Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pondok Mertua Indah

Pondok Mertua Indah

Kematian tragis Juragan Dirja di sawah menyeret Parmin ke balik jeruji besi sebagai tersangka utama. Demi menyelamatkan sang ayah, Nengsih terpaksa menerima tawaran pernikahan dari putra almarhum sebagai syarat kebebasan Parmin. Di balik status barunya sebagai menantu, Nengsih mulai menyelidiki teka-teki kematian sang juragan yang penuh misteri. Akankah ia berhasil menemukan bukti krusial di pondok mertuanya untuk mengungkap kebenaran yang sesungguhnya?
Bab
Bagikan

Bab 3

Parmin mengangguk dan mencoba lebih tenang. Dia langsung menceritakan kejadian tadi malam dari awal sampai di saat makhluk itu menggoreskan ujung kaki tajam ke perutnya. Namun, saat ingin menjelaskan lebih lanjut sampai selesai, berondongan ketukan pintu menginterupsi.

"Siapa yang mengetuk pintu sampai seperti itu? Biar Nengsih buka dulu, ya." Nengsih meninggalkan kamar menuju pintu depan.

Parmin meremas tangan istrinya. Ketukan pintu itu, membuat dia merasa tidak enak. Perasaannya berkecamuk antara kematian Juragan, makhluk seram itu, dan nasib dia serta keluarga setelah kejadian ini. Pastilah banyak hal buruk menanti. Mengingat bagaimana kedudukan dirinya dan Juragan Dirja yang terlalu jauh.

Keributan terdengar di luar. Setelah itu suara beberapa derap kaki mendekat. Tampaklah tiga orang berbadan tegap menghambur ke hadapan Parmin dan Mirah.

Salah satu di antara mereka memandang lekat Parmin. Dia mendekat dan meraih tubuh kurus pria itu dengan kasar.

"Kau harus tanggung jawab, Parmin!" bentak pria dengan brewok lebat itu.

Nengsih mendekat dan mencoba menepis tangan algojo itu, tetapi dia kalah kuat.

"Kenapa Bapak saya bisa dijemput paksa?" Nengsih mengejar ketiga orang itu yang sudah menyeret Parmin menuju pintu.

"Dia yang membuat Juragan Dirja kehilangan nyawa!" kata pria yang memakai jaket kulit.

"Apa?! Gak mungkin!" Mirah berseru, dia ketakutan dan tak bisa percaya, Parmin bukanlah pelenyap, dia orang baik.

Nengsih dan Mirah beriringan mengejar para pria yang menyeret Parmin. Berkali-kali tubuh Ibu dan Anak itu didorong. Mereka terjatuh,  lalu bangun lagi. Keduanya berusaha melepas kaitan tangan-tangan kuat yang terus saja menggiring Parmin memuju sebuah mobil di depan teras.

"Jangan ikut campur!" bentak salah satu pria yang mempunyai codet di pelipis kanannya.

"Pantas kalau saya membelanya. Lagipula, Bapak saya gak bersalah!" Nengsih terus mengekor mereka dan berusaha meraih tangan bapaknya t.yanh tampaknya sudah pasrah.

"Buktikan saja itu pada keluarga Juragan. Mereka sendiri yang menyuruh kami melakukan ini!"

Ketiga algojo itu langsung melempar tubuh Parmin ke dalam mobil dan tancap gas meninggalkan depan rumah.

Beberapa tetangga kasak kusuk melihat kejadian ini. Mirah meraung tak rela melepas suaminya. Nengsih dilanda kebingungan yang luar biasa. Akhirnya, dia memutuskan membimbing ibunya masuk. Setelah melihat Mirah sedikit lebih tenang, Nengsih langsung pergi ke dalam kamar orang tuanya dan mencari sarung bekas pakai bapaknya.

"Jejak darah itu harusnya tercetak di sarung, tapi kenapa sekarang menghilang?" Nengsih bertanya pada diri sendiri.

Gadis ayu itu membolak-balik sarung, meneliti setiap incinya, tetapi tak menemukan apa yang dicari. Jejak kaki itu lenyap seketika. Nengsih bingung karena ingatannya masih segar tentang jejak kaki berdarah.

"Jangan-jangan salah sarung ...," gumamnya, lalu membalikan keranjang baju kotor, melihat satu per satu kain bercorak batik dan berpola kotak-kotak milik Parmin.

Tidak ada. Jejak itu lenyap. Bagaimana caranya dia menemukan satu-satunya bukti untuk melawan keluarga Juragan Dirja. Bagaimana nasib bapaknya?

Nengsih terduduk lemas. Dia menyandarkan punggung di depan lemari. Air matanya mengalir, merasa putus asa. Gadis ayu itu berpikir kalau para algojo itulah yang menghilangkan bukti penting ini selagi dia dan ibunya histeris.

Mencoba lebih tenang. Air mata yang mengalir diusap perlahan, tetapi beberapa detik kemudian aroma anyir menyeruak begitu tajam, menusuk hidungnya. Nengsih mengendus-endus seisi kamar untuk mencari sumber aroma busuk yang tak tertahankan. Bau amis itu menuntunya menuju kolong ranjang.

Perlahan, Nengsih menundukkan kepala untuk melihat ada apa di sana. Namun, Kolong ranjang sangat gelap, menyulitkan untuk mengetahui apa yang ada di dalamnya. Mata besarnya menelisik, menyipit untuk mendapat secercah petunjuk. Karena tidak menemukan apa pun, dia memutuskan menggunakan tangannya untuk meraba-raba.

Saat tangan Nengsih semakin dalam untuk mencari apa pun penyebab bau busuk. Telapaknya seperti menyentuh benda yang kasar dan menggeliat. Nengsih berpikir itu adalah ular. Bergegas dia ingin menarik tangannya, tetapi  tidak bisa. Nengsih  merasakan ada tangan lain yang balas menggenggamnya.

Nengsih terperanjat dengan genggaman yang begitu erat dia rasakan. Tarik menarik terjadi. Nengsih berteriak meminta pertolongan ibunya. Tergopoh-gopoh, Mirah yang mendengar anaknya histeris, langsung menghampiri.

"Ada apa Nengsih?" tanya Mirah, terkejut.

"Bu, tolong. Ada yang pegang tanganku dari kolong kasur. Bantuin tarik badan Nengsih, Bu," kata Nengsih, dia meringis menahan perih saat merasakan sesuatu yang tajam menggores kulit tangannya beberapa kali.

Tanpa bertanya lebih jauh, Mirah memegang tangan Nengsih dan menariknya sekuat yang dia mampu. Namun, tenaganya tak cukup. Wanita berdaster itu terpelanting ke belakang.

Mirah kembali bangkit dan memegang tubuh anaknya, lalu  menarik sekali lagi sekuat tenaga.

Nengsih akhirnya bisa mengeluarkan tangannya. Namun, keduanya langsung berteriak karena terkejut melihat apa yang ada di genggaman  Nengsih.

Ternyata yang menggenggam itu juga adalah sebuah potongan tangan tak utuh dengan kuku yang hitam panjang. Kuku itu menggores-gores tangan Nengsih cukup dalam.

"Lepaskan!" bentak Nengsih, ketakutan. Dia membanting-banting potongan tubuh itu ke lantai. Sambio terus berteriak.

Akan tetapi, perlakuannya tak berarti apa pun. Goresan yang didapat semakin menjadi. Pergelangan tangannya berlumuran darah. Mirah menatap nanar potongan tubuh menyeramkan itu. Dia tak tahan lagi, lalu dengan gerakan cepat, Mirah mengambil bak pakaian kotor dan menimpakannya pada tangan misterius itu.

Tindakan Mirah berhasil. Tangan itu terlepas dan terkapar tidak bergerak lagi. Dia mendekat untuk melihat lebih jelas. Saat kepalanya sudah beberapa jengkal dengan potongan  tangan yang dihiasi kuku panjang dan runcing itu, tiba-tiba saja tangan tersebut menghilang dari pandangan.

Mirah melotot tak percaya, dia lemas seketika. Rintihan Nengsih yang terdengar lemah menyadarkannya untuk segera melakukan pertolongan pertama. Diraihnya tangan Nengsih dan langsung membersihkan darah yang keluar dengan kain sarung yang terhampar sembarangan.

"Sebenarnya apa yang terjadi dengan keluarga kita, Nak. Ibu takut sekali," ucap Mirah, lirih. Air matanya menetes menatap luka di telapak tangan anak gadis semata wayangnya.

Nengsih membisu. Dia memperhatikan sarung yang dipegang Mirah dan saat ibunya ingin menggunakan kain itu untuk mengelap darahnya, Nengsih menahan pergerakan Mirah.

"Jangan, Bu!" Nengsih menyambar sarung itu dan menunjukan sesuatu.

"Ini jejak yang kita cari." Nengsih menunjuk sesuatu.

Cetakan kaki berdarah tampak begitu jelas, setelah dicari-cari sejak tadi. Ternyata jejak itu tak menghilang seperti kelihatannya. Nengsih berpikir, kalau tangan tak bertuan tadi adalah pengganggu yang dimaksud Parmin. Dia segera bangkit, meninggalkan Mirah yang kebingungan.

"Nengsih, obati dulu luka kamu, Nak!"

"Ini bisa diurus nanti, Bu. Hal paling penting sekarang adalah membebaskan Bapak." Nengsih berjalan menuju pintu depan.

"Ibu, ikut!"

Nengsih menggeleng tak setuju. Dia merobek taplak meja dan melilitkannya di pergelangan tangan. Ringisan keluar tanpa sengaja. Rasa perih mulai menyerangnya tiba-tiba.

"Bu, kita gak ada yang tahu bagaimana sikap keluarga Juragan Dirja. Ibu pasti akan sakit hati. Biar ini jadi urusan Nengsih. Doain ya, Bu."

Bersambung.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95LBU" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95LBU
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 99 Hari Bersama Kaisar Tiran
9.8
Kim Nara tewas tragis di tangan kekasihnya sendiri, Axel, setelah memergoki perselingkuhannya. Namun, takdir memberinya kesempatan hidup kembali demi membalas dendam melalui sebuah tugas misterius. Ia terbangun dalam raga permaisuri cantik dari seorang kaisar tiran yang kejam. Nara segera menyadari kenyataan mengerikan bahwa setiap istri sang kaisar selalu mati pada hari ke-99. Kini, ia harus berpacu dengan waktu sebelum ajal kembali menjemputnya.
Sampul Novel Bismillah Anna
9.2
Anna memendam cinta pada Malik sejak SMP, meski Malik bersikap dingin dan menyukai wanita lain. Di tengah perjuangan menjadi dokter muda, Anna harus menghadapi duka mendalam karena kehilangan sosok ayah tercinta. Meski takdir terasa pahit dan cintanya tak terbalas, Anna berusaha tegar menjalani hidupnya yang penuh cobaan. Akankah kesabaran Anna berujung pernikahan dengan Malik, atau justru ia akan bersatu dengan pria lain yang jauh lebih misterius?
Sampul Novel Di Balik Kenangan
9.1
Selama tiga tahun, Evelyn setia merawat Aidan yang mengaku amnesia hingga menjadi kekasih rahasianya. Namun, kenyataan pahit terungkap bahwa ingatan Aidan sebenarnya utuh. Evelyn hancur saat mengetahui Aidan dan kekasihnya adalah dalang kematian ayahnya. Dengan tekad bulat, Evelyn mengumpulkan bukti dan menjebloskan mereka ke penjara tepat di hari pernikahan. Meski Aidan akhirnya menyadari cintanya, bagi Evelyn, penyesalan itu sudah tidak berguna lagi.
Sampul Novel Draco&Luna
7.9
Sejak yatim piatu, Luna menderita di bawah asuhan bibinya yang kejam hingga ia dijual ke pasar gelap. Di pelelangan itu, hidupnya berubah saat dibeli oleh Draco Riordan, pria misterius dengan masa lalu kelam. Pertemuan ini menyatukan Luna yang lugu dengan Draco yang penuh dendam dan rahasia besar. Di tengah perbedaan latar belakang yang kontras, akankah kehangatan Luna mampu melunuhkan hati Draco, ataukah takdir justru membuat hubungan mereka mustahil untuk bersatu?
Sampul Novel Foto Bayi di Ponsel Suamiku
9.1
Monalisa adalah istri setia hingga ia menemukan foto bayi misterius di ponsel Bayu, suaminya. Meski Bayu berdalih gambar itu dari internet, kecurigaan Mona menuntunnya pada kenyataan pahit: suaminya telah memiliki anak dengan wanita lain. Hancur karena dikhianati, Mona menolak terpuruk dalam kesedihan. Ia justru bangkit dan menyusun rencana matang untuk membalas dendam, berniat menghancurkan hidup Bayu serta selingkuhannya dengan rasa sakit yang jauh lebih hebat.
Sampul Novel He's Danger
9.6
Cinta pertama tak selalu indah, bagi Julia, perkenalannya dengan Jacob di Instagram justru membawa petaka. Hubungan ini penuh kekerasan, paksaan, dan pengkhianatan yang melukai batinnya. Meski disakiti berulang kali, Julia sulit melepaskan diri dari pesona Jacob. Kehadiran pemuda itu perlahan mengungkap teka-teki gelap dalam hidup Julia yang semula tenang. Terjebak antara rasa cinta dan dendam, Julia menghadapi misteri yang menuntut untuk diselesaikan hingga akhir.