Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Rentang Waktu Di Antara Kita

Rentang Waktu Di Antara Kita

Rentang Waktu di Antara Kita menyajikan narasi romansa modern yang emosional mengenai kekuatan cinta sejati. Kisah ini menyoroti perjuangan dua insan dalam menghadapi perbedaan usia yang signifikan. Di tengah batasan waktu yang memisahkan, mereka harus bergelut dengan ketegangan perasaan serta harapan yang terus menyala. Sebuah perjalanan menyentuh hati yang membuktikan bahwa perasaan tulus mampu melampaui segala rintangan dan jarak yang tercipta.
Bab
Bagikan

Bab 2

Langit pagi Jakarta memancarkan sinar yang mulai terik, menandakan kota itu sudah sibuk sejak fajar. Di Stasiun Gambir, Selina melangkah keluar dari kereta dengan ransel di punggung dan koper kecil di tangannya. Matanya menyisir kerumunan, mencari sosok yang seharusnya menjemputnya.

"Kian bilang dia bakal nunggu di depan gerbang," gumam Selina sambil memeriksa ponselnya. Pesan terakhir dari Kian muncul di layar.

'Aku udah di depan gerbang. Kamu pake baju apa?'

Selina buru-buru membalas.

'Aku udah di luar, pake kemeja hijau. Kamu?'

Beberapa detik kemudian, suara bariton yang familiar menyapanya. "Selina?"

Selina menoleh dan melihat seorang pria berdiri beberapa meter darinya. Kemeja putih dengan lengan tergulung, celana jeans, dan sneakers hitam membuat Kian tampak santai namun tetap rapi. Ia melambaikan tangan sambil tersenyum kecil.

"Hai!" Selina melangkah mendekat.

"Selamat datang di Jakarta. Gimana perjalanan kamu?" tanya Kian sambil menatap koper kecil di sampingnya.

"Lumayan capek, tapi aku excited. Akhirnya bisa ngeliat kota ini beneran," jawab Selina dengan senyum lebar.

"Yaudah, ayo aku anter ke kos kamu dulu. Aku udah pesen taksi online, biar lo nggak ribet."

"Wah, makasih banget, Ki. Aku jadi nggak enak nih."

Kian mengangkat bahu. "Santai aja. Kamu kan belum tau jalan di sini. Anggap aja aku tour guide sementara."

Mereka berdua berjalan menuju mobil yang sudah menunggu. Sepanjang perjalanan ke kos, Selina tidak berhenti mengagumi hiruk pikuk kota Jakarta.

"Jadi begini ya Jakarta... padat banget!" seru Selina sambil menempelkan wajahnya ke jendela.

Kian terkekeh. "Ini baru jalan biasa. Tunggu sampe kamu liat Sudirman pas jam pulang kerja, baru kamu tau artinya padat."

Selina tertawa. "Gue penasaran sih. Tapi, Ki, beneran nih kamu mau bantuin aku cari kerja?"

"Ya iyalah. Kamu kan lulusan keperawatan, kebetulan rumah sakit tempat aku kerja lagi buka lowongan perawat baru. Aku kenal sama manajernya, jadi aku bisa kasih rekomendasi."

"Wah kamu serius? Tapi aku nggak mau ngerepotin."

"Nggak usah gengsi, Sel. Di sini tuh semua orang saling bantu. Ntar kamu bisa bales bantuan aku dengan traktir kopi."

Selina tertawa. "Deal! Tapi kamu jangan kasih ekspektasi tinggi ya. Aku baru lulus, masih harus banyak belajar."

"Itu wajar. Semua orang mulai dari nol. Lagian kamu punya semangat, itu yang penting."

Obrolan mereka terus mengalir hingga akhirnya mereka tiba di kos Selina, sebuah rumah tiga lantai di kawasan Menteng. Kian membantu mengangkat koper Selina ke kamar barunya di lantai dua.

°°°

Setelah Selina beres-beres, Kian mengajaknya keluar makan siang di sebuah warung kecil tak jauh dari tempat kos.

"Makan di sini aja?" tanya Selina ragu.

"Iya, makanan sini enak kok. Kamu suka ayam bakar nggak?"

"Suka, tapi aku kira kamu bakal ngajak makan di tempat fancy gitu."

Kian tertawa. "Hahaha, Jakarta tuh nggak selalu tentang tempat mewah. Yang penting makanannya enak. Percaya sama aku deh."

Mereka duduk di salah satu meja kayu sederhana, dan Kian langsung memesan dua porsi ayam bakar dengan nasi hangat dan sambal.

"Nah, cerita dong, Sel. Kamu kenapa mutusin pindah ke Jakarta?" tanya Kian sambil menyeruput es teh manis.

"Sebenernya aku nggak yakin banget sih, tapi aku pengen nyoba tantangan baru. Kampung aku terlalu kecil, semua orang kenal satu sama lain. Di sini kan lebih banyak peluang, ya kan?"

"Bener. Tapi kamu juga harus siap sama kerasnya hidup di sini. Orang Jakarta itu nggak selalu ramah, banyak juga yang cuma mau manfaatin."

Selina mengangguk serius. "Makanya aku bersyukur kenal kamh. Kamu bisa kasih aku tips biar nggak tersesat di kota ini."

"Aku bakal kasih kamu dua tips penting. Pertama, jangan gampang percaya sama orang. Kedua, kalau ada apa-apa, langsung kabarin aku."

Selina tersenyum kecil. "Siap, Dokter Santai!"

Kian menggeleng sambil tertawa. "Kamu bener-bener suka banget manggil aku gitu, ya?"

"Emang kamu santai kok, beda sama dokter yang aku bayangin."

Obrolan mereka berlanjut, membahas rencana Selina untuk mencari pekerjaan dan adaptasi di Jakarta.

°°°

Dua hari kemudian, Kian menepati janjinya membawa Selina ke rumah sakit tempat ia bekerja.

"Sel, inget ya, kamh harus kasih kesan pertama yang baik. Jangan grogi, oke?" ujar Kian saat mereka berjalan memasuki lobi rumah sakit.

"Ya ampun, aku deg-degan banget, Ki. Kamu yakin mereka mau terima aku?"

Kian berhenti sejenak dan menatap Selina. "Sel, aku kenal kamu cukup baik buat tau kamu punya potensi. Jadi percaya diri aja."

Selina mengangguk, meski wajahnya tetap menunjukkan kegugupan.

Di ruang manajer, Kian memperkenalkan Selina kepada Bu Dina, kepala bagian keperawatan.

"Bu Dina, ini Selina, teman saya yang baru lulus keperawatan. Saya rasa dia cocok untuk posisi yang Ibu butuhkan."

Bu Dina tersenyum dan mempersilakan Selina duduk. "Selamat datang, Selina. Saya udah lihat CV kamu. Kualifikasi kamu cukup bagus. Bisa ceritain kenapa kamu mau kerja di sini?"

Selina menghela napas, mencoba mengumpulkan keberanian. "Saya pengen jadi perawat yang nggak cuma ngikutin prosedur, tapi juga bisa peduli sama pasien. Saya juga pengen belajar banyak dari tim di sini."

Bu Dina tersenyum puas. "Bagus. Kalau begitu, kita coba dulu ya. Kamu bisa mulai minggu depan."

Selina hampir tidak percaya mendengar kalimat itu. Dia melirik Kian yang memberikan anggukan kecil penuh dukungan.

"Terima kasih, Bu. Saya nggak akan mengecewakan," jawab Selina dengan senyum lebar.

°°°

Dalam perjalanan pulang, Selina masih terlihat bersemangat.

"Ki, aku bener-bener nggak nyangka mereka langsung nerima aku!"

"Aku udah bilang, kan? Kamu punya potensi."

"Aku nggak bakal lupa sama bantuan kamu. Serius, Ki, makasih banget."

"Sel, kamu jangan salah paham. Aku bantu kamu karena aku tau kamu pantas. Jadi nggak usah mikir aku ngasih kamu keistimewaan."

Selina mengangguk, merasa terharu. "Kamu orang pertama yang bikin aku ngerasa percaya diri kayak gini. Aku nggak tau gimana harus bales."

"Kamu fokus aja kerja, Sel. Itu udah cukup."

Selina tersenyum lebar. "Deal. Tapi nanti aku tetep traktir kopi ya."

Kian tertawa. "Oke. Aku tunggu traktirannya."

Hari itu menjadi awal baru bagi Selina di Jakarta. Ia merasa beruntung memiliki Kian, seseorang yang tidak hanya memberinya bantuan, tapi juga dorongan untuk percaya pada dirinya sendiri. Mereka tidak menyadari, hubungan ini akan membawa mereka pada perjalanan yang jauh lebih kompleks.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Belenggu Pernikahan Sang Mafia
8.6
Gabriel Alaric menjadikan Aveline Harper alat balas dendam terhadap ayahnya, Leonard. Gadis berusia 21 tahun itu dipaksa menikah demi menebus dosa masa lalu keluarganya. Di tengah kebencian Gabriel yang dingin, terdapat rahasia kelam yang menyiksa batinnya. Aveline pun berusaha bertahan sambil memahami luka suaminya. Akankah dendam ini berakhir dengan kehancuran, atau justru cinta yang tak terduga muncul menyatukan mereka di tengah badai emosi?
Sampul Novel Cinta Dalam Skandal
9.3
Bitna, aktris berbakat asal Korea Selatan, terjerat skandal besar setelah menghadiri pesta di Indonesia. Reputasinya terancam hancur akibat insiden dengan Kenzo, bos besar penyelenggara acara tersebut. Demi menyelamatkan karier, Bitna sepakat melakukan klarifikasi publik. Namun, Kenzo justru mengejutkan dunia dengan mengumumkan pertunangan palsu tanpa persetujuannya. Mengapa Kenzo nekat berbohong? Akankah sandiwara ini menyelamatkan atau justru menghancurkan hidup Bitna?
Sampul Novel Delapan Tahun Menjadi Istri Rahasia
8.0
Clara berharap kehamilannya mengakhiri rahasia pernikahan delapan tahunnya dengan David. Namun, penolakan keras David justru memicu konflik fisik yang fatal hingga Clara kehilangan salah satu janinnya. Sadar hanya menjadi pengganti, Clara yang semula lembut berubah dingin dan menuntut cerai. Kini, David harus menghadapi kehancuran rumah tangganya dan rasa bersalah mendalam saat melihat istrinya tak lagi peduli pada hubungan mereka yang penuh kepalsuan.
Sampul Novel Dokter Tampan dan Pasien
8.9
Han Jang Woo dikenal sebagai dokter berbakat yang memikat di rumah sakitnya. Di sisi lain, Kim Ae Jin adalah pasien yang selalu kabur saat pemeriksaan payudara karena merasa sangat malu di hadapan Jang Woo. Namun, di balik interaksi canggung tersebut, tersimpan sejarah kelam yang tidak diketahui orang lain. Rahasia masa lalu mereka mulai terkuak, mengungkap bahwa hubungan keduanya jauh lebih rumit dan mendalam daripada sekadar pertemuan antara dokter dan pasien.
Sampul Novel Ipar Tercinta
8.1
Permintaan terakhir sang kakak sebelum tiada mengubah total hidup Diraya Paramitha. Dira diminta menggantikan posisi kakak perempuannya sebagai ibu bagi keponakannya sekaligus menjadi istri bagi Wira Dharmawan. Di usia yang masih muda, ia terjebak dalam tanggung jawab besar dan pernikahan mendadak. Akankah cinta tulus tumbuh di antara Dira dan Wira seiring berjalannya waktu, ataukah ikatan mereka selamanya hanya sebatas kewajiban demi sang buah hati?
Sampul Novel Istri Penebus Hutang
9.8
Elara, gadis penuh harapan di tengah kemiskinan, harus menghadapi kenyataan pahit akibat ulah ayahnya, Hasan. Demi melunasi utang keluarga yang menumpuk, Hasan memaksa Elara menikahi Raka, konglomerat misterius yang menguasai dunia bisnis namun tak pernah muncul di publik. Meski hatinya hancur dan air mata tertahan, Elara tidak memiliki pilihan lain selain menuruti permintaan sang ayah. Kini, nasibnya terikat pada sosok pria berkuasa yang tidak ia kenal.