Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Salah Pilih Pengantin

Salah Pilih Pengantin

Fauzan memendam perasaan cinta yang sangat mendalam terhadap Rani. Namun, sebuah kesalahpahaman besar mengubah segalanya hingga ia terpaksa menikahi Zahra, yang merupakan kakak kandung dari wanita pujaannya tersebut. Kini, masa depan hubungan Fauzan dan Rani berada di persimpangan jalan yang penuh dilema. Akankah mereka menemukan cara untuk bersatu kembali, atau justru takdir memaksa mereka menempuh jalan hidup masing-masing selamanya?
Bab
Bagikan

Bab 2

Rani menarik napasnya berat, kemudian ia hembuskan dengan kasar. Lalu berkata. “Kita tutup cerita kita, Fauzan. Jangan sampai ada yang tahu kalau kita pernah saling mencintai. Anggap cinta itu tidak pernah ada di antara kita. Aku tahu ini sulit. Tapi saat ini, hanya ini yang mungkin untuk dilakukan,” tutur Rani dengan mata yang mulai sembab. 

Fauzan tercenung menatap gadisnya. Lantas kemudian ia tersenyum kecut. 

“Menikahi Zahra artinya semua cerita tentang kita akan berakhir. Dan kita akan menjalani kehidupan masing-masing. Dengan orang yang tidak kita cintai,” ucap Fauzan sembari menatap nyalang entah kemana. 

Rani mengangguk pelan. Sebelah tangannya terangkat dan hinggap di dada bidang milik lelaki tampan di depannya. 

“Lakukan ini demi aku, Fauzan. Lakukan ini demi kita. Demi kedua orang tua kita yang terlanjur bahagia. Juga demi Kak Zahra,” pinta Rani lembut. 

Fauzan memejamkan mata merasakan sentuhan tangan Rani di dadanya. Lalu kemudian Fauzan menangkup tangan lembut itu dan meremasnya pelan. Untuk menumpahkan semua kepelikan hatinya saat ini. 

“Baiklah. Kalau memang itu maumu. Aku akan menerima pernikahan ini,” putus Fauzan akhirnya. 

Mendengar itu, kedua manik mata Rani langsung menatap Fauzan dengan seksama. Hatinya mencelos saat melihat ternyata mata Fauzan telah merah karena menangis. 

 Harusnya Rani bahagia mendengar Fauzan mengiyakan permintaannya. Tapi mengapa hatinya malah terasa sakit dan berat. 

Seolah hati kecilnya tak merelakan itu. 

“Aku akan menikahi Zahra dan menjadikannya satu-satunya wanita dalam hidupku. Maka hari ini juga, aku akan melepaskanmu dan menganggap kalau semua cerita kita telah usai. Kisah kita telah berakhir, Rani. Buku kita akan ditutup sampai di sini. Tapi satu hal yang harus kamu tahu. Kalau aku melakukan semua ini semata-mata hanya untukmu. Untuk memenuhi permintaan dari wanita yang aku cintai.” 

Rani mengangguk sembari menangis. Perkataan Fauzan menusuk hatinya yang telah rapuh. Akhirnya, buku kisah mereka akan ditutup dengan ending yang menyedihkan. 

“Terimakasih, Rani. Selamat menempuh jalan hidup  kita masing-masing,” lanjut Fauzan menutup perkataannya. 

Karena setelah itu, Fauzan menempelkan bibirnya di kening Rani. Lantas ia berlalu meninggalkan gadis itu seorang diri. 

Rani menatap punggung tegap Fauzan yang berjalan gontai menuju motornya. Rasanya Rani ingin menahan lelaki itu agar tidak pergi. 

Namun Rani sadar kalau itu tidak mungkin. Fauzan harus tiba di tempat ijab kabulnya. Lelaki itu harus menunaikan pernikahannya hari ini. Dan Rani tidak boleh menghalangi itu. 

Maka saat motor Fauzan sudah menjauh dari pandangannya, Rani hanya bisa merasakan dadanya yang terasa amat sesak. 

“Selamat tinggal, Fauzan. Selamat tinggal untuk kisah kita yang telah usai,” ucap Rani lirih. 

Air matanya kini meluruh melintasi pipi. Sekarang Rani tak dapat menahan tangisnya lagi. Yang ia tahu, setelah ini lelaki yang ia cintai akan menjadi suami dari kakaknya sendiri. 

*** 

“Saya terima nikah dan kawinnya Zahra  Ratnadewi binti Arman sutoyo dengan mas kawin tersebut, tunai.”

“Bagaimana saksi?”

“Sah!” seru para saksi dan semua tamu undangan yang menyaksikan ijab kabul ini.    

Ya. Akhirnya Fauzan tiba di tempat pelaminan. Dan ia baru saja selesai mengucap ijab kabul. Suara lantang Fauzan membuat Zahra yang duduk di sampingnya tersipu malu. Orang tua kedua mempelai   mengucap syukur atas pernikahan anak mereka. 

Tapi bola mata Fauzan melirik kearah Rani yang duduk di samping ibunya. Manik mata mereka saling bersitatap untuk beberapa saat. 

Sadar kalau Fauzan sudah menjadi kakak iparnya, Rani langsung mengalihkan pandangan kearah lain. Sembari menghapus kasar air matanya yang jatuh. 

“Selamat. Akhirnya kalian sudah resmi jadi suami istri.” Ibu Fauzan mendekat dan merangkul kedua mempelai dari belakang. “Mama tidak menyangka kalau kamu akan menikah dengan Zahra,” lanjut ibu Fauzan sambil tersenyum. 

“Aku pun tidak menyangka, kalau aku akan menikah dengan Zahra,” balas Fauzan dengan nada yang berat menatap Zahra. 

Namun tidak ada satu pun yang sadar dengan muka masamnya. Semua orang terlanjur larut dalam kebahagiaan. 

Zahra tak berhenti tersenyum dan menerima ucapan selamat dari para tamu undangan. Sesekali ia menatap takjub pada wajah lelaki yang kini sudah menjadi suaminya. 

Para tamu undangan terus berderet untuk bersalaman. Hingga tiba giliran Rani. Gadis itu mendekat dengan memasang wajah bahagia. 

“Kak Zahra! Selamat Kak!” seru Rani merentangkan tangannya. 

“Rani! Adik kecilku. Terimakasih sayang.” 

Fauzan memperhatikan itu. Namun atensinya hanya tertuju pada wajah Rani yang terlihat bahagia. 

Fauzan tersenyum kecut dalam hati. Bagaimana bisa gadis itu tersenyum bahagia di hari yang paling menyedihkan dalam hidupnya? 

“Sekarang Kak Zahra sudah menjadi seorang istri. Dan tidak lama lagi aku akan mempunyai keponakan yang lucu-lucu,” cerocos Rani pada Zahra. 

Fauzan memutar bola matanya mendengar itu. 

“Pokoknya aku mau yang kembar ya, Kak. Yang lucu seperti tantenya. Kalau bisa bikin satu paket lengkap, laki-laki dan perempuan,” ucap Rani lagi. 

Yang dihadiahi jeweran di telinga oleh Zahra. 

“Nakal kamu, ya. Kakak saja baru nikah. Sudah ribut minta keponakan,” balas Zahra lalu menjentikkan jari di kening Rani. 

Semua yang melihat tingkah Rani dan Zahra langsung terpancing tawa. Tapi tidak dengan Fauzan. Lelaki itu bersikap biasa saja. Ia bukanlah lelaki yang bisa menangis dan tertawa di saat yang bersamaan. 

Ya. Fauzan sedang menangis di dalam hati. 

Puas menggoda Zahra, Rani kini menggeser bola matanya kearah Fauzan. Dimana lelaki itu ternyata sedang menatapnya dengan tajam. 

 Hal itu membuat Rani meneguk ludahnya susah payah. Tapi mengucap selamat pada kakak ipar, sudah sewajarnya dilakukan. 

“Emhh.. Fauzan.” Rani mencicit. Tiba-tiba ia merasa lidahnya kelu untuk sekadar berbicara. 

“Aku.. Aku..”

“Terimakasih,” potong Fauzan langsung. 

“Eh?” Rani mendongkak menatapnya.  

“Kau mau mengucapkan selamat, ‘kan? Aku berterimakasih untuk itu,” ucap Fauzan.  “Tidak disangka ya, Rani. Akhirnya aku menikah dengan kakakmu,” lanjut Fauzan menyindir Rani. Lalu melirik pada Zahra yang langsung tersenyum malu. 

Rani mengangguk sembari mencoba untuk menguatkan hatinya. 

“Iya. Dan aku sangat berharap kalau kamu bisa membahagiakannya. Dia kakak yang paling aku sayang. Aku tidak akan pernah mengizinkanmu membuatnya menangis. Apapun alasannya,” ucap Rani.

“Rani.” Zahra terharu mendengar apa yang Rani katakan. 

“Jangan khawatir. Untuk menikahi Zahra, aku sampai rela melepaskan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupku. Aku mengorbankan semuanya demi Zahra. Mana mungkin aku menyakitinya? Aku pasti akan membahagiakannya. Pasti. Karena saat ini dia adalah istriku,” kata Fauzan sambil menekan kata Pasti dan istriku di depan Rani. 

Tentu saja hal itu membuat Zahra terenyuh dan mengapit lembut lengan suaminya. Zahra tidak sadar kalau perkataan Fauzan adalah untuk menyindir Rani. 

Namun bagi Zahra, ucapan Fauzan terdengar bagai musik romantis di telinganya. 

***

Pernikahan Fauzan dan Zahra berlangsung dengan sangat meriah. Senyum tidak pernah luntur di wajah Zahra dan kedua orang tuanya.  

Ketika sesi berfoto, Fauzan berusaha memasang senyum palsu agar tidak membuat Zahra tersinggung. 

“Tahan! Satu, dua, ti.. ga,” ucap fotografer mengarahkan kameranya pada Fauzan dan Zahra.  

CEKREK!

“Bagus!” fotografer lelaki itu mengacungkan jempol tanda hasil fotonya memuaskan. 

Setelah foto diambil, Fauzan menarik napas lega sambil melepaskan rangkulan tangannya dari pinggang Zahra.  Tadi mereka disuruh berpose dengan sangat mesra. 

Mau tidak mau Fauzan menurut. Sebab ia sadar kalau saat ini mereka telah resmi menjadi suami istri di mata orang lain.

“Zahra, sudah waktunya untuk ganti gaun,” ibu Zahra datang menghampiri putrinya. 

“Iya, Bu.” Zahra menoleh pada Fauzan. “Aku ganti baju sebentar, ya,” kata Zahra. 

Fauzan menjawab itu dengan senyum tipis dan anggukan. Tanda ia tak keberatan sama sekali. 

Setelah itu, Zahra dituntun oleh ibunya untuk menuju ruang rias. Sementara Fauzan memutuskan untuk duduk di kursi pelaminan.  Manik mata Fauzan berpendar, mencari sosok yang sejak tadi tidak ia lihat. 

‘Di mana Rani?’ tanya Fauzan dalam hati. 

 Sedari tadi Fauzan tak melihat batang hidung wanita itu. Beberapa detik kemudian Fauzan menggelengkan kepalanya. 

‘Tidak! Seharusnya aku tidak pernah mencarinya? Untuk apa?’ 

Ya, sekarang ia telah menjadi suami Zahra. Tidak seharusnya ia gelisah saat Rani tak terlihat di sekitarnya. Mungkin akan lebih baik jika Rani memang tidak usah ada di sekelilingnya selama acara ini berlangsung. 

Karena hal itu akan membuat Fauzan nelangsa. 

Namun sayangnya semua tak sesuai harapan. Jantungnya kembali berpacu ketika matanya kini menangkap sosok Rani. Gadis cantik itu sedang ditarik oleh ibunya Fauzan, mereka berjalan menuju tempat dimana Fauzan sedang duduk. 

Pelaminan! 

“Ayo, Rani. Sejak tadi tante tidak melihat kamu difoto. Kamu ‘kan adiknya Zahra. Sudah seharusnya fotomu ada di album pernikahan,” kata ibu Fauzan yang berhasil membuat Rani berdiri kikuk di samping Fauzan. 

Dengan kening yang berkerut, Fauzan bangkit dari duduknya dan menatap ibunya dengan penuh tanya. 

“Aku tidak usah difoto, tante. Yang penting ‘kan pengantinya,” tolak Rani halus. 

“Eh, mana bisa? Anggota keluarga juga penting ada di foto pernikahan. Semuanya sudah difoto, tinggal kamu yang belum. Kalau tidak ada satu orang, berarti kurang lengkap album pernikahannya. Iya ‘kan, Fauzan?” tanya ibu  pada Fauzan. 

“Heemm..” Fauzan hanya berdeham sembari mengangguk. 

“Sudahlah, Rani. Hanya tinggal difoto saja, ‘kan? Mamanya Fauzan susah ditolak kalau sudah memaksa,” canda ayah Fauzan lalu tertawa. 

Rani tersenyum canggung. Sekarang ia tak bisa berkutik. Ia jadi menyesal kenapa tadi tidak ikut bergabung saat sedang mengambil foto keluarga? Kenapa malah bersembunyi di kamar rias? 

Akibatnya Rani mendapat getahnya sekarang. 

“Lebih dekat lagi sedikit..” suruh fotografer yang melihat jarak Rani dan Fauzan terlalu lebar. 

 Fauzan dan Rani saling lirik, lalu kemudian mereka sedikit menggeser kaki untuk saling mendekat. 

“Masih kurang rapat. Lebih dekat sedikit lagi,” suruh fotografer. 

Rani sudah berkeringat. Harus berdiri merapat di samping Fauzan? Rasanya Rani ingin pingsan saat ini juga. 

“Ayo, Rani. Geser sedikit lagi. Jangan takut, Fauzan sudah jinak. Dia tidak akan menggigit, kok.” Ayah Fauzan berseloroh lagi. 

Membuat ibu Fauzan dan fotografer tertawa. Sementara Rani tersenyum canggung. Dan Fauzan? Dia masih tetap dengan wajah datarnya. Namun bunyi detak jantungnya yang berlompatan masih berusaha ia sembunyikan. 

Rani menggigit bibirnya, saat dengan tiba-tiba Fauzan menarik pinggangnya agar sedikit merapat. 

“Nah, begitu bagus. Siap ya! Satu, dua, ti.. ga.”

CEKREK! 

“Wah. Kenapa pengantinnya malah cocok dengan yang ini ya?” canda fotografer yang langsung disambut tawa oleh kedua orang tua Fauzan. 

Sementara wajah Rani sudah merah seperti kepiting rebus. 

Fauzan sendiri memilih untuk mengalihkan pandangannya kearah lain.

Namun ia tak sadar jika tangannya masih di pinggang Rani.

“Masih mau difoto lagi, Fauzan? Sudah tiga jepretan apa masih kurang? Tanganmu betah sekali,” canda ayah Fauzan.

Mendengar itu, kontan membuat Fauzan dan Rani tersadar dan segera saling menjauh.

Ibu Fauzan menertawakan keduanya.

“Senang melihat kalian akur. Semoga selalu menjadi ipar yang akur, ya,” kata ibu Fauzan.

Ya, ipar yang akur. Fauzan mendesah dalam hati. Bukankah hubungannya dengan Rani hanya sebatas saudara ipar?

Tak sanggup menahan canggung lebih lama lagi, Rani memutuskan untuk segera pergi dari sana.

“Fotonya sudah selesai, ‘kan? Kalau begitu aku permisi ya tante, om,” kata Rani pada kedua orang tua Fauzan. Yang dibalas mereka dengan senyum dan anggukan.

Fauzan menoleh pada punggung Rani yang mulai menjauh dari dirinya. Ia bisa merasakan kecanggungan Rani saat berada di atas pelaminan berdua dengannya.

Sementara Rani dengan cepat bersembunyi di balik tembok. Ia menyandarkan punggungnya sembari berusaha menetralkan napasnya yang tak beraturan.

“Bernapas, Rani. Bernapas,” gumam Rani pada dirinya sendiri. Ia bahkan masih bisa merasakan gerakan tangan Fauzan yang tadi hinggap di pinggangnya.

“Tidak. Semua ini salah. Detak jantung ini salah. Seharusnya aku tidak boleh begini. Ingat, Rani. Sekarang Fauzan sudah jadi milik Kak Zahra. Fauzan sudah menikah.”

Rani menyentuh dadanya sambil menggelengkan kepala. Ia berusaha mengusir rasa itu dari dalam hatinya. Rasa yang selalu muncul saat ia berdekatan dengan Fauzan.

Rasa cinta!

Ketika merasa sudah lebih baik, Rani mencoba mengintip ke belakang. Dimana Fauzan berada. Ternyata sekarang lelaki itu sedang berdiri berhadapan dengan Zahra untuk melakukan sesi foto selanjutnya.

Rupanya Zahra sudah selesai berganti gaun. Rani tersenyum kecil melihat betapa cantiknya gaun yang dipakai oleh kakaknya itu. Warna ungu, warna kesukaan Zahra.

“Aku telah mengorbankan hidupku untukmu, Kak. Dan aku berharap suatu saat aku bisa melupakan Fauzan untuk selamanya,” gumam Rani yang masih menatap ke arah pelaminan.

Namun tepukan di punggungnya membuat Rani terperanjat.

“Ibu?”

“Kakakmu menikah, kamu malah sering bersembunyi sendiri. Ibu mencarimu kemana-mana. Ayo, ikut ibu berfoto dengan pengantinnya,” ajak ibu Rani.

Rani menggeleng. “Tidak, Bu. Aku sudah berfoto tadi.”

“Kapan?”

“Rani sudah berfoto dengan Fauzan,” jawab ibunya Fauzan yang datang menghampiri Rani dan besannya.

Mendengar itu, ibu Rani melirik pada putrinya dengan raut bertanya. “Benarkah? Kapan?”

“Tadi. Itu pun aku yang harus menyeret Rani dulu. Tapi hasil fotonya bagus. Aku jadi ingat saat mereka masih kecil. Fauzan sering sekali foto berdua bersama Rani. Aku sampai berpikir kalau nanti mereka berdua yang akan menikah. Tapi ternyata Zahra yang lebih dulu mencuri hati Fauzan, ya.”

Rani menggigit bibirnya mendengar ucapan ibu Fauzan.

Ibu Rani mengangguk tersenyum. “Iya. Takdir dan jodoh tidak ada yang tahu. Semoga saja Rani bisa mendapatkan lelaki yang baik seperti Fauzan,” ucap ibu Rani sembari mengusap punggung putrinya.

Rani hanya menjawab itu dengan senyum kecil. Mendapatkan lelaki sebaik Fauzan? Entahlah. Tapi Rani tidak yakin dengan hal itu.

***

Setelah acara pernikahan selesai, kedua orang tua Fauzan memutuskan untuk pulang. Fauzan dan seluruh keluarga Zahra mengantar hingga ke depan mobil.

“Kenapa tidak bermalam di sini saja?” tanya ibu Rani pada Mamanya Fauzan.

“Iya, Ma. Pa. Menginaplah di sini barang hanya semalam. Aku tahu kalian pasti lelah ikut mengurus pernikahan kami,” pinta Zahra dengan ramah. Lalu kemudian ia melirik kearah Fauzan yang berdiri di sampingnya. Seolah meminta dukungan dari suaminya itu.

Fauzan menganggukan kepala.

“Benar, Ma. Sebaiknya kalian bermalam saja di sini,” tambah Fauzan.

Namun Papa dan Mama Fauzan menggeleng. “Terimakasih. Tapi lebih baik Mama dan Papa pulang saja. Lagipula, kami tidak ingin mengganggu romantisme pengantin baru yang lagi semangat-semangatnya bikin cucu,” seloroh Mama Fauzan.

Semuanya tertawa. Hanya Fauzan saja yang mengangkat sedikit ujung bibirnya. Fauzan tahu, setelah menikah pertanyaan tentang cucu akan lebih sering ia dengar.

Jadi mau tidak mau, ia harus membiasakan diri dengan hal itu.

“Papa heran, kenapa kalian tidak mau menghabiskan malam pertama di hotel yang mewah saja? Biar kalian lebih nyaman. Kenapa malah di rumah?” tanya Papa Fauzan pada kedua pengantin.

Ya. Fauzan bukanlah orang sembarangan. Dengan kekayaannya, ia mampu menyewa hotel paling mewah sekalipun di negeri ini. Namun alih-alih melakukan itu, Fauzan dan Zahra justru memilih untuk melewati malam pertama mereka di rumah Zahra.

Tentu saja hal itu menimbulkan pertanyaan bagi kedua orang tua Fauzan.

“Karena aku yang minta, Pa,” jawab Zahra. “Setelah menikah, aku pasti akan ikut dengan Fauzan dan meninggalkan rumah ini. Untuk itu, aku meminta pada Fauzan agar kita menghabiskan malam di sini saja. Sekaligus aku bisa menikmati waktu terakhir dengan ibu dan ayah sebelum aku benar-benar pergi meninggalkan mereka,” Zahra menuturkan.

Mendengar itu, kedua orang tua Fauzan tersenyum. Mama Fauzan bahkan merangkul pundak Zahra yang saat ini telah menjadi menantunya itu dengan penuh sayang.

“Mama paham. Dilema seorang istri adalah ketika ia harus meninggalkan keluarganya dan pergi ke tempat yang baru. Mama tidak masalah kalian mau berbulan madu dimanapun. Tapi yang penting usahanya harus rajin, ya,” Mama Fauzan kembali berkelakar. Membuat semuanya terkekeh.

Sedangkan Fauzan mengusap wajahnya. Dalam hati ia mendesah, lagi-lagi masalah cucu dan cucu. Fauzan bahkan tak terpikirkan sedikitpun soal anak. Sebab ia tidak tahu apakah ia bisa menyentuh Zahra di saat hatinya masih untuk wanita lain.

“Soal itu tidak perlu khawatir. Kami bahkan sudah menyiapkan kamar pengantin yang seromantis mungkin. Agar Fauzan dan Zahra bisa menikmati malam pertama mereka dengan berkesan,” kata ibu Rani memberitahu.

Ucapannya menarik antusias kedua orang tua Fauzan.

“Yang benar?” tanya Papa Fauzan.

Ibu Rani mengangguk bangga. “Iya. Rani yang menghiasnya.”

Mendengar itu, kontan saja membuat bola mata Fauzan tak tahan untuk melirik kearah Rani. Dimana ternyata gadis itu juga melirik padanya. Kini kedua manik mata mereka bersirobok saling pandang satu sama lain.

Fauzan menatap Rani dengan tatapan tak terbaca. Namun dari sorot matanya, Rani bisa menebak kalau Fauzan menyimpan sebuah pertanyaan untuknya.

Setelah berpamitan, kedua orang tua Fauzan masuk ke dalam mobil. Mereka harus pulang sebelum hari semakin gelap.

Fauzan melirik kearah Zahra saat dengan tiba-tiba Zahra mengapit lengannya. Zahra sudah tidak canggung lagi bersikap mesra terhadap Fauzan di depan semua orang. Dan hal itu tak luput dari perhatian Rani.

Rani tersenyum melihat itu, namun entah mengapa hatinya masih terasa sesak. Mungkin ia belum terbiasa melihat kemesraan Fauzan dan Zahra.

“Hati-hati di jalan Ma, Pa.” Zahra melambaikan tangan pada mobil yang mulai menjauh. Namun lengannya masih setia mengapit lengan Fauzan yang kekar.

Fauzan menunduk melihat kearah tangannya dan tangan Zahra. Lalu kemudian ia mengalihkan pandangannya untuk melihat kearah Rani. Rupanya gadis itu sudah menatap kearah lain.

‘Bagaimana rasanya? Sakit ‘kan, Rani? Mencintai seseorang namun tidak bisa memiliki?’ tanya Fauzan dalam hati dan tatapannya.

Seolah pertanyaan itu dapat didengar oleh Rani.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel AKAN KUBUAT KAU MENYESAL, MAS!
7.8
Selama ini aku rela menyokong finansial Mas Arya, bahkan menghidupi ibu dan adiknya saat gajinya tak mencukupi. Namun, pengkhianatannya dengan menikah lagi menjadi titik balik bagiku untuk berhenti peduli. Kini, biarlah ia memikul beban keluarga itu sendirian agar menyadari peranku yang selama ini ia remehkan. Aku enggan terus terjebak dalam pernikahan beracun ini. Masa depanku masih panjang, dan aku berhak mencari kebahagiaan tanpa dirinya lagi.
Sampul Novel AKU PELAKOR
9.5
Arum hancur saat ayahnya menceraikan sang ibu demi wanita lain. Ia menyaksikan ibunya berjuang sendirian hingga terpaksa menikahi pemabuk akibat fitnah keji. Penderitaan bertubi-tubi ini hampir membuat Arum mengakhiri hidupnya karena depresi. Kini, luka batinnya berubah menjadi dendam membara terhadap wanita yang merebut ayahnya. Arum bersumpah menuntut balas pada sosok yang menghancurkan keluarganya dan membuat sang ayah mengabaikan tanggung jawabnya.
Sampul Novel BAHAGIA SETELAH DUKA
8.3
Hubungan asmara Gabriel dan Nadya terhalang tembok besar restu keluarga akibat perbedaan keyakinan. Demi meminang Nadya yang merupakan penganut agama yang taat, Gabriel rela berpindah keyakinan dan berkomitmen menjadi imam yang baik. Namun, pengorbanan besar tersebut harus dibayar mahal. Keputusannya membuat Gabriel kehilangan haknya sebagai ahli waris Indofarma Grup dan namanya pun resmi dicoret dari daftar keluarga besarnya.
Sampul Novel Bahagiaku Bukan Denganmu
7.9
Akibat pertengkaran hebat, Imron menceraikan Humaira demi menikahi Laras yang dianggapnya lebih menawan. Namun, penyesalan datang saat Laras terbukti gagal mengurus rumah tangga. Di balik itu, Laras menyimpan rahasia kelam yang mengancam masa depan mereka. Saat Imron bertemu kembali dengan Humaira yang kini tampil lebih memikat, niat untuk rujuk pun muncul. Akankah Imron bertahan dalam kepalsuan Laras atau berhasil mengejar kembali cinta masa lalunya?
Sampul Novel Kaka Iparku Brengsek
8.7
Nadia Pamungkas tidak menyangka keputusan tinggal di rumah kakaknya, Tasya, di Jakarta akan berakhir menjadi bencana besar. Tasya yang sibuk bekerja memiliki suami blasteran bernama Aldo. Meski awalnya terlihat baik, perhatian Aldo kepada Nadia perlahan berubah menjadi ketertarikan yang tidak wajar. Hubungan terlarang pun tak terelakkan hingga mereka melakukan kesalahan fatal yang mengancam keutuhan keluarga. Akankah rahasia gelap ini terungkap dan menghancurkan segalanya?
Sampul Novel Mantan Kekasihku CEO Psikopat
8.9
Alya Rahayu pindah ke Jakarta demi karier impian, namun nasib malang membuatnya kehilangan segalanya. Di titik terendah, ia bertemu Dira Pratama, mantan kekasih yang kini menjadi CEO dingin penuh rahasia gelap. Lima tahun berlalu, Dira bukan lagi pria lembut yang ia kenal, melainkan sosok obsesif yang menyimpan dendam masa lalu. Terjebak sebagai bawahan Dira, Alya harus menghadapi trauma dan kenyataan pahit di balik alasan pria itu meninggalkannya dahulu.