Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Sakit Ini Lebih Dari yang Kau Pahami

Sakit Ini Lebih Dari yang Kau Pahami

Arden Valez, pria keras yang penuh luka masa lalu, terjerat dalam kepura-puraan dan dendam hingga kehadirannya menghancurkan hidup Seren Ayandra. Meski awalnya penuh kebencian, penyesalan kini menghantui Arden saat ia takut kehilangan Seren. Walau pernah disakiti, hati Seren selalu kembali pada pria yang menjadi badai sekaligus rumahnya tersebut. Di tengah rasa bersalah, dua jiwa yang hancur ini saling menyembuhkan dalam ikatan cinta yang tidak sempurna namun nyata.
Bab
Bagikan

Bab 2

Tiga tahun lalu.

Langit malam di pelabuhan Arelis menyala oleh percikan api dan suara ledakan kecil. Asap hitam membubung dari kapal kargo di ujung dermaga, sementara sirene polisi dan petugas pemadam meraung keras memecah udara asin yang berat.

Seren berlari di antara kerumunan, napasnya terengah. Tangannya gemetar saat mencoba menembus barikade petugas. "Tolong! Di sana masih ada orang! Ada pekerja di dalam kapal itu!"

Seorang pria berbadan besar menahannya. "Nona, mundur! Itu wilayah berbahaya!"

"Aku harus masuk! Di sana ada orang yang-"

Suara ledakan lain mengguncang tanah, membuatnya jatuh tersungkur. Bau bensin terbakar menyengat hidung, dan matanya perih oleh asap. Tapi bahkan dalam kekacauan itu, ia sempat melihat siluet seseorang berdiri di kejauhan-tegak, tenang, dan dingin di tengah kobaran api.

Arden Valez.

Ia berdiri dengan jas hitamnya yang masih rapi, memandang kehancuran itu seperti menatap hasil dari perhitungan bisnis yang berhasil.

"Arden!" teriak Seren dengan suara serak. Tapi suaranya tenggelam oleh hiruk pikuk.

Malam itu, sesuatu di dalam dirinya patah untuk selamanya.

Kini, tiga tahun setelah malam yang mengubah hidupnya itu, Seren duduk di bangku taman di tepi sungai kecil, mengenakan sweater abu-abu dan syal lusuh. Udara sore terasa dingin, dan aroma bunga kamboja dari pohon di dekatnya menenangkan pikiran.

Tapi ketenangan itu rapuh.

Sejak pertemuan mendadak dengan Arden kemarin, kepalanya tidak berhenti berputar.

Bagaimana pria itu bisa menemukannya?

Dan untuk apa?

"Kenapa harus sekarang?" gumamnya pelan, menatap air yang mengalir lambat.

Seseorang duduk di sebelahnya-seorang perempuan muda berambut ikal yang mengenakan seragam klinik. "Masih memikirkan pasien laki-laki tinggi yang kemarin datang, ya?" candanya ringan.

Seren mengerjap. "Apa?"

"Aku lihat kalian bicara di depan klinik. Aura kalian tegang banget sampai semua anak-anak diam. Siapa dia? Mantan?"

Seren menelan ludah, mencoba tersenyum. "Sesuatu seperti itu."

"Dan sekarang kau kelihatan seperti orang yang mau meledak tapi pura-pura tenang."

Seren hanya menghela napas. "Ada hal-hal yang lebih mudah dimaafkan daripada dilupakan, tapi tidak berlaku untuk dia."

Temannya itu menatapnya penasaran, tapi tidak mendesak. Mereka duduk lama dalam diam, hanya mendengarkan suara burung dan gemericik air.

Dalam hati, Seren tahu ia tidak akan bisa menghindar selamanya.

Sementara itu, di sisi lain kota, Arden duduk di ruang pribadi rumahnya yang megah di puncak bukit Lumeris. Ruangan itu luas, tapi sepi-dindingnya penuh lukisan klasik yang tidak pernah ia sentuh.

Di atas meja, berkas-berkas kontrak berserakan, tapi ia tidak memedulikannya. Ia hanya menatap satu dokumen kecil: surat kematian palsu atas nama Seren Ayandra, yang dikeluarkan tiga tahun lalu.

Ia yang menandatanganinya sendiri.

Ia yang memerintahkan agar nama perempuan itu dihapus dari semua catatan hukum.

Dan sekarang, melihat kenyataan bahwa Seren masih hidup, surat itu terasa seperti kutukan.

"Kenapa dulu aku percaya pada laporan itu begitu saja?" gumamnya lirih.

"Karena Anda tidak ingin percaya bahwa dia masih hidup," sahut suara lain dari balik bayangan.

Arden menoleh. Seorang pria berjas kelabu berdiri di sana-Eron Maekel, tangan kanan sekaligus sahabatnya sejak masa akademi militer.

"Masuk," ucap Arden pelan.

Eron berjalan mendekat, meletakkan map kecil di meja. "Kami sudah memastikan, Tuan. Nona Seren tidak menggunakan identitas asli. Ia tinggal di kawasan pesisir, bekerja di yayasan sosial, tidak punya catatan kriminal, tidak punya hutang, tidak punya hubungan pribadi yang mencurigakan."

Arden mendengus pendek. "Seperti seseorang yang benar-benar ingin menghilang."

"Dan berhasil selama tiga tahun, kalau bukan karena Anda masih menyimpan kebiasaan memeriksa laporan lama."

Arden memijit pelipisnya. "Dia benci aku, Eron."

"Benci karena kau membiarkannya mati dalam laporanmu sendiri," jawab Eron datar. "Kau tahu, tidak semua orang bisa memaafkan hal seperti itu."

Arden menatapnya tajam. "Aku tidak minta dia memaafkan. Aku hanya ingin memastikan dia hidup dengan aman."

"Kalau begitu kenapa kau memerintahkan tim keamanan untuk mengawasinya diam-diam?"

Pria itu terdiam. Ada kilatan gelisah di matanya yang biasanya dingin.

"Karena aku tidak percaya dunia akan membiarkannya aman selama aku masih bernafas."

Keesokan harinya, Seren menerima surat tanpa nama. Amplopnya putih polos, tanpa cap pos, hanya tulisan tangan halus: Untuk Seren Ayandra.

Tangannya gemetar saat membukanya. Di dalamnya hanya ada secarik kertas kecil:

"Aku tidak akan memaksa. Tapi ada hal yang harus kau tahu.

Datanglah ke dermaga Arelis, Sabtu malam pukul sembilan.

-A."

Seren menggenggam kertas itu erat-erat.

Hatinya berdebar antara marah dan penasaran.

Bagian rasional dirinya tahu ia seharusnya tidak datang. Tapi bagian yang lain-bagian yang masih belum sembuh-ingin tahu alasan kenapa pria itu kembali mencarinya setelah semua yang terjadi.

Malam itu, ia tidak bisa tidur.

Sabtu malam.

Dermaga Arelis tampak berbeda dari tiga tahun lalu. Tak ada lagi kapal kargo besar, hanya lampu-lampu kecil dan suara ombak yang lembut memecah kesunyian. Udara malam terasa lembap, aroma laut bercampur dengan kenangan lama yang menyesakkan dada.

Seren berdiri di ujung dermaga, mengenakan mantel cokelat dan syal hitam.

Langit di atasnya gelap, hanya diterangi sedikit cahaya bulan.

Suara langkah kaki dari belakang membuat tubuhnya menegang.

Arden berjalan mendekat dengan langkah pasti. Kali ini ia tidak memakai jas mahal, hanya kemeja gelap dan mantel panjang. Tatapannya tenang, tapi dalam.

"Aku tahu kau akan datang," katanya.

"Dan aku tahu kau akan tetap keras kepala," balas Seren datar.

Hening sejenak. Hanya suara ombak yang memecah jarak di antara mereka.

"Aku tidak ingin membahas masa lalu," kata Arden. "Aku hanya ingin menjelaskan sesuatu yang tidak sempat kukatakan."

Seren memeluk tubuhnya sendiri, menatap ke laut. "Tiga tahun, Arden. Tiga tahun aku hidup seperti orang mati. Semua karena permainanmu."

"Aku tahu," suaranya berat. "Aku tidak datang untuk membela diri. Tapi malam itu di pelabuhan-ledakan itu bukan rencana. Seseorang mengkhianatiku."

Seren menoleh cepat. "Kau pikir aku akan percaya? Setelah semua yang kau lakukan?"

"Aku tidak minta kau percaya," jawabnya pelan. "Tapi aku punya bukti. Dan aku ingin kau lihat sendiri."

Ia mengeluarkan sebuah flashdisk kecil, meletakkannya di tiang kayu di antara mereka.

"Semua catatan keamanan, rekaman komunikasi, transaksi malam itu-semua ada di situ. Aku tidak membunuh siapa pun, Seren. Tapi aku juga tidak menyelamatkanmu. Dan itu kesalahanku yang paling besar."

Seren memandang benda kecil itu lama, lalu mendengus. "Dan kau pikir bukti digital bisa menghapus tiga tahun penderitaan?"

"Tidak. Tapi mungkin bisa membuatmu mengerti kenapa aku tidak pernah berhenti menyesal."

Ia menatap matanya.

Dan di balik kilau dingin mata Arden, Seren melihat sesuatu yang baru-rasa kehilangan yang benar-benar nyata.

"Aku pikir aku benci kau karena kau jahat," katanya lirih. "Tapi sebenarnya aku benci karena aku masih berharap kau bisa berubah."

Arden menelan ludah, matanya nyaris bergetar. "Aku tidak pantas mendapat harapanmu, Seren."

"Benar. Tapi itu tidak menghentikan hatiku waktu itu."

Kata-kata itu jatuh pelan, namun menggema kuat di udara.

Mereka berdiri dalam diam lama sekali.

Lalu, entah karena keinginan atau kelelahan, Arden melangkah maju.

"Hanya satu hal yang ingin aku minta," ujarnya. "Izinkan aku melindungimu. Tidak sebagai hukuman atau penebusan, tapi karena aku tidak tahu cara lain untuk bertahan."

Seren menatapnya. "Melindungiku dari apa?"

"Dari mereka yang dulu ingin membunuhmu. Orang yang sama yang menjebakku di malam pelabuhan itu. Mereka belum selesai."

Wajah Seren memucat. "Kau serius?"

Arden mengangguk. "Kau pikir aku muncul hanya untuk bicara cinta lama? Tidak, Seren. Dunia yang kita tinggalkan tidak sebaik yang kau kira."

Angin laut bertiup lebih kencang. Lampu dermaga bergoyang.

Dalam kesunyian itu, keduanya menyadari bahwa apa pun yang sedang menunggu di depan-bukan sekadar pertemuan kembali antara dua mantan kekasih.

Melainkan babak baru dari permainan yang pernah menghancurkan mereka berdua.

Pagi menjelang.

Seren duduk di meja kecil di ruang tamu rumahnya, menatap flashdisk yang dibawa pulang semalam. Hatinya berdebar setiap kali jari-jarinya menyentuh benda itu.

Ia tahu, membuka file di dalamnya berarti membuka kembali luka yang selama ini ia kubur. Tapi rasa ingin tahu lebih kuat dari ketakutannya.

Ia menyalakan laptop, menyambungkan flashdisk, dan membuka folder yang hanya berisi satu video.

Rekaman dari kamera pengintai dermaga tiga tahun lalu.

Dalam video itu, ia melihat dirinya sendiri-berlari, berteriak, mencoba menyelamatkan orang-orang.

Dan di latar belakang, ia melihat Arden berusaha menahan seseorang... lalu dorongan, tembakan, dan ledakan besar.

Napasnya tercekat.

Itu bukan Arden yang menyalakan bahan peledak.

Itu pria lain-salah satu tangan kanan keluarga bisnis saingan Valez Group.

Air mata Seren menetes tanpa sadar.

Untuk pertama kali, setelah bertahun-tahun, keyakinannya tentang keburukan Arden sedikit retak.

Namun sebelum ia sempat mencerna semuanya, terdengar ketukan keras di pintu.

Tok. Tok. Tok.

Ia menutup laptop, menyembunyikan flashdisk di bawah bantal, lalu berjalan ke pintu.

Seorang kurir berdiri di luar, wajahnya tegang. "Nona Seren Ayandra?"

"Iya?"

"Ini untuk Anda."

Ia menerima amplop besar. Begitu dibuka, matanya membesar-foto dirinya sedang berjalan dengan Arden di dermaga, ditemani catatan tulisan tangan:

"Beberapa orang tidak suka melihatmu hidup, Seren. Dan mereka tahu dia mencarimu."

Tinta merah di bawahnya menulis satu kalimat tambahan:

"Kalau kau tidak ingin berakhir seperti dulu, tinggalkan kota ini malam ini juga."

Seren terdiam.

Darahnya terasa membeku.

Sementara itu, di markas Valez Group, Eron masuk tergesa ke ruangan Arden.

"Tuan, kami punya masalah."

Arden menoleh cepat. "Apa lagi?"

"Seseorang baru saja mengirim ancaman ke alamat Seren. Dengan foto kalian di dermaga."

Rahangnya menegang. "Sial."

"Tim keamanan belum menemukan siapa pengirimnya, tapi ini jelas bukan jurnalis biasa."

Arden berdiri. "Siapkan kendaraan. Aku akan ke sana."

"Tuan, itu berisiko. Mereka bisa memancing Anda keluar."

"Kalau mereka ingin memancing, biarkan. Tapi aku tidak akan membiarkan Seren jadi umpan."

Eron menatapnya lama, lalu mengangguk. "Baik. Tapi kita akan menyiapkan tim bayangan."

Arden mengambil mantel dan pistol dari laci.

Tatapannya berubah-dingin, fokus, berbahaya.

Pria yang tiga tahun lalu mencoba melupakan masa lalunya kini kembali menjadi dirinya yang dulu.

Namun kali ini, bukan untuk menghancurkan...

melainkan untuk melindungi.

Sore itu, Seren berkemas dengan tangan gemetar. Ia belum memutuskan akan pergi atau tidak.

Namun sebelum langkahnya mencapai pintu, suara mobil berhenti di depan rumah.

Arden turun dari dalamnya.

Mata mereka bertemu.

Dan tanpa perlu kata, keduanya tahu-masa lalu telah menemukan cara untuk memanggil mereka kembali.

Hujan mulai turun pelan, membasahi jalan, sementara langit berubah muram.

Seren menatap pria itu yang kini berdiri di ambang pintu dengan tatapan tajam dan lembut sekaligus.

"Kau datang lagi," ucapnya pelan.

"Aku janji ini terakhir kali aku datang tanpa diundang," jawabnya dengan nada lelah. "Tapi kau harus ikut denganku malam ini. Mereka sudah tahu keberadaanmu."

Seren memeluk tasnya erat. "Aku tidak bisa terus lari, Arden. Aku lelah."

"Aku juga lelah," katanya, suaranya pecah untuk pertama kalinya. "Tapi aku tidak akan berhenti sampai kau aman."

Ia mengulurkan tangan, telapak terbuka di antara mereka.

Seren menatap tangan itu lama.

Di matanya, ia melihat dua hal sekaligus: kehancuran dan harapan.

Dan entah kenapa, untuk alasan yang tidak bisa ia pahami, Seren akhirnya menggenggam tangan itu.

Untuk pertama kali setelah tiga tahun, mereka berjalan berdampingan lagi-

bukan sebagai dua orang yang saling membenci,

melainkan dua jiwa yang kembali diseret semesta ke dalam badai yang sama.

Namun kali ini, bukan cinta yang harus mereka taklukkan.

Melainkan kebenaran yang selama ini bersembunyi di balik darah, api, dan pengkhianatan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Berikan Aku Cinta
9.6
Dua kepribadian yang sama-sama kuat harus beradu dalam ikatan pernikahan yang tidak biasa. Seorang wanita bermental baja memutuskan untuk tetap bersatu dengan pria yang memiliki sifat sangat keras kepala. Bagaimana dinamika hubungan mereka saat ego dan prinsip masing-masing saling berbenturan di bawah atap yang sama? Kisah ini menyoroti perjuangan cinta dan komitmen di tengah kerasnya watak mereka yang sulit untuk saling mengalah satu sama lain.
Sampul Novel Cinta Berkalung Noda
7.9
Ikhsan adalah pemuda tampan yang terhimpit kemiskinan hingga ia terpaksa mengorbankan perasaan tulusnya. Demi mengejar ambisi materi, ia merantau ke kota besar. Namun, keputusan itu menjadi awal kehancuran asmaranya. Ikhsan terjebak situasi pelik yang mengharuskannya menikahi putri bosnya sendiri. Ia pun memutuskan hubungan secara sepihak. Akankah takdir mempertemukannya kembali dengan cinta pertamanya? Ikuti perjalanan pahit Ikhsan di sini.
Sampul Novel Cinta Yang Tak Pantas Kupertahankan
8.9
Seminggu sebelum pernikahan, Jimmy menuntut untuk menikahi cinta pertamanya demi memenuhi wasiat terakhir mendiang ibunya. Ia bahkan meremehkan proyek perhiasan bernilai triliunan rupiah yang telah disiapkan bersama. Menyadari ketidakpedulian tunangannya, sang protagonis wanita memutuskan untuk menyerah pada hubungan beracun ini. Ia segera menghubungi keluarganya untuk mencari calon suami baru demi menyelamatkan reputasi dan bisnisnya. Kisah pengkhianatan dan pencarian cinta sejati yang baru pun dimulai.
Sampul Novel Guard You
9.3
Kania Raiza, gadis sombong putri pemilik sekolah, kehilangan segalanya saat ayahnya wafat dan ibunya jatuh sakit. Hidupnya berbalik drastis dari penguasa sekolah menjadi rakyat jelata yang menderita akibat karma perundungan masa lalunya. Di tengah kehancuran dunianya, muncul seorang pemuda misterius yang berjanji menjadi pelindung setianya. Mampukah sosok ini menjaga Kania saat ia harus menebus semua kesalahan yang pernah ia lakukan?
Sampul Novel Kepingan Hati
9.5
Rafa Dwindra Athaya harus menghadapi kenyataan sulit saat jatuh hati pada gurunya sendiri, Khafa Aseanda Zayn. Meski Khafa terus menolak karena perbedaan usia dan status sosial, takdir justru menyatukan mereka dalam ikatan pernikahan yang tak terduga. Kini, Rafa berjuang keras memenangkan hati sang istri yang masih menutup diri. Baginya, mencintai Khafa adalah pilihan hidup, namun membangun masa depan bersama perempuan itu adalah tujuan akhirnya yang paling utama.