
Sang pendaki gunung
Bab 3
SELAIN menawarkan panorama alam yang indah, gunung juga menyimpan sejumlah misteri. Percaya ataupun tidak, hal-hal mistis sering tersaji dan dialami oleh para pendaki.
Sebagai gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa setelah Semeru, Gunung Slamet adalah salah satu spot favorit para pendaki yang banyak menyimpan sejumlah kisah horor. Salah satu yang paling legendaris adalah keberadaan Pos 4 pendakian yang dinamakan Samarantu.
Konon namanya sendiri merupakan akronim atau singkatan dari ‘Samar dan Hantu’, karena seringnya penampakan makhluk halus di pos yang bisa dijumpai jika seorang pendaki memilih rute pendakian jalur Bambangan. Selain itu, pos ini memiliki dua pohon super besar yang membentuk bak pilar gerbang yang diyakini menjadi salah satu pintu gerbang menuju dunia ghaib.
Kali ini sebuah kisah seram dari salah seorang pendaki Gunung Slamet yang terjadi di Pos Samarantu tersebut.
Bisri767’, yang mendaki bersama 2 orang temannya yakni Ilham, Faun serta keponakannya yang bernama Udin saat momentum H+4 lebaran tahun 2018.
Keangkeran pos 4 Samarantu yang telah menjadi rahasia umum bagi para pendaki juga diketahui olehnya, termasuk salah satu pantangan bahwa sebaiknya tidak mendirikan tenda dan beristirahat disana. Namun ia tetap memilih mendirikan tenda dan bermalam di pos keempat dari total 7 pos yang ada, dan disitulah semua berawal.
“Saat itu sekitar jam 16.00 WIB aku melalui pos 4 yang katanya angker dan tak boleh mendirikan tenda disitu. Bener kata-kata orang di pos memang angker dan ada 2 pohon berdiri berjajar yang katanya jalur menuju alam lain.Serem dan agak takut juga sih saat itu. Tapi biarlah masa bodoh yang penting aku gak aneh-aneh,” ungkapnya dikutip oleh MNC Portal Indonesia.
“Selepas melewati pos 4 sunggug aneh banget karena cuma ada aku dan keponaaku yang berjalan. Tadi sih rame tapi kenapa saat itu sepi banget. Aku dan keponaanku berjalan menyusuri jalur dengan langkah yang mulai melan karena kecapean. Fikiranku tak tenang dan cuma takut saat itu, lantunan zikir aku ucapakan dalam hati agar aku tak dikuasai ketakutan yang luar biasa.” jelas pendaki pria tersebut
Terpisah dengan Teman dan Dibuntuti Makhluk Halus
Selepas beristirahat dari pos 4, pendaki tersebut mengaku diikuti oleh seekor burung jalak yang selalu berkicau dan matanya selalu terfokus, seakan ia seperti mangsa dari burung jalak itu. Burung jalak itu jumlahnya cuma satu, itulah yang semakin membuat suasana seram. Saat itu sinar matahari tak mampu menembus rapatnya pohon-pohon yang menjulang tinggi padahal baru jam 17.00 WIB, tapi sudah gelap.
“Akhirnya aku memutuskan istirahat duduk untuk minum dan makan-makanan ringan. Saat itu juga keponaanku bilang padaku begini ‘mas mukamu pucet banget dan putih banget kayaknya mas hipo, mas gak apa-apa’, saat itu aku langsung bangun dari tempat dudukku dan bilang ‘ayo teruskan perjalanan jangan bicara apapu sampai pos 7’.” ucapnya.
Singkat cerita :
Aku mendaki sampai puncak dengan selamat dan mendirikan tenda di pos 7 dan turun dengan selamat juga. Inilah kejadian-kejadian yang ganjil. Saat pulang kami sambil ngobrol di dalam mobil. Pembicaraan diawali oleh keponaanku.
“Udin : mas kemaren saat di pos 5 waktu istirahat kenapa saat aku tanya mas diam saja ? ? ? Dan suruh aku diam ? ? ?
Aku : saat kamu tanya aku melihat sosok putih persis dibelakangmu, makanya aku langsung ajak jalan dan diam.
Udin : lhoo saat aku tanya, aku juga melihat sosok hitam tinggi dibelakang mas lhooo.”
Suasana dalam mobil seketika hening dan menakutkan..
Tiba-tiba Faun dan Ilham menyaut dan berkata : “saat di pos 5 kami jalan didepan kalian dan kami mengajak kalian jalan tapi kalian menyuruh kami duluan.”
“Padahal saat itu aku dan Udin tak melihat siapapun yang lewat di sekitar kami, dan cuma satu burung jalak menyeramkan saja yang kita lihat. Dapat disimpulkan ternyata aku dan Udin saat itu ada dialam yang berbeda. Syukur alhamdulillah aku ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena aku masih diberi keselamatan.”
Pendaki gunung Slamet tesesat dan masuk kampung gaib
pengalaman mistiknya saat mendaki gunung yang menurut sejarawan Belanda, J. Noorduyn, disebut sebagai Gunung Agung dalam naskah kuno tentang cerita petualangan Bujangga Manik.
Salah seorang pendaki tersebut bernama Awe. Usai menyelesaikan kuliahnya, Awe dan temannya memutuskan untuk merayakan kelulusan dengan mendaki gunung. Adapun gunung yang akan mereka daki adalah Gunung Slamet.
Salah seorang pendaki tersebut bernama Awe. Usai menyelesaikan kuliahnya, Awe dan temannya memutuskan untuk merayakan kelulusan dengan mendaki gunung. Adapun gunung yang akan mereka daki adalah Gunung Slamet.
Mereka berdua berangkat dari Bekasi dengan menggunakan transportasi bus. Sesampainya di Purwokerto, mereka menuju Desa Bambangan, Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, Purbalingga, menggunakan kendaraan bak terbuka.
Setelah melakukan registrasi, mereka dan beberapa pendaki lain mendapatkan sebuah bibit pohon untuk ditanam di lereng Gunung Slamet. Kemudian, dimulailah pendakian Awe bersama temannya tersebut.
Tidak ada yang aneh selama pendakian tersebut. Semua berjalan dengan lancar. Sebagai informasi, banyak cerita beredar dari penduduk sekitar mengenai Pos 4 Samarantu bahwa di situlah gerbang ghaib atau pintu masuk menuju kerajaan ghaib.
"Saya pernah ngecamp di Samarantu, didatengin tiga kali berturut-turut, dengan orang yang sama, jadi entah itu orang, entah itu makhluk apapun itu, tapi dia datang, dia numpang duduk, dia pergi," ujarnya.
Singkat cerita, pendakian Awe dan temannya dilaluinya dengan aman tanpa adanya gangguan. Mereka bahkan sempat beristirahat di Samarantu dan tidak terjadi apa-apa hingga akhirnya mereka sampai di puncak Gunung Slamet.
Pengalaman mistik justru dialami Awe ketika ia dan temannya hendak turun dari Posko satu menuju Basecamp Bambangan. Saat itu, teman Awe kebetulan mendahuluinya karena terburu-buru. Di situ, Awe melihat seolah terdapat jalan bercabang yang mana tampak seperti sebuah gerbang.
"Semacam pohon, pohon Cemara. Cuma dia pas banget, Cemara itu kan besar ya, tapi ada ranting atau dahan yang keluar. Dan itu dua, kanan-kirinya sama dengan model ranting yang sama. Jadi, membentuk semacam kubah," jelasnya dalam video berdurasi 1 jam 20 menit.
Awe pun memilih salah satu dari cabang tersebut, ia memasuki jalan yang berbentuk seperti kubah. Begitu memasuki jalur itu, Awe merasa wajar karena rute yang dilaluinya dirasa sama dengan jalur yang pernah ia lalui. Sampai pada suatu titik, Awe merasa ada sebuah kejanggalan. Seingatnya, saat menuju Bambangan terdapat sawah-sawah dan jalan aspal. Namun, yang ia temui justru dua buah rumah gubuk yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Di sana, ia mendapati dua orang wanita yang tengah melakukan aktivitas.
"Kalau itu kan dua ya, depan, kanan-kiri, sama dua-duanya ibu-ibu, mereka itu lagi memilah kaya beras tapi bukan beras, di tampah tapi kaya bukan tampah," terangnya.
Lalu, Awe pun melanjutkan perjalanannya. Ia pun sampai di sebuah pasar. Hal aneh pun kembali dirasakan oleh Awe. Ia merasa orang-orang di keramaian pasar tak menghiraukan keberadaannya di sana. Awe bahkan sempat bertanya pada orang-orang di sana namun mereka menjawabnya dengan tersenyum. Hingga akhirnya, Awe bertemu dengan seorang pria dewasa dengan sorjan lusuh yang dikenakannya.
"Sepenglihatan saya seumuran ayah saya. Layaknya orang desa, dengan baju oblong warna putih, dengan celana panjang yang tidak sampai mata kaki, warna hitam, normal seperti bapak-bapak biasa," ceritanya.
Di antara orang-orang yang ditemuinya, sosok pria itulah yang memberikan Awe petunjuk. Sosok pria tersebut menjelaskan jalan mana yang harus dilalui untuk bisa sampai ke Bambangan.
"Mas salah jalan. Basecamp bisa lewat lurus, Mas. Harusnya tadi mas itu di sana lewat kanan, jangan lewat kiri," jelas pria itu.
"Terus saya lewat mana, Pak, sekarang kalau mau ke Basecamp?" tanya Awe.
"Yaudah nanggung, lurus aja," lanjut pria itu.
"Berapa lama Pak?" tanya Awe.
"Ya paling lebihnya satu jam karena muter," jelas pria itu.
Setelah itu, Awe pun mengikuti arahan dari pria yang ia temui. Anehnya, setelah menempuh perjalanan selama satu jam lamanya, Awe di hadapkan pada tempat semula yang ia lewati, yakni dua buah rumah gubuk dengan dua orang yang sedang melakukan aktivitas sama seperti sebelu
Anda Mungkin Juga Suka





