Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Petulangan Nikmat Kontraktor

Petulangan Nikmat Kontraktor

Neneng mendadak duduk di sofa sambil menyingkap rok dan membuka pahanya, memamerkan pakaian dalam putihnya di hadapan Suradi. Dia menggoda Suradi untuk mendekat dan melihat lebih jelas. Saat Suradi mengaku merasa gemas dan ingin melakukan tindakan lebih jauh, Neneng menolaknya dan meminta mereka pindah ke kamar. Sambil terkikik, Neneng menuju ranjang, menanggalkan seluruh pakaian bawahnya, lalu berbaring dengan posisi terbuka menunggu Suradi yang mengikutinya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Suradi adalah seorang kontraktor kecil yang tinggal di Cimahi, sekarang usianya sudah menginjak 40. Istrinya lebih tua 5 tahun darinya dan mengajar di sebuah SMP Negeri yang terletak tidak jauh dari rumah. Mereka dikaruniai seorang anak laki-laki, Reyhan 17 tahun, yang bercita-cita ingin menjadi musisi. Reyhan sekarang duduk di kelas 11 sebuah SMA Swasta yang cukup ternama di Bandung.

Suradi dikenal oleh anak buahnya sebagai bos yang kalem dan tenang. Dia sangat loyal terhadap anak buahnya dan tidak pernah mengingkari janji, baik soal upah atau janji-janji kecil yang diucapkannya. Suradi tahu persis bagaimana mengatur dan mengelola anak buahnya, dengan pendekatan seperti bapak kepada anak-anaknya. Hal itu mungkin dikarenakan Suradi tahu benar bagaimana rasanya menjadi seorang kuli.

Suradi sendiri pernah mengakui bahwa dia meniti karirnya benar-benar dari bawah. Begitu lulus STM (Sekarang SMK) Tehnik Bangunan, dia langsung ikut bekerja bersama ayahnya menjadi kuli bangunan, untuk membantu meringankan biaya sekolah adik-adiknya. Bertahun-tahun jadi kuli, dia kemudian menjadi mandor dan berihtiar menjadi pemborong kecil-kecilan. Setelah menikah dengan Iis Sukaesih, Suradi mendirikan perusahaan sendiri. Dan rajin mengikuti berbagai tender, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah, swasta maupun BUMN. Bahkan dia juga menerima pekerjaan borongan dari perseorangan yang umumnya bernilai tidak pernah lebih dari 500 juta. Prinsip Suradi sederhana, apa pun pekerjaannya, kalau bisa dia kerjakan dan ada lebihnya, pasti digarap.

Suradi tidak pernah pilih-pilih pekerjaan.

Siang itu Suradi baru saja tiba dari Bandung bersama anak buah kesayangannya Ugi, ketika seorang laki-laki berkacamata tebal berusia sekitar 58 tahun, namanya Pak Joni, mendatangi kantornya dan memintanya melakukan renovasi rumah dengan nilai kontrak sebesar 100 juta. Tanpa ba bi bu lagi, Suradi menyanggupi dan langsung pergi ke lokasi untuk melakukan survey.

Pak Joni menginginkan rumahnya yang besar itu direnov menjadi rumah kost-kostan yang nyaman, baik untuk yang indekost maupun untuk dirinya sendiri.

Sambil berjalan pelahan mengelilingi dan meneliti rumah itu, Suradi mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan keinginan kliennya dengan serius dan penuh perhatian.

“Untuk saya dan istri, tidak perlu tempat yang luas. Cukup satu kamar tidur, ruang tamu yang kecil, ruang tengah sederhana untuk nonton TV, dapur yang luas yang sekaligus berfungsi sebagai ruang makan dan kamar mandi. Sisanya untuk kost-kostan semua.” Kata Pak Joni.

“Bagaimana kalau nanti anak-anak Pak Joni datang dan akan menginap, apakah…” Kalimat Suradi dipotong oleh Pak Joni.

“Tidak. Itu jangan dipikirkan. Mereka sudah bertebaran jauh, ada yang ke Papua, Kalimantan bahkan di Singapura. Mereka beberapa kali ke sini tapi selalu menginap di hotel.”

“Oh, begitu, Pak. Baiklah. Saya akan melakukan pembuatan partisi gypsum untuk pembentukan kamar-kamar dan pembuatan 2 kamar mandi tambahan. Bapak juga harus mengosongkan berbagai perabotan yang ada di sini… bisa kami lakukan dengan tambahan biaya sedikit. Sedangkan untuk perbaikan pagar dan perbaikan halaman samping menjadi tempat parkir motor, saya khawatir tidak masuk dalam kalkulasi 100 juta, mungkin ada tambahan sekitar 10 atau 15 juta. Besok saya akan datang lagi membawa peralatan gambar dan rincian biaya, kalau bapak setuju, lusa kita bisa tanda tangan kontrak biar masing-masing merasa nyaman. Bagaimana?” Kata Suradi.

“Setuju, itu bagus sekali. Kira-kira pengerjaannya berapa lama ya?”

“Paling lama 20 hari kerja, empat minggu. Saya punya 10 orang pegawai yang cakap dan berpengalaman, saya juga punya peralatan yang memadai. Dijamin hasilnya baik dan tepat waktu.” Kata Suradi dengan tegas dan meyakinkan.

“Uang mukanya?”

“25%, sisanya dibayar paling lambat 5 hari kerja setelah serah terima barang.”

“Oke.”

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Suradi bersama anakbuahnya, Ugi dan Tono, mendatangi rumah itu dengan membawa peralatan gambar dan meteran. Karena pintu rumah masih dikunci, mereka melakukan pengukuran pertama di halaman depan dan samping sambil menunggu penghuninya ke luar. Tiba-tiba, datang dari arah pintu gerbang seorang perempuan STW semok membawa kantung kresek yang menggembung. Dia memakai baju piyama ketat dan tipis, sehingga belahan pada pantatnya demikian jelas tercetak.

“Wah, bapak-bapak sudah pada datang. Maaf saya baru dari warung membeli kopi.” Katanya. “Saya bu Joni. Bapak belum bangun ya?”

“Mungkin belum, Bu. Tadi saya ketuk-ketuk, tapi pintu enggak ada yang buka. Jadi kami melakukan pengukuran di luar dahulu.” Kata Suradi. Dia menatap Bu Joni langsung ke matanya dan merasakan ada sesuatu yang nakal di sana.

“Saya ke dalam dulu, ya.”

“I ya,bu. Silakan.”

“Wuih!” Kata Tono, mandor senior yang sudah punya 2 cucu ini meleletkan lidahnya. “Busyet bener itu bodi.”

“Dia gak pake CD.” Kata Ugi. Sepasang matanya tampak masih nanar menyaksikan pemandangan yang baru saja lewat. Remaja 18 tahun yang sudah ikut dengan Suradi selama 2 tahun, semenjak lulus SMP itu, sepertinya terkesima.

“Sudah. Ayo kerja lagi.” Kata Suradi datar.

Sepanjang pagi hingga siang, Suradi sibuk membuat gambar denah di ruang tengah dengan wajah serius. Sementara Bu Joni bolak-balik melewati ruang tengah itu dan mencuri-curi pandang kepadanya. Suradi pura-pura tidak tahu.

Beberapa kali Bu Joni mendekati Suradi, dengan sangat dekat, untuk melihat gambar-gambar yang masih setengah jadi dan berkomentar memuji. Suradi sengaja menggoda STW itu dengan pura-pura tak sengaja menyentuh beberapa bagian sensitifnya. Bu Joni tampaknya menyukainya. Bahkan Bu Joni seperti sengaja menyentuhkan kedua nenen pepayanya untuk menyentuh-nyentuh pundak Suradi.

“Kalau bukan istri klien, pasti sudah kusikat saat ini juga.” Kata Suradi dalam hati.

Siangnya, gambar-gambar itu sudah selesai beserta perhitungan biayanya. Suradi mengajukan perubahan menjadi 115 juta. Pak Joni setuju.

“Baru melihat gambarnya saja istri saya sudah sedemikian senang, biasanya dia bersikap agak cemberut… tapi sekarang, lihatlah… dia mau sedikit berdandan dan sikapnya sangat riang.” Kata Pak Joni.

Suradi hanya tersenyum biasa saja.

Setelah kontrak ditandatangan, Suradi beserta anak buahnya langsung bekerja. Pada minggu pertama, mereka memprioritaskan pemenggalan ruangan untuk membentuk kamar tidur, ruang tengah dan ruang tamu mungil yang menghadap ke halaman belakang untuk tempat tinggal pasutri tersebut. Pada minggu ke dua dan ketiga, mereka membongkar garasi dan membuat partisi kamar-kamar sesuai dengan denah rencana.

Pada minggu ke 3 ketika semua rencana gambar telah berhasil diwujudkan, Pak Joni mengundangnya makan siang dan mengucapkan terimakasih atas pekerjaan Suradi yang efektif dan efisien. Dia sangat puas dengan hasil kerjanya.

“Kepppuasssan… itulah moto kami.” Kata Suradi. Dia mengerling sejenak ke arah Bu Joni yang sedang berdiri di belakang suaminya. Orang yang diberi kerlingan memberikan senyum seribu arti.

“Untuk pembayaran, kami sudah mempersiapkan sisanya sesuai dengan perjanjian. Begitu selesai, kami bayar. Hanya saja…” Pak Joni menghentikan kalimatnya.

“Hanya saja, apa pak?”

“Istri saya agak mengeluh mengenai penataan perabotan di sini… lihat, masih berantakan kan? Belum perabotan-perabotan di luar yang kelihatannya tidak bisa masuk lagi ke dalam tempat kami yang mengecil ini…”

“Tenang, Pak. Saya bisa atur. Saya akan suruh Ugi untuk membantu.” Kata Suradi.

“Kapan mulainya ya Pa?” Tanya Bu Joni, suaranya terdengar manja.

“Oh, secepatnya,Bu.” Jawab Suradi sambil tersenyum.

Sore itu, ketika anak buahnya membereskan peralatan kerja mereka, Suradi memanggil Ugi dan membawanya ke halaman belakang.

“Kita akan bantu bu Joni beres-beres.” Katanya.

“Siap, Bos.” Jawab Ugi, nadanya riang. “Bos kalau boleh tahu, kira-kira berapa ya umurnya Bu Joni?”

Suradi menatap Ugi dengan kening berkerut.

“Maaf, bos, jika pertanyaan saya lancang.” Ugi tampak rikuh.

“Umurnya mungkin sekitar 50-an…” Kata Suradi kalem, “tapi bodi dan semangat di dalamnya mungkin masih 30-an.”

“Ma maaf, bos, maksudnya apa?” Tanya Ugi bingung.

Suradi tersenyum.

“Ah, sudahlah. Saya akan ke dalam dan menemui bu Joni. Kamu di sini, ambil sampah-sampah yang berserakan ini dan kumpulkan bersama sampah lainnya, nanti suruh siapa saja yang mau untuk membuangnya.”

“Siap bos.”

Suradi mengetuk pintu paviliun belakang rumah itu yang sudah disulap penataan ruangannya menjadi seperti rumah type 21. Pak Joni membukakan pintu, dia memakai sarung dan kaos singlet. Badannya berkeringat.

“Sesuai janji, saya akan bantu melakukan pemberesan.” Kata Suradi, dia melihat wajah Pak Joni yang murung.

“Oh, iya iya.” Katanya. “Masuk, Pak. Tapi maaf ya jika istri saya bersikap kurang baik karena dia sedang uring-uringan.”

Bersambung

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bercinta dengan Playboy
9.1
Hati Risa hancur berkeping-keping setelah dikhianati oleh Alan, tunangannya sendiri. Didorong rasa sakit hati, ia nekat menerima tawaran kencan satu malam dari Alva, rekan kerjanya yang dikenal sebagai playboy. Risa berniat menggunakan Alva demi membalas dendam pada Alan. Namun, situasi menjadi rumit karena Alva ternyata sepupu Alan. Akankah pembalasan ini berakhir lancar saat Alan menyadari hubungan terlarang antara tunangan dan saudaranya?
Sampul Novel Dibuang Suami Saat Hamil
8.5
Azura Paramitha, yatim piatu yang ceria, mengira hidupnya sempurna saat dinikahi pengusaha dingin, Revan Aksara. Awalnya, Revan berubah menjadi sosok penyayang yang memberikan kehangatan keluarga bagi Azura. Namun, segalanya hancur saat Azura hamil. Revan mendadak berubah kejam, menuduhnya tidak bermoral, dan mengusirnya dalam keadaan mengandung. Kini, Azura harus berjuang sendirian membawa luka hati dan calon bayinya setelah dibuang tanpa belas kasihan.
Sampul Novel Gairah panas sang presdir
8.0
Joshua berubah menjadi pria dengan gairah seksual berlebih yang tak terkendali setelah dikhianati oleh kekasih masa lalunya. Luka perselingkuhan itu mengubah kepribadiannya secara drastis tanpa ia sadari sepenuhnya. Namun, takdir mempertemukannya dengan seorang mahasiswi muda dalam sebuah pertemuan yang tidak terduga. Akankah kehadiran gadis ini mampu menyembuhkan trauma Joshua dan mengembalikannya menjadi sosok pria yang dulu, atau justru memperumit keadaan?
Sampul Novel Istri Di Atas Kertas
8.9
Queena Bulan Latief terjebak dalam pernikahan hasil perjodohan klasik yang menyakitkan. Usai ijab kabul, ia mendapati fakta pahit bahwa suaminya telah memiliki istri lain. Meski secara hukum Bulan merupakan istri sah yang pertama, realitanya ia hanyalah sosok kedua di hati suaminya. Harapan Bulan untuk menjadi satu-satunya pun hancur seketika. Kini, ia harus berjuang menghadapi takdir rumit dan bertahan dalam dilema berbagi kasih dengan madunya.
Sampul Novel LITTLE MOMMY
8.5
Dunia Delisha runtuh saat Ayden, kekasihnya, mengabarkan bahwa dirinya tengah mengandung. Di usia yang baru menginjak 14 tahun, Delisha harus menghadapi kenyataan pahit akibat hubungan tanpa pengaman yang mereka lakukan. Bukannya bertanggung jawab, Ayden yang masih berumur 16 tahun justru memilih untuk memutuskan hubungan demi mengejar kebebasan. Kini, Delisha terjebak dalam ketakutan dan kebingungan tentang masa depan janinnya setelah ditinggalkan sendirian.
Sampul Novel Misi; Mengandung Benih Tuan Vince
9.3
Qiara Selena Odelia mendambakan pernikahan tulus yang dipenuhi kebahagiaan. Namun, ia justru terikat kontrak dengan Vincenzo Nick Emyr, pria dingin yang menutup pintu hatinya akibat luka masa lalu dari cinta pertama. Berawal dari sebuah misi rahasia, keduanya terjebak dalam komitmen formal yang mereka sepakati bersama. Di tengah kepahitan dan trauma Vince, mampukah hubungan sandiwara ini berubah menjadi cinta sejati yang nyata bagi mereka berdua?