Sampul Novel Salah Melamar

Salah Melamar

9.7 / 10.0
Dalam novel Salah Melamar, sebuah kesalahan fatal membuat pernikahan impian berubah menjadi jebakan. Mengetahui calon suami sebenarnya menginginkan adiknya, ia harus menghadapi konsekuensi pengkhianatan ini. Baca romance novel modern ini di webnovel untuk mengikuti kisahnya.
Ringkasan Salah Melamar
Apa yang akan Anda lakukan saat menyadari bahwa pria yang melamar ternyata menginginkan adik Anda? Akibat kesalahan fatal orang tuanya dalam proses lamaran, Anda terjebak dalam ikatan pernikahan yang sama sekali tidak diinginkan. Kisah ini mengikuti perjalanan pahit seorang wanita yang harus menghadapi kenyataan bahwa suaminya mencintai orang lain. Di tengah kekecewaan dan luka hati, ia terpaksa menjalani kehidupan rumah tangga yang penuh dengan ketidakpastian.
Baca Selengkapnya

Salah Melamar Bab 1

“Dijah, kamu segera siap-siap ya. Nanti malam ada yang melamarmu,” ucap emak sambil memamerkan senyum di wajah keriputnya. Binar matanya indah, menyiratkan betapa bahagianya saat ini. 

“Me-la-mar, Mak?” tanyaku tak percaya. 

“Iya. Sudah hentikan bacaanmu. Kamu segera mandi, ini sudah jam 5 sore juga. Anak perawan kok males mandi,” ucap Emak dengan kecepatan kilat sambil menarik paksa buku yang kupegang. Sebuah novel roman yang baru saja kubeli beberapa saat lalu.

Aku Dijah, anak pertama dari seorang janda tua sederhana. Bapakku sudah meninggal beberapa tahun lalu, dan aku hanya tinggal berdua bersama Emakku yang super bawel. Meskipun begitu, aku sangat menyayanginya. Sebenarnya aku masih punya saudara, Namanya Dinda, dia adikku satu-satunya, yang mau tak mau menjadi teman berantemku. Sayang, saat ini ia sedang kuliah di kota, mengejar mimpinya. Sedangkan aku? Aku lebih memilih tinggal bersama ibu, karena tak tega meninggalkan ia. Terlebih lagi aku tak ingin membebani emak dengan biaya kuliah yang mencapai puuhan juta. Hingga tinggallah Dijah, yang hanya sebatas tamatan sekolah menengah atas. 

“Dijah! Kenapa masih di kamar? Cepat segera mandi,” teriak emak dengan tinggi nada yang semakin keatas.

Kalau ucapannya sudah bervolume diatas standar, mau tidak mau aku harus nurut. Dari pada daun telinga ini menjadi korban atas keganasannya, atau bisa jadi sapu dan kemoceng akan melayang ke setiap bagian tubuhku.

Dijah, nama yang sangat kuno bukan? Aku dilahirkan pada tahun 90 an, tapi namaku seperti pada era kemerdekaan. Nama yang selalu menjadi sasaran empuk buat teman-temanku untuk membullyku. Meskipun sebenarnya nama pemberian dari almarhum bapak ini, adalah nama yang indah. Lengkapnya Khadijah. Nama yang cantik bukan? Bapak pernah berharap, aku memiliki kelembutan hati seperti istri seorang nabi. Tapi, sayangnya, di umurku yang terbilang sudah cukup dari kata matang belum juga ada lelaki yang hendak mempersuntingku. 

Bukan tanpa alasan. Aku adalah wanita biasa, hidupku juga sangat biasa. Aku tak cantik, juga tak cerdas, aku juga tak memiliki keahlian apapun, terlebih aku bukanlah perempuan berada. Entahlah, mungkin saat pembagian rejeki, aku hanya dapat bagian sedikit saja. Lain halnya dengan adikku Dinda. Meskipun kami dilahirkan dari rahim yang sama, nyatanya rejekinya berbeda. Dia terlahir sebagai wanita cantik, hidungnya mancung, tubuhnya semampai dengan kulit tubuh yang putih dan bersih. Bibirnya kecil, namun selalu berwarna kemerahan, berikut dengan alis warna hitam meskipun tanpa tersentuh oleh eye brow. Jika kami sedang berdiri bersama, tentu akan terlihat perbedaan mencolok diantara kami, terlebih lagi tinggiku sudah tersaing oleh tubuh sempurnanya. 

“Dijah, masih belum keluar kamar juga?” tanya emak dengan nada yang semakin meninggi, dengan cepat aku membuka pintu kamar dan menampakkan diri. 

“Emak, tadi Dijah ambil handuk dulu,” ucapku sambil memerkan benda bertekstur halus yang melingkari leherku.

Emak tersenyum.

“Sebenarnya siapa yang mau melamar dijah, Mak?” tanyaku ragu. 

Sebenarnya siapapun yang datang, aku tak mungkin menolak. Karena bagaimanapun, aku yakin kalau pilihan emak adalah jodoh yang terbaik, itulah yang aku percayai. Lebih memilih pasrah dengan jodoh yang akan ditakdirkan tuhan kepadaku. 

“Nak Ammar.”

“Ammar?” tanyaku yang diikuti dengan menelan saliva dengan kasar. 

“Jangan bilang kamu menolak. Kamu sudah janji kan, menyerahkan urusan jodoh kepada Emak.’

“Nggih, Mak,” ucapku yang segera berlalu ke kamar mandi dengan menahan senyum di hatiku.

“Ammar?” ucapku tak percaya sambil menatap wajahku di cermin kamar mandi. 

Ya, di ruangan yang tak besar ini aku memang meletakkan pecahan kaca yang memiliki sisi tak beraturan ke dinding. Aku mempunyai kebiasaan menatap wajahku sebelum dan sesudah mandi. Alasannya sih supaya tahu bagaimana perubahan wajahku dari jelek menjadi cantik, tapi nyatanya tak ada yang berubah. Entah aku mandi ataupun tidak, rasanya tak ada bedanya, karena itulah aku jadi wanita yang malas mandi. 

Ammar, dia adalah salah satu pemuda idaman di kampung ini. Lebih tepatnya idamanku. Dia anak dari seorang imam masjid tempat ini. Lain dari kakak-kakaknya yang selalu terlihat rapi dan agamis. Ammar memiliki penampilan yang beda. Jika kedua kakaknya lebih sering memakai sarung dan baju koko, Ammar lebih suka dengan celana levis dan atasan kaos. Jika kedua kakaknya suka ikut berjamaah di saf depan bersama bapak mereka, lain halnya dengan Ammar yang selalu datang terlambat dan berada di saf sholat paling belakang. Ia terlihat lebih urakan dari saudaranya yang lain, tapi tetap saja wajah tampannya itu menghipnotis kaum hawa.

‘Amar melamarku?’ batinku yang masih tak percaya. Beberapa kali kuusap kasar wajahku sendiri, memastikan jika semua bukanlah mimpi. 

***

Detikan jam terus berjalan, bersamaan dengan hatiku yang dag dig dug tak karuan. Menghadirkan sandi rumput yang entah bagaimana cara membacanya. 

Apalagi ketika kulihat rombongan dengan 2 mobil terparkir. Jantungku seakan hendak copot dari tempatnya. Emak memintaku untuk berdiam di kamar, menatap rombongan itu masuk dari balik jendela. Sedangkan wanita keramat yang telah melahirkanku, menjamu tamunya dengan wajah sumringah. 

“Khadijah,” teriak bulekku bersamaan dengan ketukan pintu. 

Kalau sudah seperti ini, mau tidak mau aku harus keluar menampakkan batang hidungku yang terkesan pas-pasan. Kulihat kembali wajahku di cermin, berikut dengan pakaian yang menyelimutiku saat ini. Aku berdiri di depan kaca besar yang menempel di pintu almari, mengenakan kebaya warna biru dengan make up seadanya. Tidak lupa kututupi mahkotaku dengan warna senada. 

“Eh, lupa,” ucapku bermonolog sambil mengambil parfum murahan yang berada di atas meja, kusemprotkan benda tersebut, hingga wangi itu menguar ke seluruh ruangan.

“Tarik nafas, hembuskan. Tatik nafas, hembuskan,” ucapku sendiri sambil melakukan perintah dari bibir. Seperti inilah caraku menenangkan diri dari rasa tegang.

Perlahan kupegang gagang pintu, dan memutarnya. Kugeser benda kayu itu, hingga terdengar suara berderit ketika pintu kayu berbenturan dengan lantai. Kini, semua mata menatap kearahku, karena pintu kamar langsung berhadapan ke ruang tamu.

Kedua orang tua Ammar duduk di sofa panjang, dengan ketiga anaknya yang saling berdampingan dengan pasangan masing-masing. Tak terlihat Amar layaknya sebuah pesta lamaran di tiktok ataupun facebook. Karena di desa ini, masih sangat mengikuti budaya lokal. Dimana sang lelaki yang melamar, tak akan turut serta untuk datang. Apalagi sampai bertukar cincin layaknya selebriti. Bahasa jawanya, orang tua akan nembung kepada pihak perempuan, meminta ijin jika anak perempuannya akan diunduh mantu. Setelahnya, sang wanita ditanyai oleh pihak lelaki, apakah bersedia dinikahi oleh anaknya yang bernama fulan. Ketika aku menjawab iya, semuaa prosesi usai. Ya, sangat sederhana.

Setelah melakukan prosesi lamaran usai. Baik keluarga Ammar dan keluarga besarku saling musyawarah tentang hari pernikahan. Sekilas akupun mendengar, jika hari pernikahanku tinggal hitungan hari. Hingga di hari H, aku mendapati kenyataan jika yang hendak dilamar oleh Ammar adalah Dinda, adikku.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Salah Melamar

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Cinta 10 Tahun, Dibalas Dusta
8.0
Gladi resik pernikahan yang tenang berubah menjadi kekacauan saat Quincy, rekan kerja Jared, mengacaukan dekorasi dan mengklaim Jared sebagai calon suaminya. Dia bahkan nekat merusak gaun pengantin mahal milik protagonis demi membuktikan cinta Jared. Di tengah rasa percaya diri Quincy yang tinggi, kebenaran mengejutkan terungkap saat upacara dimulai. Sosok pengantin pria yang datang bukanlah Jared, melainkan bos besar mereka. Sejak awal, sang protagonis memang tidak pernah menyatakan bahwa ini adalah hari pernikahannya dengan Jared.
Sampul Novel Cinta Terlarang Dengan Tetangga
9.7
Maya terjebak dalam pernikahan kelam bersama Rafael, suami temperamental yang kerap menyakiti fisik dan batinnya. Suatu malam, ia terpaku melihat kemesraan Daniel, tetangga barunya, terhadap pasangannya. Kelembutan Daniel memicu rasa iri sekaligus kekosongan mendalam di hati Maya. Meski Daniel telah beristri, benih cinta terlarang mulai tumbuh di jiwa Maya. Kini ia terombang-ambing antara tanggung jawab moral dan dambaannya akan kasih sayang yang tulus.
Sampul Novel Jatuh Bangun sang Pengacara Cantik
9.7
Setelah delapan tahun bersama, Kaivan ingin menyingkirkan Adeline, cinta pertamanya. Tiga tahun berjuang membuat rasa cinta Adeline habis hingga ia memutuskan pergi. Kaivan meremehkan perpisahan ini dan yakin Adeline akan memohon kembali. Namun, ia justru dikejutkan oleh kabar pernikahan Adeline dengan pria lain. Saat melihat Adeline bersiap melangkah ke altar, Kaivan baru menyadari kehilangan besarnya. Ia berlutut memohon di hari pernikahan, tetapi Adeline memilih mengabaikannya demi memulai hidup baru.
Sampul Novel Jerat Cinta Lelaki Muda
8.6
Rafka Mahendra, playboy kampus yang gemar menaklukkan wanita, menerima tantangan teman-temannya untuk memacari dosen baru yang dingin dan tegas, Sarah Adisty Mahira, dalam sebulan. Meski terus diabaikan, Rafka nekat melakukan segala cara, termasuk menyewa mata-mata demi menyelidiki rahasia masa lalu Sarah. Saat menemukan titik lemah sang dosen, Rafka memanfaatkannya sebagai ancaman. Akankah intrik ini memaksa Sarah tunduk, ataukah permainan cinta Rafka justru berujung di luar kendali?
Sampul Novel Rindu Membuat Sang Triliuner Jatuh Sakit
8.0
Terlahir dengan gangguan pendengaran membuat Reina Andara selalu diabaikan ibunya. Setelah menikah, dia pun terus direndahkan oleh keluarga suaminya yang kaya. Saat cinta pertama suaminya, Maxime Sunandar, kembali untuk merebut posisinya, Reina sadar bahwa dia tidak pernah dicintai. Menyadari kesalahannya, Reina memutuskan mengajukan cerai demi membebaskan Maxime. Namun, di luar dugaan, Maxime menolak keras perpisahan itu dan bersumpah tidak akan pernah melepaskannya.
Sampul Novel Terjebak dalam Godaan Ipar
9.7
Elara adalah wanita mandiri yang keras kepala, namun hidupnya berubah sejak mengenal keluarga Kaden. Kaden merupakan suami dari kakak angkatnya, Marisol. Meski dikenal sangat setia, Kaden justru mulai merasa terpikat oleh pesona Elara yang polos namun menantang. Kini, Elara terjebak dalam dilema besar antara rahasia gelap dan perasaan terlarang. Ia harus memilih: menyerah pada godaan berbahaya sang ipar atau menjauh demi melindungi kebahagiaan orang-orang tercinta.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan