
Pilihan Terakhir
Bab 2
"Heh hebat Ana! kau benar-benar hebat, lihatlah! betapa murahannya dirimu sanmpai berani meminta majikanmu sendiri untuk menidurimu, dan parahnya lagi, pria yang kau mintai tidur denganmu itu sudah beristri ehhh!"
Kemarahan Bella semakin memuncak saat mendengar pengakuan langsung dari mulut gadis itu. Semua amarahnya ia lampiaskan pada gadis itu, terlebih saat membayangkan pria yang begitu dia cintainya itu pernah tidur dengan wanita lain di saat status mereka masih suami istri.
Di saat seperti itu memangnya mereka bisa menahan diri tanpa melakukan apa-apa.
Sesetia apapun suaminya padanya waktu itu kalau di saat seperti situasi yang Ana ceritakan padanya barusan. Sangat tidak memungkinkan kalau di antara keduanya tidak terjadi apa-apa.
Terlebih kalau gadis itu memang secara sengaja melakukannya untuk menggoda suami tampannya itu.
"******| kau perempuan rendahan perempuan tak tahu malu!" Segala caci makian habis-habisan Bella lontarkan pada gadis itu.
"Hiks..hiks' Tangis Ana pun akhirnya pecah. Saat merasakan jemari tangannya yang terus-menerus di injak-injak oleh mantan majikannya itu. Dari semenjak dia mengakui kesalahannya kepada wanita itu.
Warna kulitnya yang semula putih mulus, kini sudah berubah merah karena memar akibat perbuatan Bella.
"******| kenapa kau menangis ehh!? kau pantas menerimanya' Maki Bella lagi.
Sepatu hak satu incinya itu terus menginjak-nginjak kedua tangan gadis yang tengah meratap memohon ampunan darinya itu.
"Ya tuhan, Bella udah Bel! kalau elho terus-terusan nyakitin fisiknya dia gue gak tahu lagi apa yang bakal Aris lakuin sama elho' Sela rekannya Bella yang dari tadi hanya diam di dalam mobilnya demi menyaksikan adengan itu.
Entah kenapa sejak dia melihat Ana yang wajahnya tampak polos dan seakan-akan tak punya dosa itu hatinya menjadi terenyuh, terlebih gadis itu tak ada melawan
Bella barang sedetikpun.
"Ngapain elho sekarang malah Belain dia? elho kan tadi dengar sendiri kalau dia itu emang pernah ngajak mas Aris tidur sama dia, Jawab Bella dengan kasarnya.
"Hiks...hikssss.... Ibuuu maafin Ana buk"
Ana masih bersikeras meminta maaf pada perempuan itu. Sesakit apapun fisiknya saat ini karena ulah perlakuan Bella, namun dia tetap menerimanya.
Dia sadar akan kesalahannya, andai dia tidak meminta majikannya untuk menemaninya tidur malam itu, kejadian memalukan itu pasti tak akan pernah terjadi.
"Ya tuhan ampuni dosa hambamu ini"
Batin Ana.
Dia merasa menyesal sekali, terlebih dirinya bersangkutan dengan pria yang sudah beristri. Walaupun hari itu dia juga turut menyesali perbuatannya, akan tetapi perasaan bersalahnya itu kembali mencuat bahkan semakin bertambah dari sebelumnya saat di labrak oleh mantan majikannya itu.
Plakkkk...
Rekan kerja Bella yang sudah tidak sanggup lagi menyaksikan adegan itu pun langsung menampar pipinya Bella, agar perempuan itu kembali tersadar.
"Hiks...hikss.." Kali ini Bella pun justru ikut menangis.
"Bell, maaf, gue gak ada maksud buat nyakitin elho, gue cuma mau bikin elho sadar, kalau elho itu udah kelewatan banget sama dia," Ujar temannya itu menjelaskan.
"Hiksss.Hiks...
Tangis Bella pun justru semakin pecah dari sebelumnya.
Hatinya terasa sakit sekali dengan pengakuan langsung dari Ana. Dia tak pernah menyangka kalau selama ini dia justru sudah berbagi pria dengan pembantunya itu.
"Anaaaa!" Teriak Sheri yang saat itu baru saja menemukan sahabatnya itu. Semenjak dia keluar dari kanmar mandi tadinya dia bermaksud untuk mencari Ana dengan berkeliling di rumah itu.
Namun belum sempat dia berkeliling, telinganya sayup-sayup sempat menangkap suara ribut-ribut dari luar rumah. dan malangnya saat sudah berada di luar rumah. dia justru menemukan pemandangan yang mengenaskan di bangku taman yang ada di luar rumah sahabatnya itu.
"Hiks...hiksss maafin Ana buk" Ratap Ana lagi. Bahkan tangannya pun sampai terasa kebas karena ulah Bella.
Halaman rumah yang tadinya tampak sejuk dan asri, kini di penuhi dengan suara tangisan, dan untungnya lokasi rumah Aris berada di pedalaman, bukan di jalanan raya besar, kalau tidak, mungkin saat ini mereka sudah menjadi tontonan orang banyak.
"Bel udahan, kita balik yuk! gue rasa pelajaran yang udah elho kasih sama di, tanpa elho mintapun dia bakalin ninggalin
Aris buat elho" Ujar temannya itu memberi saran.
Dia yakin sekali, kalau Ana tak sejahat seperti kebanyakan pelakor lainnya. Setelah melihat Ana yang secara sukarela sampai mengakui kesalahannya kepada Bella tadinya.
"Ya, antar gue pulang sekarang!" Pinta
Bella. Setelah itu keduanya pun langsung berjalan ke arah mobilnya. Bella dapat merasakan kalau setelah kejadian ini tanpa diminta pun Ana pasti akan meninggalkan
Aris dengan sendirinya. Saat melihat ulah gadis itu saat ini.
"Woyyy buka!" Teriak Sheri sembari menggedor-gedor kaca mobilnya Bella.
Hatinya ikut sakit, karena sempat menyaksikan perlakuan Bella pada sahabatnya itu tadi, dia sudah bertekad akan membalaskan dendam Ana pada wanita itu.
Namun orang yang berada di dalam mobil itu tak kunjung menghiraukannya. Rekannya
Bella justru menyalakan mobilnya lalu meninggalkan halaman rumah itu.
Sementara Bella hanya terbenam dalam kekalutannya atas pengkhiatan kedua sejoli itu. Nyeri. Ya itulah yang Bela rasakan.
Saat ini pikirannya benar-benar terasa kosong karena syok atas pengakuan Ana.
"'Sial!" Maki Sheri. Saat melihat mobil itu sudah menjauh.
Setelah itu Sheri pun langsung berbalik untuk menghampiri sahabatnya itu.
"Na kenapa elho bisa gini sih? satu lagi cewek itu siapa? kenapa dia menyiksa elho, dan kenapa elho malah diam aja, mana Ana yang selalu ngelawan di saat orang lain nindas elho?" Brondong Sheri setelah berada di dekat sahabatnya itu.
Sembari memapah tubuh Ana untuk membangunkannya.
"'Sher maafin gue, nanti aja gue cerita sama elho, tapi yang jelas di sini gue yang salah, elho bisa kan papah gue ke rumah dulu?" Tanya Ana. Airmata yang tadinya terus bergulir dari pipi putihnya itu perlahan mulai menghilang, walaupun tangannya masih terasa perih dan sakit akibat ulah
Bella.
"Kita ke rumah sakit sekarang ya! gue takut tangan elho kenapa-kenapa," Ujar
Sheri. Wajahnya tampak panik saat melihat kondisi gadis itu.
"Gak usah di rumah aja, please!" Ana sudah memohon.
"Tapi An, Iuka elho parah banget tu' Ujar
Sheri prihatin. Saat melihat jarinya yang sampai mengeluarkan sedikit darah akibat di injak oleh Bella tadinya.
"Udahan, gak papa, kalau besoknya belum sembuh juga baru kita ke rumah sakit," Ujar
Ana menenangkan.
Setelah mendengar penuturan sahabatnya itu, Sheri pun terpaksa menurutinya lalu memapah tubuhnya untuk membawanya ke dalam
"Hahaaaa gila, ternyata tu cewek cuma seorang pelakor, pantesan pak Aris tiba-tiba mau sama dia yang gak ada apa-apanya di banding Bella.!"
"lya ya, pantesan, ternyata cuma wanita murahan yang suka menggoda suaminya orang" Jawab teman di sebelahnya.
Kebetulan saat adegan itu sedang berlangsung, kedua wanita itu tengah berkendara di komplek perumahan elit situ. Jadi saat keduanya melihat adegan itu, mereka pun langsung menghentikan motornya sejenak demi menonton adegan itu.
"Tu mulut bisa di jaga gak!?" Kecam Sheri kepada kedua perempuan itu.
"Udahan sher, gak usah di gubris, tangan gue harus segera di obatin, Sela Ana.
Entah mengapa ada perasaan familiar di wajahnya saat melihat kedua wanita itu.
Dia juga tahu diri apa yang mereka katakan adalah kebenarannya, jadi baginya tak ada gunanya untuk menyangkalnya.
"Tapi Na."
"Udahan, bawa gue masuk sekarang!" Pinta
Ana.
Sheri Pun terpaksa menuruti gadis itu.
Anda Mungkin Juga Suka





