Sampul Novel Sang Pewaris Pesantren

Sang Pewaris Pesantren

8.0 / 10.0
Dalam novel modern Sang Pewaris Pesantren, Gus Iqbal berjuang menutup hati setelah dikhianati Mafayzah. Namun, kehadiran Neng Lia yang taat mulai mengubah prinsipnya. Baca kisah romance novel ini untuk melihat bagaimana kesetiaan mengobati luka lama di platform read novels online pilihan Anda.
Ringkasan Sang Pewaris Pesantren
Mafayzah awalnya adalah sosok wanita impian yang bertahta di hati Gus Iqbal. Namun, jalinan asmara mereka hancur seketika saat pengkhianatan Mafayzah terungkap, meninggalkan luka mendalam yang membuat Gus Iqbal menutup diri dari cinta. Di tengah masa sulit itu, hadir sosok Neng Lia yang membawa keteduhan. Melalui sikapnya yang tulus serta ketaatan yang luar biasa, Neng Lia perlahan mampu meluluhkan kekakuan hati sang pewaris pesantren tersebut.
Baca Selengkapnya

Sang Pewaris Pesantren Bab 1

POV; Neng Lia

Kami mendengar suara kencang yang berada di utara parkiran, namun suara itu terdengar samar.

"Tolong!!!!!!!!!"

Keadaan disekitar kami yang begitu hening, semakin menguak jeritan itu.

Kami berdua mulai mengambil langkah untuk mendekat.

Semakin mendekat suara itu, terdengar seperti terbungkam oleh sesusatu.

Apa yang terjadi?

Syahna mengambil langkah mundur.

Namun yang terjadi pada diriku justru berbanding seratus oersen dengan yang dilakukan Syahna.

Aku malah semakin melangkah maju, maju dan terus maju.

Aku lihat, gerbang utama yang disana mulai tertutup. Hanya tertinggal gerbang didekatku ini yang terbuka.

Suara teriakan gadis, namun suara itu mengarah ke arah gudang tua yang sudah dikosongkan Madrasah saat aku lulus dibeberapa tahun lalu.

Merinding menerkamku, selimut keberanianku semakin menipis.

Mataku terbelalak ingin mengetahui apa yang sedang terjadi.

Badanku gemetaran yang mana tidak mampu disembunyikan lagi.

Haruskah aku membuka pintu yang berada didepanku ini yang tertutup namun masih ada cela yang terbuka?

"Syahna ... Ayo!!!!!!!!"

Aku membisik dari kejauhan.

Syahna malahan mengambil langkah semakin ke belakang.

Sementara aku mulai memegang daun pintu yang tertutup itu.

Ribuan dzikir kulantunkan, lalu terbukalah pintu itu.

"Astaghfirullah ...." aku bergumam lirih.

Ke dua mataku seketika terbelalak, melihat gadis yang pakaiannya hampir hancur keseluruhan.

Hijab pasmina yang acak-acakkan.

Mulut kecilnya terbungkam dengan solasi hitam yang besar. Badannya bagai lemah tanpa daya dan matanya memerah sembab sementara wajahnya memucat.

Gadis itu terbaring dengan lemah. Bersandar didekat kursi kayu yang kotor.

Aku mulai mendekat padanya, disini cukup gelap tanpa pelita lampu.

Hanya ada sinar mentari pagi yang masuk melalui celah-celah atap, yang terlapisi genteng kaca putih.

Ya allah, gadis itu menujukan benar-benar ketakutan, apa dia sedang disekap seseorang. Namun siapa? Siapa juga yang tega melakukan ini?

Aku mendekat dan semakin mendekat.

Ku lihat pintu dibelakangku masih terbuka lebar sehabis aku buka keseluruhan.

Disini tidak ada suara, melainkan suara nafas gadis ini yang semakin kencang saat aku mulai mendekati dan melepaskan ikatan tangannya.

"Ada apa denganmu, Dik?"

Aku memanggilnya adik. Meski Ia bukan adikku yang sesungguhnya.

Dia hanya gadis biasa pada umumnya.

Solasi hitam yang menutupi mulut kecilnya itu aku tarik, setelah beberapa raungan ketakutan yang keluar begitu saja dari mulutnya.

Aku tidak tahu apa yang dia katakan sebelum aku melepas solasi hitam itu.

"Mbak ... belakang, Mbak!!!!"

Aku menatap arah belakangku. Padahal aku belum seleseai melepas ikatan kakinya.

"Ya allah ...."

Aku bergeser cepat ke arah kiriku.

Ya tuhan, siapa pria in? Aku tercengang melihatnya.

Wajahnya seperti orang yang benar-benar tidak mengenal ajaran islam.

Tubuhnya bagai menujukan bahwa dia bukan pria baik-baik. Namun, kenapa bisa dimadrasah ini?

Aku binging harus mengarah mana, aku terus bergeser saat pria itu mencoba memegang tanganku.

Tangannya memang kosong, tidak membawa benda tajam, tidak membawa juga benda yang menakutkan.

"Allahu akbar ...."

Aku melempar segala apa yang ada disamping kananku.

Buku-buku tebal itu aku lempar, namun pria itu sering menangkis.

Ya tuhan, aku kenapa bisa berada diruangan ini? Kalau aku sebelumnya tau, ini ruangan yang tidak baik. Maka aku mungkin tidak akan pernah memasukinya.

Sandal pemberian papi kulempar ke arah wajahnya.

Namun pria itu malah makin mendekat dan ingin memegangku dengan tangan kotornya.

Namun aku tidak akan putus asa untuk slalu menangkisnya.

"Mbak ... cepat lari!!!!!!"

Gadis itu melempar empat buku tebal ke atas kepala pria itu, sehingga pria itu mengalami pusing tujuh kali lipat dari sebelumnya.

Aku terbangun,

Kulirik sejenak gadis dibelakangku dengan mataku yang mulai berkaca-kaca.

Serasa dihati aku tidak ingin meninggalkan gadis itu, namun bagaimana lagi? Kalau aku tetap disini habislah aku!

Lalu aku berlari dan terus berlari.

Pintu gudang aku tutup spontan, hingga keluarlah suara keras.

Semoga adik yang tadi ada dalam lindunganmu

"Tolong-tolong-tolong ... tolong-tolong!!!!!"

Sempat ku lirik Syahna, dia begitu sibuk ikut membantu berteriak keras ke arah ruangan yang ada didepannya.

Aku mulai mendengar suara dobrakan keras pintu gudang yang sempat aku tutup sebelum aku keluar.

Pria itu keluar, dan kulihat selisih lima belas langkah dariku.

Jauh dari sana, sekitar lima hingga tujuh karyawan guru berlari mengejar lelaki itu.

Ya tuhan selamatkan aku!

***

POV: Syahna

"Kamu anak mana nak?"

Ada seorang guru yang menghampiriku, sementara aku masih dirundung kecemasan.

Apakah marwah baik-baik saja?

Kalau saja Marwah tidak pergi ke gudang itu, mungkin tidak akan terjadi seperti ini.

"Saya anak MAN, Bu ...."

"Temanmu tadi ceritanya bagaimana? Kok sampai ke gudang gitu?"

Ibu guru berkacamata ini, menayaiku setelah menyuruhku duduk disampingnya.

"Tadi itu Marwah sama saya mendengar teriakan dari arah gudang, jadi Marwah ingin tahu suara itu, hingga masuk ke gudang!"

"Kamu tadi tidak ikut nemenin, waktu Marwahnya nglihat gudang?"

"Tidak berani, Bu ... jadi saya memilih diam di tempat, saat itu Marwah sudah masuk ke gudang, Bu!"

"Terus tadi waktu Marwah teriak minta tolong itu waktu sudah masuk apa habis keluar dari gudang?"

"Ya habis keluar dari gudang bu, terus saya juga iku teriak minta tolong di depan kantor ibu tadi!"

"Kok bisa ada kejadian seperti ini, kami guru karyawan madrasah sudah lama nggak ngatur gudang, semenjak gudang itu kami jadikan tempat penempatan buku perpustakaan yang sudah tidak muat ditaruh di laboratorium kimia"

"Oh gitu bu?"

***

POV; Neng Lia

Kakiku bagai tidak kuat lagi, namun lariku bertambah semakin kencang.

Aku tidak tahu arah tujuanku berlari, hingga aku melihat suatu gang.

Akupun masuk kedalam gang itu, meski aku tidak tau, itu gang mengarah kemana?

Aku kali ini hanya tahu, Jalanan ini begitu asing, tidak pernah aku kenal sebelumnya. Tidak pernah pula aku lewati, tidak pernah pula aku menginjak gang ini sebelumnya.

Jalanan ini kenapa begitu sepi? Tidak ada rumah-rumah yang bersinggah.

Namun agak jauh dari sana, kulihat pesisir laut merah yang luas. Dengan ombak yang menggulung legam.

"Tolong ... tolong!!!!!!"

Kecemasanku merajalela. Kekhawatiranku bertahta lebih tinggi dari sebelumnya.

Pria itu kenapa terus mengejarku? Apa salahku?

Aku berlari tanpa berhenti memperhatikan belakang. Hingga aku lupa memerhatikan depan.

"Brak, tiiiiiiiiiiin!"

Aku menabrak sesuatu yang keras, dan sesuatu itu barusan saja berhenti sedetik yang lalu. Dan mengeluarkan deruh suara yang keras merambat ketelingaku.

Aku berhenti.

Aku terengah-engah, menatap pemilik motor itu dengan kegagapan yang berkuasa disanding tanganku yang tidaklah sengaja hinggap dipunggung tangan kananya yang lekas mengerim motornya.

"Tolonglah aku!"

***

POV; Gus iqbal

"Ya allah ....

Klakson motorku tadinya tidak sengaja kepencet, hingga memunculkan suara yang keras digang ini.

Aku tidak tahu apa yang dilakukan gadis ini, tapi dari wajahnya sepertinya sempat kaget.

Gadis ini siapa? hampir saja aku tabrak.

Kulihat wajahnya begitu pucat pasi, penuh dalam ambang kecemasan.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Sang Pewaris Pesantren

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Hari Aku Keguguran, Suami Pamer Anak Haram
8.7
Saat berjuang melewati keguguran hebat di rumah sakit, sang istri harus melihat suaminya, Fandi, merayakan kelahiran anak dari selingkuhannya, Yessy. Fandi bahkan menolak datang menjenguknya demi menjaga Yessy. Dirundung duka, sang istri memutuskan membalas dendam dengan menghubungi musuh bebuyutan suaminya, Lukas. Ia menawarkan pernikahan dengan mahar seluruh aset Grup Largi, demi satu tujuan mutlak: menghancurkan Fandi sampai tidak tersisa.
Sampul Novel I'm Not a Gangster
9.8
Seorang pemuda desa terpaksa merantau ke kota besar demi menyambung hidup. Dengan tekad sederhana, ia bercita-cita menjadi seorang pengawal profesional. Namun, takdir justru menyeretnya ke dalam gelapnya dunia kriminal yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Tanpa disadari, ucapan masa lalunya menjadi kenyataan pahit yang menuntunnya menjadi sosok gangster. Kini ia terjebak dalam pusaran konflik bawah tanah yang menguji prinsip serta keberaniannya.
Sampul Novel Kanjeng Ratu Minta Mantu
9.5
Menjadi sekuel dari Tante, Mau kan jadi Mamaku?, kisah ini mengeksplorasi dilema horor yang tak biasa. Mana yang lebih menakutkan: teror makhluk halus atau desakan menikah setiap hari? Bagi sang protagonis yang baru saja menyandang status sarjana, tekanan sang ibu yang sangat ambisius mencari menantu jauh lebih mencekam daripada gangguan gaib. Ikuti perjuangannya menghadapi tuntutan keluarga di tengah situasi yang penuh komedi dan nuansa misteri.
Sampul Novel Kekayaan Besar: Aku Adalah Seorang Miliarder
9.2
Niat hati memberi kejutan ulang tahun, aku justru menyaksikan pengkhianatan kekasihku dengan pria kaya. Dihina karena miskin, hidupku berubah saat pelayan keluarga terkaya mengungkap identitas asliku sebagai pewaris Grup Nelson. Kini dengan kekayaan tak terbatas, aku kembali untuk membalas dendam. Mantan kekasihku bersujud memohon ampun, namun aku hanya berlalu menuju kemewahan. Bagiku, uang hanyalah angka dan aku sangat menikmati cara menghabiskannya.
Sampul Novel The Hot Personal Trainer
9.7
Beyonce Linch sangat menyesal telah mendatangi rumah sahabatnya, Aldrich Jonas. Dalam kondisi mabuk, Beyonce mengejek pemilik gym tersebut sebagai gay dan menantangnya. Aldrich yang tersinggung pun kehilangan kendali hingga tega melecehkan Beyonce secara paksa. Padahal, hanya dalam dua hari, Beyonce dijadwalkan menikah dengan tunangannya, Zack. Kini, Beyonce harus menghadapi kenyataan pahit setelah kehormatannya direnggut paksa oleh Aldrich.
Sampul Novel Tumbal Pernikahan
9.6
Pernikahan idealnya menyatukan dua hati dalam harmoni, namun Amanda justru terjebak dalam ikatan yang lahir dari keterpaksaan waktu. Sebagai wanita penyabar, ia harus meredam ego dan harga diri demi memenangkan hati suaminya di tengah badai ujian yang datang silih berganti. Meski konflik terus menguji ketegarannya, Amanda menolak menyerah. Akankah sang suami akhirnya luluh dan menerima kehadirannya, atau justru tetap teguh pada pendirian dinginnya sejak awal?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan