
Preman Cantik dan Sang Penguasa
Bab 3
Pukul 7.00
Matahari sudah menanjak naik, meninggalkan peraduannya. Chris dan Philips berdiri berhadapan di depan pintu.
Philips melepaskan Chris yang berpamitan untuk berangkat ke kantor polisi.
"Saya akan melaporkan kasus ini ke atasan, paman. Tolong kabari kalau korban sudah sadarkan diri." Masih dengan menyematkan senyum Chris kemudian berlalu setelah mendapat anggukan dari Philips.
Ia masuk ke dalam mobil. Diamatinya barang bukti tadi sejenak. Manik matanya berubah gelap. Senyum di wajahnya telah lenyap. Menakutkan bagaimana bisa dia mengubah ekspresinya dengan begitu cepat.
Diambilnya ponsel yang sejak tadi menyala. "Saya akan akan menuju ke sana sekarang."
Panggilan itu kemudian terputus. Yang tidak siapapun sadari Chris melajukan mobilnya ke arah berlawanan dari kantor polisi. Dengan terus memandangi barang bukti yang begitu berharga.
Wajah polos Chris sekarang memuncukan guratan licik.
***
Rumah Philips.
Mira baru saja bangun dan keluar dari kamar sang paman. Ia sekilas melihat kamarnya yang ditempati penghuni asing. Tertutup.
Mira mengecek kondisi orang yang ada di dalam kamar. Keningnya mengerut karena hanya menemukan Ane di atas ranjang. Pagi ini pun penampilan Ane masih semengenaskan kemarin malam.
Mira menutup pintu lagi dan berbalik.
"Paman!" Panggilnya.
"Ya!"
Ada suara sahutan dari dapur. Gadis itu lekas menyusul. Tepat saja—ada sang paman yang tengah duduk di depan meja makan sembari menyeduh kopi hangat.
"Chris baru saja berangkat, dia akan ke kantor polisi dan melaporkan apa yang Ane alami."
Mira mengangguk saja. Chris memang selalu tidak mengecewakan. Pria itu pasti merasakan tanggung jawab untuk membela keadilan sehingga berangkat begitu pagi. Padahal ini bukan waktu biasa jam kerja Chris dimulai.
Philips menuangkan air putih ke gelas dan menyerahkannya kepada Mira. Disambut Mira air putih tadi. Air membasahi kerongkongan Mira yang kering.
Pria berumur itu memijat bahunya yang terasa begitu kaku. Semalam penuh ia dan Chris berjaga. Malam tadi mereka tidur di atas kursi kayu yang keras. Karena merasa sangat waspada Philips tidak bisa tertidur nyenyak dan beberapa kali terbangun untuk mengecek kondisi Anne.
Mira melihat sang paman yang tampak begitu lelah. Mendesah—gadis itu kemudian mendekati sang paman dan menggunakan tangannya yang kasar untuk memijat bahu dan punggung pamannya.
"Inilah alasan orang malas bergerak membantu orang lain. Karena mereka takut akan kesusahan saat menolong orang itu."Mira bicara sambil berdecak.
Meski Philips menyandang gelar sebagai ketua preman jiwa kemanusiaannya masih menggelora. Ia yang tak kenal takut tak segan membantu orang lain. Contohnya kemarin ketika Nenek penjual Buah hendak dipalak Philips membantunya. Bertarung dengan preman seberang untuk menyelamatkan sang nenek.
Jangan kira sebagai ketua preman Philips tak punya rasa kemanusiaan. Ia punya—dan menjunjung tinggi. Hanya kepada para bajingan rasa kemanusiaannya itu hilang tak berbekas.
Sekarang sang paman kembali menyusahkan dirinya karena menyelamatkan seorang wanita asing.
"Jangan berkata begitu, nak. Coba bayangkan dirimu berada di posisi wanita itu, kau pasti akan sangat bersyukur karena seseorang menyelamatkanmu. Dan kau mungkin akan membalas kebaikan orang yang menyelamatkanmu dengan segenap hati."
"Astaga, aku langsung merasa ditikam seketika," sahut Mira dengan cemberut. Sang paman tertawa kecil. Tahu jika respon Mira demikian maka itu tandanya pikirannya sudah disadarkan.
"Paman kapan pensiun jadi ketua preman? Aku ingin menggantikan posisi paman segera." Senyum-senyum di belakang gadis itu.
"Dan semakin membuatmu bersikap sok-sok'an? Tidak, lebih baik paman menyerahkan tahta kepada Kris."
Gerakan tangan Mira yang tadinya memijat lembut kepala sang paman berhenti. Dia kemudian memutari meja hingga berdiri di depan sang paman.
Lihatlah gadis itu mengerucutkan bibirnya.
"Issh, mulai lagi paman menyebut nama si Kris itu. Apa sih hebatnya dia? Dia kalau menagih hutang modal wajah saja. Tidak ada yang takut dengannya dilingkungan ini. Beda denganku yang ditakuti dan disegani."
"Nah kalau kau berkata begitu paman semakin ingin memilih Kris," balas Philips.
Kris itu bawahan Philips. Pria itu cukup terkenal dilingkungan ini karena parasnya yang rupawan. Hanya dia satu-satunya preman ramah yang tidak disegani.
"Paman!" Merajuk.
Philips menggeleng. Dia kemudian berdiri.
"Astaga, kenapa membahas pensiun, heum? Sudah paman bilang bukan, paman akan pensiun kalau sudah meninggal. Kau ingin paman segera meninggal ya?"
"Astaga, biadab sekali aku kalau berpikir begitu! Aku hanya ingin paman istirahat sebelum usia 50 tahun. Itu saja."
"Nanti akan paman pikirkan."
"Eh mau kemana?"
Melihat sang paman berbalik dan mengambil jaket segera mengekori.
"Ada yang paman urus, kau jangan kemana-mana dan tetap dirumah."
Mata Mira melotot seketika.
"Hah? Kenapa aku disuruh tetap di rumah! Aku mau keluar dan melihat pertunjukan kembang api."
"Itu kan malam nanti. Mana ada pertunjukan kembang api di siang hari. Meski meledak di udara kau tidak akan melihat apa-apa. Hanya benda putih yang menyisakan asap."
Benar juga, ah pamannya terlalu pintar untuk dikibuli. Mira memasang wajah cemberut.
"Masih belum waktunya sebelum acara kembang api itu dimulai, paman akan kembali sebelum malam. Lagipula kau perlu menjaga Anne yang belum sadarkan diri," lanjut Philips dan mengusap rambut Mira.
Philips selesai memasang jaketnya.
"Ingat beri kabar kepada Chris kalau Ane sudah bangun."
Pesan terakhir Phillips sebelum keluar rumah.
"Hati-hati," ujar Mira. Sang paman memberikan lambaian tangan. Ketika sudah keluar dari pagar rumah Philips menatap kertas yang ada di tangannya.
Pria itu merasa perlu mencari lebih banyak bukti agar Anne bisa mendapat keadilan. Ia kemudian menggunakan sepeda motor bututnya menuju Klub Malam Vell.
"Cih, apa yang akan kulakukan sekarang?" Mendesah kesal.
Mira kembali memeriksa kondisi Ane. Tidak ada perubahan sama sekali. Hatinya merasa sedih.
Mengapa? Mengapa wanita seringkali dilecehkan. Para wanita menjadi serba salah. Mereka berpakain seski dijuluki si jalang penggoda. Padahal wanita-wanita itu hanya ingin berpakaian cantik. Salahkan pada nafsu binal para lelaki yang tak bisa menahan diri. Jangan salahkan pakaian si wanita.
“Kau pasti punya mimpi tinggi yang hendak kau raih.” Mira bicara sembari menjadikan Ane sebagai fokus. “Aku hanya ingin mengatakan bahwa, mimpimu tidak akan hancur hanya karena musibah ini. Jangan terpuruk dan pergilah ke psikiater nanti. Jangan dipendam karena nanti bisa menjadi penyakit mental.”
“Mendiang Ayahku meninggal karena stess setelah mengetahui fakta ibuku berselingkuh.” Mira merasa air matanya menggenang. “Aku diragukan sebagai anaknya. Aku tahu itu ... hanya saja aku tidak ingin membuka pembicaraan itu dan membuat luka ayahku kembali mencuat. Pada akhirnya aku tersiksa karena memendam kemarahanku sedniri.”
“Kenapa aku yang dijauhi.”
“Kenapa aku yang didiamkan, Aku tidak punya salah. Aku hanya lahir ke dunia dan tidak tahu menahu apa- apa.”
“Jadi Ane jangan menangis sendiri, jangan memendam masalah sendiri. Bicaralah pada seseorang saat kau merasa kesulitan.”
Saat itu Ane mendengar semua cerita Mira. Ane memang berpikir untuk mengakhiri hidupnya setelah bajingan yang telah memperkosanya di bunuh. Tapi sekarang niatnya goyah.
Semua orang menderita. Hanya saja yang membedakan ada yang ingin bangkit dan berusaha. Ada pula yang memilih menyerah. Ane berpikir ulang sepadankah mengakhiri hidup tanpa mencoba pulih?
Anda Mungkin Juga Suka





