Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pondok Mertua Indah

Pondok Mertua Indah

Kematian tragis Juragan Dirja di sawah menyeret Parmin ke balik jeruji besi sebagai tersangka utama. Demi menyelamatkan sang ayah, Nengsih terpaksa menerima tawaran pernikahan dari putra almarhum sebagai syarat kebebasan Parmin. Di balik status barunya sebagai menantu, Nengsih mulai menyelidiki teka-teki kematian sang juragan yang penuh misteri. Akankah ia berhasil menemukan bukti krusial di pondok mertuanya untuk mengungkap kebenaran yang sesungguhnya?
Bab
Bagikan

Bab 2

Pak, bangun!" Terdengar suara perempuan.

Goyangan tangan seseorang di pundaknya membawa Parmin yang sedang dalam tidur panjang , kembali ditarik ke alam sadar.

Orang pertama yang dia lihat adalah Nengsih, anaknya. Gadis dua puluh tiga tahun yang sedang duduk di sampingnya itu memandang heran bapaknya sendiri. Dia mencoba membantu Parmin untuk duduk dan bersandar di kepala ranjang.

"Kok, bapak ada di rumah?" tanya Parmin lebih kepada dirinya sendiri karena bingung.

"Lho, Bapak tadi Subuh pulang ronda kayak orang marah. Ibu saja sampai nangis ngeliat Bapak diam aja. Ditanya gak jawab, dibuatkan kopi gak diminum. Bapak sakit?" Nengsih terlihat khawatir sekaligus sedih. Dia masih heran dengan keadaan bapaknya yang terlihat kuyu, biasanya selelah apa pun dia tak pernah bersikap lesu seperti itu.

Parmin tampak bingung, bukannya tadi malam dia habis dikejar makhluk menyeramkan. Lalu, bagaimana nasib Juragan Dirja? Apakah semua hanya mimpi? Parmin sangat berharap kejadian malam tadi memang hanya bunga tidur semata.

Parmin hendak buka suara, tetapi urung karena anaknya lebih dulu bicara hal yang membuatnya ketakutan dan tak bisa berkutik.

"Oh iya, Pak. Nengsih bangunin Bapak karena mau ajak Bapak melayat almarhum Juragan Dirja. Beliau ... meninggal, Pak. Katanya, sih, dilenyapkan," kata Nengsih dengan mimik wajah sedih.

Air muka Parmin berubah seketika menjadi pucat. Dia beringsut turun dari kasur dan langsung keluar  kamar. Parmin melangkah menuju kamar Nengsih dan berjalan cepat ke arah meja rias dengan kaca cukup lebar. Cepat-cepat pria kurus itu membuka baju dan menatap pantulannya di cermin.

Nengsih yang mengikutinya terkejut bukan main, dia terbelalak melihat pantulan cermin. Gadis itu mendekat dan melihat lekat-lekat keadaan Parmin.

"Astagfirullah, Pak. Kenapa perut bapak banyak goresannya?"

Parmin meraba luka yang masih merah. Dia meringis karena perih. Angannya langsung melambung pada kejadian tadi malam. Bagaimana setan wanita berkebaya merah menggoreskan kuku kaki tajam ke perut Juragan Dirja. Kecipak suara lidah makhluk itu ketika menjilati bagian tubuh Juragan. Parmin langsung duduk lemas di lantai. Dia benar-benar ketakutan.

Melihat itu, Nengsih kaget bukan main. Dia mencoba menyadarkan bapaknya yang terduduk dengan wajah pucat. Parmin terlihat seperti mayat hidup. bapaknya benar-benar berbeda dari biasanya.

"Ibuuuk, tolong!" Nengsih berteriak meminta bantuan karena bingung harus berbuat apa.

Tidak lama berselang, wanita berdaster biru muda datang menghampiri. Dia Mirah, istri Parmin. Matanya langsung melotot mendapati Nengsih yang menangis sambil meraba perut suaminya yang banyak luka.

"Ada apa Nengsih, kenapa sama bapakmu? Ya Allah, Pak. Kenapa banyak luka kayak gini?!" Mirah mendekati sang suami dan memperhatikam goresan di perut lelaki di sampingnya.

"Nengsih gak tau, Bu. Bapa diam saja dari tadi. Kita obatin aja yah, Bu."

Perlahan mereka mencoba memapah tubuh Parmin. Membawanya menuju ranjang dan mendudukannya di sana. Nengsih langsung keluar kamar, hendak membawa obat untuk mengobati luka bapaknya.

"Pak, sadar! Jangan begini, aku bingung. Ayo cerita, ada masalah apa?" Mirah tampak menangis. Suaranya bergetar, dia kalut melihat keadaan Parmin.

Mirah menggoyang-goyangkan bahu Parmin. Dia mencoba menyadarkan pria di sampingnya. Namun, respon yang didapat hanya tatapan tanpa suara. Parmin melihat wajah Mirah dengan lekat, kemudian dia menangis tergugu.

"A--aku bukan pelenyap! Wanita itu yang melakukannya! Di--dia sudah merobeknya, Mirah!" kata Parmin, dia sudah tidak bisa mengatakan apa pun selain ini. Rasanya semua yang dia ingin katakan tertelan bersama kenangan malam tadi.

"Siapa, Pak? Wanita? Merobek apa?!" tanya Mirah, bingung.

Tak ada jawaban lagi, hanya ada isak tangis yang perlahan semakin kencang dan menyedihkan. Tak pernah sekali pun Parmin terlihat pendiam. Pria yang menjadi pendamping hidupnya itu adalah sosok yang penyabar.

"Bapak, kenapa nangis?" Nengsih datang membawa kotak berisi obat. Dia langsung menatap ibunya, meminta penjelasan.

Mirah tidak bisa berkata-kata, hanya isakan yang kemudian lolos dari bibirnya. Dia tergugu bersama Parmin, walau tidak tahu apa alasan sikap suaminya. Namun, menurut Mirah, sesuatu yang menjadi beban pikiran Parmin pastilah berat. Karena dia sampai bungkam dan tidak mauembaginya dengan Istri serta anaknya.

Ingin sekali Nengsih bertanya lebih lanjut, tetapi sikap orang tuanya, membuat gadis itu urung dan berusaha diam. Lebih baik mengobati luka bapaknya, membuatnya tenang terlebih dulu. Kemudian bertanya apa yang terjadi saat keadaan bapaknya mulai tenang.

***

Jam sudah menunjuk angka delapan pagi. Ketiganya masih termenung di kamar Nengsih. Parmin tetap pada sikap awal, diam saja. Mirah sudah tak menangis, tetapi sama saja, dia tak bersuara. Tinggal Nengsih yang sibuk dengan pikiran-pikiran tentang sikap bapaknya yang tidak wajar. Dia menebak nanyak peristiwa, tetapi rasanya tidak cocok dengan apa yang diperlihatkan Parmin.

Gadis berkulit kuning langsat itu, mencoba merunut masalah sejak kepulangan Parmin sampai pria itu bangun. Selepas mengobati perut bapaknya, dia melihat ada keanehan pada sarung Parmin.

Ada jejak kaki berdarah di sana. Kalaupun itu berasal dari luka perut Parmin, kenapa bentuk telapak kaki yang tercetak? Bila dicocokan dengan ukuran milik Parmin, tentu lebih kecil yang ada di sarung.

"Bu, sepertinya, ada yang berbuat jahat sama Bapak."

Perkataanya langsung menghadirkan reaksi Mirah. Wanita paruh baya itu, menatap anaknya dengan sorot ingin tahu.

"Ada jejak darah di sarung Bapak, dan Nengsih pastikan, itu milik orang lain," kata Nengsih, lugas.

"Itu berarti, jejak kaki wanita." Mirah menjawab, matanya menerawang ke langit-langit kamar. Mencoba mengingat perkataan suaminya tadi yang penuh dengan teka-teki membingungkan.

Keduanya menatap Parmin yang juga sedang melihat ke arah mereka. Sepertinya pendapat mereka benar.

"Benar, wanita itu yang melakukannya." Parmin akhirnya bersuara.

"Tapi, melakukan apa, Pak?" cecar Nengsih, tak sabar.

"Melenyapkan Juragan Dirja."

"Apa?!" Serempak, Nengsih dan Mirah terkejut.

"Ta-tadi malam bapak menemukan Juragan Dirja tergeletak tertusuk pisau. Lalu, bapa dipaksa untuk mencabut benda itu dari perutnya. Setelahnya makhluk menyeramkan itu datang, dia—"

Ada jeda saat Parmin bicara, lehernya seakan tercekat saat ingin menyampaikan sosok menyeramkan itu kepada Istri dan anaknya. Pria kurus itu masih syok dengan kejadian tadi malam. Terbayang kembali makhluk menyeramkan yang hampir saja membuat dirinya lenyap dari dunia ini.

"Dia, siapa? Makhluk seram apa yang Bapak maksud?" tanya Mirah, tangannya meremas seprei, gemas.

"Wanita berkebaya, Buk. Dia seperti setan. Dia yang melukai bapak dan melenyapkan Juragan Dirja."

Nengsih kaget mendengar penuturan bapaknya. Begitupun dengan Mirah. Mereka berdua bertatapan, mencerna perkataan Parmin yang terasa tak masuk akal.

"Coba Bapak jelaskan lebih lanjut. Nengsih dan Ibu akan dengarkan dengan baik-baik. Masalah ini harus selesai." Nengsih bicara dengan mimik serius.

Bersambung.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 99 Hari Bersama Kaisar Tiran
9.8
Kim Nara tewas tragis di tangan kekasihnya sendiri, Axel, setelah memergoki perselingkuhannya. Namun, takdir memberinya kesempatan hidup kembali demi membalas dendam melalui sebuah tugas misterius. Ia terbangun dalam raga permaisuri cantik dari seorang kaisar tiran yang kejam. Nara segera menyadari kenyataan mengerikan bahwa setiap istri sang kaisar selalu mati pada hari ke-99. Kini, ia harus berpacu dengan waktu sebelum ajal kembali menjemputnya.
Sampul Novel Bismillah Anna
9.2
Anna memendam cinta pada Malik sejak SMP, meski Malik bersikap dingin dan menyukai wanita lain. Di tengah perjuangan menjadi dokter muda, Anna harus menghadapi duka mendalam karena kehilangan sosok ayah tercinta. Meski takdir terasa pahit dan cintanya tak terbalas, Anna berusaha tegar menjalani hidupnya yang penuh cobaan. Akankah kesabaran Anna berujung pernikahan dengan Malik, atau justru ia akan bersatu dengan pria lain yang jauh lebih misterius?
Sampul Novel Di Balik Kenangan
9.1
Selama tiga tahun, Evelyn setia merawat Aidan yang mengaku amnesia hingga menjadi kekasih rahasianya. Namun, kenyataan pahit terungkap bahwa ingatan Aidan sebenarnya utuh. Evelyn hancur saat mengetahui Aidan dan kekasihnya adalah dalang kematian ayahnya. Dengan tekad bulat, Evelyn mengumpulkan bukti dan menjebloskan mereka ke penjara tepat di hari pernikahan. Meski Aidan akhirnya menyadari cintanya, bagi Evelyn, penyesalan itu sudah tidak berguna lagi.
Sampul Novel Draco&Luna
7.9
Sejak yatim piatu, Luna menderita di bawah asuhan bibinya yang kejam hingga ia dijual ke pasar gelap. Di pelelangan itu, hidupnya berubah saat dibeli oleh Draco Riordan, pria misterius dengan masa lalu kelam. Pertemuan ini menyatukan Luna yang lugu dengan Draco yang penuh dendam dan rahasia besar. Di tengah perbedaan latar belakang yang kontras, akankah kehangatan Luna mampu melunuhkan hati Draco, ataukah takdir justru membuat hubungan mereka mustahil untuk bersatu?
Sampul Novel Foto Bayi di Ponsel Suamiku
9.1
Monalisa adalah istri setia hingga ia menemukan foto bayi misterius di ponsel Bayu, suaminya. Meski Bayu berdalih gambar itu dari internet, kecurigaan Mona menuntunnya pada kenyataan pahit: suaminya telah memiliki anak dengan wanita lain. Hancur karena dikhianati, Mona menolak terpuruk dalam kesedihan. Ia justru bangkit dan menyusun rencana matang untuk membalas dendam, berniat menghancurkan hidup Bayu serta selingkuhannya dengan rasa sakit yang jauh lebih hebat.
Sampul Novel He's Danger
9.6
Cinta pertama tak selalu indah, bagi Julia, perkenalannya dengan Jacob di Instagram justru membawa petaka. Hubungan ini penuh kekerasan, paksaan, dan pengkhianatan yang melukai batinnya. Meski disakiti berulang kali, Julia sulit melepaskan diri dari pesona Jacob. Kehadiran pemuda itu perlahan mengungkap teka-teki gelap dalam hidup Julia yang semula tenang. Terjebak antara rasa cinta dan dendam, Julia menghadapi misteri yang menuntut untuk diselesaikan hingga akhir.