Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Salah Pilih Pengantin

Salah Pilih Pengantin

Fauzan memendam perasaan cinta yang sangat mendalam terhadap Rani. Namun, sebuah kesalahpahaman besar mengubah segalanya hingga ia terpaksa menikahi Zahra, yang merupakan kakak kandung dari wanita pujaannya tersebut. Kini, masa depan hubungan Fauzan dan Rani berada di persimpangan jalan yang penuh dilema. Akankah mereka menemukan cara untuk bersatu kembali, atau justru takdir memaksa mereka menempuh jalan hidup masing-masing selamanya?
Bab
Bagikan

Bab 3

Makan malam pertama untuk Fauzan di rumah keluarga Zahra. Sebagai seorang istri, Zahra melayani Fauzan dengan sangat baik. Ia menarik kursi untuk suaminya, lantas menuangkan makanan di atas piring untuk kemudian ia sodorkan pada lelaki itu.

“Terimakasih,” ucap Fauzan menerima piring dari Zahra. “Kamu makanlah,” lanjut Fauzan melirik kursi yang ada di sampingnya.

Zahra mengangguk lantas mendudukan tubuhnya di sana. Sementara Rani, setelah menata meja ia duduk di dekat ibu dan ayahnya.

“Makan yang banyak, Fauzan. Jangan sungkan-sungkan. Mulai sekarang kamu adalah bagian dari keluarga kami,” kata Ayah pada Fauzan.

“Tentu ayah.” Fauzan mengangguk sambil tersenyum. Lalu kemudian ia mulai menyendok makanannya.

Baru saja Fauzan mengunyah rendang itu, gerakan mulutnya tetiba saja terhenti. Rasa rendang ini tidak asing baginya. Begitu pikir Fauzan.

Bola mata Fauzan lari ke arah Rani yang sedang makan dalam diam. Entah mengapa sekarang ia jadi sulit untuk menelan makanannya. Rasa rendang ini terlalu mengingatkannya dengan semua kenangan tentang Rani.

Tak lama Zahra menepuk pundak Fauzan hingga membuat lelaki itu tersentak.

“Fauzan, Ada apa? Apa makanannya tidak enak?” tanya Zahra dengan kening yang berkerut.

Dengan cepat Fauzan menggeleng dan mencoba untuk tersenyum. Semua mata tertuju padanya sekarang. Hal itu membuat ia gelagapan.

“Eh, Tidak. Rendangnya sangat enak. Rani pintar sekali memasaknya.”

Namun sedetik kemudian Fauzan merapatkan bibirnya, karena tanpa sadar ia telah memuji Rani.

Sementara yang dipuji balas menatap Fauzan dengan raut tak percaya.

‘Bagaimana Fauzan masih ingat dengan rasa rendang buatanku?’ tanya Rani dalam hati.

Zahra pun menanyakan hal yang sama pada suaminya.

“Kenapa kamu bisa tahu kalau Rani yang masak?”

Ibu dan ayah mertuanya juga sepertinya penasaran. Sebab saat ini mereka pun ikut menatapnya dengan seksama.

Fauzan terdiam sebentar menatap Rani. Lalu kemudian ia berdeham untuk membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba kering.

“Dulu aku dan Rani sering masak bersama di rumahku. Dan Rani selalu membuatkanku rendang,” jawab Fauzan.

“Dan rasa rendangnya masih kamu ingat sampai sekarang?” tanya Zahra lalu terkekeh. “Adikku memang hebat ‘kan, sayang? Dia memang pintar masak sejak kecil. Tapi aku tidak tahu kalau kamu juga suka memasak. Wah sepertinya.. aku yang akan dibuat gemuk nanti. Karena aku tidak mahir memasak,” lanjut Zahra sambil tersenyum pada Fauzan.

“Tapi yang namanya seorang istri harus pintar memasak, Zahra. Selain kebutuhan batin, mengenyangkan perut suami juga penting,” ibu Rani memberitahu.

Zahra langsung memanyunkan bibirnya.

“Iya, Bu, iya. Nanti aku akan belajar masak di internet. Atau… aku akan sering meminta Rani menginap di rumah saja. Biar aku bisa belajar membuat rendang kesukaan Fauzan,” ucap Zahra santai.

Namun berhasil membuat Fauzan dan Rani tersedak secara bersamaan. Zahra mengerutkan keningnya sambil menyodorkan air minum pada Fauzan. Sedangkan Rani mengambil gelas yang terhidang di depannya dan menghabiskannya hingga tandas.

“Lho, kalian kenapa? Aku salah bicara, ya?” tanya Zahra bingung. Ia menatap pada Fauzan dan Rani bergantian.

Fauzan menaruh gelasnya di atas meja. Lantas berkata dalam hati. ‘Jika Rani sering menginap di rumahku, perutku mungkin akan kenyang. Tapi hatiku yang tidak akan aman.’

“Tidak, Zahra. Aku tidak apa-apa,” kata Fauzan untuk mengusir raut khawatir di wajah Zahra. “Dan soal apa yang dibilang oleh ibu. Sepertinya aku sedikit berbeda pendapat. Aku tidak akan memaksa istriku untuk pintar memasak. Kalau kamu mau, kamu bisa belajar. Tapi kalau tidak pun aku tidak akan mempermasalahkan itu,” lanjut Fauzan yang langsung membuat Zahra tersenyum senang.

Karena sejujurnya Zahra memang sedikit malas dengan urusan dapur. Ia sudah terbiasa dimanjakan oleh tangan Rani yang jago memasak.

“Kamu beruntung memiliki suami seperti Fauzan. Dia sangat pengertian pada istrinya,” ucap ibu pada Zahra. “Ibu harap nanti Rani juga mendapatkan suami yang sama seperti Fauzan,” lanjut ibu yang kini melirik pada Rani.

“Ibu,” Rani protes pada ibunya. Sementara Fauzan mengangkat kepalanya menatap Rani.

“Kenapa? Ibumu tidak salah. Cepat atau lambat kamu juga harus menikah, Rani. Tidak mungkin anak bungsu ayah ini akan jadi gadis selamanya,” canda ayah Rani menggoda putrinya.

Zahra dan ibu terkekeh melihat bibir Rani yang mengerucut lucu. Fauzan juga tanpa sadar mengulum senyum kecilnya. Baginya, Rani saat cemberut selalu terlihat menggemaskan sejak dulu.

***

Setelah makan malam, tadi Fauzan langsung membersihkan dirinya di kamar mandi. Ternyata berdiri terus di acara resepsi membuatnya sedikit kelelahan. Untuk itu Fauzan memilih mandi agar tubuhnya terasa lebih segar.

Setelah lima belas menit, Fauzan keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Namun ia terkejut saat mendapati Zahra sudah duduk di atas tempat tidur dengan pakaian yang… seksi.

Fauzan bukannya tergoda. Ia hanya bingung mau berbuat apa. Sekamar dengan wanita yang tidak ia cintai. Sedangkan saat ini tubuhnya hanya berbalut handuk. Ini menyedihkan!

“Fauzan? Kamu sudah selesai? Tadi aku mandi di kamar Rani,” kata Zahra memberitahu. “Ini aku siapkan baju tidur untukmu.” Zahra menyodorkan stelan baju tidur warna abu yang terlipat rapi di tangannya pada Fauzan.

Dan Fauzan menerima itu sambil tersenyum tipis. “Terimakasih. Emhh.. aku akan ganti baju dulu,” ucap Fauzan sambil menunjuk kamar mandi yang berada di belakangnya.

Zahra mengulum senyum. Lantas mengangguk dengan wajah menggoda. “Baiklah. Aku paham. Mungkin kamu masih malu untuk berpakaian di dekatku. Silakan, Fauzan. Aku akan menunggu di sini.”

Zahra kembali duduk di tempat tidur dengan senyum yang tertahan. Sedangkan Fauzan meremas baju tidur di tangannya. Sebelum kemudian ia pergi ke kamar mandi.

Setelah menutup pintunya dengan rapat, Fauzan menghembuskan napasnya kasar.

“Sial!” umpatnya. Lalu mengacak rambutnya gusar. “Aku harus bagaimana? Aku tidak mau menyakiti hati Zahra. Tapi aku juga belum siap untuk melakukannya sekarang,” lanjut Fauzan dengan wajah bingung.

Fauzan sadar dengan statusnya saat ini. Ia telah menjadi seorang suami. Dan malam ini adalah malam pertama mereka. Tidak mungkin ia menghindar jika Zahra menagih nafkah batin padanya.

Hal itu pasti akan membuat hati Zahra terluka.

“Tenang.. aku harus tetap bersikap normal. Bukankah aku yang sudah menyanggupi untuk menikahi Zahra? Jadi aku harus menerima segala konsekuensinya. Termasuk menyentuhnya,” kata Fauzan mencoba menyemangati dirinya sendiri.

Namun ia tetap mengusap wajahnya bingung. Fauzan merasa seperti orang bodoh sekarang ini, ia seperti seorang anak perawan yang takut disentuh!

Setelah bergulat dengan pikirannya, Fauzan memutuskan untuk segera berpakaian. Ia takut Zahra keheranan melihatnya terlalu lama di kamar mandi.

Beberapa menit kemudian Fauzan membuka pintu. Zahra yang sedang duduk di tepi tempat tidur kembali bangkit dan menghampirinya.

“Fauzan. Kemarilah..” ajak Zahra menarik tangan kekar milik Fauzan.

Lelaki itu hanya bisa menurut saat Zahra menuntunnya untuk duduk pinggir ranjang. Fauzan memerhatikan tangan Zahra yang meraih gelas berisi susu di atas nakas. Sebelum kemudian menyodorkan gelas itu padanya.

“Minumlah. Aku sudah menyiapkan segelas susu untukmu,” kata zahra sambil tersenyum manis.

Fauzan menatap gelas itu dengan sebelah alis yang terangkat. Lantas ia menatap pada Zahra.

“Tapi aku tidak terbiasa minum susu. Biasanya aku hanya minum teh hangat,” tolaknya halus.

“Mulai sekarang, kamu harus terbiasa. Susu itu menyehatkan, Fauzan. Lagipula kopi dan teh itu mengandung kafein. Terlalu sering mengonsumsi keduanya tidak baik bagi tubuh dan bisa membuatmu terjaga di malam hari. Jadi aku mohon kamu mau menghabiskan susu ini?” tanya Zahra penuh harap. “Aku sudah membuatnya dengan sepenuh hati.”

Fauzan menarik napasnya sesaat, lalu kemudian ia mengangguk sambil tersenyum tipis.

“Baiklah. Aku akan meminumnya.”

Ucapan Fauzan langsung membuat wajah Zahra terlihat sumringah. Ia senang saat Fauzan menerima gelas dari tangannya. Sebelum akhirnya meminum susu itu meski hanya seperempatnya saja.

“Terimakasih.” Fauzan memberikan kembali gelasnya pada Zahra.

“Bagaimana rasanya? Enak?” tanya Zahra antusias.

Fauzan menjawab dengan anggukan kecil.

Zahra meletakkan gelas yang masih berisi susu itu di atas nakas. Lalu ia menggeser duduknya agar semakin merapat di samping Fauzan.

Hal itu terang saja membuat Fauzan menahan napas. Detak jantungnya mungkin biasa saja. Namun hatinya merasa tidak nyaman.

Kalau tidak mengingat perasaan Zahra, ingin rasanya Fauzan mengangkat pantatnya dari sana.

“Kamarnya indah sekali ya, Fauzan?” tanya Zahra sambil tersenyum malu.

Fauzan menoleh dan mencoba membalas senyum itu.

“Emhh.. iya. Kamarnya sangat indah.”

“Rani pintar sekali menghiasnya. Bisa-bisanya dia mendekor kamar pengantin kita dengan sangat cantik. Ada bunga mawar dimana-mana.. Lampu-lampu hiasnya.. belum lagi gaun ini.” Zahra menyentuh gaun malamnya yang berwarna peach. “Rani juga yang menyiapkannya untukku. Dia itu memang terlihat sangat menyayangiku ‘kan, Fauzan?”

Fauzan termenung sesaat. Matanya berpendar melihat betapa kerasnya usaha Rani menghias kamar ini untuk dirinya dan Zahra.

Apa gadis itu tidak mengalami perang batin saat sedang menyiapkan kamar pengantin untuk lelaki yang ia cintai? begitu pikir Fauzan.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95LDU" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95LDU
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Om Duda
7.9
Rehan Hadinata adalah CEO sukses sekaligus duda dengan satu anak yang merindukan kasih sayang wanita. Meski banyak yang mengejarnya, tak ada satu pun yang berhasil memikat hatinya. Suatu hari, ia mencoba aplikasi kencan daring dan tertarik pada sosok bernama Nesya Cintia Ayu. Rehan pun memberanikan diri untuk mengirimkan pesan dan memulai perkenalan. Akankah interaksi mereka berkembang menjadi hubungan yang lebih serius dan penuh komitmen di masa depan?
Sampul Novel DILEMA SUAMI BAYARAN
9.6
Barra Farzan, seorang duda yang mendambakan kebahagiaan, akhirnya menikahi Astra, putri konglomerat cantik. Namun, saat resepsi pernikahan berlangsung penuh tawa, seorang wanita tiba-tiba muncul dan menampar Astra. Ia mengaku sebagai istri sah Barra yang ditinggalkan bersama anak mereka. Tuduhan pelakor pun seketika menghancurkan suasana. Rahasia gelap apa yang disembunyikan Barra? Sanggupkah mereka bertahan, atau Barra hanya akan menjadi suami bayaran?
Sampul Novel Head Over Heels
8.7
Miko hadir dalam kehidupan sebagai sosok rival yang paling dibenci, namun kehadirannya justru memicu badai emosi yang tak terduga. Hubungan benci tapi rindu ini perlahan mengobrak-abrik seluruh perasaan dan logika yang ada. Di balik persaingan sengit mereka, tersimpan getaran yang mengguncang hati secara mendalam. Kisah ini mengikuti perjalanan emosional yang rumit saat musuh bebuyutan berubah menjadi seseorang yang paling memengaruhi jiwa.
Sampul Novel Kali Ini, Aku Pilih Pergi
8.6
Unggahan viral mengungkap pengkhianatan yang menghancurkan hati Sofia Jayadi di hari jadi pernikahannya. Sang suami, Bondan, justru membawa putra mereka merayakan ulang tahun wanita lain yang disebut cinta sejatinya. Di tengah dekorasi pesta yang terbengkalai, Sofia menerima telepon penjelasan dari suaminya, sementara sang anak terdengar bahagia bersama wanita itu. Menolak terus terluka, Sofia memutuskan dengan tenang untuk tidak lagi menginginkan suami dan anaknya, lalu memilih pergi.
Sampul Novel Luka Karena CINTA
8.6
Diandra, gadis desa yang cantik, terjebak dalam obsesi cinta pada Robert meski hubungan LDR mereka hancur akibat kekasaran dan perselingkuhan. Walau sempat depresi dan mencoba segala cara untuk kembali, Robert tetap meninggalkannya hingga ia menuai karma tragis. Di tengah luka, muncul Louis, pemuda Jerman lembut yang sabar mengejar hati Diandra. Akankah Diandra mampu melepaskan bayang masa lalu demi memulai hidup baru yang bahagia dalam dekapan tulus Louis?
Sampul Novel Merindu Suamimu
9.1
Dahulu Fino dan Melisa adalah sepasang kekasih yang saling mencintai sebelum akhirnya terpisah. Kini, semesta kembali mempertemukan mereka dalam situasi pelik yang menguras emosi. Meski percikan asmara lama mulai berkobar, keberadaan Nadia sebagai istri sah Fino menjadi penghalang besar bagi hubungan mereka. Akankah Melisa terjebak dalam luka lama yang sama, ataukah Fino cukup berani mengambil risiko demi menebus kesalahan masa lalunya itu?