Sampul Novel Psikopat & Gadis Desa

Psikopat & Gadis Desa

8.9 / 10.0
Dalam Psikopat & Gadis Desa, Christian Kim menggunakan kekuasaan billionaire untuk memaksa Moon tunduk. Namun, rencana balas dendam Moon terhambat oleh rahasia keluarga besar Kim. Ikuti kisah modern novel ini tentang pengkhianatan dan cinta yang rumit di platform online novel kami.
Ringkasan Psikopat & Gadis Desa
Christian Kim, pewaris kaya yang bengis, memaksa Moon melayaninya melalui ancaman. Murka atas wafatnya sang nenek, gadis desa ini nekat menikam Christian demi balas dendam. Namun, upaya gigih sang tuan muda untuk meraih cintanya mulai meluluhkan hati Moon. Di tengah gejolak rasa, terungkap fakta bahwa Moon memiliki ikatan rahasia dengan keluarga besar Kim. Akankah kebenaran mengejutkan ini menghancurkan asmara mereka atau justru mempererat hubungan yang ada?
Baca Selengkapnya

Psikopat & Gadis Desa Bab 1

Sebuah desa yang terletak di tengah pegunungan hijau dengan udara segar dan pemandangan yang memukau, penuh dengan kehangatan dan keramahan. Penduduknya saling mengenal dengan baik, menciptakan ikatan kekeluargaan yang erat.

Mereka menjalani kehidupan yang sederhana, bercocok tanam, dan berdagang di pasar kecil di pusat desa. Di sinilah Moon, seorang gadis muda yang dikenal karena kecantikannya yang alami dan sifatnya yang ceria, hidup bersama neneknya. Moon, dengan rambut panjangnya yang berkibar terkena angin, mengayuh sepeda dengan penuh semangat menuju pasar desa. Senyumnya yang manis dengan lesung pipi yang menghiasi wajah bulatnya membuatnya selalu terlihat ceria.

Setibanya di pasar, dia berhenti di depan kios sayuran milik seorang wanita paruh baya. "Bibi, sayur yang aku pesan, apakah sudah tersedia?" tanya Moon dengan senyum ramah.

Wanita paruh baya itu, yang sudah mengenal Moon sejak kecil, tersenyum kembali. "Moon, Bibi sudah simpan untukmu," katanya sambil mengeluarkan beberapa sayuran segar dari bawah meja.

"Terima kasih!" ucap Moon dengan senyum.

"Nenekmu sangat suka makan sayur, tentu saja Bibi harus menyediakan lebih untuknya," tambah wanita itu dengan ramah, menunjukkan betapa eratnya hubungan mereka.

Namun, suasana yang damai itu tiba-tiba pecah ketika terdengar teriakan panik dari seorang pria muda bernama Ekin. Dia berlari ke arah mereka, wajahnya penuh kecemasan."Gawat! Gawat!" teriak Ekin, napasnya tersengal-sengal.

Semua orang di pasar berhenti sejenak, menoleh ke arahnya dengan rasa penasaran dan khawatir.

"Ekin, ada apa denganmu? Apa terjadi sesuatu?" tanya salah satu warga yang berdiri dekat dengan Moon.

Ekin berusaha mengatur napasnya sebelum menjawab, "Baru dapat informasi, besok mereka akan datang lagi untuk mengusir kita. Kali ini yang datang adalah pengurusnya, mereka bersama beberapa anak buahnya. Kalau kita menolak, mereka akan melakukan penggusuran paksa."

Salah satu warga yang lebih tua mengangguk dengan cemas, "Mereka selalu saja datang berusaha untuk mengusir kita," katanya, suaranya penuh kekhawatiran.

Seorang pria lain yang berdiri di sebelahnya, dengan nada tegas berkata, "Tetap saja seperti biasa, kita pertahankan tempat tinggal kita. Bagaimanapun, kita tidak akan pergi meninggalkan tempat ini." Suaranya penuh keyakinan dan tekad, menginspirasi warga lainnya untuk bersiap menghadapi ancaman yang akan datang.

Moon yang mendengar semua ini, merasakan hatinya menjadi berat. Desa ini adalah rumahnya, tempat dia tumbuh dan mengenal banyak orang yang sudah dianggap sebagai keluarganya.

"Kalau nenek tahu pasti sedih lagi, Apakah tidak ada cara lain untuk menghentikan semua ini," batin Moon.

Keesokan hariny, pada pukul 06.00

Moon mendatangi tepi pantai dan menghirup udara yang segar,ia kemudian berjongkok memainkan pasir di posisi tempat dua berdiri. Moon merasakan butiran pasir yang dingin dan lembut di antara jari-jarinya. Suara ombak yang berderai menambah ketenangan di pagi yang sejuk itu.

Di kejauhan, seorang pria tampan dan berpenampilan rapi berdiri memandang laut. Dari pakaiannya yang elegan dan sikapnya yang penuh percaya diri, jelas ia bukan berasal dari desa kecil ini, melainkan dari kota besar. Saat pria itu berbalik untuk pergi, matanya tertumbuk pada sosok Moon yang sedang asyik bermain pasir. Dia terdiam sejenak, terpikat oleh pemandangan gadis muda yang tampak begitu bebas dan damai. Tanpa disadari, sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya. Dengan gerakan cepat, dia mengeluarkan ponselnya dan diam-diam mengambil foto Moon.

"Tuan muda, semuanya sudah siap. Mereka akan segera merobohkan semua bangunan di desa ini," suara seorang pria, yang ternyata adalah sekretarisnya, membuyarkan perhatian pria tersebut.

"Selesaikan hari ini juga, aku tidak suka membuang waktu!" perintahnya dengan nada tegas, wajahnya yang tadi tersenyum manis berubah menjadi serius. Namun, saat ia mulai melangkah pergi, pandangannya kembali tertuju pada Moon. Sebuah senyuman kecil muncul di wajahnya sebelum ia benar-benar meninggalkan tempat itu.

Dua alat berat berdiri gagah di pinggiran desa, siap meratakan setiap bangunan yang ada. Para warga, dari yang tua hingga yang muda, berkumpul dengan tekad bulat untuk melawan para pekerja dan petugas yang dikirim dari kota.

Di tengah kerumunan itu, pria tampan yang menjadi mewakili perusahaan berdiri dengan angkuhnya, mewakili kepentingan korporat yang ingin mengambil alih lahan mereka.

Pagi itu, suasana di desa penuh dengan ketegangan. Para warga, yang sangat mencintai tanah mereka, berusaha mati-matian menghentikan rencana penghancuran. Mereka berteriak-teriak, berharap suara mereka didengar. "Walau kami mati, kami tidak akan pergi dari sini!" seorang warga berseru lantang, suaranya penuh dengan emosi dan keteguhan.

"Aku adalah pengurus Kim, ingin mengatakan, Sayang sekali, tempat ini bukan hak kalian lagi. Selagi kalian bekerja sama, pihak perusahaan akan memberikan kompensasi. Kalian bisa pindah ke mana saja yang kalian suka," ucapnya, seolah masalah ini hanyalah urusan bisnis biasa.

Seorang kakek tua, yang telah hidup di desa itu hampir sepanjang hidupnya, melangkah maju dengan wajah penuh amarah. "Kenapa kalian suka sekali menindas warga kecil seperti kami? Usiaku sudah 75 tahun. Sejak usia 10 tahun aku sudah tinggal di desa ini. Sampai matipun aku tidak akan pergi," katanya dengan suara yang bergetar, namun tegas.

Pengurus Kim yang dikenal kejam dan tidak berperasaan hanya tersenyum sinis. "Itu urusanmu, Pak Tua. Aku masih berbaik hati menawarkan uang kompensasi. Lebih baik terima uangnya dan pergi. Kalau kalian tetap melawan, kalian tidak akan mendapatkan apa-apa," ucapnya dengan nada mengancam.

"Kami akan menuntutmu!" teriak seorang warga lain, berusaha menunjukkan keberanian mereka meskipun jelas-jelas kalah kekuatan.

"Lakukan saja! Aku akan menggunakan sepuluh pengacara untuk mengurus masalah ini. Sedangkan kalian, apa yang bisa kalian lakukan untuk melawan kami?" jawab pengurus Kim dengan senyum angkuh, seolah kemenangan sudah di tangannya.

Merasa terhina, kakek itu maju dengan tangan terangkat, siap melayangkan pukulan ke wajah pria tersebut. Namun, aksinya langsung dihentikan oleh pengurus Kim, yang dengan cepat menangkap tangannya dan mendorongnya hingga kakek itu tersungkur ke tanah.

"Kakek!" teriak warga lain yang ingin segera bergegas menolongnya, panik melihat kakek itu terjatuh.

Pengurus Kim mengibaskan tangannya, seolah ingin menghilangkan kotoran yang menempel, lalu mengeluarkan saputangan dari sakunya. "Tidak tahu diri," ucapnya dingin sambil mengelap tangannya, menambah rasa amarah dan frustasi warga yang merasa dihina. Mereka hanya bisa menggertakkan gigi, menahan marah yang membara dalam hati.

Moon, yang baru tiba di lokasi, menyaksikan kejadian itu dengan mata kepala sendiri. Tanpa berpikir panjang, ia berlari mendekati pengurus Kim. Tanpa ragu, tangannya melayang dan menampar keras wajah pria kota itu, "Plak!"

Tamparan itu menggema di udara, membuat semua orang terdiam sejenak. Wajah pria itu memerah karena tamparan tersebut. Dia menatap Moon dengan tatapan tajam, tetapi alih-alih marah, dia justru tersenyum—sebuah senyum yang berbahaya dan penuh teka-teki.

Keduanya saling memandang dengan intens, seolah-olah ada pertempuran diam-diam yang terjadi di antara mereka.

"Berani sekali menindas seorang kakek yang sudah tua. Apakah kamu tidak tahu malu?" ujar Moon dengan suara penuh kemarahan dan keberanian, menantang pria di depannya yang memiliki kekuasaan besar.

Anak buah Pengurus Kim, yang tampak siap untuk melindungi bos mereka, segera bergerak maju, tetapi dihentikan oleh isyarat tangan dari bos mereka. Pengurus itu mengangkat tangannya, menghentikan mereka dengan satu gerakan. Dengan tatapan tajam dan senyuman yang samar, dia menatap Moon, terpesona oleh keberaniannya. "Menarik!" gumamnya pelan, cukup keras untuk didengar oleh Moon dan beberapa orang di sekitarnya.

Situasi semakin tegang, dan semua orang menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Apakah Pengurus Kim yang kejam ini akan membalas tindakan Moon? Atau adakah sesuatu yang lebih dari sekadar perselisihan ini? Hanya waktu yang akan menjawabnya.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Psikopat & Gadis Desa

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Kumpulan Cerita Pendek dengan Alur Ringan dengan Akhir yang Bahagia
9.7
Antologi ini menyajikan deretan kisah cinta modern dengan narasi yang menenangkan. Setiap bab menghadirkan judul serta plot unik yang berdiri sendiri, memberikan kesegaran cerita yang berbeda di setiap bagiannya. Di tengah kerumitan realitas kehidupan yang penuh ketidakpastian, koleksi cerita pendek ini sengaja dirancang untuk memberikan kenyamanan bagi pembaca. Fokus utama dari setiap narasinya adalah memastikan akhir yang bahagia bagi setiap karakter di dalamnya.
Sampul Novel Menaklukan CEO Mesum
8.2
Bianca terjepit utang satu juta dolar akibat penggelapan dana ibunya. Demi membebaskan sang ibu dari penjara, ia menemui Steve Dvalton, CEO pusat di Singapura. Namun, negosiasi itu berubah menjadi tawaran gelap: Bianca harus menjadi pemuas nafsu Steve. Di tengah dilema antara kesetiaan pada kekasihnya dan keselamatan ibunya, Bianca terpaksa memulai hubungan panas yang penuh tipu daya. Steve merasa tertantang oleh kegilaan Bianca yang menggairahkan di ranjangnya.
Sampul Novel Perjuangan untuk Arda
8.9
Arda merupakan seorang pemuda yang memutuskan untuk meninggalkan kampung halamannya demi mengadu nasib di Yogyakarta. Sebagai anak rantauan, ia harus menghadapi berbagai tantangan hidup di kota yang asing baginya. Cerita ini mengikuti perjalanan emosional Arda dalam berjuang demi masa depan yang lebih baik, sembari menavigasi kehidupan barunya di tengah dinamika budaya Yogyakarta yang khas serta rintangan yang menguji keteguhan hatinya.
Sampul Novel Permainan Kejam Suamiku
9.7
Pascakecelakaan tragis, putra tiriku mengalami kemunduran mental hingga bersikap layaknya bocah kecil. Demi menjaga kelangsungan garis keturunan keluarga, suamiku memutuskan untuk menikahkannya dengan seorang gadis yang memiliki keterbatasan serupa. Namun, kepolosan ekstrem sepasang pengantin baru ini membuat mereka tidak memahami hubungan suami istri. Di sinilah peran gila dimulai: aku dipaksa mengajari sang menantu, bahkan harus memberikan contoh langsung kepada anak tiriku sendiri demi memenuhi ambisi sang suami.
Sampul Novel Siapa yang Berani Merebut Hati Ratuku?
7.8
Kumala memilih pergi setelah dikhianati Nando dalam pernikahan tanpa cinta selama tiga tahun. Pasca cerai, ia bangkit menjadi desainer ternama, dokter andal, hingga peretas jenius yang disegani. Saat Nando menyesal dan ingin kembali, Kumala justru menggelar pernikahan megah dengan Farhan. Di depan publik dunia, Farhan menyematkan cincin dan menegaskan bahwa Kumala adalah istri sekaligus harta berharganya yang tak boleh diganggu oleh siapa pun juga.
Sampul Novel Tanpa Rasa
8.8
Demi membiayai operasi sang ayah, Meisya terpaksa menyerahkan kesuciannya kepada Mario, kekasih sahabatnya sendiri. Namun, pengorbanan itu justru menjadi awal penderitaan panjang. Mario enggan menjadikannya kekasih dan malah memaksa Meisya menjadi pemuas hasrat pribadinya. Meisya terjebak dalam hubungan gelap yang menghancurkan martabatnya, di mana ia harus siap melayani Mario kapan saja demi uang, meski hatinya hancur karena telah mengkhianati Pelangi.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan