Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Petualangan Gairah Kenikmatan

Petualangan Gairah Kenikmatan

Insiden tak terduga membuat Randy dan Ririn jatuh tersungkur hingga tubuh mereka saling menindih erat. Dalam posisi yang sangat intim itu, Randy merasakan detak jantung dan deru napas Ririn yang memburu tepat di depan wajahnya. Suasana mendadak menjadi sangat panas saat kontak fisik tersebut memicu gairah yang tak terbendung di antara keduanya. Di tengah ketegangan romansa yang memuncak, Ririn akhirnya menyerah pada hasrat dan meminta Randy untuk segera menyatukan cinta mereka.
Bab
Bagikan

Bab 2

Sepulang dari kafe itu aku memacu motorku dengan cukup pelan. Kami masih terdiam, belum ada yang berani membuka percakapan.

Beberapa menit kemudian Lisa pun memberanikan diri untuk ngomong duluan.

“Ran,” panggilnya.

“Apa?”

“Marah?”

“Gak!”

“Maaf..”

“Hmm..”

Lisa kemudian mencubit pinggangku.

“Aduh!” Aku memekik, bukan karena sakit melainkan geli.

“Lu masih marah ya? Maaf soal tadi,” ucapnya sambil meletakkan dagunya di atas bahuku.

“Kenapa dari awal lu gak bilang dulu? setidaknya minta persetujuan gue dulu kek, jangan main asal tawarin gue aja, gue ini bukan barang, tau!” omel ku panjang lebar kepadanya.

“Sorry, soalnya gue takut kalo gue bilang dulu lu bakalan langsung nolak.”

“Emangnya sekarang gue bakal terima tawarannya?” tanyaku mengancam, aku hanya ingin melihat ekspresinya.

“Yah jangan gitu dong Ran, gue gak enak sama kak Dimas nih.”

“Emang Dimas itu siapa sih?”

“Gue udah bilang kan kalo dia temennya kakak gue,” balasnya singkat.

“Kok tadi gak ada kakak lu?”

“Kan butuhnya sama gue bukan sama kakak gue,” jawabnya menjelaskan.

Aku sudah lelah berdebat dengannya, aku pun memilih mengalah dan diam.

“Ran, maafin gue ya..” pintanya sekali lagi.

“Iya gue maafin.”

“Hehe, makasih Randy,” jawabnya sambil mencubit pipiku.

Aku kembali memacu motorku sedikit lebih kencang.

“Sebagai permintaan maaf dan ucapan terima kasih, habis ini gue traktir deh.”

“Halah palingan traktir cilok depan sekolah.” ucapku mengejek.

“Enggak dong, kali ini beda gue traktir makan di food court,” ajaknya kepadaku.

“Emang lu punya duit?”

“Ada..ada..tapi cuma untuk kali ini aja ya hehe..” jawabnya sambil cengengesan.

“Oke deh,” balasku singkat.

Lalu aku mengarahkan motorku ke tempat yang diberitahukan oleh Lisa itu. Sesampainya di foot court kami pun lalu memesan beberapa makanan dan minuman yang cukup mahal untuk ukuran kantong anak SMA.

“Lis, beneran gak papa nih kita makan di tempat ini?” tanyaku memastikan.

Karena aku memang baru pernah makan di tempat seperti ini dan orang-orang yang datang terlihat dari kalangan menengah ke atas, aku jadi merasa sedikit canggung.

“Udah tenang aja,” jawabnya menenangkan.

“Lu punya uang banyak, darimana?”

“Dari tabungan gue lah.”

“Tabungan?”

“Iya, sebenernya gue nabung buat beliin hadiah ulang tahun nyokap, tapi gak papa lah ulang tahunnya masih lama juga, gue masih bisa nabung lagi, lagian makanan ini juga gak seberapa.”

Aku pun jadi tak enak hati mengetahui uang yang dia keluarkan untuk mentraktirku itu hasil tabungannya untuk membeli hadiah ulang tahun mamanya.

Sebenarnya saat itu aku ingin membayar semua tagihan makanan yang sudah terlanjur kita pesan, tapi apalah daya aku tak punya uang sebanyak itu.

“Nanti gue balikin uangnya kalo gue udah punya duit.”

Lisa tidak menjawab melainkan hanya tersenyum, kemudian kami menyantap hidangan yang sudah disajikan.

“Ran, gimana? lu berminat kan gabung timnya kak Dimas?” tanyanya disela-sela makan.

“Belum tau Lis, emang kenapa?” tanyaku balik.

“Yah kenapa? tawarannya kurang? kalo menurut gue sih terima aja, dibandingin sama ikut lomba di sekolah lu cuma dapet piala doang itupun pialanya buat sekolah,” ucapnya membujukku.

“Gini deh, sekarang gue tanya balik,, emang lu dapet apa kalo gue mau join tim mereka?”

“Gak ada sih, cuman gue gak enak aja sama kak Dimas, dia udah percaya sama gue jadi gue gak mau ngecewain dia.”

“Emang ada hubungan apa sih lu sama dia?” tanyaku menerka-nerka.

“Kenalan,” jawabnya singkat. Aku jadi curiga dengan hubungan mereka, kenapa Lisa bisa sampai seloyal itu padanya.

Namun aku tidak ambil pusing, aku tidak mau merusak momen berduaan kami saat ini. Kamipun mengganti topik lain yang lebih ringan.

Setelah selesai makan di tempat itu Lisa kemudian mengajakku untuk jalan-jalan. Jarang sekali kami menghabiskan waktu berdua seperti ini, biasanya aku hanya mengantarkannya ke tempat yang dia inginkan lalu menjemputnya setelah dia selesai.

Tak terasa kami sudah menghabiskan waktu seharian dan hari sudah larut malam, saat itu kami masih mengenakan seragam sekolah hanya saja kami mengenakan jaket hoodie agar tidak terlalu mencolok. Kami pun memutuskan untuk pulang.

“Ran, pulang yuk! cape nih,” ajaknya.

“Ayuk deh!” jawabku balik.

Saat itu kami masih berada di salah satu taman di dekat pusat kota sambil menyantap jajanan kaki lima yang kami beli di pinggir jalan. Saat kami berjalan di tempat motorku diparkirkan, sambil ngobrol dia tiba-tiba menggandeng tanganku.

Aku lalu menatapnya, dia balik menatapku, hatiku dag dig dug tidak menentu. Saat itu kami sudah seperti orang pacaran.

Karena terlalu asik kita saling menatap, kita sampai tidak melihat jalan. Saat itu ada dua buah anak tangga menurun, Lisa tidak melihatnya alhasil diapun tergelincir.

Bruk!!!

Aku yang terlambat bereaksi hanya bisa melihatnya tersungkur ke tanah.

“Aduh..aduh..aduh Ran, sakittt!!!” Lisa tampak meringis kesakitan sambil memegangi kakinya yang keseleo.

“Diem dulu, jangan gerak.” Aku mencoba memeriksa kakinya.

“Gak papa cuma keseleo.”

“Tapi sakit Ran!”

Aku pun mencoba mengurutnya. Berkali-kali dia mengerang kesakitan, namun beberapa saat kemudian dia mulai tenang.

“Udah baikan?” Aku mencoba bertanya.

“Masih sakit.”

“Bisa jalan?”

“Enggak.”

Lalu aku memberi isyarat untuk naik ke punggungku, dia melingkarkan tangannya di leherku lalu ku gendong dia menuju ke motorku.

“Ran!” panggilnya.

“Apa?” Aku mencoba memutar sedikit kepalaku merespon panggilannya.

Tiba-tiba

Cuppp…

Lisa mencium pipiku, aku yang syok hampir saja kehilangan pijakan ku namun aku berhasil menyeimbangkan badanku lagi.

“Makasih ya, lu udah care sama gue,” ucap Lisa kepadaku.

Aku diam saja lalu melanjutkan langkahku, aku tersenyum mengingat kejadian barusan, apa dia juga menyukaiku ya? apa aku tembak saja dia sekarang? tembak tidak ya? Ahh pikiranku benar-benar blank.

Pada akhirnya aku tidak melakukan apa-apa, aku takut hubunganku malah jadi renggang karena perasaanku ini tidak diterimanya.

Hari pertandingan pun tiba, aku yang telah menyanggupi permintaan untuk bergabung dengan tim Dimas sedang bersiap-siap berangkat.

“Ran, udah siap? ditunggu ya,” ketik Lisa melalui aplikasi wa, kemudian dia mengirimkan lokasi tempat bertandingnya.

“Otw,” balasku singkat.

Aku lalu mengeluarkan motorku bersiap-siap berangkat, aku lalu mengunci rumahku. Di rumah tidak ada orang, ibuku seperti biasa pergi ke pasar untuk berjualan, hari ini bersama ayahku karena pada hari sabtu dan minggu ayahku libur. Aku pun berangkat ke tempat pertandingan.

Sesampainya di sana aku langsung memarkirkan motorku, saat masuk ke stadium aku disambut oleh Dimas dan tim, di sana ada Lisa juga yang sudah bersiap mendukung kami.

“Yo selamat datang di tim kita,” ucap Dimas menyalamiku.

Satu persatu mereka memperkenalkan diri padaku, ada yang kerempeng tinggi ada yang gendut, rata-rata bukan tipe seorang pemain basket.

“Pantas aja tim ini gak pernah juara, isinya pemain kaya gini semua,” kataku dalam hati.

“Randy semangat,” ucap Lisa sambil mengepalkan tangannya.

Aku tak membalas hanya mengacungkan jempol tanda ‘beres’ kepadanya.

Saat kami sedang melakukan pemanasan tiba-tiba datang satu pemain lagi bersama seorang wanita. Dia adalah pemain dengan postur paling ideal di antara pemain lain, menurutku.

“Sorry bro agak telat, tadi ada urusan bentar,” ucapnya meminta maaf.

“Santai aja, udah sekarang ganti baju terus pemanasan,” suruh Dimas.

“Oke,” jawab lelaki itu yang ku ketahui bernama Reza.

Saat kami akan melanjutkan pemanasan tiba-tiba si wanita yang datang bersama Reza pun menyeletuk.

“Randy?” panggil si wanita itu.

Aku yang merasa dipanggil pun menoleh.

“Kakak?” Aku kaget melihat wanita yang datang bersama Reza itu adalah kakakku sendiri.

“Kok kamu ada di sini?” tanyanya heran melihat aku bersama tim dari kampusnya.

“Ouh jadi kalian kakak adik?” Dimas bertanya memastikan.

Aku hanya mengangguk sambil cengengesan, kakakku pun mengiyakan pertanyaan itu.

Dimas kemudian menjelaskan kepada kak Ranti tentang diriku yang ikut dalam lomba ini.

“Shttt, jangan sampai Randy ketahuan kalo dia bukan mahasiswa sini ya,” ucap Dimas kepada kak Ranti.

“Oke,” balasnya mengangguk.

Pertandingan pun dimulai, para pendukung dari kedua belah tim saling melontarkan yel-yel mereka. Lisa dan kak Ranti duduk di bangku penonton membaur dengan suporter yang lain.

Seperti dugaan ku, para pemain di timku super amatir, si gendut yang sering dipanggil Gembul itu hanya bisa berlari ke sana kemari membawa bola yang ada di perutnya itu, sedangkan si cungkring yang bernama Junet, dia kena bola saja mungkin mental entah kemana.

Hanya Dimas dan Reza yang lumayan bisa bermain, sedangkan si mesum Boni hanya bermulut besar, memprovokasi lawan dengan kata-kata hinaan.

Di situ aku langsung show off skill di depan kawan, lawan, dan cewek-cewek suporter yang hadir.

Untung saja lawan kami saat itu tidak beda jauh dengan timku, jadi aku bisa melewati mereka semua dengan mudah dan mencetak skor demi skor.

Pendukung kami selalu bersorak ketika aku mencetak angka entah dari 3-point ataupun dunk.

Quarter pertama pun selesai, skor 21-7 untuk keunggulan timku, kami semua menepi untuk diberi arahan.

“Ran, lu pemain pro ya?” tanya Reza tidak percaya dengan permainanku barusan.

“Bukan kok, tapi kalo jadi pemain pro boleh juga tuh,hehehe..” jawabku sambil tertawa.

“Mantappp lah, gak sia-sia kita rekrut lu,” ucap Dimas menimpali.

Quarter dua dimulai, seperti dugaan aku selalu dijaga oleh dua sampai tiga pemain. Tap memang dasar mereka amatiran, aku dengan mudah melewati mereka.

Quarter dua selesai, Dimas digantikan oleh pemain lainnya. Skor saat itu 44-17.

Aku melihat Dimas mengambil sesuatu dari dalam tasnya seperti sabun pembersih muka yang dikemas dalam botol, tapi aku tidak yakin juga akan hal itu. Setelah mengambilnya dia kemudian berlalu pergi.

Permainan kembali dimulai, di quarter ketiga tempo permainan mulai menurun, kami semua sudah mengalami kelelahan terutama aku yang sejak quarter pertama selalu bermain aktif.

Quarter ketiga belum selesai, Aku meminta diganti karena aku kebelet kencing. Setelah diganti aku buru-buru pergi ke kamar kecil karena sudah tidak tahan lagi.

Saat berada di kamar kecil aku langsung membuang air yang sedari tadi tertahan di kemih ku. Saat itu aku mendengar di sebelah bilik yang aku pakai itu suara air yang keluar dari kran deras sekali.

Namun dibalik suara itu aku mendengar suara 2 orang sedang…mendesah?

“Ahh, apa ada orang yang sedang ‘main’ di sebelah ya? dan mereka menyamarkan suara mereka dengan membuka air kran dengan deras” tanyaku dalam hati.

Iseng aku mencoba untuk mengintip, namun saat itu tidak ada pijakan yang cukup tinggi untuk aku gunakan.

Terpaksa aku melompat ke bagian atas tembok itu dan dengan mengandalkan otot lenganku, telapak tanganku bertumpu pada puncak tembok hingga mataku bisa melihat sesuatu yang ada di baliknya.

Antara syok dan kaget aku melihat dua orang yang sedang memacu birahi di sana, aku melihat lelaki itu adalah Dimas yang sedang memompa kontolnya dari belakang.

Namun yang membuat paru-paru ku sesak dan jantungku nyaris berhenti ialah wanita yang sedang dipompa oleh Dimas itu adalah LISAAAA!!!!!!

Degggg!!!!!

Rasa marah, kecewa, sedih bercampur menjadi satu, saat itu posisi mereka membelakangi ku, namun aku bisa melihat dari sudut mata wanita itu yang setengah menoleh memang benar Lisa.

Aku lihat disela-sela pompaan kontol Dimas di memek Lisa itu tiba-tiba Dimas mengeluarkan kontolnya membuat Lisa melenguh.

“Emhhh,, kak!” hanya itu yang Lisa katakan ditengah persenggamaan mereka.

Di situ aku melihat kontol Dimas mengacung dengan keras, lalu Dimas menuangkan sebuah cairan dari botol yang tadi aku lihat dibawanya di lapangan. Ternyata itu adalah cairan pelumas.

Setelah Dimas melumuri kontolnya dengan cairan tersebut Dimas kembali memasukkan kontolnya itu ke dalam memek Lisa.

Lisa kembali melenguh, lalu Dimas langsung memagut bibirnya yang merekah itu dari belakang dan mereka berciuman secara ganas selagi kontol Dimas berperan mengaduk-aduk memek Lisa.

Aku melihat mereka melakukannya tanpa paksaan, mereka lakukan atas dasar suka sama suka. Hal itu semakin membuat hatiku hancur lebur.

Tak kuasa melihat adegan itu terlalu lama, aku memutuskan untuk pergi saja. Lalu aku melompat dari tembok itu, namun naas lantai toilet itu agak licin dan aku pun tergelincir.

Tidak hanya sampai disitu, saat terjatuh tanganku mengenai tuas kran yang patah dan membuat lengan bawahku terluka. Sudah jatuh tertimpa tangga, sial sekali!

Aku mencoba untuk tidak membuat suara, suara air kran di sebelah agaknya sedikit menyamarkan suara jatuhnya diriku sehingga Dimas dan Lisa tidak menyadarinya.

Aku kemudian menyembunyikan luka ditangan ku dengan menempelkannya di kostum basket yang aku kenakan, lalu bergegas pergi.

Bersambung

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cowokku Lebih Muda
8.9
Andini tengah menjalani kisah asmara dengan seorang pria yang usianya jauh di bawahnya. Namun, stabilitas hubungan mereka mendadak goyah saat sosok dari masa lalu yang selama ini Andini nantikan kehadirannya muncul kembali secara tiba-tiba. Kini, Andini dihadapkan pada pilihan sulit mengenai masa depan perasaannya. Apakah ikatan cintanya dengan Alex sanggup bertahan, ataukah kehadiran orang lama tersebut akan mengakhiri segalanya?
Sampul Novel Gelora Asmara Ratu Berlian
8.6
Intan Malika, yatim piatu yang tumbuh di panti asuhan, harus menelan pahitnya dikhianati oleh Zayn Alarik. Saat Intan hamil, Zayn menolak bertanggung jawab dan justru pergi ke luar negeri. Bertahun-tahun berlalu, Intan bangkit menjadi sosok sukses berjuluk Ratu Berlian. Kini ia kembali untuk membalas dendam pada keluarga Pradipta. Namun, kehadiran putra mereka yang merindukan sosok ayah membuat Intan bimbang antara dendam atau memaafkan masa lalu.
Sampul Novel Hidupku yang Kaya Mendadak
8.5
Terlahir miskin, aku banting tulang demi membiayai kuliah dan membelikan iPhone untuk kekasih impianku. Namun, pengorbananku dibalas pengkhianatan saat aku memergokinya bermesraan dengan pria lain. Tak hanya dihina karena kemiskinanku, aku pun dipukuli hingga terpuruk dalam keputusasaan. Di titik terendah itu, sebuah telepon dari ayah mengubah segalanya. Rahasia besar terungkap bahwa aku sebenarnya adalah putra seorang miliarder yang sangat kaya raya.
Sampul Novel Jodoh yang ditakdirkan
9.3
Terpisah sejak kecil akibat perceraian, si kembar Yunara dan Lunara bertemu kembali di hari pernikahan Yunara. Lunara hadir mencari sang ayah, namun takdir justru berubah drastis bagi keduanya. Yunara terjerat dengan pria asing yang obsesif, sementara Lunara terjebak situasi rumit bersama suami kakaknya sendiri. Pernikahan Lunara yang sudah di depan mata pun hancur karena kesalahpahaman. Kini, mereka harus memilih: pasrah pada nasib atau berjuang demi cinta sejati.
Sampul Novel KAMU MILIKKU
8.3
Tumbuh bersama sejak remaja membuat Mega Asturi memendam rasa pada Athaya Tonda, adik sahabatnya. Namun, perbedaan status sosial dan trauma masa lalu memaksanya menolak pemuda itu meski hatinya hancur. Bertahun-tahun berlalu, Athaya kembali sebagai pria matang yang gigih mengejar Mega. Terdesak oleh keadaan, Mega memilih mendustai perasaannya demi melindungi diri. Namun, mampukah ia terus menghindar saat obsesi Athaya untuk memilikinya justru semakin kuat?
Sampul Novel Miliarder Misterius dan Pengantin Penggantinya
8.6
Julita terpaksa menggantikan saudara angkatnya menikahi Erwin, pria yang dianggap tidak berguna, demi membiayai pengobatan pelayan yang ia cintai. Meski hidupnya penuh penindasan, ia kini terikat dengan Erwin yang menikahi Julita hanya untuk memenuhi wasiat ibunya. Namun, Erwin menyimpan rahasia besar di balik kemiripannya dengan miliarder terkaya di kota. Di tengah kebohongan identitas mereka, mampukah pernikahan ini bertahan atau justru berakhir bencana?