Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Sang pendaki gunung

Sang pendaki gunung

Menjelajahi puncak-puncak tinggi yang diselimuti kabut, seorang pendaki gunung harus menghadapi berbagai teror tak kasat mata dalam petualangannya. Setiap langkah menuju puncak justru membawanya masuk ke dalam serangkaian peristiwa mistis yang mencekam dan sulit dinalar oleh akal sehat. Di tengah keindahan alam yang liar, ia terjebak dalam kengerian yang menguji keberaniannya. Inilah kumpulan kisah horor nyata yang dialami selama menaklukkan medan pegunungan.
Bab
Bagikan

Bab 2

Alex menuturkan saat itu ia pergi mendaki bersama dua rekannya, Iqbal dan Gagah pada bulan Januari 1985.

Alex mengaku peristiwa itu bermula setelah tiba di Puncak Gunung Slamet dengan ketinggian 3428 MDPL sempat memetik bunga Edelweis hingga terkena kabut tebal, pada 6 Januari 1985.

"Sampai saat ini, itu kabut paling tebal yang pernah saya lihat dan alami itu terjadi di Gunung Slamet waktu musibah itu dan itu sudah tersesat," kata Alex di Channel Youtube RJL 5 - Fajar Aditya

Menurutnya, situasi pendakian Gunung Slamet pada tahun 1985 itu sangat berbeda dengan sekarang.

"Kalau saya lihat sekarang anak-anak SMP, kadang anak SD aja saya bisa ketemu berada di Puncak Gunung yang ketinggiannya diatas 3000 MDPL, kalau dulu tidak mungkin," kata Alex.

Jadi, kata Alex saat melakukan pendakian gunung di tahun 1985 itu, jika ketinggian di bawah 3000 MDPL itu tidak dihitung.

Tidak dihitung di kalangan kami ya temen-temen. Jadi kalau ada yang mendaki gunung dibawah ketinggian 3000 itu pasti ditanya apa sih istimewanya," ujarnya.

Singkat cerita, kata Alex ada satu momen hingga sekarang sangat membekas dalam dirinya.

"Jadi ada semacam rasa perih yang mengalir kalau mengingat momen itu, jadi sehabis solat subuh, Iqbal meminta izin untuk mengambil bunga Edelweiss dan saya bahkan membantunya," ungkap Alex.

Padahal Alex paham betul, Edelweiss itu hendak diberikan pada siapa oleh Iqbal.

"Jadi kami ini terlibat pada, ya katakanlah cinta segitiga, jadi ada satu teman cewek, satu kelas, satu jurusan saya dan Iqbal jurusan pendidikan bahasa Inggris," katanya.

Alex mengaku menyatakan cinta kepada wanita yang disukai Iqbal dan akhirnya diterima.

"Tetapi karena pada saat itu liburan, jadi saya sama Iqbal tidak banyak komunikasi, selang beberapa saat setelah saya menyatakan, Iqbal juga menyatakan hal yang sama pada dia," katanya.

Menurutnya, gadis yang diperebutkan itu berada pada posisi rumit. Sebab tahu bahwa Alex dan Iqbal itu sangat solid.

Nah keputusannya yang menurut saya salah, tidak menjawab, iya atau tidak, tapi dia menangis kemudian lari masuk kamar, celakanya oleh Iqbal itu ditafsirkan menerima," tutur Alex.

Alex menuturkan Iqbal tidak tahu dan si wanita yang dinyatakan cintanya itu tidak bicara juga.

"Nah ini terbuka ketika saya memulai pendakian mampir ke rumahnya Iqbal. Iqbal cerita aku sekarang nggak jomblo, kamu nggak bisa lagi bilang aku jomblo," ucapnya.

Sempat terjadi perdebatan dan akhirnya Alex mempersilahkan untuk bersama wanita itu dan biar dirinya tidak jadi.

Iqbal malah bilang ingin Alex sungguh-sungguh dengan wanita ini. Kemudian Iqbal mengungkapkan bahwa naik ke Gunung Slamet itu untuk memetik bunga Edelweiss sebagai yang pertama dan terakhir.

"Bunga itu akan diberikan pada anak (wanita itu) lalu kija kunjungi rumahnya di Purworejo. Nanti selesai pendakian Gunung Slamet kita kunjungi saya serahkan bunga ini lalu saya akan minta maaf," ucap Alex menirukan ucapan Iqbal.

Jadi kata Alex bunga Edelweiss itu akan diberikan kepada gadis yang menerima cintanya.

"Ini perasaan yang nggak karu-karuan itu timbul karena pada saat setelah selesai solat subuh itu, sahabat saya memetik bunga untuk diberikan kepada kekasih saya," kata Alex.

kisah mistis gunung slamet via permadi guci

Mendaki gunung memang mampu membuat kita bersyukur dan juga bisa berkenalan dengan alam dan segala isinya. Dan tentu saja hal tersebut tak jarang membuat candu dan begitu menarik untuk kembai ke gunung tersebut. Itu pun terjadi pada saya (panggil saja Adi) yang sudah jatuh cinta ke jalur pendakian Gunung Slamet via Permadi Guci sejak pendakian pertama pada Februari 2021 lalu.

Namun sayangnya di pendakian pertama ini saya gagal summit attack dan hanya sampai di Camp Area Pos 4 saja. Karena mengalami batuk-batuk akibat diguyur hujan lebat terus menerus dari mulai pos 1 hingga ke pos 3. Ditambah lagi memang badan agak kurang fit karena kebanyakan begadang lembur kerja.

Hingga malam harinya mulai batuk-batuk terus dan badan agak menggigil (tapi bukan kena gejala hipo ya) dan tak bisa tidur. Akhirnya paginya gak summit attack dan turun duluan bareng 2 orang teman yang juga gak ikut summit karena spatu jebol dan juga agak kurang fit karena dihantam hujan lebat pas pendakian kemarinnya.

Pada awal September 2021 tiba-tiba mba Ani mengirim pesan dan ngajakin ke Slamet via Permadi lagi karena nganter temannya dari solo yang pengin ke sana. Akhirnya ya kita sepakat awal Oktober gas ke Slamet via Permadi Guci sekalian saya remidi summit attacknya. Mba Ani sendiri merupakan spesialis koki gunung andalan dan yang pertama kali ngajakin saya ke Slamet via jalur Permadi Guci dulu.

Singkat cerita awal Oktober pun tiba dan kita janjian di basecamp Permadi Guci dimana saya sendiri dan mba Ani bersama 2 orang teman lainnya Mas Catur orang Slawi dan Mas Rona yang asalnya dari Solo sementara kalau mba Ani sendiri gak jelas asalnya katanya karena Rumah di Magelang dan domisili di Jogja, he he he. Kalau saya sendiri asli dari Brebes barat perbatasan sama Jawa Barat dimana bisa bahasa Sunda sama Jawa, eh.

Jam 9 siang kita mulai repacking di basecamp Permadi Guci setelah sebelumnya berbincang dengan pak Burhan Ali yang merupakan salah satu pengurus basecamp Permadi Guci. Karena pendakian kita pada weekend alias Sabtu Minggu 2-3 Oktober 2021 sehingg basecamp lumayan rame oleh para pendaki dari daerah lain.

Namun kebanyakan mereka dari rombongan Karawang, Bekasi, Cikampek yang merupakan open trip. Lalu ada beberapa kelompok kecil yang dari Bandung, Cirebon, dan tentu kelompok kita yang gado-gado karena gak bisa dibilang mewakili satu kota tapi gunung yang menyatukan kita.

Jam setengah 10 pagi kita mulai melangkah dan memulai pendakian setelah sebelumnya foto bareng di depan basecamp bersama pak Burhan buat kenang-kenangan. Kalau kata mba Ani sih mumpug masih pagi dan muka masih seger dan cakep.

Sesuai kesepakatan saya sendiri memilih berjalan kaki dari basecamp karena memang mau bikin konten video kan sayang banget kalau naik ojek, buat menghemat pengeluaran juga sih, eh. Sementara Mba Ani dan Mas Rona naik ojek sampai gerbang Permadi Junggle (batas ladang) sementara Mas Catur ngojek sampai pos 1 karena memang sudah vakum mendaki lebih dari 1 tahun sehingga tak mau ambil resiko memperlambat jalan kita.

Singkat cerita akhirnya saya sampai juga di Gerbang Permadi Junggle dan sudah di tunggu oleh Mba Ani dan Mas Rona. Dan kini tinggal lanjut ketemu sama Mas Catur yang menunggu di pos 1. Menurut saya sayang juga sih kalau ngojek langsung ke pos 1 karena sebenarnya view utama jalur Permadi Guci berada di antara Permadi Junggle hingga pos 1. Jadi buat foto-foto cucok banget deh viewnya bagus ditambah lagi kita lewatin beberapa kali dan air terjun aka curug.

Sama selama perjalanan ke pos 1 itu isinya bonus semua loh karena yang nanjaknnya isa dihitung jari loh. Menurut saya ini sangat enak buat pemanasan kaki dan tenaga serta aklimatisasi tubuh terhadap cuaca dan keadaan di jalur pendakian ini. Setelah berjalan sekitar 1,5 jam akhirnya kita sampai di pos 1 sekitar jam 11 an. Istirahat sejanak dan akhirnya kita lanjut lagi memulai menapaki hutan lumut jalur permadi Guci dengan trek menanjak.

Awalnya pendakian berjalan seperti biasa hingga Mas Catur merasakan troubel pada kakinya karena sudah lama gak naik gunung. Ya ibaratnya otot-otot kakinya kaget karena dah lama gak diajak piknik ke gunung. Untung kagetnya gak bilang ayam-ayam-ayam digreng dadakan, eh.

Kita pun memperlambat tempo pendakian untuk mengimbangi Mas Catur sembari sesekali berbincang dengan pendaki dari rombongan lain. Dan saat ketemu dengan rombongan Cirebon ada salah satu anggota mereka yang mendaki tanpa alas kaki alias nyeker.

"Mas kok mendaki nyeker?" tanya saya penasaran.

"Udah biasa kaya gini lebih enak mas," jawabnya sambil senyum dan mengatur nafas.

"Kirain lagi latihan ilmu apa gitu atau lagi ngetes sepatu model baru, spatu transparan" sontak si mas dan teman-temannya langsung pada ketawa.

Memang obrolan-obrolan ringan seperti ini saat di trek begitu bikin rindu dan siapa tau kalian bisa ketemu jodoh gara-gara obrolan ringan di trek pendakian kaya gini. dari awalnya cuma iseng nyemangatin tiba-tiba berlanjut ke kenalan hingga sampai puncak bareng lalu pas udah sampe bawah eh ditinggali, ups.

Tak lama kemudian saat mau istirahat di pinggir jalur tiba-tiba Mba Ani menemukan kacamata hitam yang tergeletak di batang kayu yang jadi tempat duduk di pinggir jalur. Akhirnya kita tanykan ke rombongan bekasi yang ada di depan kita namun tak ada yang kehilangan kacamata. Hingga sambil berjalan saya terus menanyai rombongan pendaki yang sedang istirahat karena siapa tahu ada salah satunya pemilik kacamata tersebut.

Namun beberapa rombongan yang ditanya tak ada yang kehilangan kacamata hitam tersebut. Lalu kita berjalan lagi dan Mba Ani yang berada di depan saya tiba-tiba bilang, "Di, cob tanya itu bapak tua itu siapa tahu kacamatanya." sambil memberi isyarat ke saya ke Bapak Tua yang sedang istirahat di pinggir jalur memakan snack coklat sendirian. Padahal pas papasan di bawah berdua sama temannya dan ternyata temannya istirahat sekitar 10 meter dari bapak tua itu.

"Pak, kacama...." belum juga selesai bertanya tapi tiba-tiba si bapak menggeram sambil melihat kearah saya dengan tatapan tajam dengan muka pias sambil menggeram "hrrrmmrmmmm hrrrmrmmmm...." namun agak pelan. Pkoknya kaya orang gak suka dan sedikit horor gitu deh bahkan perasaan saya juga gak enak banget. Dalam hati wah ini sih gak bener nih apa karena saya kurang sopan nunjukin kacamata.

Saya pun melewati si bapak sambil bilang misi pak, dan baru saja sekitar lima langkah melewatinya tiba-tiba geramannya semakin kencang dang seperti geraman harimau. Bahkan Mas Rona yang sedang backup mas Catur di depan mba Ani langsung sadar karena geraman tersebut.

Dengan cepat teman si bapak itu langsung turun dan mencoba menenangkan si bapak. Saya dan mas Rona pun ikutan turun karena ini sepertinya ada sesuatu. Mas Rona yang juga pernah dapat pelatihan sebagai SAR pun melakukan beberapa pertolongan dan langsung mengetahui kalau si bapak ini ketempelan. Ditambah lagi muka si bapak ini pucat pasi banget kaya orang mau pingsan gitu.

Namun si bapak masih menggeram-geram lalu saya coba buka 2 tas pinggang yang melilit di lehernya. Dan agak sedikit sulit membukanya karena terlilit dengan rambut gondrongnya dan juga si bapak agak kaku badannya.

"Coba itu di usap ubun-ubunnya sama mukanya di usap air," kata salah satu pendaki rombongan Bekasi yang melewati kita yang sedang panik. "Si bapak istirahat di situ tadi gak permisi soalnya," lanjut dia.

Memang di di sebelah kanan ada pohon besar juga dan membuat kondisi semakin mencekam. Ditambah lagi setelah lihat jam ternyata menjelang waktu Dzuhur dimana waktu tengah hari ini memang rawan terjadi sesuatu yang seperti ini.

Beruntung si bapak mulai pulih setelah 2 tas pinggang yang melilit di lehernya berhasil saya dan mas Rona lepas. Lalu disuruh minum dan cuci muka sama ubun-ubunnya 3 kali. Melihat sudah agak baikan, teman si bapak ini meminta izin ke kita untuk mengejar temannya di depan nanti buat ngabarin sekaligus membackup.

"Pak, gak apa-apa?" tanya mas Rona memastikan bahwa udah baikan.

"Gak apa-apa," jawab si bapak yang dipanggil Abah oleh teman-temannya ini.

Dalam hati wah bener nih tadi ketempelan nih si Abah, beruntung gak sampe ngamuk-ngamuk parah. Saya pun tak sengaja memegang kayu tempat si bapak bersender dan tiba-tiba tangan saya terasa panas seperti ada tangan yang memegang gitu tapi panas. Dan langsung saya lepas pegangan saya dari kayu tersebut. Dan mengajak si Abah buat pindah lokasi untuk duduk istirahat sejenak.

Lalu setelah agak mendingan dan sadar seutuhnya si Abah pun bercerita kalau tadi dia tuh capek lalu istirahat di situ dan rasanya ngantuk banget namun karena lapar dia buka snack coklat dan baru satu suap. Tiba-tiba dia tertidur tanpa sadar dan bagun-bangun pas kita ngelepas tas pinggang dari lehernya dan ngasih air minum.

"Kayanya saya kesedak tadi karena makan coklat," aku si Abah. Tapi tetap saja kalau cuma kesedak mah gak separah itu ditambah lagi memang hawa di situ sangat beda banget. Beruntung si Abah gak parah ketempelannya dan masih bisa sadar.

Saya sarankan untuk istirahat dulu dan perutnya diisi dulu karena kemungkinan karena lelah, dingin dan kurangnya asupan makanan alias laperpedia. Si Abah pun langsung membongkar isi kerilnya dan mengeluarkan 1 box tuperware gede yang isinya kurmas sama anggur. Tapi salahnya ditaruh di paling atas kerilnya padahal berat itu ada sekiatar 2-3 kg an itu.

Sambil menunggu temannya turun dari atas kita pun berbincang dengan si Abah sambil menikmati kurma dan anggur yang begitu menyegarkan dan jadi tambahan energi. Apalagi kurmanya yang manis banget tentu saja buat tenaga kembali full.

Si Abah memang pendaki sepuh banget nih ternyata, sampai menunjukkan kausnya pendaki nafas tua dan sering mendaki gunung bersama teman-temannya namun jarang sampai puncak. Karena memang usianya sudah hampir mencapai kepala 7 loh. Namun jiwanya tetap muda meskipun rambut memutih dan juga kulit tak lagi kencang.

Si Abah sempat menyuruh saya dan mas Rona untuk lanjut aja duluan karena dia bilang udah baikan. Namun tentu saja saya dan mas Rona tak akan meninggalkan si Abah sendirian sebelum temannya sampai turun. Ditambh lagi muka si Abah masih pucat pasi dan belum kembali sepeti semula. Saya ajak aja si Abah buat ngobrol pengalamannya mendaki gunung agar pikirannya tak kosong sambil menemaninya melumat kurma dan anggur. Setelah dua teman rombongannya si Abah sampai kembali untuk menjemput dan backup si Abah. Saya dan mas Rona pun pamit buat melanjutkan pendakian.

Sebenarnya kita agak sedikit khawatir sama keadaan si Abah setelah kita melanjutkan perjalanan. Namun akhirnya kita berpapasan di pos bayangan sebelum pos 2 dimana kita sedang makan siang mengisi energi. Dan nampak si abah sudah baikan dan berjalan tanpa dipapah lagi dan mukanya gak sepucat pas di bawah tadi.

Di pos 2 kita papasan lagi dan kali ini si Abah sudah aman dan mukanya gak pucak lagi sudah normal kembali. Si Abah sedang beristirahat di pos 2 bersama rombongannya serta rombongan lainnya. Kita pun tak lama berada di pos 2 ini dan langsung melanjutkan perjalanan karena sudah lama banget istirahat di pos bayangan di bawah pos 2.

Kita pun sampai di Pos 3 sekitar jam 3 sore dan tak lama istirahat tiba-tiba kabut mulai turun dan air mulai berjatuhan dari langit bersamaan kabut yang semakin tebal. Akhirnya kita pun memecah 2 kelompok saya dan Mas Rona jalan duluan ke Pos 4 untuk nyari spot camp sementara Mba Ani dan Mas Catur menyusul karena mas Catur kelelahan dan perlu istirahat lebih lama.

Baru saja berjalan beberapa menit gerimis semakin deras dan memaksa saya dan mas Rona mengeluarkan jas hujan untuk melawan air-air yang berjatuhan agar tak langsung membasahi badan agar tak menghambat perjalanan agar cepat sampai di pos 4 dan istirahat di tenda.

Ditengah perjalanan menuju pos 4 kita menemukan sebuah kaos putih yang penuh dengan darah yang sudah mengering di pinggir jalur. Saya menduga itu kaos dari petugas basecamp yang terluka saat memotong pohon dengan gergaji mesin untuk pembuatan mushala dan fasilitas di pos 4. Hal ini karena didekatnya ada bekas pohon tumbang yang dipotong dengan gergaji mesin. Tak ambil pusing kita berdua langsung melanjutkan perjalanan karena gerimis mulai menderas.

Sekitar jam 4 an kita sampai di pos 4 dan langsung mencari spot enak untuk mendirikan 2 tenda agar saling berhadapan dan nyaman pas masak serta istirahatnya. Setelah mencari-cari akhirnya kita memutuskan untuk mendirikan tenda di tanah lapang sebelum pos 4 yang jadi spot camp utama. Hal ini kita ambil biar gak terlalu ramai saat malam hari karena biasanya rame banget pas malam apalagi kalau rombongan lain masih begadang tuh pasti berisik dan susah tidur.

Tak lama setelah bongkar keril dan mulai pasang tenda tenyata Mba Ani dan Mas Catur akhirnya sampai juga dan kita segera mendirikan tenda dan tentu saja setelah melepas lelah dan ganti pakaian mba Ani langsung mengambil alih peralatan memasak dan juga logistik untuk meracik masakan dengan cita rasanya yang maknyus.

Saya pun izin buat nyobain toilet baru dan mushala baru di Pos 4 jalur Permadi Guci yang sempat viral di media sosial. Soalnya dahulu pas pendakian pertama belum ada mushala dan toilet. Dulu adanya cuma toilet alakadarnya cuma dari kayu dan dikelilingin sama karung untuk penutupnya serta kolam pancuran (yang jadi tempat camp kita namun gak ada airnya lagi alias kering serta di sampingnya ada spot untuk 3 tenda ukuran 2P).

Gelap pun mulai menggantikan terang dan bintang-bintang di langit mulai terlihat berkerlap kerlip. Sambil ditemani udara dingin kita pun menyantap makan malam dari chef andalan mba Ani. DImana kali ini menunya adalah nasi + sayur sop sosis potong ditambah tempe goreng serta sambal yang beli pas di warung dekat basecamp. Oya lupa satu lagi abon sapi maknyus yang di bawa mba Ani dari Jogja melengkapi makan malam kita.

Tentu saja sambil berkcengrama dengan hangat dan merencanakan kegiatan untuk besok pagi. Dan jelas saja besok pagi adalah waktunya summit attack. Namun karena mas Catur gak kuat sehingga ia memutuskan besok gak ikut summit attack. Lalu disusul mba Ani yang juga gak ikut summit attack karena udah pernah pas pendakian pertama via Jalur Permadi Guci ini (yang saya gagal summit).

Sementara mas Rona masih gak tau, "Kalau saya bangun ya gas summitnya, kalau gak bangu ya gak summit."

Kata mba Ani sih bakalan susah klau bangunin mas Rona jadi ya liat aja besok coba bangunin. Sampai titik ini saya ragu sih masa iya dua kali lewat Permadi Guci cuma sampai pos 4 aja. Akhirnya saya teringat sama anak-anak rombongan Bandung yang ngajakin summit bareng pas shalat Asar di mushala.

"Yah kalau gitu saya sendirian donk yang summit, ya udah gak apa-apa biar nanti saya summitnya bareng nak Bandung, tadi ngajakin summit bareng pas Asar."

Beres makan dan diskusi sekitar jam 9 malam kita semua siap-siap bobo. Saya satu tenda dengan mas Rona sementara mba Ani satu tenda dengan mas Catur karena kita bawa 2 tenda masing-masing isi 2P. Baru saja terlelap tiba-tiba dari jalur pendakian terdengar teriakan pendaki lain.

"Mba Ani.... Mba Aniii... Mba Aniii..." teriak pendaki.

Bersambung...

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Banyu-2 tak tergenggam dan yang lepas.
9.2
Banyu menerima surat misterius yang menyatakan dirinya terpilih sebagai avatar setelah pengamatan enam bulan oleh tim rahasia. Meski bingung dan curiga, ia diminta datang ke Jalan Lembayungkuning No. 17, tepat di samping kantor MNG Group, untuk mendapatkan penjelasan lengkap melalui sesi wawancara. Didorong rasa penasaran sekaligus takut, Banyu akhirnya memutuskan memenuhi panggilan tersebut. Keputusan nekat ini menjadi awal mula petualangan besar dalam hidupnya.
Sampul Novel CINTA SEJATI SANG PESULAP
8.5
Jaime bekerja sebagai pelayan restoran cepat saji meski memiliki bakat sulap luar biasa. Ia memilih menyembunyikan kekuatannya demi mendukung impian wanita yang ia cintai. Perjuangan itu membawanya pada takdir besar yang menembus ruang dan waktu. Namun, meski telah mencapai puncak kejayaan, Jaime tetap terobsesi mengejar cinta lamanya tanpa memedulikan risiko. Ia tidak menyadari ada seseorang yang setia menanti dan tulus menerima dirinya apa adanya.
Sampul Novel I Love You Daddy
8.4
Michaela memilih kabur demi menolak kembalinya Bianca, ibu kandung yang dulu meninggalkannya. Sang ayah, Agam, awalnya mengira pelarian ini karena perjodohan dengan Dilan, namun alasan sebenarnya jauh lebih pelik. Konflik ini membongkar rahasia asal-usul Michy, wasiat keluarga, hingga perasaan terlarang yang terpendam. Di tengah intrik warisan dan penculikan yang mengancam, Michy dan Agam harus berjuang mempertahankan ikatan mereka demi memulai babak baru.
Sampul Novel Istriku Berasal Dari Kerajaan Medang
9.1
Kirana Ayu Wening, gadis asal Kerajaan Medang, mendadak terlempar melintasi waktu ke masa depan sejauh 1024 tahun. Ia muncul di tengah kota modern yang asing sebelum akhirnya bertemu Yodha, seorang pekerja yang baru saja patah hati. Dengan tulus, Yodha menolong Kirana beradaptasi di era yang jauh berbeda dari zamannya. Kini, mereka berdua harus menghadapi badai kesedihan, kebingungan, hingga kebahagiaan bersama dalam memulai lembaran hidup yang baru.
Sampul Novel Mengandung Anak Tuan Serigala
8.6
Fang Yi Lan, mahasiswi kedokteran jenius, hancur saat memergoki kekasihnya berselingkuh dengan adik tirinya. Alih-alih dibela, ia justru dipaksa sang ayah menikahi pria hidung belang. Yi Lan kabur dan bertemu pria tampan yang terluka parah. Saat pingsan, pria itu berubah menjadi serigala hitam. Meski takut, naluri medis Yi Lan mendorongnya menolong. Namun, pria itu justru menandai lehernya dan menyerang Yi Lan secara paksa demi mendapatkan keturunan.
Sampul Novel Pendekar Kembara Semesta Seri 1
8.9
Suro Joyo memilih meninggalkan takhta Kerajaan Krendobumi demi menolong sesama. Dikenal sebagai Pendekar Rajah Cakra Geni, ia menjelajahi jagat raya hingga dijuluki Pendekar Kembara Semesta. Dalam perjalanannya, Suro terjebak perebutan Bunga Puspajingga, ancaman Dewi Pemikat, serta kehebatan Tombak Siung Sardula. Ia pun terseret konflik harta karun Goa Barong. Demi keadilan, Suro harus bertarung menghadapi kekuatan Putri Siluman Alas Waru.