Sampul Novel ISABELLA: Dibelai Maut, Dicintai Takdir

ISABELLA: Dibelai Maut, Dicintai Takdir

9.2 / 10.0
Isabella terjebak dalam dunia prostitusi eksklusif setelah dikhianati ayahnya sendiri. Di tengah kegelapan itu, ia menemukan cinta yang berakhir tragis saat calon suaminya tewas secara misterius. Bertekad menuntut balas, ia justru menemukan fakta bahwa Ronald, pria pertama yang membelinya, adalah sang pembunuh. Kini, Isabella harus menghadapi konspirasi dendam antar keluarga yang mengincar nyawanya sambil mengungkap identitas aslinya yang tersembunyi.

ISABELLA: Dibelai Maut, Dicintai Takdir Bab 1

Pagi baru saja merekah di Desa Kedung Renggan. Kabut masih menggantung di antara batang-batang bambu, menyelimuti rumah-rumah reyot yang berdiri miring seolah siap rubuh diterpa angin. Di salah satu sudut desa yang paling terpinggir, tinggal keluarga kecil: Isabella, gadis cantik berusia delapan belas tahun, bersama ayah dan ibunya.

Pagi itu, Bella baru selesai mandi di sumur belakang rumah. Handuk tipis berwarna pudar membalut tubuhnya yang semampai. Ia menuruni tangga bambu menuju dapur, rambutnya masih basah, meneteskan air ke lantai tanah. Ia tidak tahu bahwa tamu tak diundang telah menunggu di ruang depan.

Tuan Jo duduk menyeringai di kursi tua, kakinya bersilang dan tangan kanannya menepuk-nepuk lutut. Matanya yang sipit dan dipenuhi keriput itu mengamati Bella dengan tajam, seperti binatang buas mengincar mangsanya. Ia sudah lama mengincar gadis ini. Dan hari ini, ia merasa waktunya telah tiba.

"Selamat pagi, Nona Bella," sapa Tuan Jo, suaranya berat dan licik.

Bella terkejut bukan main. Ia refleks menutup tubuhnya dengan tangan, wajahnya merah padam. "Apa-Apa yang Tuan lakukan di sini? Ayah saya belum pulang dari ladang..."

Tuan Jo tidak menjawab langsung. Ia bangkit dari kursi, langkahnya berat namun penuh percaya diri. Matanya tak lepas dari Bella. "Aku ke sini bukan untuk ayahmu. Aku ke sini... karena hari ini adalah hari penentuan, Bella."

Bella menelan ludah, merapatkan handuknya. Hatinya berdegup kencang. Ia tahu hutang ayahnya makin menggunung. Tapi tak pernah ia bayangkan Tuan Jo akan datang sendiri ke rumah.

"Sudah cukup lama, ya? Tiga bulan, dan tak sepeser pun ayahmu kembalikan. Aku sudah sangat... sabar," lanjut Tuan Jo dengan senyum dingin. "Jadi... saat ini aku pikir, sudah waktunya kita bahas jaminannya."

Bella mundur satu langkah. Ia merasakan udara pagi yang dingin menusuk kulitnya, tapi itu tak seberapa dibanding rasa takut yang merayap di tubuhnya.

"Jaminan?" bisiknya.

Tuan Jo tertawa pelan. "Kau. Ayahmu sendiri yang menawarkannya. Menjadi istriku. Istri ketigaku. Kau tahu, aku kesepian di usia tua. Dan kau... ah, Bella. Lihat dirimu sekarang. Segar seperti bunga pagi. Apa lagi yang lebih menyenangkan daripada memiliki kau di ranjangku?"

Bella ingin muntah mendengar kata-katanya. Ia menggigit bibirnya, menahan marah, menahan malu. "Saya bukan barang, Tuan Jo!"

Tuan Jo mendekat lebih lagi. Tangannya hendak menyentuh lengan Bella, tapi gadis itu mundur cepat, punggungnya menabrak dinding dapur.

"Kau akan berubah pikiran setelah lihat ayahmu menderita," ucapnya, suaranya pelan namun mengancam. "Kalau tidak mau, aku bisa kirim orang-orangku buat ajar dia pelajaran. Atau... kubakar rumah ini. Pilihannya mudah, Bella."

Tepat saat itu, suara kaki berlari terdengar dari luar. Seorang remaja lelaki muncul dengan nafas memburu. Chiko.

"Hei! Apa yang kau lakukan pada Bella?!" teriaknya marah.

Tuan Jo berbalik. "Anak ingusan, ini bukan urusanmu!"

"Aku tak akan biarkan kau sentuh Bella!" Chiko berdiri tegak, meski tubuhnya gemetar menahan amarah.

Tuan Jo mendengus, lalu melangkah keluar. Tapi sebelum pergi, ia menatap Bella dengan tajam. "Kau punya waktu sampai malam ini. Pilihannya mudah, Bella. Jadi istriku, atau ayahmu mati."

Pintu kayu itu menutup keras di belakangnya.

Bella jatuh terduduk di lantai, bahunya bergetar. Chiko berlari menghampiri, meraih bahunya. "Bella, aku akan jaga kamu. Aku janji..."

Air mata Bella mengalir. Dunia yang selama ini dikenalnya, kini mulai runtuh perlahan.

***

Sore hari, langit desa tampak sendu, seolah ikut merasakan nestapa yang menyelimuti hati Bella. Ia duduk di tangga rumahnya, mengenakan daster lusuh berwarna biru langit, rambutnya diikat asal, mata sembab karena menangis. Di hadapannya, Chiko berdiri dengan wajah serius, menatap jalanan sepi yang memanjang ke arah kota.

"Aku udah bilang sama Om Idin, besok pagi motorku dibawa," ucap Chiko pelan tapi pasti.

Bella tertegun. "Motor itu satu-satunya milik kamu, Chik. Itu juga yang kamu pakai ke sekolah..."

Chiko menoleh cepat, memotong kalimat Bella. "Aku bisa jalan kaki. Aku bisa numpang. Itu semua nggak penting dibanding kamu dijadiin istri ketiga lintah darat kayak Tuan Jo!"

Suara Chiko bergetar menahan amarah. Tangannya terkepal di kedua sisi tubuhnya. Bella meraih tangannya dan menggenggam erat.

"Aku nggak akan pernah nyerahin diriku ke dia. Sekalipun dunia ini ambruk," ucap Bella, suaranya parau tapi penuh tekad.

Chiko menatap wajah gadis itu lama. "Aku tahu kamu nggak akan nyerah. Itu sebabnya aku harus bantu. Kita nggak punya waktu. Kalau uang dari motor itu cukup, kita bisa bayar sebagian, atau paling nggak tahan dia beberapa hari."

Bella menggeleng pelan. "Tapi jumlahnya besar, Chik. 100 juta. Motor kamu paling laku berapa?"

Chiko tertawa miris. "Om Idin cuma mau bayar tujuh juta. Aku tahu itu belum cukup. Tapi lebih baik kita usaha daripada diem aja."

Bella terdiam. Ada rasa hangat di hatinya melihat usaha Chiko. Lelaki itu memang bukan orang kaya, tapi ia satu-satunya yang selalu berdiri di sisinya. Selalu. Bahkan saat seluruh desa mencibir keluarga Bella sebagai beban, Chiko tetap datang membawa secercah harapan.

"Aku cinta kamu, Bella," kata Chiko tiba-tiba. "Aku tahu kamu juga cinta aku. Aku janji, aku akan lulus jadi tentara. Aku akan ubah nasib kita. Tapi sekarang... kita harus bisa selamatin kamu dari Tuan Jo."

Air mata kembali mengalir di pipi Bella. Ia mengangguk sambil menggenggam tangan Chiko lebih erat. Di balik penderitaan yang menyesakkan, cinta di antara mereka menjadi satu-satunya cahaya yang masih bersinar.

***

Malam turun dengan cepat. Di balik jendela yang terbuka, suara jangkrik bersahut-sahutan, seolah jadi latar bagi kegelisahan yang menggantung. Ayah Bella pulang dalam keadaan mabuk, tak tahu bahwa hari ini, lintah darat keparat itu sudah datang menuntut janjinya.

Bella duduk di depan cermin kecil di kamarnya, memandangi wajahnya sendiri. Cantik, kata banyak orang. Tapi apa gunanya kecantikan, jika dunia ingin menginjaknya?

Ketukan keras tiba-tiba terdengar di pintu rumah.

Bella dan ibunya yang sedang memasak saling berpandangan panik.

Chiko masuk terburu-buru lewat pintu belakang. "Bella... dia datang."

Tuan Jo berdiri di depan pintu dengan dua orang lelaki bertubuh kekar di belakangnya. Matanya menyapu ruangan dengan tatapan tajam seperti harimau lapar. "Aku datang untuk mengambil janjiku."

Bella berdiri tegak, meski lututnya lemas. "Saya tidak akan jadi istri ketiga Anda. Kami akan bayar hutangnya."

"Uangmu mana?" Tuan Jo menyeringai.

Chiko melangkah maju, mengeluarkan amplop berisi uang hasil penjualan motornya. "Ini tujuh juta. Kami minta waktu satu minggu untuk sisanya."

Tuan Jo mengambil amplop itu, menimbang-nimbang isinya. Ia mengangkat alis. "Kalian pikir aku main-main?"

"Kasih kami waktu!" pinta Bella. "Tolong..."

Tuan Jo mendekat, menundukkan wajahnya hingga sejajar dengan Bella. Napasnya berbau tembakau dan tuak. "Satu minggu. Tapi kalau kalian kabur atau coba-coba akali aku... ayahmu yang akan kubuat cacat."

Malam itu Bella duduk bersama Chiko di atas tikar bambu. Angin malam meniup masuk lewat celah-celah dinding rumah yang bolong. Mereka tak berbicara banyak. Hanya duduk berdampingan. Bahu mereka bersandar satu sama lain, saling memberi kekuatan.

"Aku akan pergi ke kota besok," bisik Bella.

Chiko menoleh cepat. "Apa? Buat apa?"

"Aku akan cari pekerjaan. Jadi pembantu, jaga toko, apapun. Asal bisa bantu lunasi hutang."

"Jangan, Bella. Itu kota, bukan desa kita. Kamu sendirian-"

Bella menatapnya dengan mata merah tapi penuh nyala keberanian. "Aku nggak bisa terus jadi gadis desa yang cuma bisa pasrah. Aku harus berani. Demi kita."

Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Chiko memeluk Bella erat.

Mereka tahu... malam ini mungkin menjadi malam terakhir sebelum segalanya berubah.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi ISABELLA: Dibelai Maut, Dicintai Takdir

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Gairah Berbahaya Si Gadis Lugu
9.2
Rheina, gadis lugu yang terjebak dalam lingkungan beracun, awalnya berniat membebaskan sahabatnya dari cengkeraman tuan tanah. Namun, situasi memburuk saat ayahnya justru menikahi sahabatnya itu sebagai istri keempat. Konflik keluarga yang kelam ini akhirnya menyeret Rheina ke dalam lembah kenistaan. Ikuti liku perjalanan hidup Rheina saat ia terjerat dalam cinta segitiga rumit bersama dua pria di tengah tekanan hidup yang penuh kata kasar dan adegan dewasa.
Sampul Novel IPARKU, CANDU SUAMIKU
9.8
Dua tahun menikah, Nadia Antika bertahan menghadapi hinaan ibu mertuanya karena cinta tulus Askara Brahma. Namun, kebahagiaan itu sirna saat suaminya berubah menjadi tertutup dan dingin. Nadia mulai mencium rahasia besar yang disembunyikan sang suami di balik perubahan sikapnya. Mampukah ia mengungkap kebenaran yang menyakitkan? Bagaimana reaksi Nadia saat mengetahui Askara ternyata menjalin hubungan terlarang dengan adik iparnya sendiri di rumah mereka?
Sampul Novel Istri Rahasianya, Aib Publiknya
8.1
Duniaku runtuh saat menangani pasien VIP bernama Evelyn Santoso. Tunangan yang ia tangisi adalah suamiku, Bima. Namun di foto itu, dia adalah Brama Wijaya, taipan kejam, bukan pria konstruksi yang kurawat saat amnesia. Brama masuk tanpa mengenaliku, lalu memeluk Evelyn dan membisikkan janji setia yang sering ia ucapkan padaku. Melalui tatapan dinginnya, ia menegaskan bahwa pernikahan kami adalah aib rahasia yang harus segera ia lenyapkan selamanya.
Sampul Novel ISTRI RASA SIMPANAN
9.5
Demi menyelamatkan kekasih Anthony Smith, Alicia Huang bersedia mendonorkan sumsum tulang belakangnya. Sebagai imbalan, ia memaksa Anthony menikahinya. Anthony setuju, namun dengan syarat identitas Alicia sebagai istrinya harus dirahasiakan dari publik. Menjalani peran sebagai istri yang disembunyikan layaknya simpanan, akankah ikatan kontrak ini bersemi menjadi cinta sejati atau justru berakhir dengan luka mendalam bagi keduanya?
Sampul Novel Kelahiranku, Kematian Ibuku, Dan Kebencian Ayahku
9.7
Disiksa kejam oleh penculik demi melindungi sang ayah, seorang gadis meregang nyawa dalam kesendirian. Di momen terakhirnya, panggilan teleponnya justru ditolak dengan penuh kebencian oleh ayahnya yang sedang merayakan ulang tahun putri adopsinya. Sang ayah mengutuk kelahirannya yang merenggut nyawa ibunya. Jasadnya kemudian ditemukan tragis di depan kantor polisi. Ironisnya, sang ayah yang bekerja sebagai ahli otopsi memimpin penyelidikan tanpa menyadari bahwa korban mutilasi keji tersebut adalah putri kandung yang sangat ia benci.
Sampul Novel P. S. I LOVE YOU
8.5
Cyra Alesha, mahasiswi cantik berusia dua puluh tahun, harus berjuang di kota besar dengan bekerja paruh waktu. Namun, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk saat ia terjebak kesalahpahaman dengan Felix Domil. CEO muda yang kejam itu tega menginjak harga diri Cyra dan menyeretnya ke dalam penderitaan. Meski disiksa oleh kekejaman sang pewaris tunggal, Cyra justru terjebak dalam pesonanya. Mampukah ia bertahan atau justru memilih berontak demi membebaskan diri?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan