Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Salah Melamar

Salah Melamar

Apa yang akan Anda lakukan saat menyadari bahwa pria yang melamar ternyata menginginkan adik Anda? Akibat kesalahan fatal orang tuanya dalam proses lamaran, Anda terjebak dalam ikatan pernikahan yang sama sekali tidak diinginkan. Kisah ini mengikuti perjalanan pahit seorang wanita yang harus menghadapi kenyataan bahwa suaminya mencintai orang lain. Di tengah kekecewaan dan luka hati, ia terpaksa menjalani kehidupan rumah tangga yang penuh dengan ketidakpastian.
Bab
Bagikan

Bab 2

“Wah, Dijah mangklingi ya kalau didandani seperti ini,” ucap salah satu saudara yang mengintipku dari balik pintu. Tanpa menoleh ke arahnya pun aku sudah tahu kalau itu bulek. 

Aku tersenyum, menatap wajahku dalam pantulan cermin rias. Seorang wanita berjilbab dengan riasan full itu benar-benar berbeda dengan wajahku. Pipinya terlihat lebih tirus, hidungnya terlihat lebih mancung, serta wajahnya yang kini berseri. Sejujurnya wajah berseri itu bukan nampak dari polesan yang tersapu ke wajahnya, melainkan betapa bahagianya aku yang akan dipersunting dengan lelaki yang memang aku idamkan. Aku benar-benar tak menyangka jika Ammar adalah jodohku. Mungkinkah ini suatu keajaiban dari sebuah doa? Nama yang kupanjatkan dalam setiap sujudku.

Sebuah senyum tercipta, membayangkan kehidupanku ke depannya yang akan sangat indah. Merasakan sebuah pacaran setelah nikah, layaknya sebuah pernikahan di novel roman yang pernah aku baca. Saling malu-malu dan akhirnya saling mau-mau.

“Assalamualaikum,” ucapan salam itu terdengar, berikut dengan tubuh semampai yang kini mengenakan tas dan jaket berbahan jeans. Jilbab warna merah muda yang dikenakannya sedikit berantakan, hingga ujung benda persegi empat itu sudah tak terbentuk dan menutupi sebagian dari wajah cantik adikku. 

“waalaikumsalam, Dinda,” ucapku yang kini langsung bangkit dan merengkuh tubuhnya. Kupeluk ia berikut dengan ransel yang masih menempel di punggungnya. 

“Kenapa baru datang, Dek? sebentar lagi mbak sudah mau ijab,” ucapku yang kini melepas pelukan. 

Dinda menunduk, terlihat murung di balik kerudung yang dikenakannya. Wajah dengan kulit putih bersih itu kini terlihat redup, berikut dengan kantung mata yang membengkak, layaknya habis nangis berhari-hari. 

“Dek, kamu kenapa?” tanyaku kepada gadis kecil yang baru saja pulang dari kuliahnya. Sebenarnya aku memberitahu Dinda tentang hari pernikahanku seusai  keluarga Ammar datang.  Aku juga meminta ia yang akan menjadi pager ayuku ketika resepsi dilaksanakan. Sayang, tugas kuliah Dinda menumpuk. Bahkan ia baru bisa datang tepat di hari pernikahan sepeti ini, di waktu yang sangat mepet dengan ijab. 

“Dek, jawab pertanyaan Mbak.”Alih-alih Dinda menjawab pertanyaanku, justru yang ada ia menangis sejadinya. Awalnya lirih, lalu mulai terdengar isak tangis itu, hingga semua berakhir dengan tangisnya yang tersedu-sedu. Benar-benar membuatku keheranan dan memunculkan pertanyaan besar.

“Dek, kamu kenapa nangis? Jawab pertanyaan mbak,” tanyaku yang terus mengulang kalimat yang sama. 

“Mbak Dijah nikah. Dinda gak punya teman berantem lagi. Selain itu pasti mbak tinggal dirumah Mas Ammar, tentu waktu kita berkumpul akan sangat kurang.”

“Ya elah, Dek. mbak kira ada apa. Untung Mbakmu gak punya riwayat penyakit jantung lemah. Bisa sekarat nanti, gak jadi nikah,” ucapku sambil melengkungkan bibir. 

“Mbak khawatir ya dengan Dinda? Emang mbak kira dinda kenapa?”

“Mbak pikir kamu habis dirampok gitu. Kan perjalananmu kesini cukup panjang.”

“Biasanya juga diajak berantem. Tumbenan dikhawatirin. Emang sayang sama Dinda?”

“Lah, harus ditanyakan? Ya pasti sayanglah, adekku yang cantik,” ucapku sambil mencubit hidung mancung miliknya. Hidung yang berbanding terbalik dengan milikku, pesek.

“Kalau sayang sama Dinda, boleh tidak kita bertukar nasib? Dinda yang nikah dengan Mas Ammar?”

Aku terdiam, bahkan untuk menelan salivapun sangat kesusahan. Mendadak kerongkongan ini mengering begitu saja.

“Mbak Dijah serius sekali. Lagian, siapa juga yang mau nikah muda? Sama mas ammar lagi? Kan Dinda sudah pernah cerita kalau dinda itu sudah punya pacar,” ucapnya yang kini meringis menampakkan jejeran gigi seri yang putih dan rapi. 

Aku tersenyum, prank dari dinda, benar-benar membuatku terhanyut. Bahkan rasa ngiluku itu masih terasa meskipun aku tahu semua sekedar candaan saja. 

“Mbak Dijah, Dinda ke kamar dulu ya. mau ganti baju. Masa mbak nya nikah, pakai pakaian preman kayak gini,” ucapnya sambil menatap tubuhnya yang terbalut oleh celana jeans dan jaket berbahan sama. 

Aku tersenyum, “Jangan lama-lama, dandannya juga jangan cantik-cantik. Nanti pengantin wanitanya kalah,” godaku. 

Perlahan tubuh Dinda hilang dari pandangan, bersamaan dengan kandung kemihku yang kembali terisi penuh. Entahlah, ini pipis keberapa kali semenjak bangun tadi. Rasa grogi, benar-benar membuat organ itu terus terisi.

“Mbak, Dijah ijin lagi ya?” ucapku sambil meringis menatap tukang rias. Ia hanya menggelengkan kepala dan membiarkanku berlalu begitu saja.

“Sudahlah, Mas Ammar. Dinda sudah berbesar hati dengan semuanya.” Nama mas Ammar benar-benar terdengar begitu jelas ketika aku melewati kamar Dinda. Kudekatkan tubuh ini mendekati pintu, dimana kayu berbentuk persegi panjang usang itu sedikit membuka, tak tertutup dengan sempurna.

“Kita bisa jelaskan semua kepada orang tua kita, Din. Yang ingin aku nikahi itu kamu. Kamu yang aku lamar, bukan Mbak mu,”  terdengar suara lelaki dengan penegasan.

Rasa penasaran itu semakin membuncah dalam hatiku. Terlebih dua suara itu begitu kukenal, berikut dengan nama-nama yang terucap. 

“Jelaskan? Maksudmu kamu mau menghina mbakku?”

“Aku tidak berniat sepeti itu. Aku hanya ingin ...”

“Sudahlah Mas Ammar. Aku mohon.”

“Din, kita bisa bicarakan ini baik-baik dengan keluarga kita.”

“Tidak. Itu semua akan menyakiti hati Mbak Dijah. Sama saja kamu mencoreng wajahnya di depan khalayak umum. Dinda sudah menerima pernikahan kalian, dan aku harap Mas Ammar pun begitu. Bisa menerima kehadiran Mbak dijah di kehidupan Mas.”

Aku menutup mulutku yang menganga ketika kulihat 2 orang lawan jenis itu sedang beradu mulut tentang pernikahan ini. Bahkan, aku baru tersadar jika selama ini yang diinginkan Ammar adalah Dinda. Bukannya aku. 

“Pacar Dinda itu Ammar?” tanyaku lirih dengan perasaan yang bercampur aduk. Beberapa Kali Dinda memang menceritakan tentang lelaki yang dicintainya, meskipun ia terus merahasiakan nama lelaki itu.Hati ini bagai terhunus belati mendapati kenyataan yang menyakitkan. Perih. Pedih. Semua bercampur jadi satu. Inikah alasan dari wajah muram Dinda? Bahkan sekilas menatap wajahnya akan tampak residu tangisan yang tergores di wajah seputih susu itu. 

“Dijah, kamu disini?” tanya emak sambil gelengan kepala. “Sudah tahu mau nikah, malah keluyuran. Ayo ditungguin pak penghulu dari tadi.” Aku digandeng emak begitu saja, membawanya keluar menuju tempat akad. Disana sudah ramai oleh beberapa keluarga inti, juga dari keluaga Ammar. Kedua orang tuanya juga saudara-saudaranya. Wajah mereka terlihat kaku, seakan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

“Ini juga pengantin prianya belum tiba. Pipis dari tadi gak balik-balik,” ucap emak sambil menatap sekeliling. 

“Mak, Dijah mau bilang sesuatu,” ucapku yang kini memegang punggung tangan emak yang dipenuhi beberapa keriput.  Aku ingin menjelaskan kepada beliau tentang salah lamaran yang dilakukan oleh keluarga Ammar. Aku tahu mungkin ini berat, terlebih lagi aku juga menautkan rasa dengan pria yang sama dengan adikku. 

“Nanti, ngomongnya habis nikah. Diem saja disitu.” Emak langsung melenggang pergi begitu saja, tanpa mendengarkan penjelasanku sedikitpun. Hingga dimenit kemudian, muncullah Ammar yang tengah berdiri di sebelah emak, menatap ke arahku. Mungkinkah ia akan membatalkan dan menjelaskan semuanya?

Bersambung ...

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Breaking Bad: Menikah dengan Iblis
7.8
Kebodohanku berujung fatal saat aku menikahi pria yang ternyata berhati iblis. Di tengah kondisi fisik yang kian melemah, aku mulai curiga bahwa suamiku sendiri sedang meracuniku secara perlahan. Kejanggalan terus muncul, mulai dari pelayan yang memata-matai hingga keraguan bahwa anakku adalah darah dagingku sendiri. Terjebak dalam penjara rumah tangga ini, aku bersumpah akan mengungkap semua rahasia gelapnya dan membalas dendam meski harus bertaruh nyawa.
Sampul Novel Cinta Pertama Sumber Penderitaanku
8.1
Terlahir kembali, protagonis Cinta Pertama Sumber Penderitaanku menolak menikahi Fred, pria yang ia kejar selama sepuluh tahun. Ia memilih dijodohkan dengan kakak tiri Fred, Zico. Di kehidupan lalu, ia tewas mengenaskan akibat distosia, hanya untuk mengetahui bahwa anak yang dikandungnya adalah hasil perselingkuhan Fred dengan wanita lain menggunakan obat ciptaannya. Kali ini, ia membiarkan mereka hidup tanpa bantuannya. Namun, saat Fred melihat cincin Zico di jarinya, pria itu justru menjadi gila.
Sampul Novel DILEMA Antara Nyaman dan Cinta
9.1
Tekanan ekonomi yang menghimpit meruntuhkan keutuhan rumah tangga yang telah dibina bertahun-tahun. Segalanya kian hancur saat sang istri mencari simpati pria lain melalui curahan hati di media sosial. Terjebak rayuan pria beristri, ia tak menyadari bahwa obsesi fisik sering kali berujung pada pengkhianatan. Di tengah konflik batin antara kenyamanan semu dan kesetiaan, hukum tabur tuai pun mulai bekerja nyata bagi mereka yang bermain api dalam pernikahan.
Sampul Novel Istri Kedua Sang Penguasa
8.7
Terjerat utang judi ayah tirinya, Aurora Safitri terpaksa menerima tawaran menjadi istri kedua Alvaro Ricolas. Alvaro adalah miliarder tampan yang hidup dalam kesepian karena istri pertamanya lebih mementingkan karier di luar negeri. Meski bergelimang harta, ia butuh kehadiran sosok wanita di sisinya. Kini, Aurora harus menghadapi babak baru sebagai pendamping pria berkuasa tersebut. Akankah cinta tumbuh di antara mereka, ataukah duka yang menanti?
Sampul Novel Istri Kedua Ustadz
8.2
Dina, perempuan sederhana yang penuh kasih, menghadapi babak baru dalam hidupnya setelah dipersunting oleh Ustadz Ahmad. Sebagai ulama yang sangat disegani, Ahmad telah memiliki istri bernama Siti. Namun, karena kondisi Siti yang tidak mampu memberikan keturunan, ia dengan tulus meminta suaminya untuk menikah lagi. Keputusan besar ini diambil Siti demi mewujudkan impian mereka memiliki anak, yang akhirnya membawa Dina masuk ke dalam rumah tangga mereka.
Sampul Novel Mencintai Anak Kakakku
8.0
Ara Qubilah Iskander, gadis cantik keturunan Turki, telah mengidolakan Chandra Syauqi Abimana sejak kecil. Baginya, adik dari ibunya itu adalah sosok pangeran sekaligus pahlawan sejati. Sebaliknya, Chandra justru merasa terbebani dan terganggu oleh kehadiran Ara di hidupnya. Sebuah kesalahpahaman besar di suatu malam akhirnya memicu konflik tajam yang membuat Chandra membenci Ara. Mampukah hubungan mereka membaik, ataukah kekaguman Ara terhadap Chandra akan sirna selamanya?