
Pondok Mertua Indah
Bab 2
Pak, bangun!" Terdengar suara perempuan.
Goyangan tangan seseorang di pundaknya membawa Parmin yang sedang dalam tidur panjang , kembali ditarik ke alam sadar.
Orang pertama yang dia lihat adalah Nengsih, anaknya. Gadis dua puluh tiga tahun yang sedang duduk di sampingnya itu memandang heran bapaknya sendiri. Dia mencoba membantu Parmin untuk duduk dan bersandar di kepala ranjang.
"Kok, bapak ada di rumah?" tanya Parmin lebih kepada dirinya sendiri karena bingung.
"Lho, Bapak tadi Subuh pulang ronda kayak orang marah. Ibu saja sampai nangis ngeliat Bapak diam aja. Ditanya gak jawab, dibuatkan kopi gak diminum. Bapak sakit?" Nengsih terlihat khawatir sekaligus sedih. Dia masih heran dengan keadaan bapaknya yang terlihat kuyu, biasanya selelah apa pun dia tak pernah bersikap lesu seperti itu.
Parmin tampak bingung, bukannya tadi malam dia habis dikejar makhluk menyeramkan. Lalu, bagaimana nasib Juragan Dirja? Apakah semua hanya mimpi? Parmin sangat berharap kejadian malam tadi memang hanya bunga tidur semata.
Parmin hendak buka suara, tetapi urung karena anaknya lebih dulu bicara hal yang membuatnya ketakutan dan tak bisa berkutik.
"Oh iya, Pak. Nengsih bangunin Bapak karena mau ajak Bapak melayat almarhum Juragan Dirja. Beliau ... meninggal, Pak. Katanya, sih, dilenyapkan," kata Nengsih dengan mimik wajah sedih.
Air muka Parmin berubah seketika menjadi pucat. Dia beringsut turun dari kasur dan langsung keluar kamar. Parmin melangkah menuju kamar Nengsih dan berjalan cepat ke arah meja rias dengan kaca cukup lebar. Cepat-cepat pria kurus itu membuka baju dan menatap pantulannya di cermin.
Nengsih yang mengikutinya terkejut bukan main, dia terbelalak melihat pantulan cermin. Gadis itu mendekat dan melihat lekat-lekat keadaan Parmin.
"Astagfirullah, Pak. Kenapa perut bapak banyak goresannya?"
Parmin meraba luka yang masih merah. Dia meringis karena perih. Angannya langsung melambung pada kejadian tadi malam. Bagaimana setan wanita berkebaya merah menggoreskan kuku kaki tajam ke perut Juragan Dirja. Kecipak suara lidah makhluk itu ketika menjilati bagian tubuh Juragan. Parmin langsung duduk lemas di lantai. Dia benar-benar ketakutan.
Melihat itu, Nengsih kaget bukan main. Dia mencoba menyadarkan bapaknya yang terduduk dengan wajah pucat. Parmin terlihat seperti mayat hidup. bapaknya benar-benar berbeda dari biasanya.
"Ibuuuk, tolong!" Nengsih berteriak meminta bantuan karena bingung harus berbuat apa.
Tidak lama berselang, wanita berdaster biru muda datang menghampiri. Dia Mirah, istri Parmin. Matanya langsung melotot mendapati Nengsih yang menangis sambil meraba perut suaminya yang banyak luka.
"Ada apa Nengsih, kenapa sama bapakmu? Ya Allah, Pak. Kenapa banyak luka kayak gini?!" Mirah mendekati sang suami dan memperhatikam goresan di perut lelaki di sampingnya.
"Nengsih gak tau, Bu. Bapa diam saja dari tadi. Kita obatin aja yah, Bu."
Perlahan mereka mencoba memapah tubuh Parmin. Membawanya menuju ranjang dan mendudukannya di sana. Nengsih langsung keluar kamar, hendak membawa obat untuk mengobati luka bapaknya.
"Pak, sadar! Jangan begini, aku bingung. Ayo cerita, ada masalah apa?" Mirah tampak menangis. Suaranya bergetar, dia kalut melihat keadaan Parmin.
Mirah menggoyang-goyangkan bahu Parmin. Dia mencoba menyadarkan pria di sampingnya. Namun, respon yang didapat hanya tatapan tanpa suara. Parmin melihat wajah Mirah dengan lekat, kemudian dia menangis tergugu.
"A--aku bukan pelenyap! Wanita itu yang melakukannya! Di--dia sudah merobeknya, Mirah!" kata Parmin, dia sudah tidak bisa mengatakan apa pun selain ini. Rasanya semua yang dia ingin katakan tertelan bersama kenangan malam tadi.
"Siapa, Pak? Wanita? Merobek apa?!" tanya Mirah, bingung.
Tak ada jawaban lagi, hanya ada isak tangis yang perlahan semakin kencang dan menyedihkan. Tak pernah sekali pun Parmin terlihat pendiam. Pria yang menjadi pendamping hidupnya itu adalah sosok yang penyabar.
"Bapak, kenapa nangis?" Nengsih datang membawa kotak berisi obat. Dia langsung menatap ibunya, meminta penjelasan.
Mirah tidak bisa berkata-kata, hanya isakan yang kemudian lolos dari bibirnya. Dia tergugu bersama Parmin, walau tidak tahu apa alasan sikap suaminya. Namun, menurut Mirah, sesuatu yang menjadi beban pikiran Parmin pastilah berat. Karena dia sampai bungkam dan tidak mauembaginya dengan Istri serta anaknya.
Ingin sekali Nengsih bertanya lebih lanjut, tetapi sikap orang tuanya, membuat gadis itu urung dan berusaha diam. Lebih baik mengobati luka bapaknya, membuatnya tenang terlebih dulu. Kemudian bertanya apa yang terjadi saat keadaan bapaknya mulai tenang.
***
Jam sudah menunjuk angka delapan pagi. Ketiganya masih termenung di kamar Nengsih. Parmin tetap pada sikap awal, diam saja. Mirah sudah tak menangis, tetapi sama saja, dia tak bersuara. Tinggal Nengsih yang sibuk dengan pikiran-pikiran tentang sikap bapaknya yang tidak wajar. Dia menebak nanyak peristiwa, tetapi rasanya tidak cocok dengan apa yang diperlihatkan Parmin.
Gadis berkulit kuning langsat itu, mencoba merunut masalah sejak kepulangan Parmin sampai pria itu bangun. Selepas mengobati perut bapaknya, dia melihat ada keanehan pada sarung Parmin.
Ada jejak kaki berdarah di sana. Kalaupun itu berasal dari luka perut Parmin, kenapa bentuk telapak kaki yang tercetak? Bila dicocokan dengan ukuran milik Parmin, tentu lebih kecil yang ada di sarung.
"Bu, sepertinya, ada yang berbuat jahat sama Bapak."
Perkataanya langsung menghadirkan reaksi Mirah. Wanita paruh baya itu, menatap anaknya dengan sorot ingin tahu.
"Ada jejak darah di sarung Bapak, dan Nengsih pastikan, itu milik orang lain," kata Nengsih, lugas.
"Itu berarti, jejak kaki wanita." Mirah menjawab, matanya menerawang ke langit-langit kamar. Mencoba mengingat perkataan suaminya tadi yang penuh dengan teka-teki membingungkan.
Keduanya menatap Parmin yang juga sedang melihat ke arah mereka. Sepertinya pendapat mereka benar.
"Benar, wanita itu yang melakukannya." Parmin akhirnya bersuara.
"Tapi, melakukan apa, Pak?" cecar Nengsih, tak sabar.
"Melenyapkan Juragan Dirja."
"Apa?!" Serempak, Nengsih dan Mirah terkejut.
"Ta-tadi malam bapak menemukan Juragan Dirja tergeletak tertusuk pisau. Lalu, bapa dipaksa untuk mencabut benda itu dari perutnya. Setelahnya makhluk menyeramkan itu datang, dia—"
Ada jeda saat Parmin bicara, lehernya seakan tercekat saat ingin menyampaikan sosok menyeramkan itu kepada Istri dan anaknya. Pria kurus itu masih syok dengan kejadian tadi malam. Terbayang kembali makhluk menyeramkan yang hampir saja membuat dirinya lenyap dari dunia ini.
"Dia, siapa? Makhluk seram apa yang Bapak maksud?" tanya Mirah, tangannya meremas seprei, gemas.
"Wanita berkebaya, Buk. Dia seperti setan. Dia yang melukai bapak dan melenyapkan Juragan Dirja."
Nengsih kaget mendengar penuturan bapaknya. Begitupun dengan Mirah. Mereka berdua bertatapan, mencerna perkataan Parmin yang terasa tak masuk akal.
"Coba Bapak jelaskan lebih lanjut. Nengsih dan Ibu akan dengarkan dengan baik-baik. Masalah ini harus selesai." Nengsih bicara dengan mimik serius.
Bersambung.
Anda Mungkin Juga Suka





