
Sakit Ini Lebih Dari yang Kau Pahami
Bab 3
Malam itu turun dengan hening yang menakutkan.
Bukan karena sunyi, tetapi karena di antara denting jam dan desir angin yang lewat di luar jendela, ada napas yang tertahan. Ada sesal yang menggantung di udara seperti kabut yang tak mau sirna.
Seren duduk di kursi rotan tua di beranda belakang rumah peninggalan ibunya. Angin lembab membawa aroma tanah basah, bercampur sedikit dengan wangi melati liar yang tumbuh di sisi pagar. Ia menggenggam cangkir teh hangat, tapi uapnya sudah lama hilang.
Matanya menatap jauh-bukan pada pemandangan malam, tapi pada sesuatu yang lebih dalam.
Kenangan.
Malam itu genap dua tahun sejak ia meninggalkan kota, meninggalkan nama yang terus menghantuinya: Arden Valez.
Nama itu seperti duri yang menancap di dasar hatinya-tidak mati, tapi juga tidak pernah benar-benar hidup. Ia membencinya, tapi tubuhnya mengingat setiap sentuhan, setiap tatapan, bahkan setiap bisikan kasar yang dulu pernah membuatnya bergetar di antara rasa takut dan keinginan.
Ia telah berulang kali meyakinkan diri bahwa semua itu sudah berakhir. Bahwa cinta yang dulu tumbuh dari reruntuhan luka hanyalah ilusi, semacam bentuk Stockholm Syndrome yang membuatnya bodoh.
Namun malam seperti ini selalu menggagalkan semuanya.
Seren memejamkan mata, menarik napas panjang.
Ia tahu, hanya butuh sedikit saja-sekilas bayangan, atau sepotong ingatan-untuk membuat dadanya kembali bergetar dengan nama yang sama.
Dan malam itu, saat denting jam menunjukkan pukul sepuluh lewat dua puluh, sesuatu di dalam rumahnya bergerak.
Suara langkah. Berat. Teratur.
Seperti yang pernah ia hafal.
Seren membuka mata, menoleh perlahan ke arah ruang tamu yang remang.
Lampu gantung di tengah ruangan berayun sedikit, dan di balik bayangannya, berdiri seseorang yang sempat ia kira hanya akan ia temui lagi dalam mimpi buruk.
"Seren."
Suara itu.
Tinggi, dalam, nyaris seperti bisikan yang keluar dari dada penuh luka.
Ia terpaku. Dadanya berhenti bergerak sesaat.
Tangan kirinya gemetar memegang cangkir, hingga ujungnya bergetar dan tumpah ke lantai.
"Arden...?" suaranya nyaris tak terdengar.
Pria itu berdiri beberapa langkah darinya, tampak lebih tua, lebih letih, namun juga lebih manusiawi daripada yang pernah ia ingat.
Rambut hitamnya sedikit lebih panjang, kulit di bawah matanya menggelap, tapi sorotnya masih sama-tepat seperti dua tahun lalu ketika ia memohon pada Seren untuk tidak pergi.
"Aku tahu kau akan datang," kata Seren akhirnya, dengan nada getir.
"Semesta selalu menertawakan niatku untuk melupakanmu."
Arden tidak menjawab. Ia hanya melangkah perlahan, menghentikan diri beberapa meter di depannya, seolah takut langkahnya yang salah bisa membuat perempuan itu lenyap lagi.
"Aku mencarimu di setiap tempat yang mungkin," ucapnya pelan. "Kau tahu betapa lamanya dua tahun tanpa suaramu?"
Seren menunduk.
Ia tak ingin melihat sorot mata itu-karena terlalu banyak hal yang bisa tumbuh dari sana: amarah, rindu, atau rasa bersalah.
"Kenapa sekarang?" tanyanya akhirnya. "Kenapa setelah semua ini?"
Arden terdiam. Napasnya berat, matanya sedikit berkaca.
"Aku baru tahu caranya menyesal setelah kau pergi."
Seren tertawa lirih-suara tawa yang getir dan pahit.
"Penyesalanmu tidak akan menghidupkan apa pun, Arden. Tidak perasaan yang telah mati, tidak kepercayaan yang telah kau hancurkan."
Pria itu menarik napas dalam-dalam. "Aku tidak datang untuk menebus semuanya. Aku tahu itu mustahil. Aku hanya ingin... melihatmu hidup. Dengan mataku sendiri."
Ia berjalan melewati jarak di antara mereka, lalu berhenti hanya beberapa langkah lagi. Seren bisa mencium aroma kulitnya-campuran tembakau, hujan, dan sedikit wangi cedar yang dulu selalu menempel di tubuhnya.
"Kau terlihat berbeda," katanya pelan. "Lebih tenang."
"Tenang bukan berarti sembuh."
Suara Seren datar, tapi matanya bergetar.
"Aku hanya belajar menahan luka agar tidak menjerit setiap kali ingat siapa yang menorehkannya."
Mereka saling menatap lama.
Hening menggantung di udara, seakan waktu menolak bergerak.
Arden membuka mulut, tapi kata-katanya tertahan di tenggorokan.
Ia ingin meminta maaf, tapi kalimat itu terasa terlalu kecil untuk menggambarkan semua dosa yang telah ia perbuat.
"Aku kehilangan segalanya setelah kau pergi," katanya akhirnya. "Perusahaan, reputasi, bahkan diriku sendiri. Tapi yang paling sulit bukan itu, Seren. Yang paling menyakitkan adalah kehilangan kesempatan untuk menatapmu setiap pagi."
Seren menggigit bibir, mencoba menahan getar yang mulai terasa di dada.
"Berhentilah membuat semuanya terdengar seperti cinta," ujarnya tajam. "Kau tidak mencintaiku waktu itu, Arden. Kau menghukumku atas sesuatu yang bahkan bukan salahku."
Arden menatapnya lama, dalam. "Mungkin dulu aku tidak tahu apa arti cinta. Tapi aku tahu, kehilanganmu membuatku paham segalanya."
Seren bangkit berdiri.
Langkahnya pelan, tapi suaranya tegas. "Aku tidak bisa kembali."
"Aku tidak memintamu untuk kembali."
Kata-kata itu terucap cepat, namun setelahnya, Arden menunduk, seolah menyesali kebohongan kecil di dalamnya.
Seren menatapnya lama. Ada banyak hal yang ingin ia katakan-tentang malam-malam penuh tangis, tentang ketakutan, tentang bagaimana setiap luka yang ditinggalkan pria itu membentuk caranya bertahan hidup.
Tapi kata-kata itu tak pernah keluar.
Sebaliknya, ia hanya berkata lirih, "Kau seharusnya pergi sebelum aku berubah pikiran."
Arden melangkah lebih dekat, membuat jantung Seren berdetak tak karuan.
Hanya satu langkah lagi, dan jarak di antara mereka akan hilang sepenuhnya.
"Aku tidak bisa," katanya pelan. "Kau tahu, sejak dulu aku tidak pernah pandai pergi dari hal yang membuatku merasa hidup."
Seren menahan napas, namun tatapannya tidak menghindar kali ini.
"Dan sejak dulu, kau tidak pernah pandai membedakan antara cinta dan obsesi."
Hening kembali turun.
Namun kali ini berbeda-hening yang berat, pekat, dan bergetar di antara dua napas yang saling menahan diri.
Akhirnya, Arden mengangguk. Ia mundur satu langkah, lalu dua.
"Sampai kapanpun kau ingin aku berhenti mencintaimu, aku akan tetap di sini."
Ia menatapnya dengan pandangan yang hancur tapi tulus. "Aku tidak tahu bagaimana caranya berhenti."
Seren menutup matanya, berbalik, dan berjalan masuk ke dalam rumah.
Tapi langkahnya goyah, karena hatinya tidak benar-benar ingin meninggalkan pria itu.
Ia tahu, pada akhirnya, akan selalu ada bagian dari dirinya yang tertinggal di sana-di antara bayangan malam dan tatapan Arden Valez.
Hujan turun tak lama setelah itu.
Arden masih berdiri di depan rumah, di bawah atap kecil yang meneteskan air perlahan ke tanah.
Ia tidak peduli basah, tidak peduli dingin.
Ia hanya menatap pintu yang tertutup di depannya-pintu yang memisahkan dua dunia yang dulu satu, tapi kini terpisah oleh luka.
Dan di dalam rumah, di balik pintu itu, Seren bersandar di dinding. Air matanya jatuh perlahan tanpa suara.
Ia tahu, cinta itu belum mati.
Hanya saja, kini ia tidak tahu apakah itu masih layak hidup.
Dua hari berlalu sejak malam itu, tapi bayangan Arden masih membayang di setiap sudut rumah.
Seren mencoba mengalihkan pikirannya dengan bekerja-mengajar anak-anak di sekolah kecil desa itu, membantu klinik setempat, menulis catatan harian. Tapi tidak ada yang benar-benar membantu.
Sampai suatu sore, seorang anak kecil datang membawa surat.
Amplopnya lusuh, tanpa nama pengirim, tapi tulisan di depan jelas mengenali tangannya.
"Untuk Seren, yang pernah kusebut rumah."
Ia menatapnya lama sebelum membuka. Di dalamnya hanya ada satu halaman, dengan tinta hitam yang sedikit pudar.
Aku tidak tahu harus mulai dari mana. Aku hanya ingin kau tahu, aku tidak lagi berlari dari masa lalu. Aku ingin menebusnya, meski dengan cara apa pun yang mungkin kau anggap terlambat.
Kau tidak perlu memaafkan. Aku hanya ingin kau hidup tenang, karena aku akan tenang kalau tahu kau bahagia.
Jika suatu hari kau melihat burung camar di tepi dermaga itu, mungkin itu aku-bukan karena aku mati, tapi karena akhirnya aku belajar untuk pergi tanpa menuntut apa-apa.
– Arden.
Surat itu basah di ujungnya. Seren tidak tahu apakah karena hujan, atau air matanya sendiri.
Ia memejamkan mata, menekan dada yang terasa sesak.
"Pergilah sejauh yang kau bisa, Arden," bisiknya pelan. "Tapi jangan pernah berhenti hidup."
Di luar jendela, langit mulai memerah di ujung senja.
Seekor burung terbang melintas, dan untuk sesaat, Seren membiarkan dirinya percaya bahwa semesta memang sedang menepati janji.
Bahwa cinta mereka, meski tak sempurna, tetap nyata.
Bukan untuk dimiliki-tapi untuk diingat.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah dua tahun, Seren bisa tidur tanpa takut akan mimpi buruk.
Karena dalam mimpinya, Arden tidak lagi berdiri di balik bayangan.
Ia tersenyum.
Dan itu cukup.
Ada hal-hal yang tidak pernah benar-benar hilang, hanya tertidur di antara ingatan—menunggu waktu yang tepat untuk kembali menyakiti.
Untuk Seren Ayandra, masa lalu itu tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya bersembunyi di sudut pikirannya, berdebu, hingga sesuatu sekecil aroma hujan atau suara tembakan petir bisa membangunkannya lagi.
Pagi itu, ia terbangun dari mimpi yang membuat dadanya terasa sesak. Dalam mimpi itu, ia berdiri di lorong panjang sebuah bangunan tua, lampu-lampunya berkelap, dan di ujung sana—Arden menatapnya. Tatapan itu bukan milik pria yang ditemuinya dua malam lalu, bukan tatapan penuh sesal dan kehilangan. Itu tatapan seorang penguasa; dingin, memerintah, dan berbahaya.
Ketika membuka mata, Seren menemukan dirinya menatap langit-langit kayu rumah yang sudah mulai retak. Sinar matahari menerobos lewat celah-celah tirai, menimpa wajahnya yang masih pucat. Ia menarik napas pelan, mencoba menenangkan degup jantungnya yang kacau.
“Aku tidak boleh mengingat,” gumamnya sendiri. Tapi justru karena kalimat itu, pikirannya makin meluncur ke masa lalu.
Tiga tahun lalu.
Hujan turun deras di halaman belakang rumah sakit tempat Seren bekerja sebagai perawat. Lampu-lampu taman memantulkan warna kuning pucat di genangan air, sementara ia berlari kecil menembus hujan menuju gedung parkir. Jas hujan tipis yang ia kenakan tidak cukup melindunginya dari dingin.
Ia baru saja selesai shift malam yang melelahkan, dan seperti biasa, tidak ada siapa pun yang menjemput. Ibunya sedang sakit, ayahnya sudah lama meninggal, dan hidupnya hanya berisi kerja—dan diam.
Sampai malam itu, seorang pria berdiri di dekat mobil hitam yang terparkir di sudut. Payung besar hitam menaungi tubuh tinggi tegapnya. Wajahnya sebagian tertutup bayangan, tapi matanya—tajam, seperti menyimpan badai di dalamnya—terarah langsung padanya.
“Seren Ayandra?”
Suara itu dalam dan berat, seperti menggetarkan udara di sekitar. Seren berhenti beberapa langkah dari pria itu, menatapnya waspada. “Ya. Ada yang bisa saya bantu?”
Pria itu menurunkan payungnya sedikit, memperlihatkan wajah yang tampak seperti diukir dari marmer. Dingin, berkelas, tapi juga menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan—semacam luka lama yang tidak pernah disembuhkan.
“Namaku Arden Valez.”
Seren memicingkan mata. Ia mengenal nama itu. Semua orang mengenal. Arden Valez—direktur muda perusahaan medis ValezCorp, yang juga dikenal sebagai pria kejam dalam dunia bisnis, tapi jenius dalam bidangnya. Ia adalah seseorang yang tidak mungkin punya urusan dengan perawat biasa sepertinya.
“Ada yang salah, Tuan?” tanyanya hati-hati.
“Aku ingin bicara sebentar.”
“Tentang apa?”
“Adikku.”
Seren menegang. “Adik Anda?”
Arden mengangguk. “Liora Valez. Dia meninggal di bawah perawatanmu tiga bulan lalu.”
Hujan semakin deras, dan suara di antara mereka semakin tenggelam dalam gemuruh petir. Namun bahkan suara badai pun tak mampu menutupi dinginnya tatapan Arden saat itu.
Seren menelan ludah. “Saya… ingat. Tapi saya sudah memberikan semua laporan pada pihak rumah sakit. Kematian Liora—”
“—bukan kecelakaan,” potong Arden cepat. “Dan aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
Seren mundur setapak, menatap pria itu yang kini maju satu langkah lebih dekat. Ada sesuatu dalam tatapannya—sesuatu yang membuat jantungnya berdegup cepat antara takut dan… entah apa.
“Saya tidak punya penjelasan lain, Tuan Valez. Saya melakukan semua prosedur dengan benar. Saya—”
“Jangan bohong padaku.” Suaranya berubah lebih dalam, mengancam. “Aku sudah melihat rekaman ruang medis. Kau satu-satunya yang ada di sana saat monitor jantung Liora berhenti berdetak.”
Hujan menetes di wajah Seren, bercampur dengan air mata yang tiba-tiba ia tahan. “Karena semua orang sedang mengevakuasi pasien lain di lantai atas! Aku tidak meninggalkannya, aku mencoba menolong!”
Arden menatapnya tajam selama beberapa detik, lalu menoleh perlahan. “Kalau begitu, buktikan.”
Itu awal segalanya.
Arden Valez datang ke hidupnya bukan seperti hujan lembut, tapi seperti badai yang menumbangkan semua hal di jalannya. Ia menyeret Seren ke dalam penyelidikan internal yang membuat reputasinya hancur. Surat peringatan, tuduhan kelalaian, bahkan ancaman pemecatan datang silih berganti.
Namun yang paling menyakitkan bukan itu. Yang paling menyakitkan adalah bagaimana, di antara semua tekanan, Seren menemukan dirinya mulai… tertarik pada pria yang menghancurkannya.
Mungkin karena luka yang sama—karena di balik dinginnya Arden, Seren mulai melihat sisi lain.
Suatu malam, ketika semua orang sudah pulang, Seren mendapati Arden duduk sendirian di ruang observasi, menatap foto adiknya di layar ponsel. Matanya memerah. Jemarinya gemetar saat menyentuh gambar itu.
Seren berdiri di ambang pintu, ragu.
“Dia pasti sangat kau cintai,” ucapnya perlahan.
Arden menoleh cepat, seolah baru sadar ada orang lain di ruangan itu.
Ia tidak berkata apa pun selama beberapa saat. Hanya menatap.
“Liora satu-satunya alasan aku masih hidup waktu itu,” katanya akhirnya. “Ketika dia mati, aku pikir aku juga ikut mati.”
Suara itu terdengar rapuh, nyaris seperti bisikan.
Untuk pertama kalinya, Seren melihat sesuatu yang manusiawi dari pria itu. Sesuatu yang membuat jantungnya bergetar.
Malam itu, mereka berbicara lama. Tentang kehilangan. Tentang rasa bersalah. Tentang bagaimana cinta bisa berubah menjadi belati yang melukai kedua sisi.
Dan sejak malam itu, sesuatu di antara mereka berubah.
Hari berganti minggu, minggu menjadi bulan.
Arden mulai sering datang ke rumah sakit, bukan lagi untuk menginterogasi, tapi untuk menemani. Ia membawa kopi saat Seren lembur, atau berdiri di lorong menunggu Seren selesai shift.
Mereka berbagi diam yang aneh—diam yang tidak canggung, tapi dalam. Seolah kata-kata tidak diperlukan untuk saling memahami.
Suatu malam, setelah Seren mengantar pasien terakhir ke ruang observasi, ia menemukannya menunggu di depan pintu keluar.
“Kenapa kau masih di sini?” tanyanya lembut.
Arden menatapnya dengan mata yang sulit ditebak. “Entahlah. Mungkin karena hanya di tempat ini aku merasa tenang.”
“Tenang?” Seren tertawa kecil. “Tempat ini penuh kesedihan.”
“Justru itu,” jawabnya. “Aku merasa cocok.”
Seren menatapnya lama, dan di sinilah segalanya mulai kabur. Antara simpati dan perasaan yang lebih dari itu. Antara empati dan sesuatu yang ia tahu seharusnya tidak tumbuh.
Namun cinta tidak butuh izin untuk lahir.
Cinta mereka bukan datang dengan lembut, melainkan dengan perlawanan. Arden terlalu hancur untuk percaya pada cinta, dan Seren terlalu lelah untuk mempertahankannya. Tapi di antara semua kebisuan, mereka menemukan kedamaian yang aneh.
Hingga malam itu datang—malam ketika semua yang mereka bangun runtuh seketika.
Arden menemukan sesuatu. Sebuah rekaman medis lama yang menunjukkan bahwa Liora memang menerima dosis obat berlebih, dan itu ditandatangani atas nama Seren.
Ia marah. Membabi buta. Tidak mau mendengar penjelasan apa pun.
Seren berusaha menjelaskan bahwa tanda tangan itu palsu, bahwa ada pihak lain di rumah sakit yang menyalahgunakan aksesnya. Tapi pria itu tak percaya. Dalam amarahnya, Arden menuduhnya berbohong—menuduh bahwa Seren mendekatinya hanya untuk menghapus jejak.
Kata-katanya malam itu masih membekas hingga kini.
“Kau mencuri kepercayaanku, Seren. Dan itu jauh lebih kejam dari kematian adikku.”
Ia pergi malam itu. Membiarkan Seren berdiri di tengah hujan dengan pakaian basah dan hati yang patah.
Kini, duduk di tepi ranjang tiga tahun kemudian, Seren menatap kosong ke luar jendela. Matahari sudah tinggi, tapi hawa dingin menolak pergi.
Semua luka itu kembali terasa baru. Semua kenangan yang coba ia kubur kini muncul satu per satu, seperti tangan-tangan hantu yang keluar dari tanah, menuntut perhatian.
Ia berdiri, berjalan ke meja, lalu membuka laci teratas. Di sana, di antara kertas-kertas lama, ada sebuah foto kecil.
Ia dan Arden, di halaman rumah sakit, tertawa di bawah langit senja. Foto itu diambil oleh seorang pasien kecil yang dulu mereka rawat bersama.
Seren menyentuh pinggiran foto itu dengan ujung jari.
“Jika waktu bisa diputar, aku ingin berhenti di hari itu saja,” bisiknya.
Namun waktu tak pernah memberi kesempatan kedua.
Yang bisa dilakukan hanyalah menghadapi—atau menunggu semesta menulis akhir yang berbeda.
Sore itu, Seren pergi ke dermaga di ujung desa, tempat ia sering mengajar anak-anak membaca.
Angin laut membawa aroma asin, langit jingga berpendar di atas ombak.
Ia baru saja hendak duduk di bangku kayu tua ketika seseorang memanggil namanya dari kejauhan.
“Seren!”
Ia menoleh. Seorang lelaki tua berlari kecil mendekat, membawa sesuatu di tangannya—sebuah kotak kayu kecil.
“Ini untukmu,” katanya terengah. “Seorang pria menitipkannya kemarin sore. Katanya, kalau kau datang hari ini, berikan ini padanya.”
Seren menerima kotak itu dengan tangan gemetar. Di tutupnya, terukir inisial yang membuat jantungnya berhenti berdetak sesaat: A.V.
Ia membuka perlahan. Di dalamnya, ada seutas kalung perak dengan liontin berbentuk tetes air. Di baliknya, terukir satu kalimat pendek:
Aku menemukan kebenaran terlalu terlambat.
Seren menatap laut lama. Matanya panas, tapi bibirnya melengkung samar.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, dadanya terasa ringan.
Karena akhirnya, Arden tahu.
Dan mungkin, itu cukup—untuk memulai kembali, atau untuk benar-benar mengakhiri.
Malam turun. Ombak berdebur lembut di bawah dermaga. Seren berdiri di sana sendirian, menggenggam kalung itu erat-erat.
Ia menatap ke cakrawala gelap, ke arah di mana laut dan langit seolah bertemu.
Dalam keheningan itu, ia berbisik pelan, seolah pada angin:
“Jika cinta ini tak bisa disembuhkan, biarlah ia menjadi doa.”
Dan angin menjawabnya dengan lembut—mengirimkan aroma garam, membawa bisikan samar yang hanya bisa ia rasakan, bukan dengar.
Satu kata, cukup untuk membuat hatinya bergetar.
"Seren."
Anda Mungkin Juga Suka





