ngomong-ngomong bapak ngajak kita makan di sini untuk apa? Apa bapak punya uang untuk membayar makanannya? Tadi bapak udah nyuruh kita pesan duluan, kan?" tanya Arif."Jangan-jangan bapak pergi karena nggak punya uang?" Anita yang berbicara.Tawa lagi. Berderai-derai. "Eh, sudah-sudah. Nanti bapakmu denger, lo. Pesan saja sekalian yang mahal. Nanti kalau bapakmu memang benar-benar pergi, aku saja yang bayar." Marini. Dia masih seperti dulu dan anak-anak Parmin juga masih seperti dulu, masih lebih menyukai ibu mereka daripada Parmin.Dada Parmin berderak tak kuasa menahan tangisnya. Kalimat demi kalimat yang mengalir dari lisan keluarganya, benar-benar membuat Parmin tercengkeram oleh rasa sakit hati yang tak berujung. Dia tak bisa menghadapi keluarganya sendiri. Air mata berebutan keluar dari matanya. Parmin terisak. Dia menjerit tertahan. Kalimat-kalimat yang masih terus terdengar itu membuat Parmin mengingat masa lalunya yang begitu pilu dan tak tertahankan. Kesedihan yang mencekam sanubarinya, mencengkeram jiwanya yang rapuh.Parmin mencengkeram setir mobilnya dengan erat, hingga ujung-ujung jarinya berubah menjadi putih. Dia menggertakkan giginya kuat-kuat dan menjalankan mobilnya perlahan. Parmin berusaha tenang. Agar rencananya bisa berjalan lancar dan sesuai dengan harapan. Parmin tersenyum samar. Pria paruh baya itu bisa melihat keluarganya duduk di kursi paling depan di sebuah resto tempat Parmin bekerja dulu. Menurut suara yang didapat Parmin dari rekamannya, mereka sedang tertawa bahagia, sedang berbicara ngalor ngidul melepas rindu ... tetapi bukan rindu kepadanya.Parmin tersenyum. Mereka tidak tahu ....****Sita tersenyum melihat keluarga besar yang sedang bercengkerama itu. Seorang wanita sepuh yang nampaknya adalah seorang bangsawan duduk di kelilingi anak-anaknya. Mereka tertawa bahagia melepas rindu."Bapak dan ibunya sudah cerai, Ta, dulu mereka semua tinggal dengan sang bapak dan sang ibu pergi ke luar negeri dengan suami barunya." Sita menoleh ke arah Riko, manajernya. Sita mengerutkan keningnya."Kok Bapak tahu?" tanya Sita penasaran. Riko tertawa."Dulu waktu pertama aku masuk ke sini Pak Parmin bekerja di sini. Yang sedang kamu lihat itu keluarga pak Parmin. Dulu dia selalu membawa anak-anaknya ketika bekerja, karena sang ibu sudah pergi ke luar negeri," jawab Riko.Sita membeliak. Wajahnya menunjukkan rasa tidak percaya sekaligus iba. Riko tertawa lagi."Waktu itu memang waktu paling berat bagi Pak Parmin. Untunglah manajer di sini dulu memperbolehkan Pak Parmin membawa anak-anaknya dan bahkan memberi tempat untuk anak-anak Pak Parmin ketika beliau bekerja." Riko tersenyum. "Tetapi sekarang Pak Parmin sudah berhasil. Anak-anaknya sudah sukses semua, sudah bekerja semua. Beliau benar-benar seorang bapak yang berhasil mendidik anak-anaknya."Sita mengangguk, menyetujui perkataan Riko. Kalau dilihat sekarang sepertinya anak-anak Pak Parmin sudah mapan dan nampak bahagia."Pak Parmin kerja di mana sekarang, Pak?" tanya Sita."Kalau tidak salah Pak Parmin memiliki sebuah toko roti kecil di ujung kota. Nama tokonya Marini, sama seperti nama mantan istrinya. Datanglah ke sana kalau kamu luang. Roti dan kuenya lumayan enak, kok." Riko tersenyum lagi. Dia melongokkan lehernya dan seperti mencari sesuatu. Sita mengikuti apa yang dilakukan Riko."Ada apa, Pak?" tanya Sita."Aku sedang mencari Pak Parmin. Ke mana dia?""Sepertinya tadi keluar, Pak ...."Sita belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika terdengar suara benturan yang sangat keras. Sinta melihat dengan jelas ketika mobil kijang itu masuk ke dalam resto dan mengarah langsung kepada keluarga Parmin yang sedang berkumpul.Sinta menjerih histeris ketika melihat pemandangan yang sangat mengerikan dan tampaknya tak terlupakan. Pemandangan memilukan dan menyesakkan dada, ketika mobil itu menghancurkan apapun yang ada di depannya tanpa sisa. Mobil kijang itu seakan hendak menghapus seluruh keluarga Parmin --yang tadi sedang tertawa dan bercengkerama-- dari muka bumi ini.Ah, ya, mungkin hanya menyisakan kesedihan, kebingungan dan trauma. Trauma yang membekas begitu dalam di dalam hati siapa pun yang melihat kejadian mengerikan dan mengenaskan itu.Sita tidak benar-benar menyadari apa yang terjadi. Semua terlihat begitu lambat bagi Sita. Dia melihat orang-orang berlarian ke sana ke mari, Sita mendengar jeritan dan teriakan histeris. Sita hanya bisa diam dan membeku di tempatnya. Sita hanya terdiam dan membeku di tempatnya berdiri. Dia melihat seseorang keluar dari mobil kijang hitam itu. Oh! Sita menyadari bahwa pria itu adalah Parmin. Bapak dari keluarga yang sedang bergembira tadi. Berarti ... berarti ... Parmin lah yang menghilangkan, menghapuskan dan memusnahkan keluarganya sendiri ....Sita melihat pria sepuh itu tersenyum puas. Dia berbisik lirih."Selesai sudah ...."****Hari yang melelahkan. Parmin melepaskan apronnya dan tersenyum lega. Akhirnya hari panjang yang dihabiskannnya di dalam dapur sempit itu selesai sudah. Parmin berniat untuk pulang dan beristirahat sebelum besok dia kembali lagi ke dapur kecil itu."Mas, sudah mau pulang?" Parmin terlonjak ketika melihat seorang pria muncul dari balik pintu dapur. Pria itu adalah manajernya yang bernama Rudi. Dia tersenyum melihat Parmin terkejut."Maaf, Mas. Kalau Mas Parmin belum mau pulang, saya mau minta tolong dulu," kata Rudi lagi. Dia nampak agak sungkan. Parmin tersenyum. Dia sudah paham maksud Rudi."Ada tamu lagi, Pak?" tanya Parmin. Rudi mengangguk, dia terlihat agak ragu. "Iya, Mas. Ada saudara sepupu saya. Dia baru sampai dari luar kota."Parmin mengangguk."Siap, Pak. Segera saya masakkan sesuatu," kata Parmin, dia segera memakai apronnya lagi dan mulai menyiapkan bahan-bahan yang akan dimasak. "Makasih, ya, Mas," kata Rudi, "biar saya suruh anaknya mbantu sekalian," lanjut Rudi lagi. Parmin terkejut dan buru-buru menggeleng. "Jangan! Jangan, Pak. Saya bisa masak sendiri," kata Parmin. Rudi tertawa."Tidak apa, Mas. Biar anaknya juga bisa belajar masak. Rencananya dia mau kerja di sini," kata Rudi, dia segera keluar dari dapur dan masuk kembali dengan membawa seorang wanita yang nampak lusuh dan kurus kering. Dan wanita itu bernama Marini.Marini.Saat itulah pertama kali Parmin bertemu dengan Marini. Saat itu Parmin menganggap Marini cantik, hanya kurang terawat saja. Kulitnya terlihat begitu dekil dan rambutnya kusut masai kemerahan. Parmin iba melihat Marini. Dan kehidupan Parmin berubah seratus delapan puluh derajat setelah bertemu dengan Marini, gadis kumal itu berhasil menjungkir balikkan kehidupan Parmin."Aku minggat dari rumah, Mas. Orang tuaku ada di Belanda. Mereka bangsawan dan melarangku melakukan ini itu. Aku bosan dikekang terus. Akhirnya aku memilih pergi dari rumah," kata Marini, setelah dia dan Parmin sudah cukup akrab, setelah Marini bekerja di dapur dengan Parmin."Eh, la kok bosan memangnya kenapa, Mbak? Kan, enak jadi bangsawan," kata Parmin polos. Marini tersenyum. Matanya berkaca-kaca dan perlahan air mata bercucuran di pipinya."Itu kan, kelihatannya saja, Mas. Jadi bangsawan itu banyak sekali peraturannya. Aku muak. Aku bosan dan aku mulai memberontak," kata Marini dengan lugas, "aku melanggar semua peraturan. Aku mulai salah bergaul, aku mulai melakukan banyak hal buruk. Salah satunya Rudi. Rudi itu bukan saudaraku, Mas. Dia pacarku." Marini diam lama. Dia menunduk dengan air mata yang bercucuran tiada henti. Ah, tangis dalam keheningan adalah tangis yang sangat mengiris hati. Parmin diam dan menunggu."Jadi ... jadi Mbak Marini ke sini karena akan kawin lari dengan Pak Rudi?" tanya Parmin hati-hati, "eh ... anu, ding ... maaf ... maaf, bukan itu maksud saya. Maksud saya Mbak Marini ke sini untuk menenangkan diri?" ralat Parmin dengan wajah takut. Marini mendongak. Dia tersenyum geli dan lama kelamaan dia tertawa. Marini menghapus air matanya dan tertawa semakin keras."Nggak usah minta maaf, Mas. Aku nggak akan mungkin kawin lari dengan Rudi. Orang tua Rudi itu orang yang lempeng, orang yang lurus dan tidak neko-neko, mereka Rudi tidak bisa berbuat apa-apa, jadi Rudi hanya menampungku saja," kata Marini. Dia tersenyum hambar dan sedih. Air mata membayang lagi di mata Marini."Aku hamil, Mas. Hamil dengan entah siapa. Rudi kasihan padaku, tetapi Rudi bilang, dia tidak akan mungkin menikahiku kalau sudah hamil. Rudi mau menanggung semua biaya kehidupanku dan anakku kelak, tetapi Rudi tidak mau meyakinkan keluarganya untuk menerimaku ...." Sekali lagi Marini menangis dalam keheningan. Dia memandang Parmin dengan lelehan air mata di pipinya."Aku diminta bekerja di sini agar aku punya uang dan bisa mencari rumah untuk kutinggali. Nanti semua biaya persalinan dan biaya anak kami akan ditanggung oleh Rudi, padahal Rudi bukan bapak anak ini ...." Marini memandang Parmin hampa. Air matanya sudah berhenti, tetapi Marini masih terlihat sangat sedih dan terluka."Aku hanya wanita buangan, Mas. Aku wanita yang tak berharga," bisik Marini perlahan. Kata-kata Marini itu terngiang-ngiang di telinga Parmin terus menerus. Parmin tidak bisa melupakan wajah sedih dan air mata tanpa suara Marini. Kesedihan yang membayang di wajah Marini membuat Parmin tak berdaya. Dia merasa harus membantu Marini, tetapi tentulah Marini yang anak bangsawan tidak akan mau menerima dirinya yang hanya orang biasa ini.Setiap hari Parmin bertemu dengan Marini tanpa pernah bisa melakukan apa-apa. Parmin hanya bisa melihat Marini dari kejauhan, karena kadang-kadang Rudi dan Marini nampak berbicara dengan intim dan hal itu membuat Parmin sangat cemburu. Diam-diam hati Parmin terbakar api kemarahan yang membara.Dalam keheningan Parmin melakukan cara lain untuk membuat Marini jatuh cinta padanya. Dia mulai menebar benih-benih Winih Tresna --yang diambil dari spora jamur-- di atas makanan dan minuman Marini, agar Marini jatuh cinta padanya. Parmin menunggu. Lama. Hingga menjelang Marini melahirkan. Tiba-tiba saja Rudi menghilang dan Parmin lah yang menolong Marini. Dia membawa Marini ke klinik bersalin dan membayar semua biaya yang dibutuhkan Marini. Parmin tidak pernah mengungkit tentang kondisi Marini ataupun tentang Rudi ataupun apa yang akan terjadi setelah Marini melahirkan. Parmin pasrah dan menurut pada apapun yang akan dilakukan Marini padanya. "Maukah Mas Parmin menikahiku?" tanya Marini setelah anaknya lahir. Bayi perempuan yang sehat dan sempurna. Mendengar pertanyaan itu Parmin tersenyum bahagia. Dia mengangguk, hatinya berbunga-bunga. Usahanya selama ini berhasil. Parmin berhasil membuat Marini jatuh cinta padanya.****Waktu terus bergulir.Satu persatu anak Parmin dan Marini lahir ke dunia ini. Parmin, yah ... Parmin masih begitu-begitu saja. Tidak berubah, karena Parmin adalah pria sederhana yang tidak neko-neko dan menerima takdir kehidupannya dengan lapang dada. Parmin masih menjadi koki di sebuah restoran kecil di kotanya. Dia masih memiliki penghasilan yang sama dengan penghasilannya sebelum bertemu dengan Marini. Ah ... Parmin memang lelaki sederhana yang tidak bisa memuaskan Marini, yang selalu ingin ini itu tanpa henti. Parmin tidak bisa memuaskan Marini yang bergejolak tiada tara. Mungkin kalau dibandingkan Parmin itu air danau yang tenang dan menenangkan, sementara Marini adalah air yang mendidih, selalu bergejolak dan tidak pernah diam di satu tempat. "Mas, kenapa Mas Parmin tidak pernah mencari pekerjaan lain dengan uang yang lebih banyak? Masak dari dulu sampai sekarang uang belanjanya segini terus?" Marini berteriak dengan emosi yang membara. Dia melemparkan uang yang diberikan Parmin padanya.Parmin berkedip beberapa kali, memandang ke arah wanita yang sangat dicintainya itu. Wanita yang dikejarnya, bahkan sampai menggunakan cara-cara yang tak semestinya. Parmin tersenyum samar. Sepertinya pelet yang digunakannya sudah tidak manjur lagi, sudah luntur dan sudah tak berbekas di hati Marini.Ah ... sedihnya ....Dan Marini pun pergi. Entah ke mana. Sehingga pagi itu Parmin dibangunkan oleh tangis Hilman dan Anita. Dia kebingungan dan panik. Dia mencari Marini, tetapi Marini tidak ada di mana pun. Parmin memeriksa lemari baju Marini. Kosong. Tak ada sisa satu benda pun di lemari itu. Ah ... sedihnya. Parmin pun menjalani kehidupan sebagai seorang bapak tunggal dengan empat orang anak yang masih kecil-kecil. Parmin terus bekerja untuk menghidupi keluarganya, untuk menjamin kelangsungan hidup mereka.Berat sekali. Tetapi Parmin tidak pernah patah semangat.****Semenjak kepergian Marini, Parmin sering bercermin. Berkaca. Melihat guratan kesedihan di wajahnya, untuk menghitung jalur bekas air mata di pipinya. Parmin menangis, meratap di depan cermin, karena ketika melihat wajahnya seakan dia melihat kesuraman masa depan anak-anaknya. Ah, mungkin Marini benar juga. Dia seharusnya mencari pekerjaan lain dengan gaji dan pendapatan yang lebih banyak, sehingga dia bisa mencukupi dan menghidupi keempat anaknya. Parmin menyentuh wajahnya di dalam cermin. Wajah lelah itu tersenyum."Balas dendam itu paling cocok disajikan dingin."Parmin juga tersenyum. Dia menggeleng."Aku tidak mau balas dendam. Untuk apa? Toh, anak-anakku sudah besar, sudah mandiri, sudah memiliki kehidupan mereka sendiri. Marini sudah menikah dengan sesama bangsawan. Aku sudah cukup dengan kehidupan ini."Bayangan Parmin di cermin menggeleng."Kamu yakin? Perjuanganmu sudah sejauh ini ... ah, kamu lupa selalu dilecehkan anak-anakmu?"Parmin terkesiap. Darahnya berdesir dan tubuhnya merasa panas dingin. Parmin ingat. Tentu saja dia ingat bagaimana Sulastri --anak pertama Marini dengan entah siapa-- pulang ke sekolah dengan menangis histeris. Lastri menghentak-hentakkan kakinya ke lantai dengan keras."Aku bosan miskin terus! Aku bosan punya bapak miskin! Aku bosan!" teriak Sulastri. Dia melepaskan sepatunya dan melemparkan sepatu itu begitu saja. Kemudian Lastri masuk ke dalam kamarnya sambil masih menangis dengan keras. Dari luar Parmin bisa mendengar teriakan kecewa dan tangisan Lastri. Teriakan protes pada Parmin karena tidak bisa membelikannya sepatu baru.Lalu adik-adik Lastri mengikuti jejak kakaknya. Mereka mulai memberontak atas kemiskinan yang tidak bisa ditanggulangi Parmin. Ah, waktu itu Parmin hanya bisa memejamkan mata dan menebalkan telinga mendengar bagaimana anak-anaknya menghujat Parmin yang miskin. Mereka menganggap Parmin tak pernah berusaha.Bayangan di cermin itu tersenyum lagi."Masih bisakah kamu bertahan dengan bayang-bayang cemoohan mereka? Orang-orang yang kamu sayangi, orang-orang yang kamu pertahankan sejak dulu? Tidakkah hatimu terluka, Parmin?"Parmin menangis melihat kemarahan bayangannya dalam cermin. Dia menggeleng."Aku mencintai mereka," ratap Parmin. "Aku tahu. Aku tahu cintamu tulus pada mereka. Tetapi apa mereka mencintaimu? Bukankah mereka menggunakan kemiskinanmu untuk memuaskan dan menuntaskan nafsu duniawi mereka?"Parmin terdiam.Dia masih ingat tentu saja, bagaimana Lastri mendatangi rumahnya dengan tergopoh-gopoh untuk meminjam uang karena suaminya tidak pernah mengurusi Lastri dan anak-anaknya karena selalu berjudi. Dan itu tidak hanya terjadi sekali atau dua kali. Parmin tahu siklus Lastri. Dia akan mendatangi rumahnya sebulan sekali, menjelang akhir bulan, untuk meminjam uang atau sekedar meminta beras.Parmin ingat bagaimana Arif harus membayar mahal keluarga dari seorang anak perempuan yang dihamili Arif. Arif memohon-mohon sambil bersujud di kaki Parmin. Dia minta maaf pada Parmin, tetapi dua bulan kemudian Arif digerebeg warga lagi karena ketahuan berbuat mesum dengan seorang wanita di sebuah losmen. Dan kali ini Arif tidak bisa mengelak lagi. Dia dipenjara karena telah menggoda istri orang. Parmin memejamkan matanya. Anita dan Hilman lebih mending dibandingkan kedua kakaknya, tetapi tetap saja mereka selalu menghina Parmin. Selalu melecehkan Parmin. Selalu merendahkan Parmin, bapak mereka sendiri.Parmin kembali menggelengkan kepalanya."Untuk apa aku membalas dendam pada mereka? Bukankah mereka sudah tidak ingin menemuiku lagi? Biar sajalah mereka bahagia dengan hidup mereka sendiri. Aku sudah tidak akan mencampuri urusan mereka lagi."Terdengar dengusan dan kemudian tawa panjang dari dalam cermin. Parmin menunggu tawa itu dengan sabar. Dia menunggu bayangannya dalam cermin untuk bersabar dan kembali normal."Tidakkah kamu ingin melihat mereka menderita? Tersiksa? Berdarah-darah? Tidakkah kamu ingin melihat lisan mereka tercabik-cabik, hati mereka tercabik-cabik, tubuh mereka tercabik-cabik? Tidakkah kamu ingin membalaskan duka laramu selama ini?"Parmin terdiam. Dia memejamkan matanya dan membayangkan tubuh Marini, tubuh Lastri, tubuh Arif, Anita dan Hilman terkapar tak berdaya. Parmin membayangkan darah memancar dari tubuh mereka, membasahi tubuhnya ... dan entah kenapa dia merasa lega ... lega sekali. Dan Parmin pun tahu, dia harus segera menyelesaikan dendamnya agar tidurnya bisa nyenyak lagi.Parmin tersenyum. Bayangannya dalam cermin pun tersenyum bersamanya."Kapan terakhir kamu tidur nyenyak?" tanya Parmin dalam cermin. Parmin menggeleng. Dia tidak ingat.Bayangan itu tertawa mengejek."Kalau begitu cepatlah lakukan pembalasan dendammu. Waktu kita tidak terlalu lama."Parmin mengangguk, walaupun dia tidak paham benar dengan apa maksud perkataan bayangan di dalam cermin itu.****Parmin melihat sekelilingnya. Oh, ya, tubuh mereka sudah hancur semua. Parmin tidak lagi mendengar teriakan dan lenguhan permintaan tolong seperti tadi, ketika dia menjalankan mobilnya. Usaha Parmin menghabiskan tabungannya untuk membiayai perjalanan Marini dari Belanda lunas sudah. Parmin tidak perlu lagi berurusan dengan Marini, dengan Lastri yang mata duitan dan anak-anaknya yang lain, yang selalu merongrong Parmin. Parmin tersenyum ketika beberapa orang polisi mendekatinya. "Pak Parmin?" tanya salah seorang polisi itu. Parmin mengangguk."Njih, Pak?" jawab Parmin. Polisi itu mengucapkan sesuatu yang panjang, tetapi Parmin tidak mendengarnya sama sekali, Parmin tidak memahaminya sama sekali. Parmin tertawa kecil, dia tidak peduli. Dia hanya peduli satu hal."Apa mereka semua sudah mati?" bisik Parmin pada polisi di depannya. Mereka semua terenyak mendengar pertanyaan Parmin. Mereka berpandangan bingung dan sedikit takut."Eh ... anu ... Astaghfirullah ... kami turut berduka cita, ya, Pak. Sepertinya semua keluarga bapak meninggal semua ... kecuali satu orang ...."Parmin menjengit. Wajahnya nampak tegang. "Masih ada yang selamat? Siapa? Mana orangnya?" tanya Parmin histeris. Dia hendak maju mencari orang yang selamat itu. Para polisi itu segera menangkap Parmin, mereka mencegah Parmin melakukan pembunuhan lagi.Parmin berteriak-teriak histeris. Dia meminta polisi untuk melepaskannya, sampai kemudian Parmin melihat seorang pemuda yang menangis terisak di depannya. Oh ... pemuda pemalu itu. Pemuda yang beberapa waktu lalu berjabatan dengan Parmin ketika akad nikah ... ketika pemuda itu menikah dengan Anita. Parmin melihat hancurnya masa depan pemuda itu ....Parmin tersenyum samar. Tubuhnya menjadi rileks dan dia berdiri tegak."Kamu berhak selamat, Nak ... kamu tidak berdosa ...."****
Anda Mungkin Juga Suka





