Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel SANG ALPHA : Tak Tersentuh

SANG ALPHA : Tak Tersentuh

Jordan Smith Watanabe, seorang pria religius yang teguh pada imannya, harus mendekam di penjara terpencil selama enam tahun akibat fitnah keji. Setelah bebas, ia terjepit dalam situasi sulit yang mengancam nyawanya. Terpaksa demi bertahan hidup, Jordan mengikuti arahan penyelamatnya untuk terjun ke dunia mafia yang brutal. Mampukah sosok pemeluk agama yang taat ini menavigasi kekejaman organisasi kriminal yang sangat bertentangan dengan prinsip sucinya?
Bab
Bagikan

Bab 2

Lukas Layton, salah satu Pastur yang sangat mengenal Jordan dan sering bertemu Mamanya, terkejut melihat Mary Helena dan Siggy didorong hingga terjatuh ke lantai. 

“Oh, kalian tidak apa-apa? Ayo berdirilah,” Lukas membantu menarik lengan Mary Helena dan Siggy yang bergegas bangkit membantu Nyonya majikannya. 

Mary Helena menatap Pastur yang menolongnya, “Apakah Anda mengenali Jordan, Pastur?” tanyanya pelan dan terlihat sangat sedih pada matanya. 

“Tentu saja. Jordan adalah siswa yang sangat jenius. Seharusnya Jordan adalah Pastur muda dengan nilai paling tertinggi lulus hari ini. Kita juga sudah pernah bertemu sebelumnya, Nyonya Mary Watanabe,” sahut Lukas sopan. 

“Saya Lukas, Lukas Layton.” tambah sang Pastur memperkenalkan dirinya sendiri pada Mary Helena juga Siggy. 

Lukas membawa Mary Helena dan Siggy yang telah selesai memunguti makanan yang tadi dia bawa untuk Jordan, ikut tumpah ke lantai saat anak buah Ben Horik mendorong mereka terjatuh ke lantai.

“Katakan Pastur, Jordanku tidak melakukan seperti tuduhan yang disebutkan dalam aula sana. Jordanku tidak melakukan zina dan pembunuhan 'kan, Pastur?” Mary Helena bertanya dengan wajah sangat sedih menatap mata Pastur di depannya yang tetap tersenyum hangat. 

“Saya juga terkejut mendengar pemberitaan tersebut. Tetapi saya juga tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi. Maafkan saya, Nyonya!”

Kepala Mary Helena menggeleng dan airmatanya kembali merebak sehingga Siggy segera memberikan sapu tangan ke tangan Nyonya majikannya itu yang selalu anggun dalam bersikap. 

“A-apakah Jordanku dijebak dan dibunuh, Pastur? Kenapa? Apa salah anakku? Apakah salah menjadi murid yang pintar? Jordan tidak mungkin melakukan zina dan pembunuhan, apalagi bunuh diri! Saya tidak bisa percaya …”

“Bunuh diri? Siapa yang mengatakan hal seperti itu pada kalian?”Lukas memotong ucapan Mary Helena dan bertanya pada kedua wanita yang dia tatap bergantian di depannya tersebut.

“Penjaga yang tadi mendorong kami mengatakan jika Jordan bunuh diri, Pastur.” Siggy memberikan jawaban. 

Kini kepala Lukas yang menggeleng dengan tatapan rumit. 

“Jordan kabur dan tidak seorang pun yang mengetahui kemana perginya saat dia menginap di luar asrama tadi malam. Semua barang-barang dan pakaiannya ada di kamar dalam asramanya.” tutur Lukas yang kini dia mengetahui seperti ada permainan jebakan untuk murid jenius yang sangat patuh pada perintah Tuhan tersebut. 

Sejak pembicaraan bertiga tersebut, Siggy pulang sendiri ke rumah Mary Helena di pedesaan. Sedangkan Mary Helena bersama Pastur Lukas tidak pernah terlihat lagi juga tidak ada seorang pun yang mengetahui keberadaan mereka. 

--

“Aku bukan penjahat! Aku tidak berzina juga tidak membunuh!” protes Jordan saat sampan yang membawa dirinya telah tiba dalam lorong di pulau. 

Jordan di dorong oleh pengemudi sampan agar turun ke tanah bebatuan lembab juga sangat licin, dimana tiga orang juga datang menjemputnya turun dari sampan. 

“Ya, kamu bebas berkata apa pun di sini, Jordan Smith Watanabe! Tidak akan ada seorangpun yang percaya pada ucapanmu, mungkin dinding-dinding batu ini juga tidak!” cetus salah satu dari tiga orang yang terlihat berpakaian parlente pada Jordan.

“Kenalkan saya adalah Langley tanpa nama belakang, hanya Langley! Well, selamat datang di penjara dimana tempat para penjahat terhebat negri ini berakhir di sini. Mari saya antarkan Anda pada ruangan Anda,” tambah Langley sambil memberi kode pada pengemudi sampan agar segera pergi berlalu. 

Dua orang yang datang bersama Langley, memegangi lengan Jordan dan membawa pria itu menaiki tangga batu serta lorong demi lorong gelap mengikuti Langley yang berjalan paling depan. 

“Bagaimana Jordan? Saya memilihkan ruangan paling bagus untukmu. Di sini kamu bisa melihat sinar matahari, sapa tau kamu ingin berdoa sambil melihat sinar!” cetus Langley setelah dia membuka ruangan yang pastinya berdinding batu dan memiliki jendela sangat tinggi yang bisa melihat sinar matahari di bagian langit-langitnya. 

Jordan terdiam, matanya memindai sekelilingnya yang tidak terdapat apapun dalam ruangan tersebut. 

Tidak ada apapun! Termasuk tempat tidur ataupun kursi duduk kecuali rantai-rantai yang tergantung menjulur dari langit-langit pada salah satu sisi ruangan.

“Oh ya, di penjara ini, kami memiliki peraturan memberikan hadiah pada semua tahanan kami di sini. Hadiah pertama adalah saat kedatangan dan hadiah berikutnya diberikan pada hari ulang tahun masing-masing tahanan.” tutur Langley dengan senyum tipis menyeringai pada bibirnya menatap Jordan yang masih muda tetapi terlihat sangat tampan. 

Satu telapak tangan Langley menengadah ke samping bahunya dan anak buahnya memberikan cambuk ke tangan kepala penjara di pulau tersebut. 

Kedua anak buah Langley menarik tubuh Jordan untuk mengaitkan tangan dan kakinya pada rantai yang membuat tubuh Jordan seperti huruf X dimana kedua pergelangan tangan dan kakinya terikat pada rantai. 

“Tidak! Aku sungguh tidak bersalah! Aku di jebak!” teriak Jordan namun dirinya tidak kuasa melawan kedua anak buah Langley yang menyeringaikan senyum masam menanggapi perkataan Jordan.

“Berteriaklah, panggil Tuhanmu agar dia menolongmu dan membawamu keluar dari sini dalam bentuk kematian!” ucap Langley sinis berdesis jijik pada Jordan. 

Langley mendapat diperintah untuk menghukum Jordan hingga babak belur memohon kematian, sama seperti semua para tahanan yang di penjara pulau ini. 

Langley mengayunkan cambuk di tangannya ke punggung Jordan sebanyak dua puluh dua kali sesuai dengan usia pria muda itu. 

“Bagaimana? Apakah sudah ada tanda-tanda Tuhanmu akan datang?” ejek Langley sinis melihat wajah Jordan sudah banjir keringat bercampur airmata. 

Bibir Jordan sudah tidak bisa lagi berteriak namun dalam hatinya dia memanggil Tuhan dan yakin akan cintaNYA selalu. 

“Ach, saya lupa mengatakan …setiap kamu ulang tahun, hadiah cambukanmu akan bertambah sesuai dengan usiamu.”

Selesai berkata pada Jordan, Langley langsung pergi keluar dengan senyum tersungging cerah pada wajahnya dan kedua anak buahnya melepaskan borgol pada kedua tangan dan kaki Jordan yang membuat tubuh pria muda itu jatuh menggelosor pada lantai tanah berbatu. 

“Tuhan, apa yang Engkau inginkan untuk aku pelajari dari kejadian ini?” gumam Jordan sambil merapalkan doa-doa agar dia bisa mengalihkan rasa perih, ngilu dan sakit pada punggungnya yang sudah berdarah-darah dicambuk Langley. 

Mata Jordan melihat ke arah langit-langit ruangannya yang sudah gelap gulita. Tidak ada cahaya apa pun dalam ruangan tempatnya di kurung tersebut yang berarti sudah malam hari. 

“Mama …Tuhan, tolong lindungi dan jaga Mamaku. Hanya dia yang aku punya selain Engkau, Tuhan.” monolog Jordan masih tetap kuat dengan keyakinannya jika Tuhan tidak akan pernah meninggalkan siapapun yang menyebut namaNYA. 

Pintu baja ruangan Jordan di gedor dari luar dan pada bagian bawah pintu terbuka sedikit yang petugas mendorong kasar mangkuk berisi soup ke dalam ruangan Jordan. 

Sebagian kuah soupnya ikut tumpah karena didorong kasar oleh petugas dan hanya menyisakan sedikit yang tentunya tidak akan mengenyangkan sama sekali. 

“Makan, jika Anda masih ingin hidup dan melihat sinar matahari esok hari!” teriak penjaga dari luar pintu dengan suara keras pada Jordan. 

Dengan merangkak, menahan perih, ngilu dan sakit pada punggungnya, Jordan mengambil manggok dan meminum isinya yang lebih banyak berisi air tersebut sambil tetap menelungkup. 

Jordan tidak bisa bangun berdiri ataupun duduk, tulang-tulang punggungnya sungguh sangat perih akibat dicambuk oleh Langley, seakan tulang belulang pada tubuh Jordan patah dibuatnya. 

Jordan kembali tertidur setelah meminum soup yang seperti air kotor dengan rasa sangat tawar tersebut hingga bangun terperanjat ketika pintu ruangannya kembali di gedor dan hari sudah terang terlihat pada jendela kaca di langit-langit ruangannya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Perawan Kesayangan Tuan-tuan Gigolo
9.6
Dunia gempar melihat deretan gigolo tampan dan berharta yang justru mengejar cinta seorang gadis desa miskin. Meski dianggap lugu, ia sebenarnya pembunuh berdarah dingin yang telah mencelakai para pria tersebut. Keanehan memuncak saat para gigolo ini justru merasa terhormat jika harus meregang nyawa di tangannya. Mengapa mereka tetap memuja sosok yang berbahaya bagi hidup mereka? Sebuah kisah romansa penuh aksi tentang obsesi yang tidak masuk akal bagi orang awam.
Sampul Novel Gadis Yang Terjamah
8.7
Marlina kehilangan segalanya demi ambisi pendidikan, termasuk kehormatan dan status sosialnya. Terbuang dari masyarakat, ia terjerumus ke dunia gelap narkoba di kota besar sebagai pengedar cantik yang diperebutkan para bandar. Meski berniat tobat dan berhijrah, jebakan rival mengirimnya ke penjara. Setelah mendalami agama di balik jeruji, Marlina justru kembali menghadapi penolakan keras saat bebas. Kini ia harus memilih: kembali ke jalan haram atau teguh berhijrah.
Sampul Novel Ibuku dijadikan pengasuh anak anak kakakku
8.9
Alih-alih dirawat dengan penuh kasih, ibu justru dipaksa menjadi pengasuh bagi kedua anak Sarah. Kakakku itu sungguh tega menyiksa ibu di saat aku sedang berjuang jauh di luar negeri. Namun, masa-masa penderitaan ibu akan segera berakhir. Kepulanganku kali ini membawa misi tunggal untuk menuntut keadilan. Aku tidak akan tinggal diam dan siap membalas setiap tetes air mata serta perlakuan buruk yang telah Sarah lakukan kepada ibu tercinta.
Sampul Novel Mahkota Pewaris yang Dikhianati
9.0
Emilia, pewaris sah Keluarga Hewitt, nyaris tewas akibat pengkhianatan orang tua dan keempat kakaknya demi seorang penipu. Kini, dia bangkit tanpa rasa takut untuk melawan siapa pun yang menindasnya. Sebagai dokter ternama dan penilai harta karun, ia membungkam setiap ejekan dengan kemampuannya. Saat dikucilkan karena tidak dicintai keluarganya, klan paling terpandang di kota justru muncul melindunginya dan menganggap Emilia sebagai permata yang sangat berharga.
Sampul Novel Mantan Kesayangan Menjadi Ratu Mafia
8.3
Dante Adiwangsa menyelamatkanku dari maut, namun sepuluh tahun kemudian, dia mengkhianatiku demi aliansi kriminal. Dia membiarkan tunangannya menghinaku meski tahu nyawaku terancam. Sadar hanya dianggap properti, cintaku musnah seketika. Di hari perayaannya, aku memutuskan kabur dari sangkar emas ini. Sebuah jet pribadi siap membawaku pulang ke pelukan ayah kandungku, sosok pria yang ternyata adalah musuh bebuyutan sang bos mafia tersebut.
Sampul Novel Menikahi Bos Mafia yang Menghancurkanku!
8.4
Setelah dipenjara karena membela diri, Ellea kehilangan tunangan dan kariernya yang direbut sahabatnya sendiri. Di masa sulit, pemimpin mafia Edwin Guntoro menikahinya. Namun, kebahagiaan itu sirna saat Ellea mengetahui bahwa Edwin adalah dalang di balik tragedi masa lalunya demi wanita lain. Merasa dikhianati, Ellea segera menghubungi musuh bebuyutan Edwin, Cavin Nugroho, untuk merancang rencana kejatuhan suaminya.