Sampul Novel Cinta Virtual

Cinta Virtual

7.9 / 10.0
Dalam novel Cinta Virtual, seorang remaja terjebak hubungan tanpa status (HTS) yang penuh kenyamanan lewat sleep call dan pap setiap hari. Kisah romance modern ini menguji apakah hubungan dari aplikasi bisa menetap di hati. Baca romance stories ini untuk melihat akhir komitmen tanpa status tersebut.
Ringkasan Cinta Virtual
Banyak orang terjebak luka akibat cinta virtual, namun aku justru menikmati hubungan tanpa status yang unik. Lewat layar ponsel, kami berbagi rutinitas mulai dari saling berkirim foto hingga sleep call setiap malam tanpa ikatan resmi. Meski hanya berteman dekat, perhatian yang diberikan terasa nyata dan sangat manis. Namun, mampukah koneksi digital ini berujung serius ke pelaminan? Ikuti perjalananku yang akan membuat siapa pun merasa iri dengan indahnya HTS.
Baca Selengkapnya

Cinta Virtual Bab 1

"Akhirnya sampai juga di asrama," aku membuka sepatu, kemudian menaruhnya di rak yang sudah tersedia. Pulang kuliah siang terik begini, ditambah panas serta gerah, beuh paket komplit pokoknya.

"Turu wae lah, yok?" hampir aku serangan jantung ulah kemunculan Widi yang tiba-tiba. Temanku itu emang asli orang Jawa. Kalau aku ya ... asline suka kamu, bercanda.

"Wis madang urung, Wid?" tanyaku seraya menyimpan tas gendong dekat kasur, "gerah banget koh," sambungku beranjak menuju kipas, dan menyalakannya. Nomor tiga, cok, panase pol soale.

"Ntaran bae lah. Aku abis begadang, pengin turu," ya begitulah interaksi kami berdua. Semalem ya begadang main game, bukan ngaji kitab.

Fyi, aku kuliah sembari mondok di pesantren--deket sih jaraknya, perkiraan dari pesantren ke kampus sekitar lima belas menitan.

"Ponsel aku sih mana ya?" kebiasaanku ialah suka lupa menaruh barang berharga seperti ponsel, dompet dan kunci motor.

"Di gue, Han,"

"A*u, aku cari-cari juga," astaghfirullah, batinku langsung menyebut istighfar tiga kali. Maaf ya, anak pondok pun juga manusia. Suka mengumpat tapi 'kan aku tobat--nyebut asma Allah. Jangan ditiru nggih?

Sebenarnya aku lupa bawa ponsel ke kampus. Mengingat tadi pagi bangun kesiangan, dan sialnya aku malah memakai sandal alih-alih pakai sepatu. Lagi ulangan, ketahuan dosen pakai sandal--alhasil balik kampus maning. Arghh, itu loh, waktu pengerjaan ulangan empat puluh lima menit. Kehabisan waktu buat di jalan doang. Untungnya Abi pinter lho, kids. Do'ain Abi ya kids, biar cepat lulus kuliah, wisuda dan ketemu Umi kamu. Halu buat nyenengin diri sendiri tak apa lah.

"Anjir, Han?! Lu ngapain senyum-senyum kayak ngana tah. Mikirin iya-iya 'kan lu?? Hayoh, ngaku bae,"

"Sembarangan kamu, Bas. Mulutmu itu lho, pengin aku sumpel pake kaus kakinya Haikal??" sorry, Kal. Aku gak sengaja menuduh kamu.

"Kena mulu dah. Perasaan aku gak ngapa-ngapain," waduh, si empunya langsung nongol aja tuh.

"Hampura, Kal. Aku keceplosan,"

"Diem woy, mau tidur ini. Berisik banget elah," aku kicep, Bastara keselek keripik singkong, Haikal terantuk kaki meja saking kagetnya, dan Darren menjatuhkan ponselnya sendiri. Widi ini orangnya pendiem. Tapi, sekalinya marah aku takut cok. Kalian pasti tau lah, marahnya orang pendiem kek gimana? Ngeri-ngeri sedap.

***

Pulang dari masjid, masih menggunakan koko juga sarung, aku melipir sebentar ke dapur pondok. Siapa tau ada makanan. Makan, makan, makan terus kamu deh. Aw, jadi geli sendiri dengernya.

"Han?" asik, ada temenku rupanya.

"Nyari apaan lo?" tanya Mas Aiden--pengurus santri putra--kebetulan satu kamar denganku.

"Makan Mas, laper," ringisku sambil jongkok, samping-sampingan dengannya. Aku sama Mas Aiden seperti saudara sendiri. Makanya aku tidak merasa canggung sama sekali. Namun balik lagi, dia lebih tua tiga tahun dariku sekaligus pengurus. Sudah sepatutnya aku hormati dia.

"Gak ngaji emangnya??" tanyanya seraya mengaduk-ngaduk sayur capcay di dalam wajan.

"Libur dulu, Mas. Ada tugas juga dari kampus," tugasnya belajar. Masih ada lima harian lagi ulangan akhir semesternya.

"Walah, pengin ngising aku," cetusku dibalas geplakan sama Mas Aiden.

"Sana lah ke air. Ntar kecipirit di dapur, satu pondok yang geger," aku terkikik dalam batin. Nanti ada berita yang berjudul 'salah satu santri putra kecipirit di dapur pondok saking tidak tahannya'. Buset, itu cerpen atau judul skripsi? Panjang bener.

Selesai urusanku di air, aku lebih baik ke asrama. Siapa tau temenku ada yang bawa makanan. Setauku, si Arion jam kuliahnya malam dan ... yah, aku berharapnya cowok itu bawa sesuatu dari luar.

Nasi padang. Apa aku bilang tadi?? Harapanku sesuai dengan kenyataan.

Kamarku berisi lima orang yakni aku, Widi, Mas Aiden, Arif, dan Haikal. Untuk kamar sebelah ada Arion, Bastara, Wildan, Darren, Rio juga Radit. Anak pondok yo apa-apa dilakukan bareng-bareng. Punya makanan berbagi sama temen. Tidak untuk satu kamar saja--melainkan teman lainnya juga. Intinya berbagi itu indah. Kalau mau ya gabung, jangan malu-malu. Pasti seru dan tambah rame. Yah, itulah keseruan di ruang lingkup pesantren.

Jam sudah menunjukkan angka sembilan. Dan aku sedang mainan ponsel. Biasa, tengah bertukar kabar dengan orang paling berharga yaitu Ibu tercinta. Di sampingku ada Widi. Dia pun lagi mainan ponsel. Sudah menekan tombol kirim, aku penasaran apa yang tengah Widi mainkan. Dari sudut mata, aku melihat dia menekan tombol love ke setiap foto-foto cewek.

"Aplikasi apaan tuh, Wid?" penasaran dong, aku tengok aja isi layar di ponselnya.

"Le*ma*ch, Han. Tau kagak?" aku menggeleng pelan, tanda tidak tahu.

"Kudet amat kamu," ejek Widi. Ya elah, malah ngejek koh, "seriusan aku tanya, anjir. Kamu malah ngejek,"

"Aplikasi warna biru, Han. Siniin ponsel kamu,"

Patuh. Aku memberikan ponselku kepada Widi. Entah apa yang dia otak-atik.

"Pasang gih foto profilnya. Yang paling ganteng, kalau bisa,"

Mendengus kesal tapi tak urung melakukan titahan Widi.

"Terus gimana lagi, Wid?"

"Tulis umur sama alamatnya,"

"Nggih, terus?" serius dah, aku kayak lagi wawancarain Widi.

"Udah tak post. Tinggal nunggu love dari sananya,"

Hingga beberapa menit kemudian, aku terus pantengin layar ponselku.

"Mana anjir? Gak ada yang suka sama aku ternyata,"

"Nasib-nasib," lanjutku sambil geleng-geleng kepala.

Baru saja mau keluar dari aplikasi tersebut, keajaiban datang kepadaku.

"Anjir, Wid. Ada yang love foto aku," seruku tak sadar menyenggol lengan temanku, "Han?! Untung ponselku gak jatuh," maaf teman. Terlanjur bahagia nih.

"Chat ah, siapa tau berjodoh," batinku mengklik nama cewek--yang sudah memberi love pada fotoku.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Cinta Virtual

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Ibuku Kuyang?
8.2
Sikap Ibu yang mendadak menolak makan bersama memicu kecurigaan besar dalam benakku. Situasi kian mencekam saat kabar hilangnya bayi secara gaib mulai menghantui desa. Setiap tengah malam tiba, Ibu selalu lenyap secara misterius tanpa jejak, seolah-olah ia bersembunyi dari pandangan dunia. Rahasia kelam apa yang sebenarnya ia sembunyikan dalam kegelapan? Aku mulai meragukan jati dirinya yang asli. Apakah sosok yang melahirkanku itu manusia ataukah siluman?
Sampul Novel ISABELLA: Dibelai Maut, Dicintai Takdir
9.2
Isabella terjebak dalam dunia prostitusi eksklusif setelah dikhianati ayahnya sendiri. Di tengah kegelapan itu, ia menemukan cinta yang berakhir tragis saat calon suaminya tewas secara misterius. Bertekad menuntut balas, ia justru menemukan fakta bahwa Ronald, pria pertama yang membelinya, adalah sang pembunuh. Kini, Isabella harus menghadapi konspirasi dendam antar keluarga yang mengincar nyawanya sambil mengungkap identitas aslinya yang tersembunyi.
Sampul Novel Mengemis nafkah suamiku
8.4
Kehidupan Ajeng Samudra terasa pilu saat ia harus mengemis nafkah pada Alfandra. Sang suami justru lebih memprioritaskan keuangan untuk mantan istrinya dengan dalih kebutuhan anak. Mirisnya, Ajeng dilarang bekerja dan hanya diminta mengurus rumah serta diri sendiri. Tekanan kian berat karena ibu mertuanya terus menuntut materi dari Alfandra, meski ia memiliki anak lain yang jauh lebih mapan. Ajeng terjebak dalam konflik finansial dan ego keluarga.
Sampul Novel PANGERAN AGUNG
9.6
Kerajaan Mandala memiliki sosok pemimpin luar biasa bernama Pangeran Agung. Sebagai raja yang sangat dihormati, ia dikenal luas karena kearifan serta keadilannya dalam memerintah rakyat. Keberaniannya yang tak tergoyahkan saat menghadapi berbagai rintangan menjadikannya teladan bagi semua orang. Cerita ini mengikuti jejak sang penguasa bijaksana dalam menjaga kedamaian wilayahnya melalui dedikasi dan keteguhan hati yang luar biasa di tengah tantangan.
Sampul Novel Tak Ada yang Kedua
8.1
Pernikahan lima tahun bersama Anto hancur saat perselingkuhannya dengan Vior terbongkar. Demi melindungi Vior, Anto menyodorkan surat cerai dengan dalih membalas budi mendiang Profesor Jihan. Di kehidupan sebelumnya, penolakan sang istri berujung pada depresi, fitnah perselingkuhan yang kejam, hingga keputusan mengakhiri hidup. Namun, setelah terlahir kembali ke masa lalu, ia tidak ingin mengulang tragedi yang sama. Tanpa keraguan sedikit pun, ia langsung menandatangani surat cerai tersebut.
Sampul Novel Tetangga jadi Cinta
8.7
Ketenangan seorang pekerja kantoran terusik sejak kehadiran pria tampan di rumah sebelah yang kerap membuat kegaduhan intim hingga larut malam. Alih-alih mereda saat dindingnya digedor, tetangga baru itu justru sengaja memperkeras suaranya. Kehilangan kesabaran akibat waktu istirahatnya yang terganggu, ia nekat mendatangi rumah tersebut. Namun, pemandangan mengerikan di balik pintu yang terbuka lebar justru membuatnya sangat menyesal. Kini, keselamatannya terancam karena ia menyaksikan rahasia yang bisa merenggut nyawanya.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan