Sampul Novel Nilakandi

Nilakandi

9.6 / 10.0
Dalam novel Nilakandi, Diwana terjebak mimpi misterius selama enam tahun. Pertemuannya dengan gadis bergaun biru di dunia nyata mengungkap rahasia takdir yang magis. Simak kisah fantasy romance penuh teka-teki ini di webnovel kami, pilihan tepat bagi pembaca fiction fantasy novels.
Ringkasan Nilakandi
Selama enam tahun, Diwana terjebak dalam siklus mimpi misterius tentang seorang gadis bergaun biru yang selalu diiringi aroma harum dan bunyi lonceng. Aturan magis mencegahnya menyentuh atau berbicara dengan sosok tersebut hingga ia merasa hampir gila. Namun, delusi itu mendadak nyata saat Diwana bertemu Nilakandi, wanita yang wajahnya identik dengan bayangan mimpinya. Kehadiran Nilakandi yang penuh rahasia mulai mengungkap tabir takdir hidup Diwana yang selama ini tersembunyi.
Baca Selengkapnya

Nilakandi Bab 1

Perempuan bergaun biru itu memandang kearah lautan lepas berwarna jingga di depannya dengan sendu. Tangan yang mungil terkulai begitu saja di kedua sisi tubuhnya. Bibirnya mengatup rapat, helai demi helai rambut itu terurai menari-nari mengikuti alunan lagu sang anila.

Tatapannya nampak kosong, namun disaat yang bersamaan juga nampak penuh dengan kebimbangan. Beralaskan pasir pantai yang basah, kakinya tetap memaku tatkala diterpa ombak yang menyapa. Sepertinya ia tidak keberatan sama sekali saat dingin air laut berusaha mengusik jemari kakinya. Tak ada kicau burung bernyanyi, tak ada musik mengalun mengiringi.

Perlahan matanya terpejam menikmati detik demi detik waktu yang berlalu, menyisakan tanda tanya besar pada sosok yang mengamatinya sejak tadi.

"Cantik," batin laki-laki yang entah sejak kapan mengamati gadis misterius itu dalam diam. Senyum mengembang di bibirnya, seakan sudah tertahan sejak lama. Bait-bait puisi kerinduan tertulis jelas di wajahnya yang masih tersipu meski hanya dengan menyaksikan gadis itu dari kejauhan.

"Aku benar-benar ingin menyapamu, gadis bergaun biru," batinnya lagi. Sebait puisi tentang kerinduan tiba-tiba sayup-sayup terdengar ditelinganya, entah suara siapa itu.

Lihatlah, matahari bersinar malu-malu di ufuk sana.

Apakah rindumu sudah mencair olehnya?

Ataukah justru kian menggebu?

Karena sepertinya candumu tak ada obatnya.

Maaf, datang lagilah lain kali.

Dosa atau doa, ada hutang yang harus kau lunasi.

Suara ombak mengalun merdu mengiringi siapapun yang tengah merindu. Ada aturan-aturan tertentu yang menghalanginya, sebesar apapun celengan rindunya untuk sang gadis yang tertahan.

Namun ia hanyalah manusia biasa yang pada akhirnya, pertahanannya runtuh juga. Dari jarak sekitar sepuluh kaki, bau harum unik mulai menyeruak membuat lelaki itu memejamkan matanya, menghirup kuat-kuat aroma yang memabukkan itu. Aroma yang bisa membuat siapa saja gila bahkan hanya dengan membayangkannya sekalipun.

Kelopak-kelopak bunga warna-warni bertebaran disekeliling si gadis bergaun biru, menampakkan cahaya kebiruan yang berpendar dengan teratur. Sehelai kelopak bunga mawar berwarna biru itu jatuh tepat di tangan sang lelaki yang sudah menengadah. Kemudian, aroma memabukkan itu menguat lagi seiring hembusan angin yang beradu.

"Lagi. Harum ini lagi. Aku ingin serakah. Kumohon, ijinkan aku mendekat menyetuhmu," pinta si lelaki memelas walau jelas tak terdengar.

Sepertinya angin memang sengaja bermain-main dengan keduanya, mungkin berharap mereka segera bertegur sapa. Bahkan angin dan ombak pun tak sabar menunggu dua insan itu bertemu lebih dari sekedar hanya beradu pandang. Kemudian sekali lagi, harum khas yang memabukkan itu menyeruak ke indera sang perindu.

Kata Kahlil Gibran, apa yang kita sentuh adalah bagian dari nafsu kita. Mungkin benar, lelaki itu buktinya. Tampaknya ia benar-benar memilih serakah meskipun ia tentu sangat tahu apa konsekuensi atas tindakannya.

Dirematnya kelopak bunga ditangan, pendiriannya pun seketika runtuh. Bulat sudah tekadnya untuk meredakan kerinduan, mengikuti nafsunya. Perlahan ia melangkahkan kaki mendekat, bermaksud mengikis jarak diantara mereka, atau bahkan menyapanya.

Satu langkah.

Gemerincing lonceng-lonceng kecil terdengar ditelinganya, sedikit berisik tapi entah kenapa tetap merdu. Tepat ketika derak-derak lonceng terakhir berbunyi, keheningan pun menyambut memaksa ia kembali melangkah.

Dua Langkah.

Tubuhnya sedikit terhuyung tapi hati memimpinnya lagi, ia hanya patuh mengikuti. Belum terlambat untuk berputar arah dan kembali, tapi ia tak punya niat itu barang sedikitpun.

Tiga langkah.

Aroma yang memabukkan perlahan menghilang, tergantikan aroma air laut yang bersua dengan matahari. Entah kenapa terasa sangat menyejukkan disaat langkahnya mulai terasa berat seakan sesuatu menahannya dari belakang. Tapi sekali lagi, tak bisa diungkapkan dengan kata-kata seberapa besar inginnya melepas rindu. Sekalipun dengan mempertaruhkan segala yang dimilikinya saat itu.

Empat langkah.

Kini wajah gadis itu semakin terlihat jelas sejelas kerinduan yang seringkali menghantui perasaannya. Kerinduan yang seakan tengah memekik ditelinga meminta untuk segera dilepaskan. Kerinduan yang bahkan matahari pun tak bisa mencairkan. Tak tertahan lagi, keserakahan menguasai ego lelaki itu yang kemudian menyapa dengan berdehem pelan.

"Ekhm, halo." Suara bariton itu memecah keheningan, membuat Gadis Bergaun Biru menoleh pelan kearah sang empunya suara. Laki-laki itu bahagia, bak akhirnya berjumpa dengan musim semi setelah melewati musim dingin yang panjang.

Untuk sepersekian detik berikutnya yang terjadi hanyalah kebisuan berbumbu debur ombak yang berperang menuju daratan. Tatapan kosong sang gadis pun bertemu dengan netra sang lelaki, seperti biasanya. Seberkas cahaya jingga membelai satu sisi wajahnya, cantik sekali.

Tak henti-hentinya lelaki itu memuji ciptaan indah tuhannya dalam hati. Gadis itu kemudian tersenyum manis, tapi entah kenapa matanya tidak demikian. Terbersit kepiluan dari sorot netra cokelat yang sedikit berkaca-kaca itu.

Lalu hal yang paling Diwana takutkan pun dimulai, sepuluh detik berikutnya gadis itu perlahan memudar dari pandangan. Sesuatu yang seperti kabut asap mengelilinginya tiba-tiba, dan sejurus kemudian… melenyapkannya. Semua terjadi hanya dalam hitungan detik, seperti tipuan sihir magis yang mengelabui mata.

"Tidak… Tunggu. Kumohon jangan pergi lagi… Biru..." teriak lelaki itu yang entah kenapa hanya bisa terpaku ditempat dimana ia berdiri.

Tangannya mencoba melambai namun tiada guna, bermaksud mencegah Gadis Bergaun Biru pergi. Ia hanya bisa menatap nanar gumpalan asap mengepul yang masih sedikit tersisa di udara.

Sekitar lima detik kemudian ia tiba-tiba bisa bergerak lagi dari tempatnya, tak lagi terpaku. Tapi buat apa jika yang dirindu bahkan sudah tak terlihat lagi, lenyap tepat di depan matanya.

"Biru…" Begitulah ia selalu memanggil gadis itu, karena gaunnya tentu saja.

"Biru…."

"Biru….." isaknya dalam sendu.

"KAK..? KAK DIWA...?

"DIWANA…?!"

PLAKK

"Bangun, Kak. Kakak serem ih, ngigau si hantu lagi, kan? Udah ditungguin Bunda dibawah dari tadi, udah jam delapan nih. Cepet turun buat sarapan bareng sebelum bunda ngomel."

"DEK?! BARUSAN KAMU NAMPAR KAKAK YA?"

Diwana yang baru saja terbangun dari mimpinya pun melotot memandang tak percaya kearah si adik jahil yang berdiri didepannya tanpa dosa. Yang ditatap pun seketika terkejut saat siasatnya terbongkar, dengan sigap ia segera melarikan diri dan setengah berlari keluar kamar kakak laki-lakinya.

"AIDEN!!" teriak Diwana tepat saat Aiden membanting pintu.

Namun sayang, yang dipanggil sudah terlanjur lenyap di balik pintu kamarnya. Saat Diwana mulai sadar sepenuhnya, mimpi yang baru saja menghantui perlahan muncul dari memorinya. Lengkap adegan demi adegan, kata demi kata, emosi demi emosi.

Bahkan bau harum dari mimpinya seakan ikut menyeruak ke dunia nyata, karena Diwana berani bersumpah bahwa ia masih bisa merasakan sedikit aroma memabukkan itu sekarang di kamarnya. Harum memabukkan itu terasa menguar mengikutinya keluar dari alam mimpi, tak bisa diterima akal sehat siapapun yang mendengar kenyataan itu.

"Biru, aku sudah rindu lagi."

----

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Nilakandi

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Antara Benci dan Cinta
8.3
Kematian tragis menyingkap kepalsuan dalam hubungan yang dibangun dengan pengorbanan. Di novel modern misteri Antara Benci dan Cinta, seorang wanita menghabiskan kekayaan dan energinya demi mengorbitkan sang kekasih yang terikat kontrak pacaran tiga tahun. Alih-alih membalas budi, pria itu berpaling pada wanita lain dan menyebutnya sekadar batu loncatan yang tidak menarik. Namun, setelah nyawa sang wanita melayang, penyesalan atau kegilaan misterius justru merasuki pria yang kini memeluk jasadnya.
Sampul Novel Brontak Dalam Sempak
9.0
Ujang menantang Datok dengan penuh amarah demi menunjukkan kekuatannya yang selama ini terpendam. Meski baru berusia dua puluh tahun, ia kini mengerahkan seluruh kemampuannya melalui teknik Tisu Magic yang mengubah tubuhnya menjadi lapisan baja kokoh. Di sisi lain, Datok bersiap dengan jurus Telo Rasa Meki yang mengeluarkan uap panas membara. Keduanya melesat secepat kilat hingga menciptakan ledakan dahsyat saat ajian pamungkas mereka saling berbenturan di udara.
Sampul Novel Derai Kasih Syafana
9.1
Syafana Azzahra, wanita cantik berusia 33 tahun, harus menelan pil pahit setelah dua kali gagal menikah. Harapannya kini tertuju pada Arman Alatas, pria pilihan sahabatnya. Namun, tiga hari menjelang hari bahagia, Syafana justru memergoki Arman berselingkuh. Meski hatinya hancur dan terluka dalam akibat pengkhianatan tersebut, ia tetap memberi kesempatan kedua hingga mereka resmi menikah. Mampukah Syafana bertahan dalam rumah tangga yang diawali dengan dusta?
Sampul Novel Potret Sederhana
8.6
Agni terpuruk dalam kegelapan akibat kehancuran rumah tangga orang tuanya yang mematikan segala harapan. Di tengah keputusasaan, kehadiran saudara kembar Bayu dan Banyu menjadi titik balik yang memberinya kekuatan untuk bangkit. Saat Agni mulai meraih kembali impian masa depannya, ia justru dihadapkan pada dilema besar di persimpangan jalan. Kini ia harus memilih antara cahaya yang menuntun langkahnya atau sayap yang memungkinkannya terbang bebas menggapai angan.
Sampul Novel Tak Terikat oleh Takdir
9.3
Diculik suku lawan, aku justru diabaikan oleh pemimpin klan sendiri yang asyik bersama pasangan takdirnya. Lewat telepon, dia dingin menyuruh penculik menyiksaku agar aku jera. Di ambang maut, aku memohon pada musuh demi nyawaku. Saat pemimpinku akhirnya datang menjemput, segalanya telah berubah. Aku kini berada di pelukan pemimpin suku saingan yang menolak melepaskanku, menyatakan bahwa aku sudah tidak punya lagi kekuatan untuk pergi darinya.
Sampul Novel WETON (Santet Tiga Generasi)
8.1
Terdesak utang keluarga, Yayuk meminta bantuan Bi Zaenab untuk mencari kerja. Ia pun dikirim ke kediaman bangsawan Waluyo yang hanya menerima pelayan berweton Sabtu Kliwon atau Rabu Pahing. Yayuk yang memenuhi syarat segera menyadari kenyataan pahit di sana. Alih-alih menjadi asisten rumah tangga, ia justru dijadikan eksekutor santet demi kepentingan proyek besar keluarga tersebut. Kini, Yayuk harus berjuang keras demi bertahan hidup di tengah ancaman mistis.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan