Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Petulangan Nikmat Kontraktor

Petulangan Nikmat Kontraktor

Neneng mendadak duduk di sofa sambil menyingkap rok dan membuka pahanya, memamerkan pakaian dalam putihnya di hadapan Suradi. Dia menggoda Suradi untuk mendekat dan melihat lebih jelas. Saat Suradi mengaku merasa gemas dan ingin melakukan tindakan lebih jauh, Neneng menolaknya dan meminta mereka pindah ke kamar. Sambil terkikik, Neneng menuju ranjang, menanggalkan seluruh pakaian bawahnya, lalu berbaring dengan posisi terbuka menunggu Suradi yang mengikutinya.
Bab
Bagikan

Bab 3

“Tidak apa.” Kata Suradi tersenyum. Suradi tidak tahu, beberapa menit sebelumnya, Pak Joni baru saja mengentot istrinya. Tapi Bu Joni tampaknya tidak puas sehingga dia uring-uringan.

Suradi memasuki ruangan dan melihat Bu Joni sedang merapikan susunan kaset VCD di ruang tengah.

“Bu, ini ada Pak Suradi.” Kata Pak Joni.

“Ya, tolong Pak perbaiki lemari di dapur masih belum pas letaknya.”

Suradi masuk ke dalam dapur dan merasa heran, lemari itu letaknya sudah pas. Tak ada yang perlu di lakukan lagi di sini. Sementara itu Pak Joni masuk ke dalam kamar tidur dan membiarkan pintunya terbuka, dia tiduran.

“Sebentar lagi bapak akan tertidur nyenyak.” bisik bu Joni yang ternyata mengikuti Suradi ke dapur. Dia meraih tangan Suradi dan membawanya ke selangkangannya, menggesekkannya. Bu Joni mengenakan baju gamis panjang rumahan yang biasa dipakai sehari-hari. “Tapi tidak lama. Paling 30 menit.” katanya masih dengan berbisik.

Wajah Suradi tampak tegang. Tangannya yang telah berpengalaman itu menolak diajari lagi oleh tangan Bu Joni yang menggesek-gesekannya ke belahan memek dari luar kain.

“Apakah dia sudah tidur?” Bisik Suradi. Dia melepaskan tangannya dan memeluk Bu Joni dari belakang. Kedua tangannya merambahi perut dan kemudian meremas ke dua susu Bu Joni yang besar dan lembek.

“Mungkinhkh…” Jawab Bu Joni sambil mengeluh ketika mulut Suradi menciumi daun telinga dan tengkuknya.

Tiba-tiba terdengar suara dengkuran Pak Joni yang sangat keras dari dalam kamar.

Suradi segera berjongkok dan menyingkap gamis Bu Joni. Suradi masuk ke dalamnya dari belakang dan menemukan pantat semok itu tanpa celana dalam. Ke dua tangannya merayap di pinggiran pinggang yang sudah menggelambir itu, merabainya dan mencari-cari pangkal pahanya. Sementara mulutnya menciumi buah pantat Bu Joni.

“Masih lumayan.” Batin Suradi.

Suradi merasa berada di dalam kurungan kain gamis Bu Joni pemandangannya samar bahkan agak gelap. Kedua tangannya sudah menemukan memek Bu Joni tapi kurang leluasa untuk melakukan gerakan-gerakan yang bisa menimbulkan kenikmatan.

Suradi ke luar dari dalam gamis dan berdiri. Dia melihat wajah Bu Joni tampak merah. Mungkin karena nafsu berahinya sudah memuncak. Dia membalikkan badan Bu Joni dan menciumi bibirnya dan mengulum lidahnya sebentar. Dia berjongkok lagi dan masuk ke dalam gamis Bu Joni untuk menemukan susu sebesar buah pepaya. Menggampar-gamparkan pipinya pada nenen yang lembut itu dan melumat-lumat putingnya dengan mulutnya.

Suradi kemudian menurunkan kepalanya dan mengemuti perut dan kedua pangkal paha Bu Joni. Setelah itu barulah dia menjilati bibir-bibir Memek bu Joni dengan lidahnya. Suradi mengajari itil Bu Joni bagaimana lidah bisa membuat sang itil berdenyar dan merasakan sensasi nikmat yang sulit diucapkan, tetapi bisa didesahkan.

“Aghkhkh… aghkh… ”

Ke luar dari kurungan gamis, Suradi mendorong tubuh Bu Joni yang tampak seperti tak berdaya itu ke kursi meja makan, mendudukkannya. Secara otomatis Bu Joni duduk menyandar, dia menyingkapkan gamisnya dan membuka ke dua pahanya dengan sangat lebar. Sekarang barulah terlihat memek bu Joni berdenyut-denyut, tak sabar untuk dicoblos.

Suradi melepaskan pantalon sekaligus celana dalamnya, dia menyorongkan kontol ke mulut Bu Joni untuk diemut. Tapi kelihatannya Bu Joni kurang pengalaman sehingga kulumannya kurang enak menurut Suradi. Dia segera melepaskam kontolnya dari kuluman mulut Bu Joni.

“Boleh saya masukan sekarang, bu?”

Mulut Bu Joni tersenyum seperti nyengir, matanya menatap Suradi dengan nanar. Lalu kepalanya mengangguk.

Clep.

Suradi memasukan kontolnya ke dalam memek Bu Joni, dengan lutut agak ditekuk, dia mengentot memek itu dengan penuh semangat. Menggenjot sekuatnya dan membiarkan Bu Joni menikmati hujaman demi hujaman batang kontolnya.

Bu Joni merintih-rintih.

“Adddduuuhhhh…. saya… mau ke luarhkh…” Rintihnya.

“Sekarang?” Tanya Suradi, wajahnya agak kecewa. Bu Joni mengangguk.

“Kalau begitu, yuk kita ke luar sama-sama. Boleh ngecrot di dalem?” Tanya Suradi. Bu Joni sekali lagi mengangguk.

Suradi melakukan genjotannya yang terakhir dengan kekuatan penuh, sebelum akhinya mereka ke luar bersama-sama. Setelah ngecrot, Suradi membiarkan kontolnya terbenam di dalam memek Bu Joni selama beberapa saat, kemudian dia mencabutnya dan mengenakan kembali pantalonnya.

Bu Joni menurunkan gamis dalam keadaan masih duduk bersandar. Kedua tangannya tampak jatuh di pinggiran kursi. Dia tersenyum kepada Suradi.

“Makasih ya, Pak. Saya enak banget.” Katanya.

“Sama-sama, Bu.”

“Kapan-kapan boleh minta lagi gak Pa?”

“Selagi saya di sini, tentu boleh.” Kata Suradi sambil tersenyum, walau pun dalam hati dia membatin masih kurang puas.

Ketika mereka berbincang, terdengar Pak Joni terbatuk-batuk.

“Bapak sudah bangun.” Bisik Bu Joni.

“Baik.” Kata Suradi, pelan. “Saya akan ke ruang tengah memperbaiki dudukan panel LCD.”

Dudukan panel LCD TV itu sebenarnya sudah baik, Suradi hanya memperkuat baut-bautnya saja. Dia mendorong bufet rak CD agar lebih merapat ke dinding. Pada saat itu, tiba-tiba saja Pak Joni sudah berada di depan punggungnya.

“Maafkan tadi saya tertidur.” Katanya. Suradi membalikkan badan, wajahnya yang ramah itu tersenyum.

“Tidak apa-apa, Pak.” kata Suradi dengan nada yang tenang. Pada saat itu Ugi berteriak dari luar.

“Bos, sudah selesai.”

“Ya.” Jawab Suradi. Dia berdiri dan berkata kepada Pak Joni. “Beberapa perabotan di luar itu harus dibereskan, tapi tempatnya sudah tidak ada lagi di ruangan ini. Pak Joni punya rencana?”

“Saya ingin menjualnya, tapi mungkin tidak akan laku dengan cepat. Sedangkan istri saya ingin semuanya rapih kembali secepatnya. Bagaimana ya?” Kata Pak Joni.

“Dijual juga harganya mungkin tak seberapa.” Kata Suradi.

“Bu, bu, sini sebentar.” Pak Joni memanggil istrinya. Bu Joni datang dari arah dapur dengan wajah berseri-seri. Pak Joni heran. “Gimana ini perabotan-perabotan yang gak kepakai di luar?”

“Udah kasiin aja ke Pak Suradi, terserah dia mau dibuang atau mau diapain juga.” Kata Bu Joni.

“Nah, bagaimana menurut Pak Suradi?” Tanya Pak Joni.

“Saya mungkin akan membongkarnya dan membuangnya, Pak. Semua perabotan itu sudah tua.” Kata Suradi sambil memperhatikan koleksi kaset VCD yang menumpuk dan belum sempat disusun oleh Bu Joni.

“Ngomong-ngomong, ini koleksi film bluenya banyak juga ya.” Kata Suradi.

“Yaaa… begitulah, Pak. Saya menontonnya agar bisa bergairah.” Jawab Pak Joni. Suradi mengangguk-angguk.

“Bos, di luar sudah bersih.” Kata Ugi yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan itu.

“Semua sampah di depan sudah dibuang?”

“Sudah, bos.”

“Panggil si Maman dan Ujang. Angkut semua perabotan yang tak terpakai itu ke mobil pick up yang biru, terus bawa ke belakang kantor.”

“Siap, bos.”

Memasuki minggu ke 4, fase finishing dimulai.

Pada fase finishing inilah mereka sering bekerja lembur sampai larut malam. Namun bagi Suradi fase ini dia lebih banyak santainya, karena semua pekerjaan dia tidak perlu lagi turut campur. Dia hanya menunggu hasil. Oleh sebab itu dia sering datang sore hari karena sesiangnya sibuk mencari orderan. Itu pun kerjanya cuma duduk-duduk saja.

“Pak Suradi ke mana saja?” Tanya Bu Joni tiba-tiba. “Koq siang enggak pernah muncul?”

“Saya ikut tender di Bandung, Bu.” Kata Suradi datar.

“Sudah 2 hari lo Pak. Boleh minta sekaliiii lagi aja.” kata Bu Joni dengan suara pelahan, namun dengan harapan keras di wajahnya.

“Tentu, Bu. Sekarang?”

Bu Joni mengangguk.

“Di mana?”

“Di kamar kost belakang yang sudah selesai, saya sudah siapkan kasur busa.”

“Bapak gimana?” Tanya Suradi.

“Saya udah kasih obat tidur, mungkin sekarang obat tidurnya sudah bekerja.”

“Baiklah.” Kata Suradi.

Bu Joni berbalik, dia melangkah dengan cepat menuju paviliun belakang dan melihat Pak Joni sudah tertidur pulas. Dia ke luar dan menutupkan pintu, dia memperhatikan semua anak buah Suradi tidak ada yang sedang bekerja di halaman belakang, lalu memasuki kamar kost itu dan menutupkan pintunya.

Suradi tengah berbaring dengan kedua tangannya sebagai bantal ketika Bu Joni masuk memakai daster terusan. Tanpa banyak basa-basi Bu Joni langsung melepaskan ikat pinggang dan kancing celana pantalon Suradi, menariknya sekaligus dengan celana dalamnya dan melemparkannya ke pojokan.

Dia langsung menerkam kontol Suradi dan mengemut serta mengulumnya.

“Ahhkh… ” Suradi mendesah pelan. “Kali ini, tehniknya lebih baik.” Kata Suradi dalam hati. Setelah beberapa saat, batang kontol Suradi pun menegang.

“Maaf ya Pak, kontolnya langsung saya tunggangi.” Kata Bu Joni. “Soalnya, memeknya udah gak kuat pengen langsung ngewe.”

“Tidak apa-apa, Bu. Masukin aja ke dalam memek ibu.”

Bu Joni menarik dasternya melalui kepalanya lalu melemparkannya. Dia mengangkangi kontol Suradi yang sudah ngaceng. Memasukkannya ke dalam liang memeknya, menekan pinggulnya ke bawah sampai seluruh batang kontol Suradi masuk ke dalam mulut memeknya.

“Addduuuhhh…. enak sekali kontolnya, Pak.” Kata Bu Joni sambil menggoyang-goyangkan pantatnya. Suradi tersenyum.

“Ayo, Bu. Goyangnya yang semangat.” Kata Suradi sambil mempermainkan ke dua nenen Bu Joni dengan tangannya.

Bu Joni terus menggoyang-goyangkan pantatnya selama beberapa menit. Kadang Bu Joni mengangkat pinggulnya naik turun, kadang menekannya maju mundur, kadang dia juga meliuk-liukkannya dengan arah berputar. Sehingga keringat pun bercucuran di dahi dan punggungnya. Nafasnya tersengal-sengal. Akhirnya dia menghentikan gerakannya dan duduk diam di atasnya. Dia menarik nafas panjang.

“Capek ya?”

Bersambung

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bercinta dengan Playboy
9.1
Hati Risa hancur berkeping-keping setelah dikhianati oleh Alan, tunangannya sendiri. Didorong rasa sakit hati, ia nekat menerima tawaran kencan satu malam dari Alva, rekan kerjanya yang dikenal sebagai playboy. Risa berniat menggunakan Alva demi membalas dendam pada Alan. Namun, situasi menjadi rumit karena Alva ternyata sepupu Alan. Akankah pembalasan ini berakhir lancar saat Alan menyadari hubungan terlarang antara tunangan dan saudaranya?
Sampul Novel Dibuang Suami Saat Hamil
8.5
Azura Paramitha, yatim piatu yang ceria, mengira hidupnya sempurna saat dinikahi pengusaha dingin, Revan Aksara. Awalnya, Revan berubah menjadi sosok penyayang yang memberikan kehangatan keluarga bagi Azura. Namun, segalanya hancur saat Azura hamil. Revan mendadak berubah kejam, menuduhnya tidak bermoral, dan mengusirnya dalam keadaan mengandung. Kini, Azura harus berjuang sendirian membawa luka hati dan calon bayinya setelah dibuang tanpa belas kasihan.
Sampul Novel Gairah panas sang presdir
8.0
Joshua berubah menjadi pria dengan gairah seksual berlebih yang tak terkendali setelah dikhianati oleh kekasih masa lalunya. Luka perselingkuhan itu mengubah kepribadiannya secara drastis tanpa ia sadari sepenuhnya. Namun, takdir mempertemukannya dengan seorang mahasiswi muda dalam sebuah pertemuan yang tidak terduga. Akankah kehadiran gadis ini mampu menyembuhkan trauma Joshua dan mengembalikannya menjadi sosok pria yang dulu, atau justru memperumit keadaan?
Sampul Novel Istri Di Atas Kertas
8.9
Queena Bulan Latief terjebak dalam pernikahan hasil perjodohan klasik yang menyakitkan. Usai ijab kabul, ia mendapati fakta pahit bahwa suaminya telah memiliki istri lain. Meski secara hukum Bulan merupakan istri sah yang pertama, realitanya ia hanyalah sosok kedua di hati suaminya. Harapan Bulan untuk menjadi satu-satunya pun hancur seketika. Kini, ia harus berjuang menghadapi takdir rumit dan bertahan dalam dilema berbagi kasih dengan madunya.
Sampul Novel LITTLE MOMMY
8.5
Dunia Delisha runtuh saat Ayden, kekasihnya, mengabarkan bahwa dirinya tengah mengandung. Di usia yang baru menginjak 14 tahun, Delisha harus menghadapi kenyataan pahit akibat hubungan tanpa pengaman yang mereka lakukan. Bukannya bertanggung jawab, Ayden yang masih berumur 16 tahun justru memilih untuk memutuskan hubungan demi mengejar kebebasan. Kini, Delisha terjebak dalam ketakutan dan kebingungan tentang masa depan janinnya setelah ditinggalkan sendirian.
Sampul Novel Misi; Mengandung Benih Tuan Vince
9.3
Qiara Selena Odelia mendambakan pernikahan tulus yang dipenuhi kebahagiaan. Namun, ia justru terikat kontrak dengan Vincenzo Nick Emyr, pria dingin yang menutup pintu hatinya akibat luka masa lalu dari cinta pertama. Berawal dari sebuah misi rahasia, keduanya terjebak dalam komitmen formal yang mereka sepakati bersama. Di tengah kepahitan dan trauma Vince, mampukah hubungan sandiwara ini berubah menjadi cinta sejati yang nyata bagi mereka berdua?