Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Salah Melamar

Salah Melamar

Apa yang akan Anda lakukan saat menyadari bahwa pria yang melamar ternyata menginginkan adik Anda? Akibat kesalahan fatal orang tuanya dalam proses lamaran, Anda terjebak dalam ikatan pernikahan yang sama sekali tidak diinginkan. Kisah ini mengikuti perjalanan pahit seorang wanita yang harus menghadapi kenyataan bahwa suaminya mencintai orang lain. Di tengah kekecewaan dan luka hati, ia terpaksa menjalani kehidupan rumah tangga yang penuh dengan ketidakpastian.
Bab
Bagikan

Bab 3

“Sah?”

“Sah, sah, sah.” Kalimat itu saling bersaut satu sama lain, menggema di seluruh ruangan tamu seusai kalimat ijab terdengar dari bibir Ammar.Mata emak berbinar, dengan senyum yang tak hentinya mengembang. Berikut dengan Dinda yang dipaksakan untuk tersenyum.  Sebuah kamuflase itu terlihat jelas di mataku. Ya, kini ia duduk di sebelah emak, turut menyaksikan lelaki yang disayangnya mengucapkan kalimat ijab untuk kakak kandungnya. 

Prosesi terus berjalan, dimana aku dan Ammar diminta sungkem dengan orang tua yang telah melahirkan kita. Bahu lelaki itu ditepuk oleh bapaknya, berikut dengan suara yang dibisikkan di dekat telinganya. “Bagaimanapun, sekarang kamu adalah seorang suami. Bahagiakan istrimu,” ucapnya lirih yang masih terdengar olehku. Ibu Ammar pun turut mengelus pundakku, juga memberikan sebuah doa pengantar pernikahan kami. “semoga bahagia, Nduk. Semoga jadi keluarga sakinah, mawadah, warohmah.”

Aku tersenyum kecil, berharap pernikahan yang tak didasari oleh cinta ini akan menjadi seperti apa yang diucapkan ibu mertua. 

“Dijah, kamu sekarang sudah jadi seorang istri. Nurut sama perkataan suamimu, jangan kebanyakan bantah seperti sama emak,” ucap emakku kala aku bergantian sungkem di tubuh tuanya. Senyumnya indah, menggambarkan betapa bahagianya beliau saat ini. Berbanding berbalik dengan wajah Dinda yang kini ditutup oleh kabut kelam. Bahkan make up merona yang tertempel di wajahnya tak mampu menutupi kepedihan hatinya. 

“Mbak Dijah, selamat berbahagia. Until jannah ya, Mbak,” ucap adik kecilku yang kini kupeluk. Aku tahu ia menyimpan luka, dan menutupi semua dari kita.

“Makasih ya, Dek.”Aku kini melepas pelukan, dimana  aku mulai menyadari manik mata adikku saling bertaut dengan lelaki di sebelahku.

“Mas Ammar, jaga Mbak Dijah ya,” ucapnya yang kini terdengar parau. Bahkan mata indah dengan bentuk bulat itu nampak berkaca-kaca, dimana sekali kedip, tumpah juga apa yang telah dibendungnya.

“Dek, kamu nangis?” tanyaku.

“Iya, Mbak Dijah. Maaf adikmu ini melow. Dinda hanya takut ditinggalMBak Dijah,” ucapnya yang terdengar meyakinkan.

“Kami akan selalu berkunjung kesini menghampirimu,” ucap Ammar yang turut menjawab. 

Mereka seakan memainkan drama dengan begitu apik. Mungkin mereka tak tahu, jika aku telah mengetahui apa yang mereka bicarakan di kamar tadi.

Belum juga apa-apa, bibit cemburu mulai timbul. Layaknya daun kering yang kini diremas begitu saja, remuk, lenyap. Bahkan ketika angin menyapanya, semua akan sirna. Ya, pernikahan ini seakan tak berarti, dimana tak adanya pondasi cinta di dalamnya. Terlebih aku tahu, jika wanita yang ditambatkan oleh hati lelakiku adalah adikku sendiri. Pantaskah aku untuk cemburu?

Dinda tersenyum, berikut dengan Ammar yang juga tersenyum. Membiaskan rasa sakit yang dari tertahan. Jika Dinda telah merelakan kekasihnya untukku, kenapa ia tak mampu memposisikan dirinya sebagai adik ipar Ammar? Ia telah dewasa, dan harusnya ia bisa membawa dirinya sendiri, terlebih lagi, ia seorang pelajar yang berpendidikan.

Proses demi proses kami lewati, mulai dari mencuci kaki Ammar yang telah menginjakkan kakinya ke telur, melempar gantalan sirih satu sama lain, juga mengadahkan tangan menerima butiran beras yang dituang dari tangan Ammar. Aku masih mengenakan pakaian pernikahan dengan asesoris berat dikepala, menerima tamu yang dari tadi pagi serasa tak ada henti-hentinya. Ya, ini adalah kali pertama emak memiliki “gawe” dalam bahasa jawanya jadi banyak tetangga yang bakalan datang memberikan selamat, juga memberikan sebagian rejeki kepada kami, baik itu hasil panenan, maupun berupa uang. 

Ammar sudah tak kelihatan batang hidungnya. Sejak adan duhur tadi, setelah keluarga besarnya pamit pulang. Ia turun dari panggung bergebyok ukiran dengan janur melengkung di depannya. Ya, ia berdalih capek, dan kurang sakit hingga meninggalkan acara sepenting ini sebelum acara usai. 

Detik waktupun terus berjalan, hingga mentari yang tadinya menyengat dengan teriknya, kini perlahan turun, meyisakan sinar jingga yang indah. Akupun turut ke bawah, masuk ke dalam kamar, melepas pernak pernik yang menempel di pakaian dan jilbabku. Kupandangi  wajahku, mengusap make up dengan kapas putih yang sudah kubasahi dengan remover. Mengangkat topeng wajah, yang kini berganti dengan wajah alamiku.Dalam pantulan cermin di depanku, menampakkan tubuh lelakiku yang sedang duduk di bibir ranjang. Jarinya asyik memainkan ponsel yang ia pegang, berikut dnegan bibirnya yang turut bergerak ke atas dan ke bawah, layaknya membaca jejeran huruf di dalamnya. 

“Mas Ammar, Dijah mandi dulu ya,” ucapku.

Usia Ammar tak berbeda jauh denganku. Bahkan bisa dibilang seumuran. Hanya saja saat ini ia menjadi kepala keluargaku, aku harus memanggilnya Mas sebagai bentuk hormat.

Lelaki dengan tubuh tinggi dan rambut hitam lurus itu sedikit menoleh kearahku, “hm ...” lalu kembali fokus dengan benda menyala yang dipegangnya Tak ada kalimat yang keluar dari bibir tipis itu selain kata deheman yang terdengar hambar.

‘Sabar, Dijah. Sabar,’ batinku sambil kuhela nafas panjang. Setelahnya aku membersihkan diri sekaligus mengusir penat setelah seharian duduk di kursi pelaminan. 

***

“Mas Ammar, sudah masuk shalat marib. Yuk jamaah!” ucapku setelah usai membersihkan diri, mengenakan gamis panjang, dengan mekena warna putih yang masih berada di tanganku.

Ammar masih terfokus dengan ponsel yang dipegangnya. Duduknyapun masih tak berubah. Ia menoleh dan sekilas menatapku. “Aku sudah mendirikan shalatku. Kamu shalat sendiri ya,” ucapnya yang terdengar begitu dingin. 

Aku meneguk salivaku. Belum apa-apa, aku harus menghadapi sifat Ammar yang begitu cuek, jauh berbeda dari novel roman yang pernah kubaca. Aku menjalankan rakaatku, setelahnya langsung berjalan mendekat ke arah Ammar, dan duduk di sebelahnya. Menjalankan pernikahan tanpa mengenalnya di awal , benar-benar membuatku kikuk. Ia tak mengindahkan kehadiranku, masih terfokus dengan ponsel yang dipegangnya. Terbesit rasa curiga, mungkinkah ia sedang membaca pesan dari Dinda? Atau .. mereka sedang melakukan rencana untuk bertemu diam-diam? Ah, isi kepalaku terus dipenuhi dengan pikiran buruk.

“Dijah.”Ammar meletakkan ponselnya, dan kini menoleh ke arahku. Menghadirkan rasa yang begitu sulit kumengerti. Jantungku berdetak tak karuan, memompa darah dengan cepat hingga menegangkan semua urat syarafku. Tubuhku terdiam, namun hati ini seperti berdetak layaknya sandi rumput yang tak mudah kuartikan.

“Iya, Mas Ammar.”Kedua manik itu mencengkram pandanganku. Seakan menyelam masuk jauh ke dalam hatiku. Ini kali pertama, aku berdekatan dengan lelaki sedekat ini, saling berpandangan dengan lawan jenis selama ini. 

“Dijah, perlu kamu tahu. Pernikahan ini bukanlah yang kuinginkan. Wanita yang hendak kupersunting bukanlah kamu. Namun, Dinda adikmu,” ucapnya dengan tegas, yang langsung menyambar hatiku. Baru saja aku merajut cinta dan harapan untuk pernikahan ini, semua harus kembali tercerai berai. 

“Aku menikahimu karena permintaan Dinda.” Lelaki itu tampak menarik nafasnya yang berat. “Jangan pernah meminta hakmu kepadaku, akupun akan melakukan hal yang sama. Kita tidur di ranjang yang terpisah.”

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95JWY" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95JWY
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Breaking Bad: Menikah dengan Iblis
7.8
Kebodohanku berujung fatal saat aku menikahi pria yang ternyata berhati iblis. Di tengah kondisi fisik yang kian melemah, aku mulai curiga bahwa suamiku sendiri sedang meracuniku secara perlahan. Kejanggalan terus muncul, mulai dari pelayan yang memata-matai hingga keraguan bahwa anakku adalah darah dagingku sendiri. Terjebak dalam penjara rumah tangga ini, aku bersumpah akan mengungkap semua rahasia gelapnya dan membalas dendam meski harus bertaruh nyawa.
Sampul Novel Cinta Pertama Sumber Penderitaanku
8.1
Terlahir kembali, protagonis Cinta Pertama Sumber Penderitaanku menolak menikahi Fred, pria yang ia kejar selama sepuluh tahun. Ia memilih dijodohkan dengan kakak tiri Fred, Zico. Di kehidupan lalu, ia tewas mengenaskan akibat distosia, hanya untuk mengetahui bahwa anak yang dikandungnya adalah hasil perselingkuhan Fred dengan wanita lain menggunakan obat ciptaannya. Kali ini, ia membiarkan mereka hidup tanpa bantuannya. Namun, saat Fred melihat cincin Zico di jarinya, pria itu justru menjadi gila.
Sampul Novel DILEMA Antara Nyaman dan Cinta
9.1
Tekanan ekonomi yang menghimpit meruntuhkan keutuhan rumah tangga yang telah dibina bertahun-tahun. Segalanya kian hancur saat sang istri mencari simpati pria lain melalui curahan hati di media sosial. Terjebak rayuan pria beristri, ia tak menyadari bahwa obsesi fisik sering kali berujung pada pengkhianatan. Di tengah konflik batin antara kenyamanan semu dan kesetiaan, hukum tabur tuai pun mulai bekerja nyata bagi mereka yang bermain api dalam pernikahan.
Sampul Novel Istri Kedua Sang Penguasa
8.7
Terjerat utang judi ayah tirinya, Aurora Safitri terpaksa menerima tawaran menjadi istri kedua Alvaro Ricolas. Alvaro adalah miliarder tampan yang hidup dalam kesepian karena istri pertamanya lebih mementingkan karier di luar negeri. Meski bergelimang harta, ia butuh kehadiran sosok wanita di sisinya. Kini, Aurora harus menghadapi babak baru sebagai pendamping pria berkuasa tersebut. Akankah cinta tumbuh di antara mereka, ataukah duka yang menanti?
Sampul Novel Istri Kedua Ustadz
8.2
Dina, perempuan sederhana yang penuh kasih, menghadapi babak baru dalam hidupnya setelah dipersunting oleh Ustadz Ahmad. Sebagai ulama yang sangat disegani, Ahmad telah memiliki istri bernama Siti. Namun, karena kondisi Siti yang tidak mampu memberikan keturunan, ia dengan tulus meminta suaminya untuk menikah lagi. Keputusan besar ini diambil Siti demi mewujudkan impian mereka memiliki anak, yang akhirnya membawa Dina masuk ke dalam rumah tangga mereka.
Sampul Novel Mencintai Anak Kakakku
8.0
Ara Qubilah Iskander, gadis cantik keturunan Turki, telah mengidolakan Chandra Syauqi Abimana sejak kecil. Baginya, adik dari ibunya itu adalah sosok pangeran sekaligus pahlawan sejati. Sebaliknya, Chandra justru merasa terbebani dan terganggu oleh kehadiran Ara di hidupnya. Sebuah kesalahpahaman besar di suatu malam akhirnya memicu konflik tajam yang membuat Chandra membenci Ara. Mampukah hubungan mereka membaik, ataukah kekaguman Ara terhadap Chandra akan sirna selamanya?